Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan Batin
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Semenjak pertemuannya dengan Mama Rahma entah kenapa Azzam menjadi sering merindukan sosok wanita paruh baya itu, entah apa yang terjadi yang jelas Azzam merasa ingin bertemu dengan Mama Rahma walaupun hanya sekedar melihatnya saja.
"Ada apa dengan perasaanku ini?" gumam Azzam.
Keesokan harinya...
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasa Indi selalu membereskan rumahnya dikala libur tiba supaya Ibunya bisa istirahat karena sudah bekerja banting tulang selama ini.
"Indi sudah kamu istirahat dulu dari tadi subuh kamu belum berhenti membereskan rumah," seru Ibu Ninik.
"Sebentar Bu, ini sudah beres kok semuanya tinggal membersihkan halaman, Indi nyapu halaman dulu ya Bu habis itu tinggal istirahat," sahut Indi yang langsung melangkah menuju halaman depan.
Dengan cekatan Indi menyapu halaman dan mencabuti rumput yang sudah mulai memanjang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Keisya ayo masuk," ajak Indi.
"Kamu duduk aja dulu atau ngobrol dulu sama Ibu, aku lagi tanggung nih sebentar lagi juga selesai."
"Ok, aku masuk dulu ya soalnya rindu sama Ibu sudah lama tidak bertemu," sahut Keisya.
"Ok."
Indi pun kembali melanjutkan pekerjaannya lagi, tiba-tiba Aiman dan Joe datang mereka baru saja selesai jogging.
"Assalamualaikum Indi," sapa Aiman.
"Waalaikumsalam Mas."
"Kamu sedang apa?" tanya Aiman.
"Sedang nyuci Mas," jawab Indi dengan santainya.
Tiba-tiba Joe pun tertawa dengan kencangnya..
"Ternyata si wanita bunga bisa bercanda juga," seru Joe.
"Mau aku bantuin?" tanya Aiman.
"Ah tidak usah Mas, Indi bisa sendiri kok."
Tapi Aiman tidak mendengarkan ucapan Indi, dia masuk kedalam halaman rumah Indi dan berjongkok di samping Indi serta ikut mencabuti rumput.
Deg...
Deg...
Deg..
Jantung Indi begitu berdetak kencang tidak karuan, darahnya tiba-tiba berdesir begitu hebatnya dikala berdekatan dengan Aiman, sedangkan Joe memilih merebahkan tubuhnya diatas teras rumah Indi yang sudah Indi pel.
"Mas, kan sudah Indi bilang tidak usah," seru Indi dengan gugupnya.
"Tidak apa-apa, mumpung tubuh aku masih keringetan jadi nanti mandinya sekalian," sahut Aiman.
Indi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, bibirnya begitu kelu untuk sekedar berbincang dengan Aiman. Indi memang sudah terbiasa ngobrol dengan laki-laki, tapi entah mengapa dihadapan Aiman Indi menjadi gugup mungkin karena Aiman adalah orang yang dia sukai.
"Joe, kok kamu malah tiduran sih sini bantuin juga," seru Aiman.
"Idih ogah, yang mau caper kan kamu ngapain ajak-ajak aku," sahut Joe dengan santainya.
Seketika wajah Aiman memerah mendengar ucapan Joe, Aiman sangat gemas kepada sahabat sekaligus sepupunya itu karena dengan polosnya mengatakan hal itu kepada Indi.
Berbeda dengan Indi yang merasa senang dengan ucapan Joe, Indi tampak menahan senyumnya dan itu dirasakan oleh Aiman.
"Kamu menertawakan aku ya?" tanya Aiman.
"Ih Mas Aiman PD banget, siapa juga yang menertawakan Mas."
Tiba-tiba, Keisya yang tidak tahu dengan kehadiran Aiman dan Joe langsung berteriak dari dalam rumah menuju halaman.
"Indi, boleh ga aku pinjam Novel ini?" teriak Keisya.
Indi, Aiman, dan Joe pun ikut menoleh kesumber suara membuat Keisya terperanjat apalagi melihat Aiman dia langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Bukankah anda Pak Aiman ya, pemilik "A Resto" yang ada di Malaysia?" tanya Keisya dengan antusiasnya.
"Iya, kok kamu tahu?" tanya Aiman karena merasa bingung.
"Aku Keisya Olivia Pak, yang dulu sempat menjadi Asisten Cheff di Restoran milik anda," sahut Keisya.
"Benarkah? kok aku ga tahu ya?" seru Aiman.
"Iya karena Pak Aiman jarang masuk ke dapur, nah kalau Pak Joe sering masuk kedapur," sahut Keisya.
