NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Menemani hingga terlelap

Setelah mandi, Anindia berdiri di depan cermin. Tangannya bergerak mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah.

Di belakangnya, pintu kamar mandi baru saja terbuka. Keanu keluar sembari mengusap rambutnya dengan handuk, kaos santai sudah melekat di tubuhnya.

Keanu berjalan santai, lalu berhenti sejenak. Pandangannya langsung tertuju pada Anindia. Tanpa sadar, seutas senyum terukir di sudut bibirnya.

"Makin hari, makin cantik aja," batin Keanu.

Beberapa detik Keanu hanya berdiri di sana, menatap istrinya yang terlihat tenang tanpa sadar sedang diamati. Entah karena dorongan iseng atau gemas yang tidak pernah habis, ia berjalan mendekat.

Tanpa aba-aba, Keanu langsung melingkarkan tangannya dari belakang. Memeluk Anindia yang masih duduk di depan meja rias.

"Mas!" Anindia langsung terkejut, refleks menoleh ke samping. "Ngagetin aja."

Keanu hanya terkekeh pelan, tidak melepaskan pelukannya. Ia justru menyandarkan dagunya di pundak Anindia. "Biar," ujarnya singkat, tapi jelas manja.

"Kamu kenapa sih, Mas?" Tanya Anindia heran, masih ada sisa kesal dengan Keanu hari ini. "Tiba-tiba kayak gini?"

"Gapapa, pengen aja," jawab Keanu santai.

Pelukan itu terasa terlalu hangat, membuatnya susah untuk marah. Anindia mencoba menahan ekspresi, tapi sudut bibirnya mulai naik sedikit tanpa diminta. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum yang mulai muncul.

Keanu masih tidak sadar. Tangannya masih melingkar di pinggang Anindia, seolah tidak ingin melepasnya begitu cepat.

Anindia yang tadinya masih ingin protes, kini justru terdiam lebih lama. Perlahan, rasa kesalnya benar-benar mulai kalah dengan situasi ini. Keanu selalu saja membuatnya tenang dengan caranya sendiri.

Tiba-tiba, Keanu mencondongkan sedikit wajahnya dari belakang, lalu mencium pipi Anindia sejenak. "Jangan ngambek lagi, ya?" Ujarnya.

Anindia langsung tersentak, tubuhnya kaku seketika. Rona merah di pipinya mulai muncul dalam hitungan detik, serta matanya langsung membulat seperti tidak siap dengan serangan dadakan itu.

Anindia masih diam beberapa saat, benar-benar mencoba menstabilkan dirinya setelah kejutan kecil itu, tapi gagal. Senyum yang ia tahan mati-matian, akhirnya naik juga. Awalnya pelan, lalu semakin jelas, membuatnya berakhir dengan kekehan kecil.

"Mas, nyebelin banget," gumamnya.

Keanu juga ikut terkekeh, seolah sudah tahu reaksi Anindia. "Nyebelin, tapi sayang, kan?"

Anindia langsung memutar badannya sedikit, menoleh ke arah Keanu dengan wajah yang masih merah, membuat pelukan Keanu perlahan terlepas. Tanpa peringatan, ia langsung memukul dada Keanu pelan.

"Kamu tuh ya, Mas... Gak bisa diem," ujarnya.

Keanu hanya menahan tawa, tidak menghindar sedikitpun. Ia sudah terbiasa dengan hal ini. "Aku kan cuma bilang jangan ngambek." Ujarnya santai.

"Bukan itu masalahnya," ujar Anindia cepat.

"Iya-iya," jawab Keanu, lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Anindia. "Gemesin banget, sih."

Anindia kembali terpaku, wajahnya kembali memanas begitu saja. Terlebih, karena Keanu masih menatapnya dengan ekspresi santai dan jaraknya begitu dekat, hampir bersentuhan.

"Ekhem!"

