NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. PERTEMUAN DI LAUSANNE

Pesawat pribadi milik keluarga Lenoir mendarat mulus di bandara internasional Jenewa, Swiss. Langit di luar jendela tampak cerah, dengan hamparan pegunungan Alpen yang megah dan berwarna kebiruan di kejauhan. Namun, bagi Aslan yang duduk diam di kursi penumpang, keindahan alam itu seolah tidak menyentuh hatinya.

Saat pesawat bergerak menuju tempat parkir, tiba-tiba Aslan merasakan sebuah kelemahan aneh menyerang seluruh tubuhnya. Bukan sakit fisik, melainkan rasa lelah yang mendalam, seolah beban berat yang ia bawa dari Paris tiba-tiba menjadi dua kali lipat lebih berat. Dadanya terasa sesak, dan napasnya terasa sedikit berat. Ia menutup matanya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, dan seketika, percakapan hebat dengan ayahnya sore tadi kembali terdengar jelas di telinganya.

"Aku takut, Aslan! Aku sangat takut! Aku takut setiap kali ponselku berdering... Dan semua ini karena kau, Aslan! Karena kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri!"

Kata-kata Marcel itu seperti jarum yang terus menusuk-nusuk hatinya. Aslan mengepal tangannya erat-erat di atas pangkuannya. Ia sadar, semua masalah ini, semua ketakutan yang dialami ayahnya, semua rasa malu yang mungkin akan menimpa keluarga Hadinata, semuanya bermula dari kebodohannya sendiri. Ia yang membiarkan emosi dan keinginan sesaat menguasai dirinya. Ia yang ceroboh hingga tertangkap kamera. Ia yang melanggar janji.

"Kenapa aku bisa begitu bodoh?" bisiknya lirih, suaranya bergetar. Ia merasa benci pada dirinya sendiri saat itu. Bagaimana mungkin ia, yang memiliki segalanya—kekayaan, kecerdasan, kesempatan—bisa melakukan kesalahan sebesar itu? Bagaimana mungkin ia bisa begitu tidak berpikir panjang hingga membahayakan orang-orang yang dicintainya?

Dengan langkah yang terasa berat, Aslan turun dari pesawat. Ia menolak bantuan asisten yang menyambutnya, memilih untuk berjalan sendiri menuju mobil yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan dari Jenewa ke Lausanne, pemandangan indah kota Swiss yang bersih dan tertata rapi tidak mampu mengalihkan pikirannya dari bayangan masa lalu itu. Ia terus teringat pada foto-foto itu, pada dirinya yang tertawa lepas dengan wanita asing di klub malam, pada dirinya yang mabuk dan lupa diri.

Saat mobil memasuki kota Lausanne yang indah di tepi Danau Jenewa, Aslan tersenyum. Namun, senyum itu bukan senyum bahagia. Itu adalah senyum yang pahit, senyum yang terukir di wajahnya sementara hatinya terasa perih dan terluka oleh penyesalan.

"Alana..." gumamnya pelan, menyebut nama gadis itu. "Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada aku. Kau pantas mendapatkan pria yang sempurna, bukan pria dengan masa lalu yang kotor sepertiku."

Namun, di balik rasa bersalah itu, ada perasaan lain yang jauh lebih kuat: kerinduan. Kerinduan yang tiba-tiba muncul setelah pertemuan singkat mereka di Paris, kerinduan yang mendorongnya untuk terbang ribuan kilometer demi bisa melihat wajah gadis itu sekali lagi.

Aslan meminta sopirnya menghentikan mobil di tidak jauh dari rumah sakit besar tempat Alana magang. Ia memutuskan untuk menunggu di sana, di sebuah taman kecil yang berhadapan langsung dengan pintu keluar rumah sakit. Ia duduk di sebuah bangku kayu, matanya tak lepas dari pintu kaca yang terus dibuka dan ditutup oleh orang-orang yang lalu lalang.

Waktu berlalu perlahan. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menyentuh permukaan danau di kejauhan. Namun, Aslan tidak peduli. Ia terus menunggu, hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa antusias, gugup, dan rasa takut yang tak kunjung hilang.

Akhirnya, setelah menunggu selama hampir satu jam, sosok yang ia rindukan akhirnya muncul dari pintu rumah sakit.

Alana melangkah keluar dengan langkah lemas namun tetap anggun. Ia mengenakan seragam dokter magang berwarna putih yang sedikit kusut karena seharian bekerja, rambutnya diikat kuda yang sedikit berantakan, dan wajahnya tampak kelelahan namun tetap memancarkan kecantikan yang alami. Gadis itu sedang berjalan sambil memasukkan beberapa catatan medis ke dalam tasnya, kepalanya tertunduk sedikit, seolah masih memikirkan pasien yang baru saja ia tangani.

Aslan berdiri perlahan dari bangkunya. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Alana berjalan beberapa langkah menjauhi pintu masuk, lalu tiba-tiba ia merasakan ada sepasang mata yang menatapnya. Ia mengangkat kepalanya secara refleks, dan pandangannya bertemu langsung dengan mata biru Aslan yang sedang menatapnya dari seberang jalan.

Langkah Alana terhenti mendadak. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. Wajah pria yang baru ia temui beberapa hari lalu di Paris, pria yang terus menghantui pikirannya sejak saat itu, kini berdiri di hadapannya, di kota Lausanne, ribuan kilometer jauhnya dari rumah mereka.

"Aslan?" bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Kau... apa kau benar-benar di sini?"

Aslan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berjalan mendekat, melintasi jalan setapak yang memisahkan mereka dengan langkah yang cepat namun penuh hati-hati. Hanya dalam beberapa detik, ia sudah berdiri tepat di hadapan Alana.

"Aku di sini, Alana," ucap Aslan pelan, suaranya terdengar serak namun lembut. Matanya menatap manik mata cokelat gadis itu dengan tatapan yang begitu dalam, tulus, namun juga menyiratkan sebuah kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam. "Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku rindu padamu. Sangat rindu."

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa filter, tanpa kepura-puraan. Rasa rindu itu memang nyata, begitu nyata hingga menyakitinya. Namun di balik rasa rindu itu, rasa bersalah karena masa lalunya terus menggerogoti hatinya. Ia merasa tidak pantas berdiri di sini, merasa tidak pantas merindukan gadis sebaik Alana. Namun ia tidak bisa menahan dirinya. Ia butuh kehadiran Alana. Ia butuh pengampunan, meski belum ia minta secara lisan.

Melihat tatapan Aslan yang begitu intens dan penuh emosi, Alana merasa dadanya terasa hangat namun juga bingung. Ia belum sempat berkata apa-apa, ketika tiba-tiba Aslan melangkah maju selangkah lagi, dan dengan gerakan yang lembut namun tegas, ia menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis itu erat-erat, seolah takut jika ia melepaskan pelukan itu, Alana akan menghilang seperti mimpi.

Aslan memejamkan matanya, menghirup aroma samar parfum Alana yang menenangkan. Dalam pelukan itu, ia merasakan ketenangan yang selama ini ia cari, namun juga rasa sakit karena kesadarannya sendiri. Ia menundukkan wajahnya, menempelkan keningnya di kening Alana sejenak, lalu dengan perlahan dan penuh perasaan, ia mencium kening gadis itu dengan sangat lembut.

Ciuman itu tulus, penuh dengan rasa sayang dan rasa terima kasih karena Alana ada di dunia ini. Namun di saat yang sama, ciuman itu juga penuh dengan rasa bersalah yang mendalam di hati Aslan. Sebuah permohonan maaf yang tak terucapkan, sebuah janji dalam hati bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga menjadi pria yang pantas untuk gadis yang sedang ia peluk ini.

Alana yang awalnya terkejut, perlahan melunak dalam pelukan itu. Ia merasakan ketulusan dan juga kepedihan yang tersembunyi dari pria di hadapannya. Tanpa sadar, tangannya terangkat perlahan, mendarat lembut di punggung Aslan, membalas pelukan itu dengan perasaan yang campur aduk antara rasa senang, terkejut, dan rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di hati pria ini.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!