Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 5 -KERAGUAN (3)
Langkah kaki tim penjelajah itu menggema pelan di sepanjang lorong yang terasa sangat asing. Udara di dalam sana terasa dingin dan kering, membawa aroma logam yang tajam dan sisa-sisa bau terbakar.
Dindingnya terdiri dari lapisan plat logam yang sangat halus, hampir tanpa sambungan, sesuatu yang bahkan membuat Grom sang penempa Dwarf berkali-kali meraba dinding itu dengan tatapan tidak percaya.
Beberapa lampu di langit-langit menyala terang dengan cahaya putih yang pucat, sementara sebagian lainnya berkedip-kedip tidak stabil sebelum akhirnya mati total. Masalah listrik nampaknya menjadi kendala besar di kapal yang sudah terkoyak ini.
"Bangunan macam apa ini? Tidak ada kayu, tidak ada batu... hanya besi dingin," gumam Grom. Ia berhenti di depan sebuah pintu logam yang tidak memiliki gagang. "Hei, biarkan aku mencoba menghantamnya. Aku bertaruh paluku bisa merobek pintu ini dalam sekali pukul."
"Jangan, Grom," tegur Elian dengan suara rendah namun tegas. "Kita tidak tahu apa yang ada di balik sana. Jangan memancing keributan yang bisa mengungkap keberadaan kita sebelum kita tahu siapa lawan kita sebenarnya."
Arta berjalan di paling belakang, tepat di depan Raylen. Pikirannya masih berkabut. Setiap kali lampu berkedip, bayangan adegan kehancuran istana kembali berputar di kepalanya. Kenapa aku di sini? Kenapa aku masih hidup? batinnya dengan getir.
Tiba-tiba, Raylen yang berada di posisi belakang terpekik kecil. "A-ada seseorang!" serunya sambil menunjuk ke arah perempatan lorong di depan mereka.
Di balik bayang-bayang perempatan itu, sesuatu tampak mengintip.
Sosok itu menyerupai manusia, namun kedua matanya menyala dengan warna merah yang menyeramkan. Sosok itu hanya diam menatap mereka sejenak.
"Siapa itu?! Nebula?!" tanya Elian waspada.
Raylen, yang memang dikenal memiliki nyali yang tipis, mulai gemetar. Ia mundur selangkah hingga hampir menabrak Arta. Rumor tentang dirinya yang pernah melarikan diri dari tim lamanya saat diserang monster sepertinya bukan sekadar isapan jempol.
"Minggir, pengecut!" seru Reldia. Dengan kasar, ia menarik mantel Raylen ke belakang untuk menggantikan posisinya di barisan depan. Tarikan itu begitu kuat hingga Raylen terjatuh ke lantai logam yang keras.
Prang!
Beberapa botol ramuan di tas Raylen terjatuh dan pecah, menyebarkan bau cairan kimia yang menyengat. Reldia tidak peduli. Ia segera memasang posisi bertahan dengan perisai besarnya, siap menghadapi serangan apa pun.
Namun, sosok bermata merah itu justru berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan lorong, menjauh dari mereka.
"Dia pergi..." Lilia sang Elf menyiapkan busur mananya, namun tidak ada target untuk ditembak.
Di sisi lain, Raylen terduduk sambil menatap sedih pecahan botol ramuannya. Ia terlihat sangat kesal, namun sebagai manusia biasa, ia tidak punya keberanian untuk memarahi Reldia, sang Manusia Naga yang memiliki kekuatan fisik jauh di atasnya.
"Oh, apakah kamu baik-baik saja, Raylen?" Elian mendekat dan membantunya berdiri sambil merapikan barang-barang yang berhamburan.
"Haha... ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut," jawab Raylen dengan senyum kecil yang dipaksakan.
"Apakah ramuan itu mahal? Keluarga Solarith akan mengganti semua kerusakan yang terjadi karena ketidaksengajaan ini," ucap Elian dengan tulus.
"Ah, tidak perlu repot-repot, Tuan Elian. Aku yang berterima kasih karena sudah dibantu," jawab Raylen sambil menunduk.
Reldia yang sudah menurunkan perisainya menoleh ke arah mereka. Melihat Raylen yang sedang membersihkan sisa cairan di lantai, ia menyunggingkan senyum jahil yang merendahkan. "Oh, sepertinya aku terlalu kasar ya sama kamu? Padahal tadi aku sudah merasa pelan-pelan, lho." Raylen hanya diam, pura-pura tidak mendengar ejekan itu.
"Sudahlah," Elian memotong suasana yang tidak enak itu. "Mari kita lanjut berjalan. Aku harap kita semua sudah tahu posisi masing-masing kali ini."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam formasi standar yang lebih rapat. Selama menyusuri lorong panjang itu, sosok bermata merah tadi sesekali muncul lagi dari kejauhan, seolah-olah memang ingin diikuti. Anehnya, tidak ada satu pun monster atau sistem pertahanan otomatis yang menyerang mereka.
Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah pintu besar di ujung lorong terakhir. Di sana, sosok itu menunggu dengan jelas. Ia adalah sebuah humanoid robot; bentuknya mirip manusia namun tanpa wajah dan tanpa senjata. Ia hanya berdiri mematung, seolah memberi isyarat agar mereka mendekat.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat