"Kalau kau ingin aku tidak mengenali mu di kampus. Oke!! Itu tidak masalah bagi ku. Tapi kalau nikah dan pakai kontrak kontrakan seperti di novel-novel! I say NO! Aku tidak akan bersedia!! Dan kalau pun kau ingin menyembunyikan ini dari semua orang maka aku punya satu syarat yang harus kau penuhi.” Sebut Saka.
"Aku tidak sedang melakukan negosiasi saat ini tuan Gyan Assaka Hardata." Jawab Bia malas.
"Kalau begitu sayang sekali. Karena begitu sampai dikampus aku akan langsung mengumumkan pernikahan kita ke semua orang.." Ujar Saka dengan enteng nya.
Bia menghela nafas panjang dan melihat malas pada Saka. " Baik. Aku setuju. Tapi aku tidak mau ada siapapun yang tahu tentang pernikahan kita selain keluarga kita dan orang yang datang ke nikahan kita kemarin.."
“cepat katakan!” sambung Bia.
"Aku ingin kau melayani k-u... "
"Apa!!!" sela Bia, langsung memotong ucapan Saka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
“sudah jangan di perhatikan lagi.” Ujar Antonio, langsung membawa Clare menuju ke salah satu meja yang ada di pojokan.
“Kau bilang kau sudah tidak mau ketemu dengan pria pembohong itu lagi? Kalau begitu cuekin dia Clare! Dia bukan level mu! Dia terlalu tinggi untuk bisa kau raih.” Antonio lagi-lagi membuat Clare merasa diri nya tidak lah pantas bersama Arka.
Apalagi Clare sangat sadar kalau diri nya bukan lah seorang per*awan. Itu pasti hanya akan membuat Arka bertambah kecewa pada nya.
So dari pada harus menanggung rasa sakit karena melihat kekecewaan di mata Arka setelah mengetahui Clare tidak lah seperti yang Arka kira, Clare memutuskan untuk menjauh dari Arka walaupun rasa cinta telah mulai mengakar di hati Clare.
“Antonio benar.” Batin Clare,
Arka dan Saka yang mendadak menjadi titisan nya conan Edogawa itu pun mengambil posisi yang dapat memudahkan mereka untuk memperhatikan gerak gerik Clare dan Antonio.
“Apa kau bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan Saka?” tanya Arka pada Saka yang sedang mengintip dari balik buku menu yang Saka pegang.
“Kelihatan sih! Tapi punggung nya doang! Itu pun punggung nya Antinio!” keluh Saka dengan suara pelan.
“CK! Kalau punggung nya untuk apa!” repet Arka.
“Maaf tuan, tuan berdua mau pesan apa?” tanya si staff foodcourt itu pada Arka dan Saka.
“Ntar aja!” usir Arka yang tidak mau posisi nya bersembunyi ketahuan oleh Clare.
Si staff yang memang tidak pernah bertemu Arka dan Saka sebelumnya karena ni dua makhluk memang jarang nongol ke publik jadi merasa kalau dua makhluk aneh di depan nya ini hanya pelanggan yang numpang duduk doang sambil wifi-an.
Kebetulan memang di tempat si staff bekerja, wifi nya gratis dan password nya ada di atas meja setiap pelanggan.
“ganteng-genteng tapi gak modal! Mau nya gratisan!” celetuk si staff dengan wajah jutek.
Arka dan Saka auto mengerlingkan mata mereka, “Sudah cepat kau pesan sesuatu Saka! Lalu bayar!! Biar ni orang cepat pergi!” Sungut Arka masih mencoba mencuri lihat ke arah Clare dan Antonio dari balik baki yang dia gunakan untuk menutupi wajah nya.
“Kau mau makan apa?” Tanya Saka pada Arka yang masih fokus melihat ke arah Clare dan Antonio.
“Terserah!” jawab Arka tidak peduli.” Kau pesankan saja sembarangan untuk ku! Nanti aku makan!” Sambung Arka tanpa menoleh pada Saka.
“Tapi disni hanya ada-“
“Sudah! Jangan terlalu banyak berpikir Saka! Pesan saja! Aku mah terserah aja.” Ujar Arka lagi.
“Aku tidak mau! Nanti kau malah menyalahkan aku! MmmOoch aku!” Ujar Saka.
“Ya sudah aku pesan ini!” Arka menunjuk sembarangan salah satu menu di dalam buku menu yang di pegang Saka.
“Ini? kau yakin kau mau pesan ini Arka?” Tanya Saka untuk memastikan kalau sepupu nya itu memesan hal yang benar.
“Ck! Benar! Sudah pesan saja yang aku tunjuk tadi.” Ulang Arka. Dan sekali lagi tidak mengecek ulang apa yang baru saja dia pesan.
“Tapi itu-“
“Ck! Kau ini kenapa sih Saka! Kalau aku bilang pesan ya pesan! Gak usah pakai tapi-tapi!!” Segah Arka.
“Oke lah kalau begitu. Kak pesan ini dua piring ya. Dan ya tolong bawakan aku kantong plastik 3.” Saka pun akhir nya menyebutkan apa pesanan mereka pada si staff tadi.
“pedas atau tidak tuan?” Tanya Si Staff lagi.
“Arka, kau mau pedas atau normal?” tanya Saka pada Arka.
“Terserah.” Jawan Arka, lagi- lagi tidak peduli.
“Ck. . memang lah si Arka ini!! Kalau sudah berhubugan dengan Clare, semua di cuekin! Awas kau Arka,!! Akan aku kerjai kau!!” batin Saka.
“Satu yang ini, dan satu yang itu.” Tunjuk Saka pada gambar cabe dan cabe coret pada menu yang diri nya pegang.
“Yang level api neraka! Kalau perlu neraka jahanam!” bisik Saka pada si staff.
“Baik tuan.” Jawab Sttaf tersebut juga dengan cara berbisik.
“Kena kau kali in Arka!” Seru Saka dalam hati bahagia karena sedari tadi bahkan mungkin dari kemarin Saka sudah menahan kesal nya sejak kemarin.
Saka tahu pasti kalau Arka pasti tahu di mana Bia berada, tapi tega nya Arka tidak mau memberitahukan dimana Bia sehingga Saka terpaksa berubah profesi menjadi satpam.