Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Kopi di depan Juan sudah lama mendingin. Uap panasnya sudah hilang, menyisakan cairan hitam pekat dengan aroma hambar yang menempel di cangkir.
Juan mengusap wajahnya kasar. Pikirannya masih tersangkut pada kejadian di dapur tadi siang, mengingat bagaimana kulit Teteh Ayu yang hangat bergesekan dengan kulitnya, dan bagaimana desahan wanita itu memenuhi ruangan sempit yang pengap tersebut.
Tubuhnya masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan dari pergulatan liar yang baru saja mereka lalui.
Warung Teteh Ayu tidak pernah berubah. Bangku kayu yang berdecit tiap kali diduduki, meja panjang penuh noda kopi, dan kalender kusam di dinding kayu. Tempat ini tidak mewah, tapi selalu terasa hidup.
Teteh Ayu berdiri di balik meja, tangannya cekatan menyeka gelas satu per satu.
Ia tampak segar setelah mandi sore, namun Juan tahu betul ada binar berbeda di mata wanita itu, binar yang muncul hanya beberapa menit setelah Juan keluar dari dapur panas tadi. Juan memperhatikan setiap lekuk tubuh Ayu dari balik meja.
Meski kedai ini memberinya ketenangan, bayangan saat ia menguasai tubuh Ayu tadi siang terus mengusik fokusnya.
Ia meraih cangkir itu lagi, mencoba menyesap isinya, tapi rasa pahit dingin itu langsung membuatnya mual. Kopi dingin ini terasa seperti tamparan bahwa waktu renungannya sudah terlalu lama.
“Kamu tak tambah lagi, Juan?” Suara Teteh Ayu terdengar sangat lembut. Sambil bicara, ia mengedipkan matanya dengan sangat genit ke arah Juan, sebuah kode rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu maknanya.
Juan hanya menggeleng pelan. “Sudah cukup, Teh.”
Teteh Ayu menyunggingkan senyum manis yang penuh arti. “Kalau sudah dingin begitu bilang, biar Teteh buatkan yang baru.”
Ayu sedikit mencondongkan tubuhnya di balik meja, membuat belahan dadanya yang padat terlihat mengintip jelas di mata Juan.
”Atau kamu menginginkan kehangatan seperti tadi siang?” bisik Teteh Ayu dengan suara yang sangat pelan, nyaris menyerupai desah napas yang cuma bisa didengar oleh telinga Juan.
Juan baru saja hendak menyahut godaan itu, namun suara langkah kaki yang gaduh dari arah luar memutus suasana.
Beberapa bapak-bapak desa masuk sambil bercanda dengan suara keras, persis seperti kebiasaan mereka pada jam malam.
Juan baru menyadari betapa teraturnya ritme warung ini. Setiap waktu ada tamu tetapnya, pagi milik ibu-ibu, sore dikuasai anak muda, dan malam menjadi singgasana bapak-bapak untuk melepas penat.
“Assalamualaikum!” seru salah satu bapak dengan suara bariton yang berat.
“Waalaikumsalam,” jawab Teteh Ayu dengan senyum ramah penjaga kedai. “Seperti biasa ya, Pak? Kopi hitam?”
“Kalau sama Teteh yang ngelayanin, racun pun boleh saya minum!” celetuk bapak itu sambil tertawa lebar.
Kawan-kawannya langsung menyambar dengan godaan, “Hati-hati Pak Tua, nanti dilaporin sama istrimu yang galak, bisa pindah tidur ke kandang ayam kamu!”
Suasana warung seketika riuh dengan gelak tawa. Bahkan Juan yang sedang penat pun tidak bisa menahan senyum kecil melihat kelakuan mereka.
Salah satu bapak itu menatap Teteh Ayu dengan gaya bercanda yang sengaja dilebih-lebihkan. “Udahlah, Teh. Jadi istri kedua saya saja. Saya siap jamin lahir batin Teteh bakal bahagia terus.”
Teteh Ayu tidak marah sedikit pun. Ia justru mengangkat alis sambil menjawab santai, “Memangnya istri pertama bapak sudah kasih izin?”
Tawa meledak semakin keras. Bapak itu langsung mengibas-ngibaskan tangannya seolah sedang menepis panah kata-kata yang baru saja mengenai dadanya dengan telak.
“Waduh, kalau dia dengar, bisa-bisa saya tidur di kandang ayam beneran seminggu penuh!” katanya, membuat yang lain tertawa sampai terbatuk-batuk.
Juan memperhatikan interaksi itu, merasa kagum dalam hati. Teteh Ayu tahu persis bagaimana menghadapi pelanggan yang haus perhatian, tidak marah meski digoda habis-habisan, tidak tersinggung, dan tetap cerdik menjaga batas.
Ia ramah, pintar menjawab, dan tahu cara membuat suasana kedainya tetap terasa ringan.
Para bapak-bapak itu mulai duduk, memesan kopi, lalu segera tenggelam dalam obrolan panjang tentang ladang, harga pupuk, dan curhatan tentang keluarga.
Juan sempat ikut tersenyum saat melihat debat kecil yang lucu di antara mereka. Namun, perlahan-lahan tubuh Juan terasa semakin berat.
