NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AROGAN

Unit milik Luca berada di lantai atas yang hanya terdapat beberapa unit mewah dalam satu lantai.

Hana menekan password pintu untuk membuka unit Luca.

Aroma maskulin memenuhi ruangan, seakan meninggalkan sosok Luca di apartemennya.

Hana meletakkan tas dan memulai pekerjaannya sebelum Luca datang.

"Tuan, berapa sisa hutang saya?"

"Aku belum menghitungnya."

"Bisakah Tuan menghitungnya sekarang? Saya ingin tahu."

"Siapa kau berani menyuruhku?"

Hana terdiam, ia hanya ingin mengetahui berapa sisa hutangnya setelah beberapa bulan bekerja di apartemen Luca.

Hana diperintahkan oleh Luca tinggal di apartemennya agar memudahkan dirinya berangkat bekerja ke perusahaan dengan jarak yang lebih dekat dari pada kost tempat tinggal Hana.

"Saya khawatir jika ada gosip yang tak enak menyerang anda, Tuan."

" Apa mereka akan mengira aku berkencan dengan babu sepertimu?" Luca memandang tajam ke arah Hana.

"Maaf Tuan." Cicit Hana.

"Kau harusnya bisa berpikir, orang yang mengenalku bahkan akan mengira jika kau adalah pembantuku." Luca melangkah pergi ke lantai dua meninggalkan Hana yang tertunduk.

Ucapan Luca yang menusuk tak membuat Hana sakit hati, ia seolah tak begitu peduli tentang penilaian orang lain terhadapnya.

Usai makan malam, Hana mencuci semua peralatan bekas memasak, kemudian ia masuk ke kamarnya yang berada di lantai satu.

Majikannya tak terlihat lagi berada di lantai bawah, mungkin pria itu sedang berkutat dengan laptopnya di dalam kamar.

Hampir jam 10 malam, Hana belum bisa memejamkan matanya. Ia berniat untuk menyeduh kopi yang ia beli sepulang dari kantor.

Langkah mantap yang menuruni tangga membuat Hana menoleh ketika ia sedang mengaduk kopi miliknya.

Terlihat Luca yang menggunakan jubah tidur dengan rambut yang ia biarkan jatuh di dahi membuatnya sedikit lebih muda.

"Saya sedang membuat kopi, apa anda ingin kopi juga?"

"Tidak, aku hanya ingin minum."

Hana meneruskan mengaduk kopi miliknya, maniknya sesekali melirik Luca yang sedang minum segelas air di sisinya.

"Kenapa kau belum tidur?"

"Saya tidak bisa tidur, Tuan."

"Dan kau akan meminum kopi itu?" pria itu menatap heran gadis muda di depannya.

"Ya, Tuan."

"Apa kau tahu efek samping kopi?"

"Ya, Tuan. Namun kopi dapat membuat saya mengantuk." Luca memiliki ide.

"Kau tak bisa tidur, kan?"

"Benar, Tuan. Anda mendengarnya." Luca mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Hana yang seolah mengoloknya tuli.

"Kalau begitu, pijat tubuhku."

Hana mendongak menatap Luca sejenak, pria itu juga diam menatapnya.

"Baik, Tuan."

Luca berlalu menuju kamarnya dan diikuti oleh Hana.

Tanpa malu, Luca membuka jubahnya yang tersisa hanya boxer di tubuhnya. Pria itu tidur tengkurap di atas ranjang, Hana gugup melihat pemandangan tersebut.

"Ada apa?"

"Tidak, tuan."

"Aku tahu kau terpesona pada tubuhku dan kau beruntung bisa menyentuhnya." Wajah Hana semakin merah padam.

Luca hanya tersenyum miring melihat reaksi pembantunya itu.

"Lakukan Hana."

"B-baik, tuan."

Hana segera menuangkan minyak urut ke punggung Luca dan mulai memijatnya. Ia tak yakin pijatannya akan terasa enak, ia belum pernah memijat seseorang sebelumnya.

"Lebih kuat lagi."

"Baik." Hana mengerahkan seluruh tenaganya agar pijatannya terasa di tubuh besar Luca.

Bulir-bulir keringat beberapa kali ia seka di keningnya.

Hampir dua jam Hana memijat tanpa henti, ia sudah sangat lelah dan menguap beberapa kali.

Tanpa sadar ia berbaring dan terlelap di sisi Luca yang sudah lebih dulu tertidur.

Sinar matahari seperti ingin memaksa masuk dari balik tirai jendela berwarna abu tua.

Dua insan yang masih terlelap saling berpelukan di balik selimut seakan enggan membuka mata.

Tubuh bersurai panjang menggeliat kecil enggan melepaskan pelukan di pinggang Luca yang sudah tersadar beberapa menit yang lalu.

Ia tak membangunkan Hana yang masih asyik memeluknya, pria itu menikmati moment yang langka dengan perempuan yang sehari-hari menatapnya dengan datar.

"Apa kau begitu mendambaku, Hana?" Suara serak pria tersebut membuat Hana melotot ketika ia menengadah menatap manik tajam yang sedang menatapnya.

Segera ia melepaskan diri dan langsung berdiri di sisi ranjang.

Luca yang berbaring miring dengan santai menopangkan kepalanya di satu tangan menghadap ke arah Hana.

Tubuh bagian dada dan perut terekspos dengan bebas hanya pinggang ke bawah yang tertutup selimut. Hal itu membuat Hana salah tingkah.

"Ma-maaf, tuan. Saya tidak sengaja tertidur di sini semalam." Hana tertunduk dengan rambut yang berantakan.

"Akui saja kalau kau memang menantikan hal ini."

Hana menggeleng keras.

"Tidak, tuan." Hana menggigit bibir dalam, dia beberapa kali memaki dirinya yang teledor.

"Aku tak keberatan jika kau mengatakan terus terang."

"Saya minta maaf, tidak akan mengulanginya lagi. Saya permisi." Hana segera melangkah pergi keluar dari kamar.

Luca menyeringai kecil melihat tingkah Hana yang menurutnya imut dengan wajah yang merah.

Ia bersiul menuju kamar mandi untuk segera bersiap berangkat bekerja.

Sarapan yang terburu-buru dan juga Hana yang segera berlari ketika keluar dari lift menuju halte agar tak terlambat membuatnya lupa berpamitan dengan Luca yang turun bersamanya.

Pria itu mengendarai mobil yang ada di basement dengan Ruby yang menyetir, ia melewati Hana yang berdiri bersama orang-orang yang menunggu bus di halte.

Gadis itu tak mengenali mobilnya, ia sibuk mengamati lingkungan sekitar.

"Baby, lihat aku bawa apa untukmu." Perempuan stylish berambut blonde masuk ke dalam ruangan di mana Luca sedang memeriksa beberapa dokumen.

"Aku tak menyuruhmu kemari. Pulanglah." Pria itu bahkan tak menatap wajah tunangannya.

"Oh, ayolah. Aku ingin menampilkan image seorang tunangan dari Luca Romano." Ia duduk dengan kaki menyilang yang memperlihatkan paha mulusnya.

"Kau tak perlu melakukannya, setelah proyek kakekmu selesai, hubungan kontrak kita juga usai." Sontak perempuan itu cemberut, ia melipat kedua tangan di dada.

"Kau sungguh tak peka. Aku jatuh cinta padamu, Luca."

"Itu tak merubah apapun."

"Aku akan menikahimu."

"Kau tidak akan mendapatkannya."

"Bahkan jasadku." Sambung Luca tanpa memandang Helen yang duduk di sofa.

Perempuan bergaun minim tersebut berdecak, ia kemudian mengeluarkan ponsel untuk mengusir kebosanannya.

Tak lama ketukan pintu terdengar dan seorang perempuan muda berseragam cleaning service masuk menuju meja kerja Luca.

"Anda memanggil saya, Tuan?"

"Usir perempuan itu." Luca menunjuk Helen dengan dagu. Hana mengikuti pandangan Luca, ia baru menyadari ada seorang perempuan cantik duduk di sana.

"Apa maksudmu, Baby?" Helen mengernyitkan kening ketika Luca mengusirnya menggunakan orang lain.

"Kau mendengarnya, Nona Madelaine."

"Aku akan tetap di sini. Kau keluar." Helen menatap tajam Hana.

Namun, perempuan muda itu hanya diam menunggu perintah Luca.

"Kalau begitu, kau berdiri di sini, jangan biarkan dia menggangguku." Ia berubah pikiran untuk mengusir Helen, telinganya bisa sakit jika terus menerus mendengar teriakan Helen yang membangkang.

"Baik, tuan." Hana melangkah mendekati Luca dan berdiri di sisi pria tersebut.

"Hei! Beraninya kau mendekati tunanganku dengan tubuh busukmu itu?!" Helen hendak melangkah, namun tatapan tajam Luca seakan membuatnya takut.

Ia mendengus kasar dan kembali duduk sembari menatap nyalang ke arah Hana yang menatapnya dengan datar.

"Ya! Aku melihatnya keluar masuk apartemen mewah itu!"

"Kau berhalusinasi, Joy. Mana mungkin seorang gembel bisa tinggal di kawasan elite?"

"Atau...?" Lisa menyeringai menatap Joy yang juga menatapnya.

"Kau berpikiran yang sama?"

"Tentu!"

"Wah, tak kusangka tikus got itu memiliki jiwa yang nakal." Mereka berdua tertawa terbahak-bahak ketika membicarakan Hana yang beberapa kali terlihat keluar masuk apartement mewah milik Luca.

"Aku tak makan malam di rumah. Kau makan sendiri." Luca yang mengenakan kaos dan celana pendek malam itu pergi keluar.

Hana dengan senang hati memasak makanan simple untuk dirinya, sembari menonton tv ia menyantap makan malam.

Beruntung Luca membebaskan dirinya agar ia bersikap santai saat berada di apartemen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!