Joe tidak berkedip melihat perempuan yang ada dihadapannya itu, malahan sekarang posisinya sudah tengkurap dengan kedua tangan digunakan untuk menopang dagunya.
"Kenapa kamu tidak pernah nyapa aku?" tanya Joe.
"Mana berani aku nyapa Pak Joe, lagipula wajah Pak Joe selalu jutek dan dingin membuat aku ngeri melihatnya juga," celetuk Keisya dengan polosnya.
Seketika tawa Aiman dan Indi pecah, sedangkan Joe tampak cemberut dan sekarang mengubah posisinya menjadi duduk bersila.
"Puas kalian menertawakanku," ketus Joe.
"Makannya Joe jadi orang jangan dingin-dingin, nanti semua perempuan malah takut ngelihat kamu," ledek Aiman.
"Masa sih Kei kamu ngeri melihat aku, padahal kan wajah aku tampan kaya gini," seru Joe.
Keisya hanya tersenyum mendengar ucapan Joe...
"Masya Alloh senyumannya indah sekali," puji Joe.
Keisya yang mendengar pujian Joe malah semakin malu dan wajahnya tampak memerah.
"Assalamualaikum," teriak Azzam.
"Waalaikumsalam," jawab semuanya bersamaan.
"Abi, ada apa tumben datang kesini?" tanya Indi.
"Kenapa ga boleh Abi datang kesini? mentang-mentang sudah ada Upin Ipin jadi Abi terasingkan," seru Azzam dengan memainkan jari-jarinya membentuk lingkaran dipagar rumah Indi.
"Ih apaan sih Abi, kaya anak perawan aja ngambekan, sini masuk malah rame kalau Abi kesini," sahut Indi.
"Beneran nih boleh masuk?"
"Astaga Abi, ayo cepetan masuk."
Perlahan Azzam pun masuk, sementara Aiman tampak tidak memalingkan wajahnya memperhatikan Azzam. Perasaannya tetap sama Aiman mersakan ada perasaan aneh kala melihat dan dekat dengan Azzam.
"Hallo Keisya cantik," sapa Azzam.
"Hallo juga Bang Azzam."
"Sudah lama tidak bertemu kamu makin cantik saja," goda Azzam.
"Ah Bang Azzam bisa aja," sahut Keisya dengan tersenyum malu-malu.
Joe yang melihat keakraban antara Azzam dan Keisya merasa kesal.
"Jangan ngelihatin aku seperti itu, matamu sudah hampir keluar tuh, aku tahu aku memang tampan tapi aku masih normal ga tertarik sama Laki-laki" seru Azzam dengan fokus mengotak-ngatik ponselnya.
"Maksud Abi siapa yang ngelihatin Abi?" tanya Indi.
"Siapa lagi Kalau bukan si Ipin, tuh matanya hampir keluar ngelihatin aku Buna," seru Azzam sembari melirik sebentar kearah Joe.
Joe makin terbelalak saat mendengar Azzam menyebutnya dengan nama Ipin.
"Woi, ngapain kamu sebut aku Ipin namaku Junaidi Maulana dan orang-orang biasanya memanggilku dengan sebutan Joe," ketus Joe.
Seketika tawa Azzam pecah, Azzam tertawa terpingkal-pingkal sembari memegang perutnya yang terasa sakit.
"Hai ngapain kamu tertawa seperti itu? memangnya ada yang lucu ya sama namaku?" tanya Joe dengan kesalnya.
"Ya iyalah, masa dari Junaidi Maulana dipanggilnya Joe jauh amat sudahlah aku panggil Ipin aja lebih pas," sahut Azzam.
"Enak aja manggil orang sembarangan dasar wortel kadaluarsa."
"Apaan wortel kadaluarsa, busuk dong aku banyak belatungnya," sewot Azzam.
"Emang," seru Joe dengan santainya.
"Ah rese banget kamu Ipin," sentak Azzam.
Semua orang yang ada disana tampak geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah Azzam dan Joe seperti itu padahal ini pertama kalinya Azzam dan Joe bertemu tapi sikap mereka seperti yang sudah lama kenal.
"Sudah-sudah jangan berantem, Mas Aiman sini gabung duduk disini, Indi mau buatkan kopi dulu sama cemilan untuk kalian semua," seru Indi.
"Asyik Buna memang paling the best," sahut Azzam.
Aiman duduk disamping Joe dan pandangannya terus mengarah kepada Azzam. Azzam tahu Aiman dari tadi memperhatikannya tapi Azzam pura-pura tidak melihatnya dan memilih memainkan ponselnya.
