Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Terima kasih," ucap Bening Riang. "Terima kasih juga untuk gaun indahnya." Ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Surya, kemudian wanita itu memberikan kecupan manis di pipi suaminya hingga membuat Surya terdiam membeku.
"Hmmm...." Surya menggelenggan kepalanya untuk memulihkan kesadarannya, ia tak ingin terlihat salah tingkah di depan istrinya. "Ada masalah lain yang menyita perhatianku pagi tadi sebelum aku ke kantor," ucap Surya.
"Pasti permainan musikku, benarkan? Permainan musikku pasti sudah membuat seluruh pekerja di rumah ini tak nyaman, dan kuakui sudah lama aku tak berlatih. Tapi percayalah, seiring berjalannya waktu aku akan mendapkan kembali kemampuan bermusikku sehingga enak terdengar."
"Ya, kurasa tebakanmu benar. Mereka semua memendam ketidak nyamanan telinga mereka mendengar irama yang kau mainkan," ucap Surya. "Tapi kau tak perlu cemas, aku punya kenalan guru les piano jika kau mau."
Bening semakin melebarkan senyumnya, mendengar Surya menawarkan jasa les piano kepadanya. "Benarkah?" tanyanya seakan tak percaya.
Surya mengangguk. "Besok kau bisa berlatih dengannya jika kau mau."
"Apa kau sudah selesai makannya?" Bening bertanya sembari menyipitkan matanya seolah ia tengah menggoda suaminya.
Surya berusaha tetap memasang wajah datarnya, ia mengelap mulutnya dengan serbet kemudian meminum air putih. "Ya, aku sudah selesai."
"Sudah malam, bagaimana jika kita beristirahat?" Bening mengulurkan tangannya ke arah Surya, tentu saja hal ini membuat Surya terkejut, ia memandangi tangan putih yang begitu ramping itu, Surya hampir bisa mencium aroma tangan itu yang begitu membangkitkan gairahnya.
Surya kembali berdeham sebelum akhirnya ia menerima uluran tangan istrinya dan ikut berdiri bersama Bening.
Sepanjang menyusuri lorong menuju kamarnya, Bening bergelayut mesra di lengan suaminya, ia terus tersenyum bahagia layaknya seseorang yang baru saja memenangkan sebuah piala.
Sementara Surya berkata pada dirinya sendiri. 'Apakah dia masih menyukai dan berharap pada Aksara?'
Tiba di kamar istrinya, Surya menutup pintu lalu memutar tubuh wanita itu. Ia membuka kaitan pada kalung yang di gunakan Bening, dan menaruh di meja rias.
Surya kembali lagi pada Bening, dan menggerakan jemarinya dengan cekatan membuka kancing pada gaun istrinya. Surya memperhatikan tubuh Bening yang gemetar ketika ia melepaskan gaun dari bahu dan meluncurkan gaun tersebut menuruni lengan wanita itu ke jemarinya.
Tubuh Bening yang gemetar menandakan bahwa wanita itu takut, padahal dirinya ingin sekali Bening bisa menikmati sensi bercinta dengan dirinya.
Gaun Bening menumpuk, ja melangkah keluar dari tumpukan itu. Surya menyusurkan jemarinya dari leher Bening turun ke punggung, lalu ke pinggul. Ia melepas bra yang menutup dada istrinya, dan membirakan bra itu jatuh ke lantai.
Bening mencoba berbalik menghadap suaminya, namun Surya menahannya. Sembari menahan tubuh Bening agar tak berbalik, pria itu mencabut jepit-jepit yang menempel di rambut istrinya, dan membiarkan rambut istrinya jatuh di tangannya, tergerai di punggung Bening.
Surya membawa untaian rambut Bening ke depan melewati bahu Bening dan mencium tengkuk istrinya, lalu turun ke punggung telanjang Bening, menyusurkan ciuman di sepanjang tulang belakang, membelai kulitnya.
Bening menggil, ia mencengkram pinggiran tempat tidur untuk menggaga tubuhnya. Surya menegang, tubuh ya berdenyut penuh hasrat. Ia membayangkan Bening berbaring di lantai, jemari wanita itu berada di payu*aranya, bibir Surya di atasnya.
