NovelToon NovelToon
Obsesi Pewaris Kejam: Aku Dipaksa Menjadi Miliknya

Obsesi Pewaris Kejam: Aku Dipaksa Menjadi Miliknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Obsesi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: nupitautari

Warning!!!!!!

Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.

Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.

Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.

Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.

Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.

Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Baiklah, sampai disini saja pelajaran kita pada hari ini" ucap Bu Mariot. "Jangan lupa bentuk kelompok 3 orang, kalau berlebih boleh 4 orang. Kumpulkan ke ketua kelas hari ini sebelum jam sekolah berakhir. Mengerti??" Lanjut Bu Mariot.

"Mengerti, Bu" jawab siswa serentak.

Bu Mariot meninggalkan kelas. Drew menepuk punggung Shena. Shena menoleh padanya. "Ada apa?" Tanya Shena.

"Ayo satu kelompok" ajak Drew. Shena mengangguk setuju. "Oke".

"Siapa satu lagi kira-kira?" Tanya Drew.

Shena tersenyum dan memandang ke arah Ello. Ia berdiri namun terduduk kembali. Arsen menarik tangannya. Shena menoleh dengan kesal. "Cari mati ya???"

"Galak sekali jadi perempuan" ledek Arsen.

"Jangan ganggu aku. Kau mau ku pukul???" Ketus Shena. Ia bahkan menunjukkan tinju mungilnya.

"Kita satu kelompok" ucap Arsen.

"Tidak mau" jawab Shena cepat.

"Jangan menolak. Kau masih ada kontrak jadi babu ku dalam beberapa hari ke depan" tukas Arsen.

Shena cemberut. Bibirnya mencebik. Ia berusaha memelas. "Arsen, kita tidak cocok. Aku bodoh dan kau hampir tak pernah bangun saat jam pelajaran".

"Kau memang bodoh, aku akui itu. Tapi aku cukup pintar" tukas Arsen.

Shena tak percaya. "Hah, mana mungkin kau lebih pintar dariku. Meskipun aku bodoh aku tak pernah tidur saat jam pelajaran".

"Satu kelompok denganku atau ku hajar pacarmu" ancam Arsen.

Alarm siaga Shena bangun. Ia sedikit panik dan memohon. "Arsen, biarkan aku sekelompok dengan Ello".

"Aku akan menghajarnya" ucap Arsen santai. Ia bahkan membersihkan kukunya.

Muka Shena sudah jelek karena cemberut. Ia buang muka dan bersedekap dada. Drew terkekeh melihatnya dari belakang. Shena sangat menggemaskan.

.

.

.

Jam istirahat makan siang. Shena mengantri makan di belakang Ello. Sementara di belakang Shena ada Arsen dan Drew yang berebut tempat untuk berada di belakang Shena. Shena terganggu dengan keributan yang dibuat Drew dan Arsen. Ia menoleh ke arah mereka berdua. "Bisakah kalian mengantri dengan tenang?".

"Anak ini mengambil tempatku" geram Arsen. Ia sudah lama ingin memukul Drew tapi dia selalu menempel pada Shena. Tak mungkin juga ia memukul orang tiba-tiba di depan Shena. Itu akan menimbulkan citra buruk.

"Huh... Tidak ada yang menjadi tempat mu disini" tukas Drew tak mau kalah.

Shena buang muka. Malas melihat mereka bertengkar seperti anak kecil. Semua orang masih menatap Arsen aneh. Semenjak Shena pindah ke sekolah ini, mereka semua sering melihat tingkah Arsen yang kekanakan. Bahkan meskipun sudah sering tetap saja mereka semua tak terbiasa. Namun ada baiknya Shena pindah ke sekolah ini. Arsen jadi jarang membuat keributan dan pembulian juga tidak terjadi selama beberapa waktu terakhir.

Ello mengajak Shena duduk di meja yang tak jauh dari mereka. Tentu saja Dian ikut. Bahkan Arsen dan Drew masih setia mengintilin Shena.

Shena duduk lebih dulu. Ia menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya menyuruh Ello duduk. "El, duduk sini" ucapnya.

Ello hendak duduk namun di salip oleh Arsen. Shena tercengang. Drew duduk di sisi lain Shena. Shena memukul bahu Arsen. "Arsen, ini tempat duduk Ello".

"Tidak ada tempat yang menjadi miliknya di sekolah ini. Apa aku benar?" Ucapnya santai sambil menoleh ke arah Ello.

Ello berdehem. "Shena, biarkan saja. Aku duduk di sini saja" ucap Ello menengahi. Ia tak mau ada keributan.

Muka Shena cemberut. Ia memandang Arsen sengit penuh permusuhan sementara Arsen

makan tanpa rasa bersalah.

.

.

.

Jam pulang sekolah. Ello menghampiri Shena. "Shena, sudah ada kelompok untuk tugas presentasi pelajaran bahasa nanti? Nama mu belum ada". Ucap Ello.

Shena cemberut. Dengan berat hati ia mengeluarkan kertas di laci yang tadi di tulis Drew dan menyerahkannya kepada Ello.

Ello menerimanya dan membacanya. "Kau yakin sekelompok dengan mereka?" Tanya Ello memastikan.

"Ahhh... Entahlah. Aku mau pulang" rengek Shena. Ello terkekeh melihatnya.

"Tunggu aku mengantarkan ini pada Bu Mariot, ya" ucap Ello. Shena mengangguk.

.

.

.

Pukul 3 sore. Shena, Drew dan Arsen ada di sebuah cafe yang tak jauh dari apartemen Shena. Mereka sedang mengerjakan tugas presentasi untuk di tinjau besok oleh Bu Mariot.

"Ahhh... Apa yang harus kita tulis di laptop ini" keluh Drew.

"Entahlah. Aku tidak mengerti apapun kecuali Ello" keluh Shena lesu tak semangat.

Arsen mengejek. "Otakmu pasti sangat kecil hingga hanya bisa menampung Ello" ia bahkan tertawa.

Drew ikut tertawa. Shena memandang Drew sinis. "Kau juga menertawakan ku?"

Drew langsung berhenti tertawa. Ia menjelaskan. "Haiss... Mana mungkin aku berani menertawakan my Hero" ia tersenyum manipulatif.

Shena menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melihat langit-langit. Ia menghela nafas dan mengeluh. "Andai saja aku sekelompok dengan Ello pasti dia yang akan mengerjakan bagianku" rengeknya.

Arsen menendang kaki Shena. "Au.... Sakit..." Teriak Shena. Ia memandang Arsen sengit.

"Cepat kerjakan bagianmu" perintah Arsen.

Pukul 7 malam lewat, mereka baru selesai. Shena seperti kehilangan raga mengerjakan tugasnya. Padahal tugasnya sedikit dan itupun Drew dan Arsen yang membantunya tapi ia terlihat paling lelah. "My Hero, biar ku pijit" ucap Drew. Shena menyerahkan tangannya.

Arsen meledek. "Kau kerjakan hanya secuil tapi terlihat paling menderita".

"Secuil pun tetap kerja keras. Otakku hampir terbakar memikirkannya" balas Shena.

"Kau bilang lebih pintar dariku, tapi lebih sebagian tugasmu aku yang kerjakan" tukasnya.

Shena menyengir. "Aku baru tahu ternyata kau cukup pintar".

"Hah, tentu saja. Aku bahkan lebih pintar dari pacarmu" ucap Arsen sombong.

"Ahhh... Kau sangat cerewet sekali pada my Hero. Sini biar ku beri pijatan hangat ku" ucap Drew. Ia berjalan mendekati Arsen dengan penuh senyum jahat.

Arsen seketika waspada. "Apa yang mau kau lakukan? Jangan mendekat" teriaknya.

Drew memberi kode mata pada Shena. Shena seolah paham, ia bangkit dan berlari secepat kilat memegangi Arsen. "Hei.... Lepaskan... Lepaskan aku... Akhh... Hahahahah...hahahah" Arsen tertawa terbahak-bahak. Ia merasa geli. Drew menggelitiknya dan Shena bahkan membantu. Mereka bertiga tertawa bersama.

.

.

.

Drew, Shena dan Arsen keluar dari cafe. Drew bertanya. "Apa kegiatan mu malam ini, my Hero?"

"Tidak ada" jawab Shena.

"Mau pergi jalan-jalan ke taman hiburan?" Tanya Drew lagi.

Shena tersenyum dan mengangguk antusias. "Mau"

"Aku ikut" ucap Arsen.

"Let's go...." Teriak Drew girang.

.

.

.

Mereka di taman hiburan. Disini sangat terang dan ramai orang. Shena terkesima. "Woahhh.... Sepertinya sangat menyenangkan bermain disini".

"Ayo kita kesana" Drew menarik tangan Shena. Shena tak lupa menarik tangan Arsen. Bagi Arsen ini yang pertama kalinya ia pergi ke taman hiburan.

Mereka bertiga pergi ke toko bandana. Shena memakaikan bandana beruang dan rakun ke Drew dan Arsen. Tak lupa ia juga memakai bandana kucing. Shena memotret Drew dan Arsen serta berfoto selfie bertiga. Arsen tampak tertawa sangat menikmati. Ia sangat senang. Drew juga tak kalah senang.

Mereka bersinggah ke foto box dan mengambil beberapa gambar dengan pose lucu. Ada pose dua jari dan tersenyum. Pose muka jelek dan masih banyak lagi. Shena memberikan masing-masing satu foto pada Arsen dan Drew.

"Akhh......... Akh...... Akhh....." Teriak Arsen histeris ketika pertama kalinya naik kora-kora. Sementara Drew dan Shena terlihat sangat menikmatinya.

"Huek...." Arsen muntah. Shena menepuk-nepuk punggung Arsen. Ia sedikit khawatir. "Arsen, kau baik-baik saja? Perlu ke rumah sakit?" Arsen menggeleng pelan. Ia menatap Shena dengan muka pucat lalu mendaratkan kepalanya ke bahu Shena. Dilihat dari jauh sepertinya leher Arsen akan sakit karena Shena sangat pendek. 

*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏

1
Queen Rose
kalian jangan lupa kasih dukungan ya guys....
Queen Rose
kalian jangan lupa ya kasih komentar dan like kalian buat author, jujur aja aku sebagai penulis baru sering overthinking mau menekuni dunia nulis ini karena takut gagal. tapi aku coba buat selalu semangatin diri dan berpikir positif. aku selalu nanemin ke diri aku kalau ini bagian dari proses aku
Queen Rose
guys aku mau bilang sama kalian semua kalo di akun author, setiap bab itu udah siap tayang pukul 20.00 ya. Semua bab udah di kirim dengan waktu terjadwal, jadi semua bergantung sistem untuk cepat atau lambatnya perilisan setiap bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!