"Ngapain sih si Upin ngelihatin aku terus? dasar Upin Ipin aneh, mana jantungku berdebar kaya gini dilihatin si Upin, masa iya aku jatuh cinta? idih najis banget. Ya Alloh ampuni Azzam, Azzam masih normal ya Alloh," batin Azzam sembari bergidik ngeri.
"Kenapa aku merasa aku sudah kenal lama banget sama Azzam? setiap bertemu dan melihat Azzam ada perasaan aneh yang merasuk kedalam hati ini, Ya Alloh ada apa ini sebenarnya?" batin Aiman.
Tidak lama kemudian Indi dan Ibu Ninik pun datang dengan membawa kopi dan cemilan goreng bakwan andalan Indi.
"Maaf ya, disini cuma adanya ini doang ga ada makanan yang bagus," seru Ibu Ninik.
"Tidak apa-apa Bu, justru kami yang harusnya minta maaf karen sudah merepotkan Ibu," sahut Aiman.
"Ah tidak merepotkan, lagipula ini semua yang buat Indi bukan Ibu."
"Wah, Ibunya si wanita bunga ternyata masih cantik ya pantesan saja anaknya juga cantik sudah jelas kecantikannya menurun dari siapa?" seru Joe dengan mencomot bakwan buatan Indi.
"Woi Ipin, jangan ngegombal disini karena ngegombal itu bagian aku, lagipula ngegombal sama Ibu Ninik ga sopan banget," ketus Azzam dengan melempar cabe rawit kearah Joe.
"Apaan sih wortel kadaluarsa, syirik aja jadi orang jangan-jangan kamu takut ya kalah saing sama aku," seru Joe dengan menaik turunkan alisnya.
"Cih, kamu itu bukan level aku jam terbang gombalanku jauh lebih tinggi dibanding dengan dirimu, buktinya saja semua orang ngefans sama aku bahkan Ibu-ibu pun banyak yang klepek-klepek sama pesona seorang Azzam," sahut Azzam dengan bangganya.
"Heleh, digemari Ibu-ibu saja bangga," cibir Joe.
"Sudah stop, kalian itu apa-apaan sih? ga malu apa sama Ibunya Indi, sudah pada tua juga masih kaya anak kecil berantem ga jelas," seru Aiman.
"Iya, berantem laki-laki sejati itu saling pukul, saling tonjok, bukannya adu mulut kaya emak-emak komplek aja, Abi sama Mas galak malu-maluin ih," ledek Indi.
Semuanya tertawa....
"Ya sudah, Ibu masuk kedalam dulu ya mau istirahat mumpung libur," seru Ibu Ninik.
"Iya Bu," sahut semuanya bersamaan.
"Oh iya Pak Aiman, katanya Pak Aiman mau buat Restoran disini benar ga sih?" tanya Keisya.
"Iya sebentar lagi selesai kok, lokasi Restorannya disamping toko bunga tempat kerja Indi," sahut Aiman.
"Benarkah? kalau begitu bolehkah nanti Keisya bekerja lagi di Restoran Pak Aiman sebagai chef?" tanya Keisya dengan antusiasnya.
"Tentu boleh dong Kei, apa sih yang enggak buat perempuan secantik kamu," jawab Joe dengan cepatnya.
"Gombal lagi," cibir Azzam.
"Apaan sih nyamber aja kaya kereta api," ketus Joe.
"Kalau Indi boleh ga kerja di Restoran Mas? kerjaan apa aja deh Indi bisa kok, jadi pelayan juga boleh," seru Indi.
"Jangan, kamu cukup diam saja di rumah menunggu aku pulang dan menjadi Ibu dari anak-anakku," sahut Aiman.
"Wuidih mantap Im, gila aku ga nyangka kamu bisa menggombal juga," ledek Joe.
"Siapa yang ngegombal, itu asli tidak ada gombalan, serius nanti aku sama Orang tuaku akan datang kerumahmu Indi untuk melamarmu," seru Aiman dengan tatapan serius kearah Indi.
Sementara Indi merasa terkejut dengan ucapan tiba-tiba dari Aiman, begitu pun dengan Azzam yang merasa kaget ternyata Aiman sudah siap untuk melamar Indi, seketika Azzam kembali mengotak-ngatik ponselnya untuk menetralisir perasaan terkejutnya.
Sebenarnya di satu sisi Azzam merasa sakit mendengar ucapan Aiman yang akan segera melamar Indi tapi disisi lain Azzam juga sedikit lega karena Indi akan segera mendapatkan seseorang yang akan menjaga dan membahagiakannya.
"Ciee..ciee Indi, asyik nih dilamar Pak Aiman," goda Keisya.
"Kenapa Kei, kamu mau dilamar juga? entar deh aku lamar kamu, ditunggu ya," seru Azzam.
Keisya langsung terbelalak mendengar ucapan Azzam.
"Serius, Abi mau melamar Keisya?" tanya Indi tidak percaya.
Keisya masih merasa syok dengan ucapan Azzam, begitu juga dengan Joe yang merasa kecewa karena ternyata Azzam menyukai Keisya.
Azzam yang merasa semuanya menatap kearahnya dan menunggu jawaban darinya langsung tertawa terbahak-bahak membuat semua orang merasa bingung.
"Tapi bohong...yaelah kalian serius amat dengerin ucapanku, maaf Kei sudah membuatmu terkejut tadi Abang cuma bercanda kok jangan dimasukin ke lambung," canda Azzam.
"Hati woi bukan Lambung," sahut Joe.
Azzam hanya cengengesan sedangkan Keisya kembali menghela nafasnya setelah barusan sekian detik merasa nafasnya seakan berhenti mendengar ucapan Azzam.
"Ih Abang bikin jantungan aja," seru Keisya dengan memukul pelan pundak Azzam.
"Nyantai aja Kei, kalau disuruh untuk mencintaimu Abang tidak akan mampu karena Abang tahu, kamu sudah mencintai orang lain tapi kalau untuk melupakanmu sepertinya Abang akan segera pergi ke Kantor Kelurahan untuk membuat surat keterangan tidak mampu," ucap Azzam.
"Haiiisss bisa aja lo wortel kadaluarsa," cibir Joe.
"Iya dong, baru tahu keahlianku?" sahut Azzam.
"Yaelah, aku juga bisa kali ngegombal dengerin nih. Kei, cintaku itu tulus seputih melati masihkah engkau meragukannya Kei? jika iya, haruskah kurendam hatiku dengan soklin pemutih?" seru Joe dengan menatap kearah Keisya.
Lagi-lagi tawa Azzam pecah seketika mendengar gombalan Joe yang seakan dipaksakan itu.
"Sekalian aja lo rendam pakai Molto biar wangi tuh hati," seru Azzam dengan terus tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Keisya pun tampak menahan tawanya, Joe malah cemberut dan itu malah membuat semuanya tertawa karena wajah Joe terlihat sangat lucu.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan rumah Aiman, semuanya menoleh kearah mobil itu dan turunlah seorang pria paruh baya yang masih sangat tampan dan gagah yang tidak lain adalah Papa Azril yang merupakan Papa Aiman.
"Papa..." seru Aiman dan mulai beranjak dari duduknya untuk menghampiri Papanya.
"Om Azril.." teriak Joe dan langsung menyusul Aiman.
Aiman langsung memeluk Papanya itu demgan rasa rindu yang membuncah karena sudah berbulan-bulan Aiman tidak berjumpa dengan Papanya.
Sementara Azzam tampak memperhatikan Aiman yang sedang berpelukan dengan Papanya itu, ada perasaan sakit dan sesak didada Azzam kala melihatnya. Raut wajah Azzam pun berubah menjadi murung dan Azzam langsung menundukan kepalanya.
Indi sadar dengan perubahan raut wajah Azzam, didekatinya Azzam dan duduk disamping Azzam.
"Abi kenapa?" tanya Indi.
"Abi tidak apa-apa Buna, Abi cuma sedih aja kapan ya Abi bisa seperti si Upin itu dipeluk sama seorang Ayah," sahut Azzam dengan senyumannya.
Indi tahu kalau senyuman Azzam sangat dipaksakan, Indi bisa lihat kalau diwajah Azzam tersimpan kesedihan yang sangat mendalam.
"Abi yang sabar ya," seru Indi dengan mengusap punggung Azzam.
"Iya, Bang Azzam yang sabar jangan bersedih seperti itu," sambung Keisya dengan menepuk pundak Azzam.
Azzam tersenyum...
"Aku jadi terharu mempunyai Bidadari-bidadari cantik yang menghiburku," sahut Azzam.
Sedangkan disisi lain, Papa Azril yang menoleh kearah rumah Indi tidak sengaja beradu pandang dengan Azzam, lagi-lagi perasaan aneh itu timbul, hingga akhirnya Papa Azril masuk kedalam rumah Aiman.
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Jangan lupa
like
vote dan hadiah
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💋💋💋
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya