Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lepas kendali
Namun, melihat raut wajah Arlan yang begitu dingin dan datar, Sean segera mengurungkan niatnya. Ia menelan kembali semua pertanyaannya. Seketika, aura konyolnya lenyap tak berbekas. Sean berubah menjadi dokter yang sangat profesional dengan wajah serius. Ia mulai memeriksa kondisi Adira dengan teliti. Tidak ada lagi candaan atau gaya berlebihan seperti sebelumnya. Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suasana mencekam dan bunyi alat medis yang digunakan Sean.
"Demamnya sangat tinggi," ujar Sean dengan nada serius setelah selesai memeriksa Adira. "Sebenarnya, lebih baik kau membawanya ke rumah sakit karena di sana peralatan medis lebih lengkap. Tapi, aku akan memberikan obat. Mungkin setelah meminumnya, kondisinya akan sedikit membaik."
Sean mengambil obat lalu menyerahkannya kepada Arlan. "Tapi ingat, kalau dalam waktu dekat belum ada perubahan, jangan keras kepala. Segera bawa dia ke rumah sakit. Suhunya benar-benar luar biasa tinggi."
Arlan hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap dingin namun tak lepas dari wajah pucat Adira.
"Beri dia obat itu sekarang. Jangan tunggu sampai dia terbangun karena saat ini demamnya sedang mencapai puncak. Harus diberikan segera," instruksi Sean tegas. "Pokoknya, kalau demamnya tidak kunjung turun, langsung ke rumah sakit saja."
Sean kemudian melirik jam tangannya. "Kebetulan setengah jam lagi aku ada janji dengan pasien lain. Aku harus pergi duluan." Arlan kembali hanya memberikan anggukan singkat sebagai jawaban.
Namun, saat Sean sudah melangkah sampai ke depan pintu, ia tiba-tiba membalikkan badan. "Arlan," panggilnya.
Arlan pun menoleh.
"Aku butuh kejelasan," ucap Sean dengan tatapan yang sangat dalam. Arlan tetap diam, sama sekali tidak menanggapi. "Aku tidak akan mengganggumu sekarang, tapi yang pasti... aku butuh kejelasan tentang keberadaan wanita itu di sini."
Setelah mengucapkan kalimat yang sarat makna itu, Sean segera melangkah pergi meninggalkan kamar yang dingin tersebut.
Arlan bergerak perlahan, menyelipkan satu lengannya di bawah tengkuk gadis itu untuk mengangkat sedikit kepalanya agar ia tidak tersedak saat meminum obat cair tersebut. Setelah berhasil meminumkannya, ia kembali membaringkan tubuh Adira di atas bantal.
Pria itu terdiam di sana, menatap wajah Adira dalam waktu yang lama. Tatapannya sulit diartikan; ada kemarahan dan dendam, namun terselip sesuatu yang menyerupai kekhawatiran yang coba ia tekan kuat-kuat.
"Kau tidak bisa mati sekarang," ucap Arlan dengan suara rendah yang mengintimidasi, seolah-olah Adira bisa mendengar ucapannya di alam bawah sadar. "Ini masih terlalu mudah bagimu."
Waktu berlalu dengan lambat dan melelahkan. Di tempat lain, ponsel Wira bergetar hebat.
Drrt... drrt... drrt...
"Halo, Nyonya Besar," jawab Wira penuh kesopanan saat mengetahui yang meneleponnya adalah Oma Arlan.
"Ke mana cucuku? Dari tadi aku menghubunginya, tapi tidak diangkat!" Wanita tua itu marah-marah kepada Wira karena sedari tadi panggilannya ke ponsel Arlan tidak membuahkan hasil.
"Kalau begitu, biar saya coba hubungi Tuan, Nyonya Besar."
"Tidak perlu. Cukup beritahu dia, minggu ini suruh dia datang menemuiku di rumah utama. Ada yang ingin kusampaikan segera kepada cucuku itu."
"Baik, akan segera saya sampaikan kepada Tuan, Nyonya Besar."
"Hm,"
***
Malam Hari
Sementara itu di mansion, malam pun tiba. Adira yang telah melewati sehari penuh dalam keadaan tidak sadarkan diri mulai perlahan membuka matanya. Ia bahkan tidak bangun untuk makan atau minum sepanjang hari. Dengan tubuh yang masih terasa lemas, Adira mendudukkan diri dan menatap ke arah jendela. Pantulan di kaca menunjukkan suasana di luar yang sudah gelap gulita.
"Apa aku terbangun tengah malam lagi?" gumamnya lirih. Ia menunduk melihat bajunya, sama sekali belum menyadari bahwa sebelumnya ia tidak mengenakan sehelai benang pun dan Arlan-lah yang memakaikan baju itu.
Adira turun dari ranjang dengan langkah gontai menuju jendela. "Jam berapa sekarang?" gumamnya lagi. Matanya beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul 19.00. "Bukannya tadi aku pulang jam 12.00 malam? Kok sekarang sudah jam 7 malam lagi? Apa aku..."
"Kau sudah sadar?"
Suara berat yang dingin itu seketika membuat Adira terperanjat. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Arlan sedang duduk di sofa dengan kaki menyilang dan tangan bersedekap di dada, sembari menatapnya tajam.
Dia... Sejak kapan dia ada di situ? batin Adira.
Adira seketika tersadar. Tatapannya tertuju pada dirinya sendiri, menyadari bahwa saat ini ia hanya mengenakan sepotong kaos yang panjangnya hanya sebatas pangkal paha. Wajahnya memerah padam. Ia merasa sangat malu berpenampilan seperti itu di hadapan pria sedingin Arlan, tanpa pernah menduga bahwa pria itulah yang sebenarnya telah memakaikan pakaian itu ke tubuhnya.
Dengan kaku, Adira berusaha berjalan, berniat mencari kain atau sesuatu yang bisa menutupi pahanya yang terbuka. Namun, kalimat yang diucapkan Arlan tiba-tiba menghentikan langkahnya seketika.
"Apa kau tidak punya rasa malu tidur dalam keadaan polos? Memang siapa yang ingin kau goda?"
Deg!
Adira menatap Arlan dengan mata memerah padam. Terlihat, gadis itu seperti sangat membenci pria dihadapannya.
"Memang kau pikir siapa yang ingin aku goda?!" bentak Adira tiba-tiba.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang