NovelToon NovelToon
Iblis Penelan Langit

Iblis Penelan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.

Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan yang Mencekam di Arena Agung

Episode 16

Suasana di dalam Arena Agung Kota Azure mendadak berubah menjadi sebuah makam raksasa. Sepuluh ribu pasang mata membelalak, napas mereka seolah-olah tersangkut di kerongkongan. Sorak-sorai yang beberapa detik lalu memekakkan telinga, kini lenyap, digantikan oleh kesunyian yang begitu pekat hingga suara kepakan sayap burung gagak yang melintas di atas stadion pun terdengar sangat jelas.

Gu Sheng berdiri tegak di pusat arena yang luas. Lantai arena yang terbuat dari batu granit hitam setebal tiga meter tampak retak halus di bawah pijakan kakinya. Debu-debu halus berterbangan di sekelilingnya, namun anehnya, debu-debu itu tidak jatuh ke tanah, melainkan berputar-putar searah jarum jam, seolah-olah ditarik oleh gravitasi yang tidak kasat mata dari tubuh sang Iblis.

Angin kencang berhembus melintasi stadion, mengibarkan jubah hitam Gu Sheng yang robek di bagian bawah. Rambut hitamnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya, namun cahaya merah darah dari matanya menembus kegelapan rambut itu, mengunci pandangan setiap orang yang berada di kursi kehormatan.

“Lihatlah ketakutan mereka, bocah...” suara Kaisar Iblis bergema dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti dengungan di dalam sumsum tulang Gu Sheng. “Ketakutan adalah bumbu terbaik untuk sebuah pembalasan dendam. Dantian-mu... bisakah kau merasakannya? Dia sedang tertawa di dalam kegelapan perutmu, menunggu untuk melahap setiap inci energi di tempat ini.”

Gu Sheng tidak menjawab secara verbal, namun tangan kanannya yang memegang gagang Penebas Dosa mengencang. Urat-urat di lengannya menonjol, berdenyut seiring dengan detak jantungnya yang kini jauh lebih lambat dan kuat daripada manusia normal. Berkat Gerbang Kedua (Xiu Men) yang telah terbuka, setiap aliran darah di tubuhnya membawa kekuatan yang mampu menghancurkan baja.

Di kursi kehormatan tertinggi, Mu Chen mengepalkan tangannya hingga kursi kayu cendana yang ia duduki hancur menjadi serpihan. Wajahnya yang semula angkuh kini dipenuhi dengan urat-urat kemarahan yang menonjol di pelipisnya.

"Gu... Sheng..." Mu Chen mendesis, suaranya mengandung kebencian yang mendalam. "Kau benar-benar berani muncul di sini. Kau tidak hanya mencemari turnamen ini dengan kehadiran sampahmu, tapi kau juga berani menantang seluruh Keluarga Mu secara terbuka?"

Gu Sheng perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Mu Chen, lalu beralih ke arah Mu Ruoxue. Di mata Gu Sheng, wanita itu tidak lagi terlihat seperti dewi, melainkan seperti mayat cantik yang sedang meminjam barang yang bukan miliknya.

"Mu Chen, simpan pidato munafikmu untuk pemakamanmu sendiri," suara Gu Sheng tidak keras, namun berkat Gerbang Pertama (Kai Men) yang membuka potensi pikirannya, suaranya bergema di setiap sudut stadion, merasuk ke dalam telinga setiap penonton seperti bisikan maut.

"Aku tidak datang untuk mengikuti turnamen sampahmu. Aku datang untuk pembersihan. Hari ini, siapa pun yang memakai lambang bunga lili Keluarga Mu di dadanya... kalian semua punya satu pilihan: Berlutut dan mati dengan cepat, atau melawan dan merasakan jiwamu dihisap perlahan hingga kering."

"LANCANG!" seorang pria paruh baya berbaju zirah perak melompat turun dari balkon VIP. Dia adalah Gao Feng, Kapten Pengawal Elite Keluarga Mu, seorang praktisi tingkat Qi Refinement - Tingkat Kesembilan.

Gao Feng mendarat di arena dengan suara dentuman keras, debu beterbangan di sekelilingnya. Ia menarik pedang besarnya yang bersinar dengan energi Qi berwarna kuning tanah yang berat.

