NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 16

Aku berjalan santai menyusuri jalanan desa. Hari masih menyengat siang ini. Ternyata aku hanya butuh satu jam saja untuk ke toko mengantarkan berkas ku.

"Udah pulang, man?"

Aku mengangguk. "Iya mba. Udah selesai."

Mba Nia mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Warung ternyata tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pelanggan yang sedang menyantap makanan nya.

"Gimana tadi? Lancar?"

Aku duduk di samping mba Nia. "Ya gitu deh mba. Cuma ditanya-tanya sedikit doang."

"Terus kapan mulai kerjanya?"

Aku mengangkat bahuku. "Katanya nanti dikabarin lagi mba."

"Ya sudah kalau gitu man." Mba Nia menyodorkan segelas air putih kepadaku. "Semoga lancar ya man."

"Iya mba semoga saja."

---

Malam ini aku mengurung diri di kamar. Sedang berselancar di internet. Mencari video pekerjaan kasir apa saja. Dan biasanya seperti apa yang dilakukan oleh seorang penjaga kasir.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk. Nomor tidak di kenal. Tak ada nama yang tertera. Aku membukanya. Membacanya perlahan takut penipuan yang sedang marak akhir-akhir ini.

'Selamat malam. Kami dari area manager toko MURAH JAYA ingin menyampaikan kepada saudari AMANDA AURELI PUTRI bahwasanya besok untuk bisa datang ke toko pukul 08.00 WIB. Dengan pakaian rapi dan sopan serta bersepatu.

Dengan terkirimnya pesan ini, kami ucapkan terimakasih.'

Tak terasa senyumku merekah. Aku segera membalas pesan itu. Setelah itu mengabari mba Nia bahwa aku berhasil diterima di toko itu. Dan meminta ijinnya untuk besok tidak bisa ke warung untuk membantunya.

Setelah memilih pakaian mana yang akan aku kenakan besok aku segera berangsur tidur.

Rasanya aku tidak sabar menunggu pagi. Tak sabar besok aku datang lagi di toko yang dingin itu.

Aku akan yakinkan diriku bahwa aku bisa untuk belajar dengan cepat. Walaupun hanya lulusan SD tapi akan aku buktikan lewat toko ini bahwa aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

---

Aku sudah selesai bersiap. Aku sedang mencari sepatu sekolahku dua tahun lalu.

"Dimana ya aku menaruh nya?" Aku kembali mengobrak-abrik rak sepatu usang di ruang tengah. Kebanyakan sepatu laki-laki milik kak Toni yang hampir setiap tahunnya beli.

Aku menemukannya! Sedikit berdebu tapi masih bisa aku bersihkan.

"Kalau tau aku akan butuh sepatu, aku bakal beli sih." Aku akan membeli sepatu baru tapi bukan sekarang.

"Tumben rapi sekali. Pakai sepatu juga?"

Aku terkejut atas kedatangan ibuku yang tiba-tiba.

"Iya bu. Mau ngelamar di toko soalnya." Aku kembali mengelap sepatuku.

"Toko mana?" Tanya ibuku lalu duduk di kursi meja makan yang tak jauh dariku.

"Toko yang baru itu loh bu."

Kulihat ibuku mengangguk kan kepalanya. "Bagus dong. Nanti gajinya lebih gede dari warung bakso."

Aku tersenyum. "Semoga saja ya bu. Doakan aku biar lancar." Aku selesai mengelap lalu mulai memakai sepatu itu.

"Iya ibu doakan biar lancar semuanya." Ibu terus melihatku. "Tapi kalau kamu udah sukses jangan lupakan ibu sama kakakmu nanti."

Aku mengangguk. "Iya bu." Aku sudah selesai. "Aku berangkat ya bu." Aku menyalimi tangan ibu. Berharap restu ibu mengantarkanku kepada kesuksesan.

Aku berangkat. Sengaja berangkat satu jam lebih awal karena aku takut sampai sana terlambat. Hal ini pun yang aku lakukan ketika pertama kali kerja di warungnya mba Nia. Berangkat lebih awal sebelum yang punya datang. Seperti sudah alarm ku untuk melakukannya.

Aku mampir di warung dekat rumah. Membeli sebuah roti dan sebotol air dingin. Untuk sarapan. Aku tak terbiasa sarapan dengan makanan yang berat seperti nasi. Perutku tak cocok. Yang ada malah mual dan berakhir muntah.

Tapi kalau tak makan apapun ketika pagi hari juga aku akan merasakan mual. Jadi setidaknya sepotong roti di pagi hari adalah kewajiban.

Aku sampai setelah 15 menit berjalan. Udara masih sejuk yang membuatku tak berkeringat sama sekali setelah berjalan selama itu. Memang di desa berbeda dengan kota. Itu kata orang yang sudah pernah merantau atau mengunjungi kota.

Keadaan toko itu sudah terbuka sedikit. Sepertinya sudah ada orang di dalam.

Aku memilih melipir ke samping toko. Ada area parkir yang lumayan teduh karena masih ada pohon mangga yang belum terlalu tinggi. Sepertinya sengaja pas pembangunan dibiarkan tumbuh untuk berteduh.

Duduk di bawah pohon, menikmati roti dan air putih yang kubeli tadi. Masih ada cukup waktu untukku beristirahat sekalian meredam rasa deg-degan di jantungku.

Sambil sesekali aku berbalas pesan pada mba Nia yang hari ini memilih libur. Dia ada kegiatan di sekolah anaknya katanya.

"Permisi, neng."

Aku terkejut. Lalu mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa orang itu.

Seorang laki-laki, yang kulihat kemarin sedang membereskan bekas bangunan di depan toko. Kerjanya bagus sekali, karena sekarang halaman toko sudah bersih dan rapi.

"Bapak. Kenapa pak?" Aku bangkit berdiri.

"Sudah dari tadi nunggu?"

Aku menggeleng. "Baru saja pak aku sampai disini."

"Kenapa tidak langsung masuk saja? Di dalam sudah ada orang."

Aku menggeleng pelan dan tersenyum. "Ga pak. Kan kemarin bilangnya jam 8. Aku masih punya waktu 20 menit lagi. Ini aku mau sarapan dulu."

Bapak itu duduk dan aku mengikutinya untuk duduk kembali.

"Kalau gitu biar bapak temani ya? Bapak juga nantinya bakal kerja disini. Tapi bagian parkir."

Aku mengangguk kan kepalaku tanda paham.

"Kamu nanti yang bakal jaga kasir kan?"

"Iya pak. Semoga saja keterima."

Bapak itu tersenyum. "Pasti keterima. Soalnya bapak ga liat orang lain yang ngelamar kesini selain kamu."

Aku sedikit terkejut. Sepertinya banyak anak muda lulusan sekolah yang lebih tinggi darinya masih menganggur, tapi tak satupun yang melamar kesini?

"Kenapa ya kalau boleh tau pak?"

"Sepertinya karena memang mereka tidak membuka lowongan." Bapak itu menatapku. "Tapi kamu kenapa bisa tau ada lowongan disini?" Tanya bapak itu heran.

Akupun heran setelah mendengar bapak itu berbicara seperti itu. "Aku dikasih tau sama bos ku yang dulu pak makanya tau." Aku melirik jam tangan yang kupakai. "Eh? Bapak sudah jam delapan kurang lima menit. Aku siap-siap dulu ya pak buat masuk."

Bapak itu mengangguk lalu memberi semangat padaku. Sepertinya bapak itu baik.

Aku masuk ke dalam toko setelah bercermin pada kaca toko itu. Aku menarik nafasku dalam dan melangkah masuk. Udara dingin kembali menusuk kulitku.

Aku langsung masuk ke dalam ruangan yang kemarin aku masuki karena diluar tidak ada orang.

Tok..tok..

"Permisi."

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Bapak yang kemarin kutemui sekarang berada di depanku. Dengan satu orang laki-laki yang umurnya mungkin lebih muda dari laki-laki yang kemarin kutemui.

"Masuk, manda."

Pintu sengaja dibiarkan terbuka. Mungkin agar aku tidak ketakutan karena aku perempuan sendirian.

"Perkenalkan. Ini seniormu yang nanti bakal mendampingi kamu kerja disini. Jadi kalau ada apa-apa kamu bisa tanya sama dia. Dia bakal bantu kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!