Hanna merupakan wanita dari kalangan biasa,ia harus bekerja giat mencari uang untuk menyembuhkan ibunya dari penyakit yang menyerangnya yaitu kangker darah.Karena keteledorannya Hanna di pecat dan kehilangan pekerjaannya.Hanna diharuskan menikah dengan seorang pria yang memiliki istri tiga dan menjadi istri ke empat.Bagaimana bisa Hanna menerima dirinya menjadi istri ke empat?dan alasan apa Gardapati menikahi Hanna sebagai istri ke empat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Riskiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulat
Hanna pun segera membuka kain sprei tersebut dan diam-diam membawanya keluar kamar.Hanna menuju para pelayan yang sedang ngelaundry semua pakaian penghuni rumah.
"Bibik,apakah saya bisa mencuci baju kotorku sendiri?"Ucap Hanna tersenyum sungkan.
"Ha,Tentu tidak boleh nona,biarkan bibik yang mencucinya!"Ucap pelayan tersebut tersenyum heran.
"Tidak bibik.Saya harus mencucinya sendiri.Ini baju mahal,bagaimana jika bibik melakukan kesalahan.Ini baju kesayangan saya."Ucap Hanna berbohong.
"Tapi Nona muda,bagaimana jika tuan melihatnya?"Ucap pelayan tersebut merasa takut.
"Hahaha,kan tuan sedang bekerja."Ucap Hanna tertawa yang di buat-buat langsung menuju mesin cuci.Sedangkan Anisa yang baru saja datang tersenyum-senyum.
"Apakah kau berhasil Han?"Ucap Anisa melihat kain yang di pegang Hanna.Anisa cukup tau apa yang di bawa Hanna.Itu bukan baju kotor,Anisa tau jika itu adalah kain sprei.
"Mbak Nisa.."Ucap Hanna tersenyum malu dan memasukkan kain tersebut ke dalam mesin cuci.
"Aaakkghhh.."Teriak Hanna tiba-tiba,ketika mesin cuci tersebut mengeluarkan suara aneh.Hanna tidak mengerti cara bekerja mesin cuci yang canggih tersebut.Hanna hanya asal menekan sehingga para pelayan dan Anisa tertawa terpingkal melihat sikap Hanna yang sangat lugu.
"Tekan ini untuk memulai,tidak perlu di tunggu Han,biarkan bibik yang menjemurnya."Ucap Anisa tersenyum melihat Hanna yang bertingkah lugu dan lucu.
"Tapi mbak,biar Hanna yang menjemurnya ya."Ucap Hanna merasa takut jika noda darahnya tidak hilang,Hanna akan merasa malu dan akan menyembunyikan wajahnya jika itu sampai terjadi.
"Tidak perlu Han,ayo kita bermain dengan Lala."Ucap Anisa menarik tangan Hanna yang enggan meninggalkan mesin cuci.
Merekapun seperti biasanya duduk di taman belakang rumah melihat Lala yang sedang bermain bersama boneka-bonekanya.Tidak jauh dari tempat mereka,Isa dan Didy sedang mengamati keakraban Anisa dan Hanna.
"Sejak kapan mereka menjadi akrab?"Ucap Didy melirik Isa dengan tangan terlipat di depan dada.
"Oh,jadi rupanya Hanna berubah dari gadis kampungan menjadi gadis kalangan atas karena mbak Nisa."Ucap Isa tersenyum meremehkan karena kedekatan mereka.
"Tak masalah adik,emang mereka cocok bukan?Sama-sama bodoh!Yang terpenting,tujuan kita akan segera tercapai."Ucap Didy tersenyum tipis.
"Benar kakak,sebentar lagi tujuan kita akan tercapai."Ucap Isa tersenyum dengan maksud yang tersembunyi.
"Akhhhhhhhhhhhhh...."Teriak Didy melihat ulat berada di bahu Isa,karena mereka sedang mengamati Anisa dan Hanna di bawah pohon.
"Akh...ulat..dimana?"Ucap Isa mencari keberadaan ulat yang ternyata berada di bahunya sendiri.
"Itu di bahumu,adik."Ucap Didy menunjuk ke bahu Isa.
"Apa di bahuku?Tidak..Akhhhhhhh"Isa pun berteriak lebih kencang.
Anisa dan Hanna yang mendengar teriakan tersebut mencari sumber suaranya.Dan benar saja tidak jauh dari mereka,Hanna melihat Didy dan Isa berteriak ketakutan sehingga Hanna,Anisa dan Lala menghampiri mereka.
"Kakak,tolong singkirkan ulat ini.Leherku sudah merasa gatal."Ucap Isa merasa bergidik dan meriang di bagian leher.Namun Didy tidak berani memungut ulat tersebut,jangankan memungut ulat,Didy tidak berani menatap ulat tersebut,rasanya Didy juga meriang melihatnya.
"Ada apa?"Ucap Hanna yang baru saja datang.
"Ada ulat di bahuku,tolong aku."Ucap Isa menangis memohon.Isa sangat takut dengan hal yang merayap seperti ulat.
"Hahaha,lucu."Ucap Lala tertawa terpingkal-pingkal melihat tantenya,Isa ketakutan.
"Sedang apa kalian di bawah pohon?"Ucap Anisa,namun tidak sedikitpun Isa menggubrisnya,ulat tersebut masih bertengger di bahu Isa.
"Hahaha,dengan ulat sekecil itu saja takut.Ulat takut dengan ulat."Ucap Hanna tertawa terbahak-bahak,membuat Anisa tersenyum dengan celotehan Hanna yang ada benarnya juga.
"Apa kau bilang?"Ucap Isa berhenti berteriak melainkan mendengar sindiran Hanna yang membuatnya marah.
"Ulat takut Ulat!"Ucap Hanna berterus terang.
"Apa kau bilang,berani-beraninya kau..."
"Eits..jangan marah,apakah kau mau ulat tersebut berkeliaran di kulitmu
"Oke..oke..tolong singkirkan ulat ini.Bisa-bisa aku pinsan."Ucap Isa mencoba berdamai.Yang terpenting jangan sampai ulat tersebut menyentuh kulitnya.
"Baiklah."Ucap Hanna.
"Han,kau serius mau membuangnya pakai tanganmu sendiri."Ucap Anisa yang juga merasa bergidik melihat ulat bulu.
"Tenang mbak."Ucap Hanna menyingkar ulat bulu dari bahu Isa.Tangan Hanna memang cukup kebal.Hanna tidak akan merasa gatal.
"Wa...Han,kau hebat.Gak gatal ya?"Ucap Anisa merasa heran melihat Hanna yang berani menyentuh ulat.Didy pun juga ikut merasa heran,begitu pun Isa yang mulai lega dengan ulat yang telah hilang dari bahunya.
***
"Sayang,leherku..hiks...."Ucap Isa bergelayutan di tangan Gardapati yang baru saja datang bekerja,merasa khawatir dengan istrinya Karena lehernya sudah nampak memerah.
"Tante Isa,sudah besar masih menangis."Timpal Lala.Membuat Isa menatap tajam Lala dan mengumpat dalam hati.Sedangkan Lala hanya tertawa meledek.
"Pakailah ini Isa,nanti kau akan sembuh."Ucap Anisa yang membawa obat oles untuk Isa.
"Aku ingin mas Gardapati yang mengelos obat di leherku."Ucap Isa mencari perhatian Gardapati padahal sebelumnya Anisa sudah mau mengoleskan obat kepada Isa.
"Tenanglah sayang."Ucap Gardapati.Sedangkan Hanna hanya memandang risih pemandangan di depan matanya.
"Dia terlalu berlebihan,Dasar wanita rubah ini sudah memulai aksinya.Jangankan ulat,bahkan aku pernah menumpahkan air di gaunnya membuatku sekarang terjebak di sini."Guman Hanna.
"Lebih baik aku ke kamar,aku tidak suka menonton drama!"Gumam Hanna melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
nasiib... nasiib
😆
kupikir Bapak²
kalo keysa bener keponakan adipati
kupikir gardapati sama dokternya aja
😅
kupikir baru selisih beberapa hari aja..
yg Hanna jemur sprei trus, ngobrol sama mb nisa, ulet ketemu ulet trus alergi...
berati saya kurang mendalami kl loncat beberapa waktu
😁