Suara itu datang dari arah pintu. Keduanya langsung menoleh, mendapati ibu Keanu yang berdiri di ambang pintu, sembari menggendong Shaka. Anak itu langsung bergerak kecil, matanya berbinar melihat kedua orang tuanya.

Anindia langsung mundur sedikit dari Keanu, terlihat sedikit panik. "Eh, Ma-mama..."

Sementara Keanu langsung berpura-pura menyeka wajahnya dengan handuk, meski tidak ada lagi sisa-sisa air di wajahnya.

"Wah-wah..." Ujar ibu Keanu santai, sedikit menggoda. "Mama ganggu gak nih?"

"Eng-enggak, Ma," jawab Anindia sedikit gugup.

Ibu Keanu melangkah masuk, menatap keduanya secara bergantian. "Tadi Mama kira lagi istirahat," ujarnya ringan, lalu melirik Keanu. "Ternyata lagi sibuk sendiri, ya?

Ibu Keanu terus menggoda, membuat Anindia dan Keanu merasa salah tingkah. Ia hanya terkekeh, lalu menurunkan Shaka di atas karpet berbulu.

"Ba-ba-ba!" Ujar Shaka, lalu merangkak cepat mengambil bolanya. Seolah, ia merasa bebas ketika berada di dalam kamarnya.

"Shaka tadi Mama ajak ke rumah tetangga sebelah," ujar ibu Keanu. "Sekarang malah nyariin bundanya."

Anindia langsung menoleh ke arah Shaka, begitu dirinya di sebut. "Nyariin bunda, ya?" Ujarnya, nada suaranya jauh lebih lembut.

Begitu Shaka merangkak mendekat dengan bola kecil di hadapannya, Anindia langsung beranjak. Ia berjongkok di depan Shaka, merentangkan tangan.

"Anak ganteng, bunda di sini." Ujarnya.

Shaka langsung berhenti, menatap Anindia dengan wajah polosnya, lalu tertawa kecil. Ia berbalik arah, merangkak cepat ke arah Anindia.

Anindia tersenyum, ia langsung mengusap punggung kecil itu. Ekspresinya yang tadi masih malu-malu, langsung berubah menjadi hangat tanpa ia sadari.

Keanu yang masih berdiri di dekat meja rias hanya diam memperhatikan. Tatapannya lembut, ada senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Ya ampun," gumam Keanu pelan.

Ibu Keanu melirik sekilas, "Kenapa, Nak?"

Keanu menggeleng kecil, masih menatap Anindia dan Shaka. "Bukan apa-apa, Ma." Ujarnya. "Cuma, dia tuh kalau sama Shaka beda banget."

Ibu Keanu tersenyum kecil, arah pandangnya juga tertuju pada Anindia yang sekarang sibuk bermain dengan Shaka. "Namanya juga ibu," jawabnya santai.

Keanu mengangguk pelan, lalu menatap lagi ke arah Anindia. Tatapannya jadi sedikit lebih dalam. "Lucu," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

"Ya udah. Mama keluar dulu, ya," ujar ibu Keanu pada keduanya.

Anindia langsung menoleh. "Mau kemana, Ma?"

"Ke dapur sebentar," jawab ibu Keanu. Matanya melirik cepat ke arah Anindia dan Keanu secara bergantian. "Tahan dulu romantisnya, ada Shaka," lanjutnya dengan tawa yang kembali menggoda.

"Ma..." Protes Anindia pelan, wajahnya mulai memanas lagi.

Keanu yang mendengarnya hanya tertawa kecil. Ia mengusap tengkuknya, pura-pura tidak tersinggung. "Enggak akan, Ma." Ujarnya.

"Mama cuma bercanda," ujar ibu Keanu. "Mama ke bawah dulu, ya."

Tanpa menunggu jawaban, ibu Keanu langsung melangkah keluar dari kamar. Pintu tertutup pelan, meninggalkan tiga orang di dalamnya.

Suasana kamar kembali tenang setelah ibu Keanu keluar. Heningnya tidak terasa canggung, justru hangat dengan suara kecil Shaka yang sibuk memainkan bolanya.

Anindia kembali menunduk, lalu mengambil salah satu bola. Ia menggelindingkan bola itu di atas karpet, membuat tawa Shaka pecah begitu saja.

Keanu akhirnya ikut duduk di lantai, tepat di samping Anindia dan Shaka. Ia juga melakukan hal yang sama, mengambil bola dan bermain dengan Shaka.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Malam kembali menghampiri, menyisakan suasana yang tenang setelah riuh kecil bersama Shaka siang tadi. Lampu ruang keluarga tetap menyala, menemani aktivitas malam itu.

Keanu duduk di sofa dengan laptop terbuka di depannya. Layar memantulkan fokus yang sejak tadi belum juga ia lepaskan, tugas kuliah yang masih ia kejar penyelesaiannya malam itu. Tangannya sesekali mengetik, lalu berhenti sejenak untuk sekedar membaca ulang.

Di sebelahnya, Shaka duduk anteng dengan tubuh kecilnya yang bersandar pada sofa, kedua kakinya lurus ke depan. Kedua tangannya memegang botol susu, sesekali disedot pelan, tanpa banyak rewel. Anak itu seolah mengerti, tidak ingin mengganggu fokus ayahnya.

Tak lama kemudian, Anindia muncul, membawakan secangkir teh susu di tangannya. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkannya perlahan di samping laptop. "Ini, Mas," ujarnya.

Keanu menoleh sejenak, lalu tersenyum kecil tanpa menghentikan tangannya dari keyboard. "Makasih, sayang."

Anindia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah ke arah Shaka. Ia mengangkat putranya dengan lembut, memangku tubuh kecil itu dengan hati-hati.

Shaka langsung bersandar nyaman di pangkuannya. Botol susunya masih tergenggam, sementara matanya tampak lebih berat dari sebelumnya.

Keanu masih fokus pada laptopnya, sesekali melirik ke arah mereka. Lalu, ia kembali menatap layar.

Anindia menepuk pelan punggung Shaka, sesekali melirik Keanu yang masih begitu fokus. "Mas," panggilnya pelan.

"Hmm?" Keanu tidak langsung menoleh, tapi jelas merespon.

"Banyak banget tugasnya?" Tanya Anindia penuh perhatian.

Keanu menoleh sejenak. "Lumayan, sayang," ujarnya. "Tapi udah sedikit berkurang."

Anindia mengangguk pemahaman, sementara Keanu kembali melanjutkan aktivitasnya.

"Jangan terlalu dipaksain, Mas," ujar Anindia di sela-sela keheningan, nada suaranya terdengar lembut. Matanya melirik sekilas ke arah laptop Keanu yang penuh dengan tulisan. "Tugasnya juga dikumpul tiga hari lagi, kan?"

Keanu terdiam sejenak, ia kembali menatap Anindia dengan tatapan yang serius tapi tetap tenang. "Iya," jawabnya singkat. "Tapi aku mau selesaikan lebih cepat aja."

Anindia mengangguk kecil, tidak membantah. "Ya udah," gumamnya pelan. "Tapi jangan sampai lupa istirahat."

Keanu tersenyum dengan anggukan kepala. Lalu, arah pandangnya tertuju pada minuman yang baru saja diletakkan oleh Anindia. Ia meraihnya, menyeruputnya perlahan.

Begitu rasa hangatnya masuk, ia langsung mengangguk kecil, seolah baru saja menyadari sesuatu.

"Hmm, enak," ujar Keanu.

Anindia yang masih memangku Shaka menoleh sedikit. Belum mengatakan apa-apa, Keanu langsung berujar sembari meletakkan kembali cangkir kopi itu.

"Minumannya enak, buat aku semakin semangat buat nugasnya," ujar Keanu santai.

Anindia terdiam sebentar, lalu bibirnya mengembang sedikit, menahan senyum yang muncul begitu saja.

