Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Tinggal Sendirian
Setelah selesai sarapan bersama, Bima segera bersiap mengambil tas yang akan ia bawa ke Yogyakarta, Bima berpamitan kepada Alex, Fira dan Bara.
“Ayah aku pulang ya.. Ayah jaga kesehatan, satu semester lagi Bima akan pulang.” ucap nya sambil memeluk Alex.
“Iya Bim, kamu disana hati-hati, belajar yang benar ya, jaga kesehatan kamu juga, jangan lupa untuk memberi kabar kepada Ayah.” Ucap Alex tersenyum, seraya melapaskan pelukannya.
“Kak Fira, Kak Bara, semoga keluarga kalian bahagia, aku pamit pergi ya.” ucap Bima tersenyum sambil memberi salam kepada mereka semua.
Mereka bertiga mengantar Bima sampai ke depan teras rumah, Bima segera menaiki motornya, tak lama ia melajukan motor kesayangannya itu dan pergi menjauh dari rumah nya.
Kini Bara dan Fira sedang berada di kamar, Bara duduk di sofa kecil dekat jendela sambil sibuk memainkan ponsel nya, sedangkan Fira ia tengah sibuk memasukan baju-baju dan sebagian barang kesayangannya kedalam koper.
Waktu berjalan begitu cepat, sampai tak terasa adzan dzuhur sudah terdengar. Fira segera melaksanakan solat begitupun Bara ia pergi ke masjid bersama Alex.
Seusai solat Fira segera bersiap-siap, ia membawa kopernya ke ruang tengah. Fira menyimpan sling bag nya di atas meja, dan mendudukan tubuhnya di sofa ruang Tv.
“Kehidupanku yang sesungguhnya akan segera di mulai” lirih nya, sambil memejamkan kedua matanya.
“Ya Allah.... kenapa hatiku setakut ini. Rasanya putaran waktu terasa begitu cepat. hati ku sungguh tak tenang.” gumamnya dalam hati.
Ketukan pintu dan ucapan salam terdengar di telinga Fira, ia mengerjap membuka matanya, dilihatnya Alex dan Bara yang baru pulang dari masjid.
“Kamu sudah bersiap nak?” tanya Alex.
Fira berdiri mendekati ayahnya, dan tiba-tiba ia memeluk tubuh lelaki paruh baya itu.
“Ayah...” lirihnya begitu pelan.
“Maafin Fira Ayah...”
“Sayang kamu kenapa? kenapa harus meminta maaf?” tanya Alex, seraya melepaskan pelukan Fira secara perlahan.
“Fira harus pergi, maafin Fira Ayah.” ucap nya dengan tatapan mata yang sendu, berkaca-kaca.
“Sayang.. tak perlu kamu meminta maaf, Ayah sudah tahu hal ini akan terjadi. Pergilah dengan tenang, Ayah percaya kau akan jauh lebih bahagia dengan pernikahanmu ini, dan lagi pula kau hanya berpindah tempat bersama suami mu.” ucap Alex tersenyum getir, menahan rasa sedih di dalam hatinya.
Bara yang melihat Fira dan Alex, merasa haru, tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Yaitu mengenai kebahagiaan Fira, yang mana Mertuanya percayakan sepenuhnya kebahagiaan Fira kepada Bara. Bara hanya bisa menarik nafas nya begitu dalam.
“Sebenarnya aku kasihan padanya, tapi tetap rencanaku harus berjalan lancar.” gumam Bara dalam hati.
Kini Fira dan Bara sudah menaiki mobil, mereka sudah berpamitan kepada Alex. Bara segera menghidupkan mobil nya, perlahan mobil itu menjauh, keluar dari pekarangan rumah Alex.
Alex terus memandangi mobil Bara hingga, mobil itu hilang dari pandangannya.
Ia segera masuk kedalam rumah, menutup pintu dan berjalan menuju sofa. Namun langkah nya terhenti, ia mematung, matanya menyapu seluruh ruangan yang kini terasa sangat sepi, hening, tak ada keramaian, hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas di telinganya.
Tak terasa air mata bercucuran begitu saja membasahi pipi nya. Sungguh pilu, sungguh sedih, hari ini Alex di tinggal pergi oleh kedua anak nya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, dilihatnya foto sang istri yaitu Zupa.
“Zupa... anak kita sudah besar.” lirih nya. “Fira... ia jadi sosok wanita yang cantik sepertimu, anak gadis kita sudah di ambil oleh suaminya dia tak ada di sini lagi sekarang. Dan Bima, ia pergi mengejar cita-citanya di sebrang sana.” ucap nya pelan, Alex berkata sendirian, tenggorokannya terasa begitu berat mengucapkan kata-kata itu, ia terus menatap foto istrinya tersebut.
Kini Alex hanya sendiri di rumah, berdiam diri mencoba merelakan semuanya, karna sebenarnya ia tahu, hal ini pasti akan terjadi pada hidupnya, dan tepat sekali di hari ini semua nya terjadi. Ia merasa waktu berjalan begitu cepat. Alex mengingat putaran memory tentang anak-anak nya, di memory nya ia melihat Bima yang baru lahir dan Fira yang masih kecil menggemaskan, memory pikirannya terus berjalan sampai di detik kemarin ketika ia menjadi wali nikah anaknya itu.
Mata lelaki paruh baya ini, kini terlihat sembab akibat deraian air matanya yg tak henti membasahi pipi. Alex merubah posisi duduk nya. Kaki nya ia selonjorkan di sofa dan kepalanya kini bersender di bahu sofa. Rasa kantuk, kini merasukinya hingga tak terasa ia terlelap tidur seusai menangisi kepergian anak-anak nya.
Sementara itu, Bara dan Fira yang berada di mobil, mereka hanya saling diam, tak ada yang memulai pembicaraaan.
Fira menatap kosong ke kaca jendela mobil, perhatiannya tak luput dari memandangi setiap jengkal jalanan yang ia lewati. Dan Bara, ia fokus menyetir melihat jalanan di depan. Sesekali mata nya melirik melihat ke arah Fira.
“Kasihan juga dia.” gumam Bara dalam hati, sambil melirik ke arah Fira.
Perjalanan mereka begitu hening, hanya suara kendaraan dari luar yang terdengar, mata Fira tak henti menyapu pemandangan jalanan, hingga tak terasa ia sudah sampai di tempat tujuan.
“Turunlah, kita sudah sampai.” ucap Bara yang turun dari mobil. Dan di ikutin oleh Fira.
Bara berjalan ke arah bagasi mobil untuk mengambil koper milik Fira. Kemudian Bara berjalan menginjakan kaki nya di teras rumahnya.
Fira masih terdiam mematung di dekat mobil, matanya tak henti menatap rumah yang begitu besar dan mewah di pandangannya.
“Hey, kenapa diam saja, cepat kemari.” perintah Bara.
Fira mengerjapkan matanya dan segera berjalan mengikuti langkah kaki Bara, mereka memasuki ruang depan yang sangat luas dan terdapat sofa serta beberapa barang mewah yang unik dan klasik.
Fira masih mengekori Bara dari belakang, mereka berjalan menuju ruang tengah. Dilihatnya Hito dan Wina yang sedang asyik duduk menonton tv. Mereka kaget dan sekaligus senang melihat kedatangan Bara dan Fira. Mereka tak menyangka bahwa Fira dan Bara akan datang di siang begini.
“Ah... anak Mama sudah datang, kenapa gak bilang dulu kalau kalian akan kemari?” ujar Wina yang berjalan mendekati Bara dan Fira, Wina memeluk Fira dan Bara secara bergantian.
Wina mengajak mereka untuk duduk bersama di ruang Tv.
“Kenapa tidak menelpon Papa Bar kalo kalian kemari siang ini?” tanya Hito sambil memeluk Bara dan Fira bergantian.
“Sengaja, biar kejutan.” ucap Bara dengan senyuman yang misterius.
Mereka pun duduk berbincang, sambil menikmati cemilan dan minuman yang baru di suguhkan oleh Bi Iyam ( Pembantu Rumah ).
“Oh ya Ma, Lisa dimana?” tanya Fira.
“Em... Lisa kan masuk sekolah, sebentar lagi dia pasti pulang.” jawab Wina. Fira yg mendengar jawaban dari Wina hanya menganggukan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
jangan lupa Like Komen dan Vote nya ya kakak 🥰