Kisah seorang anak perempuan yang selalu mendapatkan ketidakadilan dari sang ibu. gadis itu sering di bandingkan dengan saudara saudara nya sendiri. karena tuntutan ibunya, Lusiana harus terjun menjadi wanita malam, di sebuah club ternama di kota.
bagaimana car gadis itu bertahan dari keras nya dunia. apakah gadis itu mampu bahagia, atau malah sebaliknya?? ikuti kisah Lusiana sekarang juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16
Saat masuk ke dalam rumah, Lusi menoleh ke kamar ibunya yang tertutup. Dia merasa pasti ibunya saat ini, sangat kehilangan ayah nya. apalagi tadi saat melihat ibunya terlihat meraung raung dan menangis saat melihat jenazah ayah nya itu. jadi dia berusaha kuat, untuk menyemangati ibunya itu. kaki nya melangkah menuju ke kamar ibunya.
Saat ingin membuka pintu kamar ibunya, dia tak sengaja mendengar gumaman ibunya itu.
"Hahaha, kalau saja tadi aku tak berpura pura bersedih, pasti uang uang yang mereka berikan sedikit. ini cukup untuk belanja tas yang ingin aku beli."
Deg..... Cklek...pintu terbuka, dan membuat Marni menoleh ke arah pintu kamar nya. Dia kaget saat melihat lusi menatap nya dengan tatapan kecewa.
"Kenapa kau tak mengetuk pintu kamar ibu!"
"Jadi ibu tadi hanya berpura pura menangis?' tanya Lusi dengan tatapan datar nya.
"Tentu saja tidak, ibu menangis karena ayah mu sudah tiada. Ga ada yang mencari nafkah lagi."
"Hahah, lucu sekali, situasi masih berduka, dan ibu malah terlihat berpura pura. Apakah ibu mencintai ayah?'
"Aku istrinya tentu saja mencintai nya. Sudah kembali ke kamar mu. Ibu ingin beristirahat!" ketus Marni kepada Lusi yang terlalu banyak bertanya menurut nya.
Brak....pintu kamar di tutup dengan keras membuat lusi terkekeh miris. Ibunya benar benar sudah keterlaluan. Situasi masih berduka, tetapi ibunya tetap saja memikirkan uang uang sumbangan dari para warga sekitar.
"Kapan ibu akan berubah. aku lelah kalau terus terusan bertahan Bu." ucap gadis itu dengan tatapan sendu nya. Dia langsung melangkah ke kamar nya itu.
Sedangkan Bu Marni terlihat kesal dan saat menoleh ke arah uang nya itu, dengan cepat dia langsung menyimpan uang uang itu ke tempat yang lebih aman.
Sudah semingguan setelah kepergian pak aden, Lusi masih tetap bersedih. Beda dengan Bu Marni yang sudah terlihat biasa saja dan masih tetap sama.
"Kapan kamu kembali ke kota?" tanya ibunya dengan ketus.
Lusi memang belum menyampaikan bahwa dia sudah keluar secara tiba tiba dari kerjaan nya.
"Lusi sudah keluar dari Kerjaan Bu." ucap nya dengan menghembuskan nafas yang panjang.
"Apa!" pekik ibunya dengan suara yang kaget.
kalau Lusi tidak kerja, bagaimana nantinya dia bisa mencukupi kebutuhan hidup nya. Mengharapkan anak laki laki sama saja mengharapkan Alien jatuh ke bumi.
"Kenapa kamu keluar dari kerjaan. Siapa yang membiayai kebutuhan dapur Lusi!" bentak Marni yang merasa begitu kesal dan emosi saat ini.
Lusi terlihat mengembuskan nafas berat nya saat ini, dia masih mengingat jelas bagaimana dia di paksa saat malam itu oleh pria yang tak dikenal. Hatinya masih begitu hancur lebur. bercerita dengan ibunya sama sekali tak bisa memberikan solusi untuk nya.
"Aku tak ingin bekerja di tempat itu lagi Bu, aku akan membuka usaha di rumah, aku bisa berjualan di depan rumah nanti." ucap gadis itu yang masih memiliki uang dari pria asing itu.
"Engga! Ibu ga setuju. Kamu pergi aja ke kota sekarang cari pekerjaan disana!" ucap ibunya dengan ketus.
"Deg..... Lusi menatap ibunya dengan terkekeh miris. tentu saja ibunya itu takut bila nantinya uang yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
"Kenapa ibu membiarkan Lusi pergi ke kota dan bekerja sendiri disana. Sedangkan kak Dimas ibu biarkan dia berkeliaran di kampung ini, dan bahkan pria itu tak pulang saat ayah nya tiada."
"Kamu seperti tak tau kakak mu itu, biarkan saja dia sibuk dengan dunia nya sendiri. Yang penting kamu tetap kasih ibu uang bulanan. Jadi ibu ga mau kamu lama lama di kampung ini, segera pergi ke kota dan cari uang yang banyak!'
Lusi langsung tersenyum miris mendengar ucapan ibunya itu, sangat menyakitkan karena hanya dijadikan sapi perah nya saja. bahkan ibunya tak pernah bertanya bagaimana kondisi nya selama di kota, atau hanya sekedar basa basi tentang kesehatan nya. Hatinya begitu sakit saat ini, seperti nya memutuskan hidup yang baru di tempat yang baru adalah solusi yang baik.
Apa mgkin Lusi putri konglomerat yg di culik waktu bayi..