Meskipun liontin sakti di lehernya memberinya kekuatan fisik yang hebat, rasa lelah batinnya tidak bisa hilang begitu saja.
Tenaga dari liontin itu mendorong fisiknya untuk tetap tegak, tapi jiwanya masih terasa sangat letih karena bayang-bayang masa lalu yang pahit.
Juan akhirnya memutuskan untuk berdiri. “Teteh, aku pulang dulu. Badan masih agak capek.”
Teteh Ayu mengangguk, namun tatapannya kali ini menyiratkan sedikit kekhawatiran yang tulus. “Istirahat yang benar ya, Juan. Kalau kepalamu pusing atau ada apa-apa, langsung bilang ke Teteh. Jangan semuanya dipendam sendiri.”
“Iya, Teh,” jawab Juan lirih sembari meletakkan uang kopi di meja.
Para bapak-bapak di sana sempat melambaikan tangan sambil melempar candaan, “Jangan terlalu baper ya Juan, nikmati saja hidup ini!”
Juan hanya tersenyum kecil dan melangkah keluar dari warung. Udara malam yang dingin langsung menusuk kulitnya.
Lampu-lampu jalan desa yang redup menerangi langkah kakinya yang sedikit gontai. Dalam kesunyian malam itu, ia berjalan sendirian menyusuri aspal.
Namun, semakin jauh ia melangkah, pikirannya justru semakin kacau. Ia ingin melupakan semua hinaan hidup, tapi ternyata luka hati tidak hilang begitu saja hanya karena tubuhnya kini menjadi jauh lebih kuat.
Sesekali ia menengadah menatap langit yang kelam, mencoba mencari ketenangan di antara bintang-bintang yang bersinar kecil.
Namun, ketika langkahnya hampir mencapai pertigaan jalan, suara yang sangat ia hafal muncul memecah kesunyian dari arah yang berlawanan.
“Hahaha, itu dia! Lihat deh, masih sama saja ternyata!”
Itu suara Ferdiyan. Dan berdiri di sampingnya adalah perempuan itu, mantan kekasih Juan yang telah membuangnya demi harta.
Dua orang terakhir yang paling tidak ingin ia lihat malam ini kini berdiri tepat di hadapannya.
Juan berhenti sebentar, jantungnya berdenyut kencang karena amarah. Ia memilih untuk menunduk dan terus berjalan seolah-olah mereka tidak ada. Ia tidak ingin bicara, apalagi berurusan dengan mereka.
Namun Ferdiyan justru mencegat langkahnya dengan sengaja. “Eh, kamu masih jalan kaki saja?” tanya Ferdiyan dengan nada bicara yang sangat meremehkan.
Juan diam, tidak ingin membalas provokasi murahan itu.
Ferdiyan tertawa keras, suaranya terdengar memuakkan. “Masih miskin rupanya kamu ya. Lihat diri kamu! Jalan kaki di tengah malam begini, persis kayak gembel yang gak mampu!”
Mantan kekasih Juan pun ikut tertawa kecil. Tawa yang dulu terasa manis di telinga Juan, kini terdengar seperti suara penghinaan yang tajam.
“Aku sampai lupa,” kata Ferdiyan lagi dengan seringai lebar, “kamu kan tipe orang yang hidupnya bakal begitu-begitu saja sampai mati. Mau dapat keberuntungan berapa kali pun, tetap saja mentalmu itu tetap mental pengemis yang tidak punya harga diri.”
Juan tetap tidak menjawab. Dalam hatinya ada rasa panas yang membara, dipicu oleh denyut liontin di lehernya, namun ia menahan amarahnya kuat-kuat. Ia tidak ingin terpancing emosi.
Namun, mantan kekasihnya justru melangkah maju. Ia menatap Juan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sorot mata yang penuh dengan rasa jijik.
“Aku sangat bersyukur,” katanya dengan suara pelan namun tajam, “aku sangat bersyukur karena aku memilih Ferdiyan. Kalau aku bertahan sama kamu, mungkin sekarang aku ikut sengsara jadi gembel. Bersama pria tanpa masa depan sepertimu, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan apa-apa.”
Perempuan itu tertawa kecil, menatap Juan seolah-olah dia adalah kotoran. “Kamu lihat diri kamu sekarang. Masih sama menyedihkannya seperti dulu. Sama sekali tidak ada perkembangan dalam hidupmu.”
Hati Juan terasa seperti ditusuk-tusuk perlahan. Kata-kata itu meresap pelan dan mencoba menghancurkan mentalnya. Namun, Juan tetap memasang wajah datar dan dingin.
Mantan kekasihnya melipat tangan di dada dengan angkuh. “Aku bahagia bersama pria yang punya masa depan jelas dan punya segalanya. Bukan bersama pria yang cuma bisa jalan kaki sendirian sambil pura-pura kuat padahal aslinya menyedihkan.”
Juan memejamkan mata sebentar, menghirup udara malam untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia menyadari bahwa orang-orang bermental dangkal seperti mereka tidak akan pernah mengerti nilai seorang pria yang sesungguhnya.
Akhirnya, dengan suara yang tenang namun sangat tegas, Juan hanya mengucapkan satu kalimat singkat. “Selamat kalau kamu memang benar-benar merasa bahagia dengan pilihanmu.”