Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 18. Kecewa
Vano tetap diam dan menatap Killa. Menunggu reaksi dari wanita itu. Apakah benar dia sudah melupakan malam yang pernah terjadi di antara mereka, atau memang dengan sengaja melupakannya.
"Apa perlu aku ingatkan lagi?" Ujarnya kemudian karena tidak mendapat tanggapan dari Killa.
Killa yang masih shock mendengar ucapan pria asing ini, mengingat lagi mengenai kejadian yang dimaksud olehnya.
Hingga beberapa krpingan ingatan dan juga serpihan peristiwa yang tidak pernah bisa dia lupakan serta hapus, sebab kejadian itu meninggalkan jejak yang keberadaannya sangat Killa syukuri. Meskipun hadir dengan cara yang tidak pernah Killa kira sebelumnya.
"Enggak," bohong Killa.
Wanita itu memilih lupa, sebab belum tahu pastinya apa pria ini yang ada dalam kejadian malam itu bersama dirinya.
Vano tampak menghela napas. Lalu pria itu membenarkan duduknya dan menghadap ke depan. Sambil tangan yang terus menggenggam tangan Killa, Vano mulai bercerita mengenai kejadian malam itu. Benar-benar sama persis dengan apa yang Killa ingat hingga sampai ketika Killa meminta tolong pada seseorang. Selebihnya Killa tidak mengingat lagi kejadian itu dan paginya langsung memilih kabur.
"Masih tidak ingat?" Ulang Vano setelah menceritakan kejadian tersebut.
Dari pancaran matanya, Killa melihat jika pria itu berharap dirinya masih mengingat. Namun, ia tidak mau gegabah dan langsjng mengiyakan. Meskipun ia tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun.
'Kenapa dia tau banget kejadian itu, ya?' Gumam Killa. Bingung, siapa sebenarnya pria ini. 'Kalau emang bener, berarti dia papanya Gara!' Imbuhnya dalam hati.
Killa terkejut dengan kesimpulan yang ia dapat barusan. Namun dengan segera Killa merubah mimik wajahnya menjadi datar dan tak acuh. Seolah apa yang barusan dicerikatan oleh pria yang menyebut dirinya dengan sebutan Vano tersebut merupakan hal biasa. Hal yang tidak pernah ia alami.
"Nggak." Ketus Killa. "Kamu jangan asal tuduh sama orang yang nggak dikenal. Bisa-bisa kamu dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik." Omelnya lagi dengan raut yang begitu santai.
Bukannya di dengar, pria itu justru terkekeh dengan ocehan wanita yang ada di sampingnya saat ini. Vano mendapatkan satu fakta lagi mengenai Killa. Bahwa wanita ini juga sangat banyak bicara ternyata, sekaligus juga perhatian. Terbukti dari nasihat yang baru saja terlontar. Meskipun Vano tahu jika nasihat itu tertuju untuk menakutinya.
"Aku ada buktinya," ujar Vano dengan senyum yang tidak pernah pudar sedari awal.
Killa terhentak kaget. Secara refleks wanita itu menghadap ke arah Vano dengan mata yang melebar. Membuat Vano semakin yakin kalau sebenarnya Killa tidak benar-benar lupa akan malam itu. Mungkin, hanya ingin melupakannya saja.
"Kalau kamu lupa, waktu itu kamu dalam pengaruh obat, Killa. Dan aku, aku sangat dengan sadar pada malam itu," Vano menjeda kalimatnya, menatap Killa lagi dan ingin tahu sejauh mana wanita itu ingin menyembunyikan diri darinya.
"Ck! Nggak usah ngarang cerita kalau emang mau deketin cewek." Sangkal Killa. Wanita itu tetap berakting kalau tidak pernah terjadi hal seperti itu terhadap dirinya.
Vano tertawa mendengarnya. Lalu pria itu melanjutkan ceritanya lagi. Kali ini, Vano benar-benar akan mengungkapkan fakta mengenai malam itu. Di mana momen yang mungkin tidak Killa ingat.
"Sudah kubilang, kamu pada saat itu dalam pengaruh obat, dan untuk yang ini aku yakin kalau kamu masih ingat," ujar Vano. Kemudian pria itu melanjutkannya lagi. "Waktu itu aku bawa kamu ke hotelku. Karena tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian di club tempatmu bekerja. Aku juga memanggil seorang dokter. Tapi karena obat yang mungkin tidak sengaja kamu minum itu sudah bekerja dan memperdaya dirimu, kamu memaksaku untuk melakukan hal itu. Kam--"
"Kenapa nggak menolak kalau kamu memang berniat mau menolongku?" Potong Killa dengan nada ketus. Tatapan wanita itu memancarkan sebuah kekecewaan sekaligus amarah yang terpendam.