"Bocah sampah! Sebulan yang lalu kau hanyalah seekor anjing yang memohon ampunan di bawah kaki Tuan Muda Lin Tian! Hanya karena kau mempelajari sedikit ilmu iblis di dasar jurang, kau pikir kau bisa bersikap sombong di hadapan kami?" Gao Feng mengacungkan pedangnya ke arah hidung Gu Sheng. "Aku akan memotong lidahmu dan mengumpankannya pada babi hutan!"

Penonton mulai berbisik-bisik.

"Itu Gao Feng! Dia adalah salah satu dari sepuluh besar praktisi Qi Refinement di Kota Azure!"

"Gu Sheng sudah gila. Meskipun auranya menakutkan, dia hanyalah satu orang. Bagaimana mungkin dia melawan pengawal elite?"

Mu Ruoxue menatap Gao Feng dengan harapan kecil di matanya. Ia ingin melihat Gu Sheng hancur di sini, sekarang juga, agar rasa panas di dadanya rasa panas dari Tulang Dewa yang meronta bisa mereda.

"Gao Feng, jangan biarkan dia mati terlalu cepat," teriak Lin Tian dari atas, sambil menyeringai kejam. "Patahkan kakinya dulu agar dia bisa melihat bagaimana aku akan menikahi Ruoxue setelah turnamen ini selesai!"

Gu Sheng menatap Gao Feng dengan tatapan kosong, seolah-olah pria di depannya hanyalah sepotong kayu mati.

"Qi Refinement tingkat sembilan..." gumam Gu Sheng pelan. "Nutrisi yang lumayan untuk pemanasan."

"MENCARI MATI!" Gao Feng meraung. Ia membakar seluruh energi Qi-nya, membuat tubuhnya diselimuti oleh aura kuning yang padat. Ia melesat maju, setiap langkahnya membuat lantai arena bergetar hebat. "Jurus Pedang Pembelah Bumi!"

Gao Feng mengayunkan pedangnya secara vertikal dengan kekuatan penuh. Sebuah gelombang energi kuning setinggi dua meter melesat ke arah Gu Sheng, membelah lantai batu arena menjadi dua jalur yang dalam.

Gu Sheng tetap berdiri diam. Ia bahkan tidak mengangkat pedang Penebas Dosa dari tanah. Ia hanya menunggu sampai gelombang energi itu berjarak satu meter darinya.

Wush!

Tiba-tiba, sebuah pusaran hitam kecil muncul di telapak tangan kiri Gu Sheng yang terbuka.

"Lelaplah," bisik Gu Sheng.

Seketika, gelombang energi kuning yang dahsyat itu seolah-olah menabrak sebuah tembok yang tak terlihat. Yang lebih mengerikan adalah, energi kuning itu tidak meledak, melainkan mulai terpelintir dan tersedot masuk ke dalam telapak tangan Gu Sheng dengan kecepatan yang tak masuk akal.

Dalam sekejap, serangan yang mematikan itu menghilang tanpa bekas, meninggalkan keheningan yang lebih mengerikan dari sebelumnya.

"A... apa?!" Gao Feng membelalak, langkahnya terhenti secara mendadak. "Energiku... ke mana energiku?!"

Gu Sheng tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dengan gerakan yang sangat lambat namun memiliki tekanan yang tak tertahankan, ia mengangkat pedang Penebas Dosa dengan satu tangan.

"Sekarang, giliranku."

Gu Sheng tidak melesat dengan cepat. Ia hanya berjalan perlahan. Namun bagi Gao Feng, setiap langkah Gu Sheng terasa seperti sebuah gunung yang sedang mendekatinya. Tekanan gravitasi di sekitar Gu Sheng meningkat drastis berkat pengaruh dari latihan di ruang gravitasi Su Mei.

Gao Feng mencoba mengangkat pedangnya untuk bertahan, namun ia menyadari bahwa pedangnya sendiri terasa seberat seribu kuintal. Tangannya gemetar, dan ia terpaksa berlutut karena tekanan aura Gu Sheng yang luar biasa pekat.

"Tidak... jangan mendekat!" Gao Feng berteriak, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Gu Sheng sampai di depan Gao Feng. Ia mengangkat Penebas Dosa tinggi-tinggi ke langit. Cahaya matahari yang redup seolah-olah terserap ke dalam bilah pedang hitam itu, membuatnya tampak seperti lubang hitam yang menggantung di udara.

