Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Suara Ledakan dari Jauh
Berapa berat sebenarnya sebuah lencana kepolisian?
Secara fisik, lencana kuningan di dalam saku jaketku mungkin hanya seberat seratus gram. Namun malam ini, saat aku menginjak pedal gas SUV-ku menjauhi kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, lencana itu terasa seperti jangkar kapal seberat satu ton yang menyeret seluruh moralitasku ke dasar lautan.
Karet wiper kaca depan mobilku berdecit keras, bergerak panik menyapu tirai hujan yang turun semakin brutal. Aku mencengkeram kemudi berlapis kulit itu dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Buku-buku jariku memutih kaku. Telapak tanganku begitu licin oleh keringat dingin hingga aku harus mencengkeramnya lebih kuat agar tidak tergelincir.
Sebuah anggukan.
Hanya satu gerakan kecil dari daguku yang berlangsung kurang dari satu detik di tengah hujan tadi. Tapi gerakan kecil itu baru saja merobek sumpah jabatanku sebagai seorang detektif divisi pembunuhan.
Aku tidak mengangkat senjataku. Aku tidak membidik dada pria bertopeng porselen itu. Aku tidak meneriakkan kata "Polisi, angkat tangan!" seperti yang telah dilatihkan padaku ribuan kali di akademi.
Sebaliknya, aku menatap lurus ke dalam matanya, melihat lautan luka yang diciptakan oleh ayahku sendiri, dan aku memberinya jalan. Aku memberikan izin bisu kepada sang Joker untuk melemparkan suar menyala ke dalam kolong truk yang dipenuhi bensin dan senjata ilegal. Aku baru saja menjadi kaki tangan dari seorang vigilante yang sedang membongkar kota ini.
Napas di tenggorokanku terasa sangat sesak, seolah udara dingin dari ventilasi AC mobil berubah menjadi serbuk kaca. Aku memukul setir mobil dengan pangkal telapak tanganku, melampiaskan rasa frustrasi yang menyumbat dadaku.
"Apa yang baru saja kaulakukan, Elara?" bisikku pada kaca depan yang buram. Suaraku pecah, ditelan gemuruh mesin diesel. "Apa yang baru saja kau biarkan terjadi?"
Aku memacu mobilku menaiki jalan layang tol Wiyoto Wiyono yang mengular di atas pelabuhan. Jalan bebas hambatan itu nyaris kosong melompong. Hanya ada beberapa truk logistik raksasa yang melaju lambat di lajur kiri. Kegelapan malam menelan pemandangan kota di bawah sana, menyisakan lampu-lampu jalan berwarna kuning redup yang melesat melewati jendelaku seperti garis-garis panjang yang buram.
Tiba-tiba, udara di dalam kabin mobilku seolah tersedot habis.
Sebuah getaran frekuensi rendah yang sangat kuat merambat naik dari tiang-tiang beton jalan layang, menembus ban mobilku, dan menggetarkan tulang ekorku.
Dua detik kemudian, suara itu datang.
BUMMM!
Itu bukan suara guntur dari badai. Suaranya terlalu padat, terlalu berat, dan berasal dari arah permukaan tanah. Suara dentuman itu memekakkan telinga, cukup keras untuk membuat kaca spion tengah mobilku bergetar hebat hingga keluar dari posisinya.
Aku menginjak rem secara refleks. Ban SUV-ku berdecit nyaring, menggesek aspal basah, sebelum akhirnya mobilku berhenti mendadak di bahu jalan tol yang sepi.
Tubuhku terdorong keras ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang mengunci bahuku. Napasku tersengal.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku meraih kaca spion tengah yang posisinya sudah miring, membenarkannya, lalu melihat ke arah belakang. Ke arah Pelabuhan Tanjung Priok yang baru saja kutinggalkan.
Mataku membelalak lebar.
Di kejauhan sana, menembus pekatnya tirai hujan malam, sebuah pilar api raksasa menjilat ke angkasa. Api itu tidak berwarna kuning biasa. Ada semburat warna biru dan putih yang menyilaukan di bagian intinya—tanda dari reaksi kimia thermite yang sedang meleburkan baja dan emas dengan suhu di atas dua ribu derajat celcius.
Asap hitam pekat membubung tinggi, bergulung-gulung menelan awan mendung, menciptakan siluet iblis raksasa yang sedang menari di atas pelabuhan.
