Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue Spekuk dan Deklarasi Dadakan
"Gimana kalo kita mampir ke panti? Udah sampe sini juga. Sekalian istirahat. Gimana?" tanya Nia pada Angkasa saat keduanya sudah berada di kaki bukit. Angkasa menatap smart watch di tangannya.
"Tapi kalo kamu ada acara..."
"Baik. Sebentar aja," kata Angkasa lalu memakai helmnya. Nia tersenyum lalu mengangguk semangat.
Motor sport Angkasa membelah jalanan desa yang sangat dikenalnya. Banyak bangunan baru di pinggir jalan yang mereka lalui. Tempat yang dulu begitu syahdu, kini terlihat lebih semarak dan ceria.
"Ang, mampir toko kue Bu Asri bentar ya," ajak Nia. Angkasa hanya diam.
Toko kue Bu Asri terletak di dekat persimpangan menuju panti. Angkasa menghentikan motornya di depan sebuah ruko dengan bangunan yang terasa vintage di jaman sekarang.
"Silakan," suara ramah seorang gadis sebaya Nia menyambut saat Angkasa dan Nia memasuki toko.
"Eh? Nia?!" pekik gadis itu. Nia tersenyum.
"Embun, apa kabar?" tanya Nia saat Embun menghambur memeluknya.
"Baik. Ya ampuuun udah berapa taun nggak ketemu. Kamu tambah cantik," kata Embun.
"Kamu bisa aja. Kamu juga, nggak kalah manis kek kue-kue Bu Asri," kata Nia. Keduanya tertawa kecil.
"Ini? Pacar kamu?" tanya Embun. Nia tersenyum sambil melirik Angkasa.
"Eh? Bentar. Tunggu. Aang?! Iya kan? Aang kan?" tanya Embun pada Angkasa.
"Hm,"
Embun mengerutkan kedua alisnya.
"Dia kerasukan alien atau setan bisu ya, Nia?" tanya Embun heran. Angkasa yang dikenalnya dulu tak sedingin itu. Nia hanya tersenyum.
"Kenalin. Ini Angkasa versi update two point o," kata Nia. Seketika tawa Embun pecah.
"Ada-ada aja kamu," kata Embun di sela-sela tawanya.
"Eh, aku mau beli ku spekuk lima box ada?" tanya Nia pada Embun.
"Lima? Bentar. Ada keknya," kata Embun sambil kembali masuk ke display area.
"Dipotong sekalian nggak, Nia?" tanya Embun.
"Boleh,"
Embun dengan cekatan memotong spekuk satu per satu.
"Bu Asri mana, Mbun?" tanya Nia. Embun menghentikan gerakan tangannya.
"Ibuk udah meninggal, Nia. Tiga bulan yang lalu," kata Embun sambil menatap kue spekuk di hadapannya.
"Eh? Maaf," kata Nia. Angkasa menatap Nia dalam diam.
Angkasa ingat, Bu Asri sering memberi mereka masing-masing dua potong kue spekuk jika mereka sedang dalam perjalanan menuju Bukit Senja.
"Kanker. Tau-tau udah stadium akhir. Ibuk nggak pernah ngeluh sakit. Ibuk keliatan sangat sehat sampai tiba-tiba Ibuk pingsan pas bikin kue di dapur," cerita Embun.
Hening.
Nia mengingat jelas senyum Bu Asri setiap kali dia dan Angkasa lewat depan toko kuenya. Hangat. Seperti kue spekuk yang baru keluar dari pemanggang.
Nia menatap Embun yang sudah kembali memotong kue spekuk pesanannya dalam diam. Nia tahu rasanya hidup tanpa ibu. Tapi, Nia tak bisa merasakan hidup tanpa ibu setelah bertahun-tahun ibu itu ada di dalam hidupnya.
'Pasti berat kan, Mbun?'
***
Jam 18.43. Suasana panti sudah cukup sepi saat Nia dan Angkasa tiba disana. Anak-anak sibuk belajar di ruang belajar. Nia dan Angkasa memasuki bangunan yang masih sama seperti yang mereka tinggalkan sebelumnya. Hanya terdapat sedikit perubahan pada cat dinding —yang sepertinya baru— dan beberapa ornamen hiasan buatan anak-anak panti.
"Assalamu'alaikum..." ucap Nia sambil memasuki pintu depan.
"Wa'alaikumsalam... Nia?!" Bu Melati, ibu kepala panti, sedikit terkejut. Nia tersenyum lalu mencium tangan Bu Melati.
"Kok nggak telepon dulu? Biasanya ngabarin kalo mau dateng," kata Bu Melati.
"Iya, Bu. Nggak direncanain mau kesini," kata Nia.
"Sama siapa? Bukan sama Nak Bayu?" tanya Bu Melati. Angkasa mengerutkan alisnya, menyadari bahwa Nia sering membawa Bayu ke panti.
"Coba tebak, Bu, Nia dateng sama siapa?" kata Nia sambil melirik ke arah Angkasa. Bu Melati mengerutkan alisnya sesaat, mencoba mengingat-ingat.
"Angkasa?" tanya Bu Melati ragu-ragu. Angkasa lalu mencium tangan Bu Melati.
"Lama nggak bertemu, Bu," kata Angkasa, tak sedingin saat berbicara pada Nia.
"Ya ampuuun... Kamu makin ganteng aja! Ibuk sampe pangling," kata Bu Melati. Angkasa tersenyum tipis. Nia menaikkan kedua alisnya, terkejut melihat senyum pertama Angkasa setelah sekian tahun.
'Mungkin... memang lebih baik dia jarang senyum aja. Bahaya,' pikir Nia.
"Ayo masuk," kata Bu Melati sambil membawa Nia dan Angkasa masuk lebih dalam ke panti. Angkasa mengambil alih membawa kantong plastik berisi box spekuk saat melihat Nia kerepotan membawanya. Nia tersenyum.
"Udah berapa bulan kamu nggak dateng? Anak-anak banyak yang nanyain," kata Bu Melati.
"Iya, maaf, Bu. Tugas kampus lagi banyak-banyaknya. Kak Bayu juga keknya lagi sibuk banget," kata Nia.
"Mama papa sehat?" tanya Bu Melati.
"Alhamdulillah, Bu,"
"Aang, lama kamu nggak kesini," kata Bu Melati.
"Aang dikirim ke Jepang, Bu. Baru pulang minggu-minggu lalu," kata Angkasa.
"Jepang?" tanya Nia dan Bu Melati bersamaan sambil menoleh menatap Angkasa. Angkasa sedikit terkejut lalu mengangguk.
"Tiga tahun setelah tinggal di kediaman Mahendra, mama meminta saya pindah ke Jepang untuk memberikan pendidikan nilai dan kemandirian," kata Angkasa menjelaskan.
"Pantas aja aku nggak bisa menghubungi kamu sama sekali waktu itu," kata Nia. Angkasa terdiam.
"Syukurlah kamu sehat. Setelah kamu diasuh keluarga Mahendra, kamu nggak pernah berkunjung sama sekali. Ibuk jadi cemas," kata Bu Melati.
"Meski Tuan Mahendra terkadang mampir kesini, tapi Tuan Mahendra tak pernah menceritakan apapun tentang kamu. Tiap kali Ibuk tanya tentang kamu, jawabannya hanya singkat dan mengalihkan ke topik yang lain," kata Bu Melati.
Angkasa terdiam. Selama ini papanya jarang berbicara dengannya setelah kejadian percobaan kabur delapan tahun yang lalu. Setalah Angkasa pindah ke Jepang, hanya Nyonya Mahendra yang sering menelepon dan berbicara cukup lama dengannya.
"Kak Niaaa!" panggil seorang anak perempuan. Panggilan itu membuat anak-anak yang lain ikut keluar dari ruang belajar dan menghambur menemui Nia.
"Hai!" kata Nia dengan senyum lebarnya.
"Kami kangen!!! Kak Nia lama banget nggak kesini," kata salah seorang anak.
"Maaf ya. Oh ya, Kak Nia bawain spekuk kesukaan kalian," kata Nia sambil menunjuk kantong plastik yang dibawa Angkasa. Anak-anak terdiam, menatap Angkasa. Angkasa menatap satu per satu anak-anak panti.
"Siapa mau spekuk?" tanya Angkasa sambil mengangkat kantong plastik di tangannya dan tersenyum lebar.
Mata Nia membulat. Senyum lebar pertama Angkasa yang Nia lihat setelah belasan tahun. Wajah Angkasa yang hangat kembali. Nia tertegun sesaat.
"Itu pacar Kak Nia?" tanya Sukma, anak yang pertama kali memanggil Nia saat keluar dari ruang belajar.
"Eh?"
"Hmmm~ iya kan?" goda Sukma.
"Bu-bukan," kata Nia, gugup.
Angkasa meletakkan kantong plastik isi kue spekuk di meja terdekat lalu berjalan ke arah Nia.
"Aku bukan pacarnya," kata Angkasa tiba-tiba, mengejutkan Nia dan Sukma.
"Kenalin," kata Angkasa sambil mengulurkan tangannya ke arah Sukma sambil menarik bahu Nia ke arahnya. Nia terkejut.
"Angkasa. Calon suami Dunia," lanjut Angkasa sambil tersenyum tipis ke arah Sukma.
Mata Nia membulat. Pipinya terasa panas. Nia yakin kini pipinya pasti terlihat merah. Seluruh ruangan menatap ke arah Nia dan Angkasa dengan tatapan tak percaya.
'Kenapa jadi ada deklarasi dadakan?'
***