"Ini adalah berat dari setiap pengkhianatan yang kalian lakukan," ucap Gu Sheng.

Ia mengayunkan pedang tumpul itu ke bawah. Tidak ada teknik yang rumit, hanya sebuah hantaman murni dengan massa yang luar biasa.

BUMMMMMMM!

Seluruh stadion bergetar hebat. Beberapa penonton di barisan depan terjatuh dari kursi mereka karena gelombang kejut yang dihasilkan. Sebuah kawah berdiameter lima meter terbentuk secara instan di tempat Gao Feng berdiri.

Saat debu mengendap, pemandangan di dalam kawah itu membuat beberapa wanita di kerumunan menjerit ketakutan dan beberapa pria memuntahkan isi perut mereka.

Gao Feng tidak lagi berbentuk manusia. Ia telah dihancurkan menjadi bubur daging dan fragmen tulang yang tak dikenali. Zirah peraknya hancur menjadi serpihan kecil yang tertanam di dalam tanah. Namun, yang paling mengerikan adalah tidak ada darah yang mengalir keluar dari kawah tersebut.

Semua darah, semua Qi, dan semua esensi kehidupan Gao Feng telah dihisap habis oleh Penebas Dosa dan dialirkan langsung ke dalam Dantian Gu Sheng.

Krak!

Sebuah suara retakan halus terdengar dari dalam tubuh Gu Sheng.

Qi Refinement - Tingkat Puncak (Stabilisasi Sempurna).

Hanya dengan satu hantaman, ia telah menyerap seluruh akumulasi kultivasi Gao Feng selama puluhan tahun. Gu Sheng mengangkat pedangnya, membiarkan debu-debu jatuh dari bilahnya yang hitam legam.

Ia menoleh kembali ke arah Mu Chen yang kini berdiri dengan wajah pucat dan gemetar.

"Mu Chen, kapten pengawalmu sangat lemah," ucap Gu Sheng, suaranya tetap tenang namun menusuk. "Kirimkan seseorang yang lebih berguna, atau kau sendiri yang turun ke sini untuk menyerahkan nyawamu."

Seluruh stadion tetap sunyi. Mereka baru saja melihat seorang praktisi tingkat sembilan dihancurkan dalam satu serangan seolah-olah dia hanyalah seekor lalat. Rasa takut yang murni mulai menyebar di antara anggota Keluarga Mu.

Lin Tian, yang tadi berteriak sombong, kini terdiam dengan tangan yang mencengkeram pegangan balkon hingga berdarah. Ia baru menyadari bahwa Gu Sheng yang kembali dari jurang bukanlah lagi manusia yang ia kenal.

"Iblis..." bisik salah satu penonton di barisan belakang. "Dia benar-benar Iblis Penelan Langit."

Gu Sheng berdiri di tengah kawah mayat itu, pedang hitamnya bersandar di bahunya. Mata merahnya menatap ribuan orang di sekelilingnya, menantang siapa pun yang berani menghentikan pembersihan ini.

Waktu seolah-olah berhenti di Arena Agung. Ini baru pertandingan pertama, namun bau kematian sudah memenuhi udara. Pacing yang lambat ini justru membuat ketakutan semakin meresap ke dalam tulang para musuh Gu Sheng.

"Siapa selanjutnya?" tanya Gu Sheng, suaranya bergema membelah awan kelabu di atas Kota Azure.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai sekte pedang langit dengan cara paling kejam thor bikin leluhur sekte itu memohon ampunan bunuh dia aja jangan libatkan sektenya bikin mcnya tidak peduli bantai sekte itu serap kultivasi mereka naikin ranah kultivasi habis itu bantai klan lin dan klan zhou
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bantai keluarganya zhou rou bikin mereka semua mengutuk zhou rou karena menganggu mcnya
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat robek musuhnya thor bantai klan zhao
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi mcnya sampai puncak habis itu bantai lintian dan zhaoru bikin zhaoru dan lintian memohon jangan libatkan keluarganya bikin mcnya tidak perduli thor
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin mcnya kejam bantai lin tian beserta keluarganya bikin mcnya memasukkan pil itu ke dalam tubuh lintian bikin lintian tidak bisa bereinkarnasi bikin mcnya memakan lintian
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!