Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Yang Sulit
Lucas dan Bima menatap gedung tinggi yang tadi sudah di tuliskan di dalam kertas yang dia baca, Bima kemudian menatap Tuannya itu.
"Tuan, Anda yakin pergi sendiri, mungkin tempat itu sangat berbahaya," ucap Bima mengerutkan keningnya.
"Tidak, kalian berjaga lah disini kalau terjadi apa-apa," tolak Lucas sebab para bawahannya akan mempersulit negosiasinya nanti.
"Baik kalau begitu, Tuan," jawab Bima membungkukkan tubuhnya dan mundur selangkah kebelakang Lucas.
Sedangkan Lucas mulai melangkahkan kaki kanannya memasuki tempat itu, kini langkah lebarnya sudah menghilang di balik tembok ruangan itu. Membuat Bima makin cemas dengan keadaan gending.
Baru saja Bima ingin berbalik dan memberikan perintah pada teman-temannya untuk waspada dan bersiap pada setiap kemungkinan, tiba-tiba saja Mia diam-diam masuk kedalam ruangan itu. Tanpa di sadari oleh siapapun dia sudah berlari memasuki gadung.
"Aduh... Wanita itu mencari perkara saja, membuat repot," dengus Bima mencengkram tangannya dengan erat melihat kepergian Mia.
"Bagaimana kita tangkap saja dia, Bos. Agar tidak membuat kekacauan di dalam dan menganggu Tuan," sahut salah satu bawahan Lucas.
"Sudahlah tidak usah, nanti kalau kita menangkapnya mungkin para penculik akan curiga bahwa Tuan membawa banyak orang," geramnya rendah, kemudian kembali fokus menatap kearah bawahan Lucas.
*
Kini Lucas sudah berada di dalam gedung tinggi itu tepat di lantai paling atas, nampak ruangan itu sangat lembab dengan background hitam dari lumut yang memperlihatkan berapa lama gedung itu terbengkalai. Serta tetesan air di beberapa tempat yang menunjukan ruangan itu telah bocor dimana-mana serta lantai yang berdebu.
Sorot mata Lucas menemukan Lily dan Shopia yang sedang dipegangi oleh para penjahat itu dengan tangan terikat kebelakang dan kening mereka di todong dengan senjata api.
Mereka yang juga sudah melihat Lucas tersenyum puas, "Kau datang juga Tuan Alexandro," panggil salah satu pria bertopeng itu.
Lucas mengangkat tangannya karena salah satu dari mereka kini menodongkan senjata apinya seolah mengatakan Lucas tidak boleh mendekat kesana dan hanya boleh bernegosiasi dari jauh.
"Aku sudah membawa apa yang kalian perintahkan, sekarang lepaskan mereka!" desak Lucas sembari mengambil flashdisk yang berisi data yang orang-orang bertopeng itu inginkan.
Pria yang menodongkan senjata pada Shopia mengatakan, "Tidak semudah itu Tuan, berikan dulu barangnya," pinta nya dengan senyum licik.
Lucas geram mendengarnya, kalau dia saja yang berada situasi ini mungkin dia kan cepat membereskannya. Namun, situasinya berbeda selepas melihat sorot mata anak-anak yang akan dia selamatkan, Shopia yang terlihat tenang meskipun Lucas tau anak itu pasti sedikit ketakutan dan Lily yang terus menangis.
Dengan gerakkan kasar Lucas kemudian meletakkan flashdisk itu di tangan sang pria bertopeng, "Bagus Tuan Alexandro!" teriak pria bertopeng itu.
"Sekarang giliran kalian, lepaskan mereka!" geram Lucas sebab takut mereka mengingkari janji yang telah di sepakati.
"Hahaha... Anda pikir mudah bernegosiasi dengan kami, Anda harus pilih salah satu, Tuan Alexandro..." ledek pria bertopeng itu.
"Apa maksud kau?!" murka Lucas, rahangnya kini mulai mengeras dan tangan mulai mengepal seolah sebentar lagi akan memerintahkan bawahannya untuk menyerang.
"Owh... Owh... Tenang Tuan, saya ingin mengatakan kalau yang satu Anda selamatkan, maka yang lain akan saya jatuhkan dari sini. Silahkan pilih atau keduanya mati," goda pria bertopeng itu, mengarahkan senjata apinya kearah bawah gedung yang berada di belakang mereka.