"Alhamdulillah," ujarnya pelan, masih mengusap-usap punggung Shaka, yang kini benar-benar tidur di pangkuannya.

Keanu kembali mengetik, kali ini ekspresinya lebih ringan dari sebelumnya. Seolah, minuman itu benar-benar jadi alasan kecil untuk tetap bertahan menyelesaikan tugasnya malam itu.

Keheningan kembali menyelimuti ruang keluarga itu. Hanya suara kecil dari jari-jari Keanu yang bergerak di atas keyboard.

Shaka benar-benar tertidur dalam pangkuan ibunya, nafasnya teratur dan tenang. Botol susu yang tadi ia pegang kini terlepas pelan dan di genggam lemah.

Anindia masih sempat mengusap punggung kecil itu beberapa kali, memastikan Shaka benar-benar nyaman. Tapi lama-kelamaan, gerakannya mulai melambat.

Kepalanya yang semula tegak, perlahan miring tanpa ia sadari. Sedikit demi sedikit, berat di kelopak matanya semakin terasa. Tanpa sadar, kepalanya akhirnya bersandar di pundak Keanu.

Keanu yang masih fokus mengetik sempat berhenti sejenak. Matanya melirik ke samping, untuk beberapa saat ia hanya diam. Tatapannya jatuh pada Anindia yang sudah tertidur di pundaknya, lalu pada Shaka yang terlelap di pangkuan ibunya.

Keanu memperhatikan keduanya, tatapannya lebih lembut. Sudut bibirnya naik samar, nyaris tak terlihat. "Kasihan banget," ujarnya.

Tangannya menjauh dari keyboard, lalu menggeser posisi tubuhnya agar Anindia lebih nyaman bersandar tanpa terganggu.

Layar laptop masih menyala, tapi fokus Keanu tidak lagi sepenuhnya pada tugasnya. Matanya lebih sering tertuju pada dua orang yang kini tertidur di sisinya.

Keanu menghela nafas pelan, matanya masih menatap layar laptop yang sejak tadi dibiarkan terbuka. Tapi situasi di sebelahnya membuatnya sulit untuk fokus lagi.

Keanu menatap sekeliling, lalu pandangannya berhenti ketika melihat sosok yang baru keluar dari arah dapur.

"Bi Yeyen," panggil Keanu pelan.

Bi Yeyen langsung menoleh, meski pelan suara Keanu cukup jelas di tengah suasana sunyi malam. "Iya den?" Jawabnya sembari melangkah mendekat.

"Bisa bantu sebentar?" Ujar Keanu pelan, berusaha untuk tidak membangunkan keduanya.

Bi Yeyen langsung mengangguk cepat. "Bisa den. Apa yang perlu bibi bantu?"

Keanu melirik sekilas ke arah Shaka. "Tolong Shaka dipindahin ke kamar ya, Bi." Ujarnya. "Takutnya nanti pegal kalau terus di sini."

Bi Yeyen menatap Shaka lembu, lalu mengangguk lagi. "Siap, den. Biar bibi bawa ke kamar."

Dengan hati-hati, Bi Yeyen berjalan mendekat. Perlahan, ia mengangkat tubuh kecil itu dari pangkuan Anindia dengan sangat hati-hati.

Shaka hanya bergerak sedikit, lalu kembali tenang tanpa terbangun. Keanu menghela nafas pelan, melirik sekilas ke arah Anindia yang masih bersandar di pundaknya.

Bi Yeyen langsung melangkah menuju kamar, membawa Shaka dalam gendongannya.

Di ruangan itu kini hanya menyisakan mereka berdua saja. Keanu tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. Tangannya bergerak pelan, menyibak beberapa helai rambut Anindia yang jatuh di wajah.

Satu tangan Keanu bergerak untuk mematikan layar laptopnya. Kemudian ia bersandar lebih santai, membiarkan malam itu benar-benar selesai dengan cara paling tenang.

"Capek juga, ya," gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!