Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dor! Dor! Dor!
Adira merutuki kecerobohannya sendiri. Rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan bagaimana ekspresi Arlan saat memakaikan pakaian ke tubuhnya yang polos. Malu yang ia rasakan begitu dalam hingga ia merasa tidak ingin lagi bertemu dengan Arlan selamanya.
Namun, ia tahu itu mustahil. Bagaimanapun juga, pria dingin dan kejam itu adalah suaminya. Pria yang memegang kendali penuh atas hidupnya sekarang.
"Lebih baik, aku tidak bertemu dengannya sampai beberapa hari kedepannya," ujar Adira kemudian membersihkan dirinya dan turun untuk makan malam setelah seharian dia tertidur karena sakit.
***
Hari-hari berlalu terasa begitu lambat. Adira dan Arlan kini jarang berkomunikasi satu sama lain. Apalagi setelah kejadian hari itu, Adira sering menghindari Arlan karena malu yang teramat.
Dua minggu telah berlalu, dan hari ini adalah jadwal Adira untuk kembali ke rumah sakit. Sesampainya di sana, ia langsung menjalani pemeriksaan terkait prosedur penanaman janin. Dokter Cindy yang menanganinya merasa heran; baik Adira maupun Arlan adalah individu yang sehat, namun entah mengapa pembuahan tersebut bisa gagal.
Dokter Cindy terlihat tidak tenang dan khawatir karena kegagalan percobaan pertama, sementara kedua pasiennya sangat sehat. "Maaf, Nyonya Adira, kali ini kita belum berhasil lagi," ucap dokter dengan nada menyesal.
Syukurlah, batin Adira berbisik. Ternyata, jauh di lubuk hatinya, ia justru berharap prosedur itu gagal. Ia merasa lega karena belum harus mengandung anak dari pria yang membencinya.
Tuan Arlan pasti akan sangat marah kalau ia tahu, batin Dokter Cindy dengan perasaan cemas yang tidak bisa disembunyikan.
Jika Adira senang kalau tidak hamil, justru dokter Cindy malah sebaliknya, karena takut nanti Tuan Arlan menganggap kalau dialah yang tidak becus.
Cindy yang menyadari konsekuensi yang harus ditanggung jika Arlan menerima kabar bahwa prosedur penanaman janin kali ini gagal. Sebagai dokter yang menangani program tersebut, ia tahu bahwa kemarahan pria itu akan langsung tertuju padanya. Rasa takut membayangi langkahnya, seolah bayangan Arlan yang menuntut keberhasilan terus menghantuinya.
Adira yang menyadari kegelisahan Dokter Cindy langsung bertanya, "Ada apa, Dokter? Anda baik-baik saja?"
"Ah, tidak ada apa-apa," jawab Dokter Cindy berpura-pura tersenyum untuk menutupi kekhawatirannya. Namun, Adira tahu bahwa Dokter Cindy sedang mencemaskan kegagalan prosedur ini.
"Dokter, saya akan berusaha bicara dengan Tuan Arlan. Anda tidak perlu khawatir," ucap Adira lembut berusaha menenangkan hati wanita itu. karena dia bisa menebak, bahwa wanita itu pasti lagi memikirkan kegagalannya untuk menghadapi Arlan.
Seketika, wajah Dokter Cindy yang tadi muram berubah cerah. "Benarkah? Apakah Anda benar-benar akan berbicara dengan Tuan Arlan?" tanyanya penuh harap.
"Iya, Dokter Cindy. Tenang saja, saya akan berusaha membuat Tuan Arlan mengerti," Adira tersenyum tipis.
"Terima kasih banyak, Nyonya Adira!" seru Dokter Cindy lega. Nyonya Adira memang sangat baik, berbanding terbalik dengan suaminya yang dingin dan kejam, batin Dokter Cindy bersyukur karena setidaknya ia punya pembela di hadapan pria sekeras Arlan.
Tanpa Dokter Cindy ketahui, sebenarnya Adira sendiri tidak punya rencana pasti. Jangankan untuk menyelamatkan Cindy, untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja ia tidak berdaya. Namun, Adira akan tetap berusaha sekuat tenaga supaya Dokter Cindy tidak menjadi pelampiasan amarah Arlan. Ia tidak ingin wanita itu kehilangan pekerjaan, apalagi sampai dipecat secara tidak hormat seperti nasib Teo sebelumnya.
***
DOR! DOR! DOR!
CKIIIKKKK!!!!
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang