Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ruang rapat utama di lantai dua puluh gedung perusahaan Pratama Group tampak megah dan modern. Meja panjang dari kayu mahoni mengilap membentang di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi eksekutif yang telah terisi oleh para direksi dan manajer senior. Layar proyektor di ujung ruangan menampilkan grafik dan laporan keuangan yang siap dipresentasikan.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka.
Harsa melangkah masuk dengan penuh wibawa. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya menambah kesan profesional dan tegas. Seluruh peserta rapat segera berdiri sebagai bentuk penghormatan.
“Selamat pagi, Pak Harsa,” sapa mereka hampir bersamaan.
“Selamat pagi. Silakan duduk,” jawab Harsa singkat sambil mengambil tempat di kursi utama.
Rina, sekretarisnya, segera membagikan dokumen kepada seluruh peserta sebelum memulai presentasi.
“Baik, Bapak dan Ibu, hari ini kita akan membahas evaluasi kinerja kuartal terakhir serta rencana ekspansi perusahaan ke pasar regional,” jelasnya.
Rapat pun dimulai dengan suasana yang serius dan penuh konsentrasi.
“Silakan, Pak Dimas, lanjutkan presentasinya,” ujar Harsa dengan nada tegas.
Pak Dimas, Direktur Keuangan, berdiri dan mulai menjelaskan laporan keuangan. “Berdasarkan data kuartal ini, perusahaan mengalami peningkatan pendapatan sebesar dua belas persen dibandingkan periode sebelumnya. Namun, terdapat beberapa tantangan pada sektor distribusi yang perlu segera ditangani.”
Harsa menyimak dengan saksama, sesekali memberikan pertanyaan yang tajam dan analitis.
“Apa langkah konkret yang sudah disiapkan untuk mengatasi kendala distribusi tersebut?” tanyanya.
“Kami telah menjalin kerja sama dengan beberapa mitra logistik baru, Pak,” jawab Pak Dimas. “Selain itu, kami juga merencanakan pembukaan gudang distribusi di Surabaya untuk mempercepat proses pengiriman.”
Harsa mengangguk pelan. “Pastikan analisis risiko dilakukan secara menyeluruh sebelum keputusan final diambil. Saya tidak ingin ada langkah yang tergesa-gesa.”
“Baik, Pak,” sahut Pak Dimas.
Rapat berlanjut dengan pembahasan strategi pemasaran dan rencana ekspansi ke pasar Asia Tenggara. Meskipun Harsa terlihat fokus dan profesional, sesekali pikirannya melayang pada kenangan yang baru saja ia simpan kembali di dalam laci meja kerjanya.
Bayangan Nadin yang tersenyum dalam foto itu seolah hadir kembali di benaknya. Tanpa disadari, ia terdiam sejenak, membuat ruangan menjadi hening.
“Pak Harsa?” panggil salah satu manajer dengan hati-hati.
Harsa tersentak dari lamunannya. Ia segera memperbaiki ekspresinya. “Maaf, silakan dilanjutkan.”
Rina yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan tersebut, namun memilih untuk tetap fokus pada jalannya rapat.
Setelah presentasi selesai, Harsa kembali mengambil alih pembicaraan.
“Saya mengapresiasi kerja keras seluruh tim,” ujarnya dengan nada tegas namun tenang. “Namun, kita tidak boleh cepat merasa puas. Fokus kita ke depan adalah memperkuat posisi perusahaan di pasar regional dengan tetap menjaga kualitas dan integritas.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Saya juga ingin setiap divisi meningkatkan koordinasi agar proses operasional berjalan lebih efektif. Jika ada kendala, segera laporkan. Kita harus bergerak sebagai satu tim.”
Seluruh peserta rapat mengangguk setuju.
“Apakah ada pertanyaan atau masukan sebelum rapat kita akhiri?” tanya Harsa.
Seorang manajer pemasaran mengangkat tangan. “Pak, terkait rencana ekspansi, apakah perusahaan akan mempertimbangkan kerja sama dengan investor asing?”
Harsa berpikir sejenak sebelum menjawab, “Kemungkinan itu terbuka, namun kita harus memastikan bahwa kerja sama tersebut sejalan dengan visi dan nilai perusahaan. Saya akan meminta tim strategi untuk melakukan kajian lebih lanjut.”
“Baik, Pak,” jawab manajer tersebut.
Setelah tidak ada lagi pertanyaan, Harsa menutup rapat dengan tegas. “Jika tidak ada hal lain, rapat kita akhiri. Terima kasih atas partisipasi Anda semua.”
Setelah rapat resmi dibubarkan, para direksi dan manajer satu per satu meninggalkan ruang rapat dengan membawa berkas masing-masing. Suasana yang sebelumnya penuh ketegangan perlahan kembali tenang. Harsa berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah mantap, tetap menunjukkan wibawa seorang pemimpin meskipun pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang belum terselesaikan.
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan lembut di pintu ruangannya.
“Masuk,” ujar Harsa singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia periksa.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Rina yang berdiri dengan senyum tipis. Wanita itu mengenakan setelan kerja yang elegan, mencerminkan profesionalisme sekaligus kepercayaan diri yang kuat.
“Pak Harsa, apakah ada dokumen lain yang perlu saya siapkan?” tanyanya dengan nada sopan, meskipun ada kehangatan yang tersirat dalam suaranya.
Harsa mengangkat pandangannya dan mengangguk singkat. “Untuk sementara tidak ada. Terima kasih, Rina.”
Rina tidak segera pergi. Ia tetap berdiri di tempatnya, seolah ingin menyampaikan sesuatu. Harsa yang menyadari hal tersebut akhirnya menutup map di tangannya dan menatapnya dengan penuh perhatian.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanyanya.
Rina tersenyum kecil sebelum melangkah mendekat. “Sebenarnya … sudah lama kita tidak berbicara di luar urusan pekerjaan,” ujarnya hati-hati.
Harsa terdiam sejenak, mencoba memahami maksud perkataan itu. “Kita memang cukup sibuk dengan pekerjaan,” jawabnya netral.
Rina mengangguk, lalu berkata dengan nada yang lebih personal, “Aku masih ingat masa-masa sekolah dulu. Kita sering belajar bersama, bahkan mengikuti berbagai kegiatan organisasi.” Ucapan itu membawa Harsa sejenak kembali ke masa lalu. Ia menghela napas pelan.
“Ya, itu sudah lama sekali.”
Rina tersenyum, namun sorot matanya menyimpan perasaan yang lebih dalam. Sejak awal bekerja di perusahaan tersebut, kedekatan mereka memang tidak bisa dipungkiri. Selain sebagai rekan kerja, mereka juga memiliki sejarah sebagai teman satu sekolah. Namun, di balik itu semua, tersimpan perasaan yang pernah ia pendam.
“Aku senang bisa bekerja kembali bersamamu,” lanjut Rina. “Meskipun … dulu aku sempat menjauh.”
Harsa menatapnya dengan alis sedikit berkerut. “Menjauh?”
Rina mengangguk pelan, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata jujur, “Aku menjauh saat tahu kamu menikah dengan Nadin.”
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Harsa tidak menyangka Rina akan mengungkapkan hal tersebut secara langsung.
“Aku pernah menyimpan perasaan untukmu,” lanjut Rina dengan suara yang lembut namun tegas. “Tapi aku sadar bahwa kebahagiaanmu lebih penting, jadi aku memilih untuk pergi.”
Harsa terdiam, tidak segera memberikan respons. Ia menghargai kejujuran Rina, namun di saat yang sama merasa perlu menjaga batasan.
Rina kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati. “Aku turut berduka atas kepergian Nadin. Dia wanita yang sangat baik.”
Harsa mengangguk pelan. “Terima kasih, Rina.”
Setelah beberapa detik, Rina melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, “Sekarang … keadaan sudah berbeda. Aku hanya ingin berada di sisimu sebagai teman, seseorang yang bisa kamu andalkan.”
Harsa memahami maksud tersirat dari perkataan tersebut. Ia kemudian berdiri dari kursinya, menjaga jarak profesional di antara mereka.
“Rina,” ujarnya dengan nada tenang namun tegas, “aku menghargai kejujuranmu dan juga perhatianmu. Tapi saat ini, fokusku adalah pada Melodi dan tanggung jawabku sebagai seorang ayah.”
Rina menatapnya dengan sedikit kekecewaan, namun tetap berusaha tersenyum. “Aku mengerti.”
Harsa melanjutkan, “Aku juga baru saja menikah kembali. Pernikahan ini mungkin tidak mudah, tetapi tetap merupakan tanggung jawab yang harus aku jalani.”
Mendengar hal itu, Rina tampak terkejut. “Kamu … menikah lagi?”
“Iya,” jawab Harsa singkat. “Dengan Arsyi, adik dari Nadin.”
Rina terdiam, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Informasi tersebut jelas tidak ia duga sebelumnya. Namun, ia segera menguasai dirinya kembali.
“Begitu…” gumamnya pelan. “Aku berharap kamu bahagia.”
Meskipun kata-kata itu terdengar tulus, tetapi sorot matanya tak bisa berbohong.
Rina kemudian melangkah mundur. “Kalau begitu, saya permisi, Pak. Jika ada yang dibutuhkan, silakan hubungi saya.”
Harsa mengangguk. “Terima kasih, Rina.”
Setelah Rina keluar dari ruangan, Harsa kembali duduk di kursinya. Ia menghela napas panjang, menyadari bahwa kehadiran Rina dapat membawa dinamika baru dalam kehidupannya yang sudah cukup rumit.
Sementara itu, di luar ruangan, Rina berhenti sejenak sebelum berjalan kembali ke mejanya. Ia menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja, Harsa,” bisiknya pelan. “Mungkin takdir memberiku kesempatan kedua.”
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