NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 17: Api Pertama

Pagi datang lebih cepat dari biasanya.

Atau mungkin—

kota yang terlalu gelisah membuat waktu terasa berbeda.

Heimdall belum benar-benar tenang.

Prajurit masih berjaga di jalan-jalan utama. Simbol kuil Sagitta terlihat lebih banyak dari biasanya, tergantung di dinding dan gerbang seperti pengingat bahwa kota itu sedang diawasi.

Orang-orang berbicara lebih pelan.

Beberapa memilih menunduk ketika melihat penjaga lewat.

Namun di sisi lain—

di tempat yang jarang diperhatikan—

kehidupan tetap berjalan.

Di distrik kumuh, asap tipis mulai naik dari rumah-rumah reyot. Anak-anak berjalan tanpa alas kaki di jalan tanah yang lembap, sementara orang-orang dewasa mencoba memulai hari mereka seolah ketegangan yang menyelimuti kota tidak ada.

Di sebuah gang sempit—

Finn sedang memperbaiki roda kayu tua ketika langkah seseorang terdengar mendekat.

Ia mengangkat kepala.

Dan membeku sesaat.

“…Grachius.”

Grachius berdiri di ujung gang dengan tenang.

Rambut putihnya bergerak pelan tertiup angin pagi.

Sasha yang keluar membawa ember kecil juga berhenti mendadak.

“Kau kembali…”

Ada kelegaan dalam suaranya.

Namun juga kekhawatiran.

Grachius mengangguk kecil.

“Aku akan pergi dari Heimdall.”

Hening sejenak.

Finn langsung memahami maksudnya.

“Kota ini sedang mencari mu.”

“Ya.”

Tidak ada kepanikan dalam jawaban Grachius.

Seolah semua itu memang sudah diperkirakan.

Finn berdiri perlahan.

“Aku ikut.”

Sasha langsung menoleh padanya.

Namun sebelum ia sempat bicara—

“Aku juga bisa membantu.” katanya cepat.

Grachius memandang mereka berdua beberapa detik.

Tatapannya tetap tenang.

Namun tegas.

“Tidak.”

Jawaban itu langsung.

Finn mengerutkan kening.

“Kami tidak akan merepotkan—”

“Perjalananku terlalu berbahaya.”

Grachius memotong dengan nada datar.

Tidak dingin.

Tidak merendahkan.

Hanya… kenyataan.

“Kalian tidak akan bertahan.”

Gang kembali sunyi.

Finn mengepalkan tangannya pelan.

Karena jauh di dalam dirinya—

ia tahu Grachius benar.

Grachius menatap Finn.

“Jaga Sasha.”

Tatapan Finn sedikit bergerak.

Lalu Grachius mengeluarkan dua lembar kertas kecil dari dalam pakaiannya.

Jimat.

Permukaannya dipenuhi simbol dan pola hitam rumit yang tampak seperti tulisan namun tidak benar-benar bisa dibaca.

Grachius menyerahkannya satu pada Finn, satu pada Sasha.

“Kalau dalam bahaya…”

Tatapannya turun pada jimat itu.

“…lempar.”

Finn memperhatikan jimat tersebut dengan heran.

“Ini apa?”

“Gunakan saat dalam keadaan terdesak.”

Namun cukup membuat Finn dan Sasha sadar—

Grachius bukan hanya petarung biasa.

Ada sesuatu yang jauh lebih aneh dan besar pada dirinya.

Sasha menggenggam jimat itu hati-hati.

“…kau benar-benar akan pergi sendiri?”

Grachius mengangguk kecil.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu Finn menghela napas panjang.

“Kalau begitu…”

Ia mencoba tersenyum tipis.

“…jangan mati.”

Grachius menatap mereka beberapa saat.

Lalu menjawab pelan—

“Aku belum selesai.”

Dan tanpa menambahkan apa pun lagi—

ia berbalik.

Mulai berjalan meninggalkan gang sempit itu.

Namun kali ini—

Finn dan Sasha tidak merasa sedang melihat seseorang pergi.

Mereka merasa sedang melihat sesuatu yang jauh lebih besar.

...—...

Gerbang timur Heimdall dijaga jauh lebih ketat dibanding sebelumnya.

Prajurit berdiri di setiap sisi gerbang batu besar. Obor masih menyala meski matahari sudah naik, sementara orang-orang yang ingin keluar kota diperiksa satu per satu.

Tudung dibuka.

Wajah diperhatikan.

Rambut diperiksa.

Suasana terasa tegang.

Grachius berjalan mendekat dengan langkah tenang.

Enjin bergoyang pelan di pinggangnya.

Beberapa penjaga langsung memperhatikannya.

“Berhenti.”

Dua prajurit melangkah maju menghalangi jalan.

Grachius berhenti tanpa protes.

“Mau ke mana?”

Salah satu penjaga bertanya sambil memperhatikan pakaiannya.

“Berpetualang.”

Jawaban itu terdengar terlalu sederhana.

Penjaga itu sedikit mengernyit.

Namun belum curiga.

Sampai matanya perlahan naik—

dan melihat rambut Grachius.

Putih.

Dengan semburat warna merah kuning.

Tatapan penjaga itu berubah sedikit.

“Angkat kepalamu.”

Grachius melakukannya.

Dan ketika matanya terlihat—

kuning.

Kemerahan.

Seperti bara matahari.

Hening sesaat.

Lalu—

“ITU DI—!”

Penjaga bahkan belum sempat menyelesaikan teriakannya.

Grachius bergerak.

Cepat.

Tangannya menghantam tenggorokan penjaga pertama dengan sisi telapak.

Buk.

Pria itu langsung roboh tanpa suara.

Penjaga kedua baru sempat menarik pedang setengah jalan sebelum Enjin menghantam pergelangan tangannya.

Pedang jatuh.

Lutut Grachius menghantam perutnya.

Tubuh pria itu terlipat sebelum terjatuh ke tanah.

Semua terjadi dalam beberapa detik.

Beberapa penjaga lain mulai menoleh panik.

Namun sebelum alarm besar benar-benar berbunyi—

Grachius sudah berjalan melewati gerbang.

Tenang.

Tidak berlari.

Dan beberapa langkah kemudian—

Heimdall berada di belakangnya.

Kota itu perlahan mengecil di kejauhan saat Grachius terus berjalan menuju timur.

Angin pagi bergerak melewati rambut putihnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan hutan—

ia benar-benar meninggalkan sesuatu di belakangnya.

...—...

Di distrik kumuh—

Finn duduk diam di depan rumah reyot kecil mereka.

Jimat pemberian Grachius berada di tangannya.

Ia memandangi pola-pola aneh di atasnya cukup lama.

Sasha duduk di sampingnya tanpa bicara.

Beberapa saat, hanya suara kota pagi yang terdengar samar dari kejauhan.

“…aku selalu lemah.”

Suara Finn akhirnya memecah sunyi.

Tatapannya tetap pada jimat itu.

“Aku tidak bisa melindungi mu.”

Sasha langsung menggeleng kecil.

“Finn—”

“Aku juga tidak bisa melawan mereka.”

Nada suaranya tidak marah.

Justru terlalu tenang.

“Itulah kenapa kita terus diinjak.”

Hening.

Finn menatap langit pucat di atas Heimdall.

Lalu mengingat sosok Grachius berjalan sendirian menuju seluruh dunia.

Melawan para dewa.

Sendirian.

Dan anehnya—

hal itu membuat sesuatu bergerak di dalam dirinya.

Kalau seseorang seperti itu bisa melawan…

mungkin manusia juga bisa.

Mungkin mereka tidak benar-benar selemah yang selalu diajarkan.

Finn menoleh pada Sasha.

“Kalau kita melakukan sesuatu yang berbahaya…”

Tatapannya sedikit goyah untuk pertama kalinya.

“…kau tetap ikut denganku?”

Sasha bahkan tidak berpikir lama.

“Tentu saja.”

"Kita sudah berjanji akan selalu bersama."

Finn mengangguk tersenyum.

Finn perlahan menggenggam jimat itu lebih erat.

Tatapannya berubah sedikit.

Lebih tajam.

“Kalau kita tidak bisa melawan dewa…”

Ia berdiri perlahan.

“…maka kita mulai dari orang-orang kuil.”

Angin pagi bergerak melewati gang-gang kumuh Heimdall.

Dan di tempat yang selama ini hanya dipenuhi rasa takut—

sesuatu mulai menyala.

Kecil.

Rapuh.

Namun nyata.

Api kecil perlawanan.

Sementara jauh di jalan timur—

Grachius terus berjalan tanpa mengetahui apa yang mulai ia tinggalkan di belakangnya.

Namun dunia telah berubah sedikit.

Dan suatu hari nanti—

api kecil itu…

mungkin akan tumbuh menjadi sesuatu yang bahkan para dewa tidak mampu padamkan.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!