Apa jadinya jika seorang gadis polos, belum pernah pacaran, harus merawat seorang CEO muda, tampan, dan dingin?
Tia, gadis itu, harus melayani semua kebutuhan sang CEO. Tidak hanya makan, minum, tetapi Tia juga harus membantunya untuk mandi.
"Mandi saja sendiri! Aku tidak mau membantumu!" maki Tia.
"Hei! Kamu dibayar untuk membantuku. Apa gunanya mereka menggajimu kalau kamu tidak bekerja dengan profesional?" tanya Erwin dengan pandangan tak suka.
"Tapi, aku ...."
"Aku, apa? Mau makan gaji buta, iya!" bentak Erwin. Ia melemparkan gelas yang ada di nakas ke arah Tia.
"Akh!!" Tia berteriak sambil menutup telinga. Tubuhnya gemetar ketakutan. Hari pertamanya bekerja, dia sudah terkena amukan sang majikan.
Bagaimana kelanjutan kisah Tia dan Erwin? Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya pulang
hey ho reader termuach
balik lagi dengan author gaje
jangan lupa like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih
Selamat membaca
____________________
"Ti. Kita balik ke Jakarta besok."
"Benarkah?" tanyanya memastikan. Ia sangat senang mendengarnya. Tia sudah sangat merindukan ibunya.
"Ibumu sudah setuju dengan pernikahan kita. Jadi, di Jakarta nanti, kita akan langsung menikah. Kamu harus setuju karena pestanya sudah disiapkan oleh Billy dan Bu Esih," ucapnya menambahkan.
Tia menghela napas berat. Entah karena apa. Ia merasa masih sangat muda untuk menikah. Terlebih lagi, ia dan Erwin belum lama saling kenal. Meskipun Erwin mengatakan hanya akan mencintainya, tapi Tia belum sepenuhnya percaya dengan ucapannya.
"Besok Billy akan menjemput kita. Sekarang, kamu rapikan barang-barang milikmu," perintah Erwin.
"Iya, Mas." Tia menjawab singkat.
Erwin memperhatikan Tia. Kenapa dia tidak terlihat senang? tanya Erwin dalam hati. Ia menjadi resah. Erwin takut jika Tia menggagalkan pernikahan mereka. Ia melihat Tia murung.
"Ti!"
"Hum," jawabnya singkat. Ia sedang merapikan bajunya ke dalam tas. Tia tidak membawa banyak pakaian, hanya beberapa potong baju santai dan baju tidur.
"Kamu ... tidak senang, ya, kalau kita cepat-cepat menikah?"
"Seneng, kok."
"Tapi, kenapa kamu murung?"
"Tidak apa-apa. Cuma sedang capek aja," jawab Tia.
Erwin berbaring di ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan berbagai pikiran. Ia yakin besok tidak akan berjalan dengan mudah. Rudi akan berbuat apa saja untuk menggagalkan rencana Erwin. Erwin mengalihkan pandangannya. Menatap Tia yang sedang menaruh koper di dekat sofa.
Puk! Puk!
Erwin menepuk sisi ranjang yang kosong. Tia menghampiri tanpa banyak protes. Aneh, biasanya Tia tidak terlalu penurut, batin Erwin.
Tia berbaring membelakangi Erwin. Melihat Tia membelakanginya, Erwin mendekat dan membalik tubuh Tia. Ia tidak bisa menahan rasa penasaran akan sikap Tia.
"Tatap mataku! Katakan padaku, kamu kenapa murung seperti ini? Jangan membuatku berpikiran yang tidak-tidak, Ti." Erwin menyentuh pipi Tia. Gadis itu tersenyum.
"Aku udah jawab tadi. Aku cuma lagi capek, Mas," ucap Tia sambil tersenyum.
"Tidak bisakah kamu jujur padaku, Ti?" tanya Erwin menyimpan rasa kecewa.
Tia tidak menjawab. Ia juga tidak tahu kenapa hatinya justru menjadi tidak tenang setelah Erwin mengajaknya pulang. Dulu Tia sangat ingin melarikan diri dari pulau terpencil itu. Namun, sekarang ia merasa berat untuk kembali.
"Maaf, Mas. Tapi, Tia sungguh sudah berkata jujur. Tidak ada apa-apa dengan Tia," ucapnya kembali.
"Aku harap ucapan itu sungguh-sungguh dari hatimu." Erwin menghela napas berat. Mereka tidur saling membelakangi.
Apa sebenarnya yang ada dalam hatimu, Ti? Apa kamu tidak mau menikah denganku? Tapi, kenapa? Aku serius ingin menjadikan kamu istriku. Aku sangat mencintai dan menyayangimu. Batin Erwin penuh pertanyaan.
"Kita dari level kehidupan yang berbeda. Aku tidak yakin kalau Pak Budi Harto akan setuju. Mamaku mungkin sudah setuju, tapi bagaimana dengan keluargamu, Mas? Aku adalah anak dari pembantu ayahmu, Mas. Aku takut angan-anganku ini terlalu tinggi. Aku sangat bahagia karena kamu mau menikahiku. Tapi, apakah rencana ini akan berjalan lancar sesuai harapanku, aku ... sungguh tidak tahu." Tia mengungkapkan kegundahan dalam hatinya.
"Jadi, kamu takut Papa tidak setuju dengan rencanaku menikahi kamu?"
"Huffhh, aku mau tidur, Mas." Tia mengalihkan pembicaraan.
"Tidurlah." Erwin tidak memaksa Tia menjawab. Memang benar apa yang Tia katakan. Rencana pernikahannya itu dilakukan di saat ayahnya sedang koma. Erwin sendiri belum bisa memastikan, apakah ayahnya setuju atau tidak dengan pilihannya.
Malam itu, keduanya tidak dapat tidur. Mereka berbaring saling membelakangi, tetapi keduanya tidak saling bicara. Hanya keheningan yang menyelimuti hati gundah keduanya. Deru angin pantai menyibak jendela yang tidak tertutup rapat. Jendela terbuka lebar, tirai berkibar tertiup angin yang berembus masuk.
Terpaksa Tia bangun dan melangkah menutup jendela. Erwin berbalik menghadap jendela, menatap Tia yang kesulitan mengunci jendela. Erwin pun menghampiri dan membantunya.
"Terima kasih," ucap Tia.
"Sama-sama," jawab Erwin singkat. Ia kembali berbaring di ranjang dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Tia juga berbaring seperti semula. Namun, kembali seperti sebelumnya. Mereka berbaring tanpa bisa memejamkan mata.
BERSAMBUNG
____________________
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya, readers.
terima kasih, muachh