Kedua anak itu tersentak kaget, Shopia yang mendengarnya masih bisa bersikap tenang meskipun kemungkinannya akan mati jika terjun, sedangkan Lily nampak menangis dengan keras dan memberontak meminta di lepaskan.
"Papa, selamatkan aku!" teriak Lily pada Lucas semakin membuat para pria bertopeng tersenyum.
Melihat pemandangan itu jantung Lucas terasa ingin copot. Dia tidak bisa membaut pilihan antara Lily seorang anak dari teman dekatnya yang sudah di menyelamatkannya. Sedangkan Shopia adalah putri kandungnya yang tidak di terima selama ini. Namun, sekarang dia sudah merasakan tidak bisa kehilangan anak yang menurutnya licik itu. Lucas sulit mengambil keputusan sekarang.
"Bagaimana Tuan?" pria bertopeng itu membuyarkan lamunan Lucas.
Tiba-tiba dalam keheningan sebab Lucas masih memikirkan banyak kemungkinan, tetapi Shopia berteriak, "Tuan! pilih Nona Lily saja! Selamatkan Nona!"
Lucas tersentak bahkan Lily pun ikut kaget, karena ada seseorang ingin mengorbankan nyawanya sedangkan dirinya pun kini ketakutan dan tak bisa berfikir jernih.
Lucas begitu geram mendengar penuturan yang ucapkan oleh Shopia, "Apa yang kau katakan anak bodoh?!"
"Pia tidak bohong Tuan, selamatkan saja Nona Lily. Nona hanyalah gadis kecil, anak rumahan! Nona anak yang baik, Nona tidak tau rasa sakit!" teriak Shopia.
"Lain dengan Pia yang sudah terbiasa sakit! Yang biasa sendirian! Pia Kuat! Jadi selamatkan Nona Lily saja!"
Shopia memaksa Lucas dengan begitu susah payahnya membuat sang tuan merasa frustasi kalau begini, bisa saja menguatkan dirinya untuk memilih Lily nantinya. Namun, yang merasa dia lebih nya sakit hati adalah ketika putrinya itu seolah mengatakan keluh- kesah yang selama ini gadis kecil itu pendam.
"Tuan, tolong selamatkan Nona Lily! dia adalah putri kesayangan di keluarga kami, Mamanya sudah tiada dan Papanya meninggal karena menyelamatkan Anda, jadi saya mohon tolong selamatan Nona Lily dulu!"
Mia tiba-tiba datang dan memelas seolah yang boleh hidup hanya nona serta mendesak Lucas untuk menyelamatkan Lily sebab ayah gadis kecil itu telah menyelamatkan hidup Lucas.
Lucas semakin geram melihat kesana kemari berharap Mia segera pergi dan meracuni pikirannya. Namun, tak ada satupun yang bisa dia mintai tolong untuk membawa Mia pergi menjauh dari tempat itu, dia baru ingat para bawahan sudah dia perintahkan untuk menunggu di luar dan mereka pasti sangat menuruti perintahnya.
Lucas menarik nafas kasar, semakin lama dia membuat negosiasi maka semakin lama anak-anak itu dalam bahaya akhirnya Lucas memutuskan dengan perlahan dia memejamkan mata.
"Aku pilih anak itu," pinta Lucas menujukkan tangan kearah Lily.
"Hahaha... Bagus... Bagus..., Tuan Alexandro,"
Para penjahat itu tertawa puas. Mereka kemudian melepaskan ikatan Lily dan setengah melempar tubuh mungil itu kelantai yang dingin namun Lucas dengan cepat menangkap tubuh Lily dengan keadaan yang cukup panik.
Sebab dia harus cepat mencari akal agar Shopia tidak terjatuh dari gedung itu, pria bertopeng itu kemudian menyentuh pipi Shopia dengan moncong senjatanya.
"Dan sekarang anak ini milik kami, ucapkan selamat tinggal pada ayah yang tidak berguna itu," ledek pria bertopeng itu yang sebenarnya sudah mengetahui status Shopia beberapa jam yang lalu selepas sampai di gedung terbengkalai itu.
Seringai nampak jahat dan secepat kilat menjatuhkan tubuh Shopia ke bawah gedung terbengkalai itu.