Panas dari ledakan itu tentu tidak bisa mencapaiku di atas jalan tol ini, tapi aku bersumpah aku bisa merasakan hawa neraka itu menyengat kulit wajahku. Truk-truk kargo lapis baja milik Jenderal Sudiro, senjata-senjata ilegal yang siap membanjiri jalanan, dan emas batangan hasil memeras darah rakyat... semuanya sedang dilebur menjadi cairan logam yang tak berguna.
Arlan benar-benar melakukannya. Dia menghanguskan kekayaan sang Jenderal.
Ponselku yang tergeletak di jok penumpang tiba-tiba berdering nyaring, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi oleh suara napasku sendiri. Diikuti oleh suara desisan statis yang keras dari radio komunikasi kepolisian di dasbor mobil.
Aku menelan ludah, berusaha keras mengendalikan ritme jantungku. Aku meraih ponselku. Nama Inspektur Bramantyo berkedip-kedip di layar dengan latar belakang merah.
Aku mengusap layar untuk menjawab panggilan itu, mendekatkan ponsel ke telingaku.
"Elara! Di mana posisimu sekarang?!" Suara Bram terdengar sangat keras dan panik, nyaris seperti teriakan. Di latar belakang panggilannya, aku bisa mendengar hiruk-pikuk puluhan orang yang berlarian, dering telepon yang tak berhenti, dan suara komandan regu yang meneriakkan perintah mobilisasi. Markas besar sedang dalam kondisi siaga satu.
"Aku... aku di jalan tol, Bram. Sedang menuju ke arah pusat," jawabku dengan suara yang kupaksakan serendah dan setenang mungkin. "Ada apa dengan keributan itu?"
"Putar balik mobilmu sekarang juga! Kita semua ditarik ke Tanjung Priok!" raung Bram. "Seseorang baru saja meledakkan setengah jalan raya pelabuhan! Tiga truk logistik lapis baja hangus total. Dan itu belum bagian terburuknya."
Aku memejamkan mata. "Apa bagian terburuknya?"
"Ada delapan mayat dan korban luka parah bergelimpangan di sekitar truk itu," napas Bram terdengar memburu, seolah ia sedang berlari menuju mobil dinasnya. "Bukan warga sipil. Mereka memakai perlengkapan taktis tanpa lambang kesatuan. Pasukan bayaran gelap. Tim perintis yang baru tiba di sana melaporkan bahwa sebagian besar dari mereka dilumpuhkan dengan perkelahian tangan kosong yang sangat brutal sebelum api menyala."
Aku menggigit bibir bawahku hingga terasa asin darah. Arlan telah menghabisi mereka semua. Monster yang bersembunyi di balik senyum tenangnya itu telah keluar dan mematahkan tulang musuh-musuhnya di bawah hujan.
"Apakah ada petunjuk siapa pelakunya?" pancingku, berusaha memainkan peranku sebagai detektif yang tidak tahu apa-apa. Kebohongan ini terasa seperti asam sulfat di lidahku.
"Tim perintis menemukan sebuah radio komunikasi HT yang sudah dihancurkan di lokasi kejadian. Dan di kap mobil SUV yang ringsek... ada sebuah lambang yang digores menggunakan pisau tajam menembus cat mobil." Bram menghela napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada yang sarat akan keputusasaan. "Gambar wajah badut yang tersenyum, El. Ini ulah sang Joker. Bajingan itu tidak lagi sekadar mengirim email dan meracuni pengacara. Dia baru saja menaikkan level permainannya menjadi perang terbuka."
Perang terbuka. Bram tidak salah. Joker baru saja merobek sayap militer Vanguard Group. Jenderal Sudiro tidak akan tinggal diam. Pria tua itu pasti akan melepaskan seluruh sisa pasukannya ke jalanan Jakarta untuk memburu Arlan. Kota ini akan segera berubah menjadi zona perang berdarah.
"Aku mengerti. Aku akan segera meluncur ke lokasi," jawabku singkat.
"Hati-hati di jalan, El. Bawa senjata laras panjangmu jika ada di bagasi. Kita tidak tahu apakah orang gila itu masih berkeliaran di sekitar sana."
Panggilan terputus.
Aku menurunkan ponselku, menatap layar yang kini kembali gelap.
Orang gila itu tidak berkeliaran di sana, Bram. Dia baru saja menatap mataku beberapa menit yang lalu, batinku pedih.
Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi mobil yang dingin. Mataku menatap ke arah jok penumpang di sebelahku, di mana tas selempang kulitku tergeletak dalam kondisi setengah terbuka. Ujung dari sebuah map hitam menyembul keluar dari dalam tas tersebut.
Map yang kucuri dari brankas rahasia Darmawan Salim beberapa jam yang lalu.
Aku mencondongkan tubuh, menarik map hitam itu, dan meletakkannya di atas pangkuanku. Tanganku meraba sampul plastiknya yang berdebu. Di dalam map ini, tersimpan selembar kertas yang menjadi cetak biru dari semua kekacauan malam ini. Surat Perintah Eliminasi Target. Sebuah dokumen yang ditandatangani oleh ayahku sendiri, menginstruksikan pembunuhan Adrianus Wiratama dan istrinya, serta perintah untuk memburu Arlan yang saat itu masih remaja.
Aku membuka map itu, memandangi tanda tangan Darmawan Salim di bawah cahaya lampu dasbor yang remang-remang.
Rasa bersalah yang sedari tadi menyiksaku karena membiarkan Arlan meledakkan truk itu, perlahan mulai memudar. Digantikan oleh sebuah pemahaman yang dingin dan kelam.
Jika aku tidak membiarkan Arlan membakar truk itu malam ini, apa yang akan kulakukan? Menangkap Arlan dan memasukkannya ke dalam penjara? Lalu bagaimana dengan Jenderal Sudiro? Bagaimana dengan senjata ilegal yang ada di dalam truk itu? Jika aku membawa polisi Ke sana, Sudiro memiliki kekuatan lobi politik untuk membungkam penyelidikan. Senjata itu akan tetap beredar. Uang emas itu akan tetap digunakan untuk menyuap para hakim pengganti Setiawan. Dan ayahku akan terus duduk di singgasana Vanguard Tower, tak tersentuh oleh hukum yang telah ia beli.
Hukum di negara ini sudah cacat sejak awal. Timbangan keadilan telah dimanipulasi dengan beban emas.
Arlan tidak sedang menghancurkan keadilan; ia sedang menghancurkan ilusi keadilan yang diciptakan oleh orang-orang seperti ayahku. Ia mengambil palu godam dan menghancurkan timbangan palsu itu hingga berkeping-keping.
Air mata yang tersisa di pelupuk mataku mengering. Kelemahan dan kebingunganku menguap, digantikan oleh sebuah ketegasan yang baru.
Lencana kepolisian di sakuku memang berat, tapi dokumen pembunuhan di pangkuanku ini jauh lebih berat. Lencana ini menuntutku untuk melindungi warga negara, dan Arlan Wiratama adalah warga negara yang gagal dilindungi oleh lencana ini sepuluh tahun yang lalu.
Aku melipat map hitam itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas selempangku. Aku menutup ritsletingnya rapat-rapat.
Aku tidak akan menyerahkan dokumen ini kepada kejaksaan atau atasanku di kepolisian. Tidak sekarang. Di institusi yang penuh dengan pengkhianat dan pion Vanguard ini, dokumen aslinya pasti akan "hilang" dalam perjalanan menuju ruang barang bukti, dan nyawaku akan melayang dalam sebuah "kecelakaan" yang tak terduga.
Untuk mengalahkan monster seperti Darmawan Salim dan Jenderal Sudiro, aku tidak bisa lagi bermain sesuai aturan buku panduan kepolisian. Aku harus meminjam taktik dari pria bertopeng porselen itu. Aku harus menggunakan informasi ini sebagai pisau bedah, memotong urat nadi Vanguard di saat yang paling tidak mereka duga.
Aku memasukkan gigi mobil. Mesin SUV-ku menderu pelan.
Namun, sebelum aku menginjak pedal gas untuk kembali ke lokasi ledakan, aku menoleh ke arah kaca spion luar untuk terakhir kalinya.
Hujan masih mengguyur kota Jakarta tanpa ampun, berusaha memadamkan apa yang tidak bisa dipadamkan. Di garis cakrawala Pelabuhan Tanjung Priok, pilar api dari ledakan thermite itu masih menjulang tinggi, memantulkan sinarnya ke awan mendung di atasnya.
Kegelapan malam yang biasanya memeluk kota ini telah terusir paksa oleh kobaran balas dendam yang membara.
Langit malam ini berwarna merah.