Surya memejamkan mata mengusir bayangan itu, ia tak mampu menahan gairah yang membanjiri pembuluh darahnya, dengan sekuat tenaga ia mencoba mebuang bayangan itu. Surya kembali menyusurkan tangannya meluncur naik ke leher Bening, kemudian perlahan tapi pasti, ia mencondongkan wanita itu ke arah tempat tidur.
"Tidak," ucap Bening sembari mencoba menegakan badan, tapi Surya malah mempererat cengkramannya. Pria itu maju satu langkah, mendekat ke arah Bening. "Ya," bisik Surya seperti monster terkutuk.
Surya menyatukan tubuh mereka, dan rasa yang di timbulkan adalah siksaan yang paling nikmat. Ia bergerak hati-hati dengan satu tangan di pinggul Bening untuk menahan wanita itu pada tempatnya, sementara satunya lagi terus mencengkram leher Bening.
Sebenarnya benak Surya di penuhi bayang-bayang tentang apa yang sedang ia perbuat pada istrinya, dan rasa bersalah. Tapi ia kehilangan kendali, hasrat yang membanjiri dinya terlalu kuat, bahkan ia sampai memejamkan mata.
Ketika Surya mendengar erangan, dan suara tersingkap dari mulut Bening, pria itu semakin di rundung rasa bersalah. Ia bergerak lebih cepat untuk mencapai puncaknya.
Pelepasannya terasa seperti ledakan, Surya meraih pinggiran tempat tidur, mencengkramnya erat-erat sembari terengah-engah. Saat ia sudah berhasil mendapatkan kembali ketenangannya, ia menyadari bahwa Bening berada di posisi tak nyamannya. Dengan cepat Surya menarik diri menjauh dari Bening dan menarik selimut, lalu menempelkannya di tubuh Bening.
Tanpa sepatah kata pun Bening menerima selimut itu, menutup tubuh telanjangnya. Bening sama sekali tak berbicara ketika ia merangkak naik ke tempat tidur, namun ketika wanita itu berbalik menatap Surya.
Surya terkejut melihat kilatan penuh kemarahan dari mata indah istrinya, Surya takut ia sudah bertindak terlalu keras pada Bening. Tapi ia sendiri tak tahu harus berbuat apa, bagaimana caranya meminta maaf? "Apa kau terluka?" ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Terluka?" ulang Bening, seolah seharusnya Surya sudah tahu dan menyadari akan apa yang baru saja dia perbuat. "Aku tidak terluka, tinggalkan saja aku sendirian."
"Bening."
"Aku mohon tinggalkan aku sendirian, sekarang!" Nada bicaranya begitu rendah dan dingin.
Surya sempat bimbang sesaat sebelum ia berjalan ke arah pintu, ia berhenti sebentar dan menoleh ke arah istrinya. "Selamat malam, Bening."
Bening tak menjawab. Surya keluar dari kamar wanita itu, manuju kamar tidurnya. Ia sudah salah, sangat salah. Surya mondar mandir di kamar tidurnya. Ia hampir gila. Surya mengguyurkan wiski ke kerongkongannya, dan memejamkan mata mengusir bayang-bayang perbuatan dirinya kepada istrinya.
Surya kembali menenggak wiskinya, sampai minuman keras itu mulai membawa turun rasa tajamnya ke perut Surya, dan ia bisa kembali bernapas.
...****************...
Hi guys,
Maaf ya akhir-akhir ini aku sering kali telat upload, sejujurnya aku sudah kehilangan semangat untuk menulis sebab 4 karyaku kemarin sama sekali tak lagi mendapatkan apa-apa (fee atau reward) dari platfrom ini sebab regulasi atau aturan yang begitu mencekik. Aku sedang mencari platfrom yang mungkin bisa sedikit menghargai penulis, jadi aku mohon pengertiannya. Aku berusaha untuk menyelesaikan tulisan ini sebaik mungkin.
Terima kasih kepada teman-teman yang masih setia membaca tulisanku 😊
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka