Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Hangat Yang Perlahan Menjadi Rumah
Weekend ini Nayara memiliki jadwal untuk menghabiskan waktu bersama Adrian, untuk saling mengenal dan menyiapkan hari pernikahan dengan cara mereka sendiri. Tapi kali ini Nayara telah dibooking oleh sang calon Ibu mertua yaitu Ratna Mahendra yang langsung mengambil waktunya pagi ini.
Langkah Nayara pagi ini terasa sedikit ragu saat memasuki bangunan yang sudah jelas itu adalah Butik terkenal, deretan kain indah dan kotak-kotak seserahan tidak lupa aroma lembut parfum ruangan membuat suasana terasa begitu sakral.
Tapi sepertinya bukan itu hal utama yang membuat hati Nayara terasa berdebar kali ini, melainkan berada disamping perempuan yang akan menjadi Ibu mertua dalam waktu dekat.
Ratna Mahendra yang sejak tadi tidak berhenti tersenyum hangat, seolah-olah Nayara bukan lagi orang baru dalam hidupnya tidak sungkan memperkenalkan kepada rekan-rekan yang berada disana dengan bangga.
Nayara: Aku tidak pernah membayangkan akan berada sampai di titik ini, berjalan berdampingan dengan ibu dari anak laki-laki yang dulu bahkan sempat ragu aku terima. Tapi kenapa sekarang rasanya sangat hangat, bahkan terasa seperti.... Pulang.
Ratna sesekali melirik sang calon menantu dengan tatapan lembut dan penuh rasa syukur yang sejak tadi tidak bisa lagi disembunyikan.
" Ara, kamu suka yang mana?" tanya Ratna sambil memperlihatkan beberapa set kain berwarna pastel.
" Cantik semua Tante..." Nayara tersenyum kecil lebih banyak canggung.
" Bunda saja, Sayang. Biar tidak tertukar dengan Adrian" Ratna tertawa dengan mata yang berbinar.
" Iya Bun... Bunda" Nayara menganggukkan kepalanya dengan hati yang terasa lebih hangat.
Suasana saat ini terasa sederhana tapi bagi keduanya itu adalah sebuah awal dari hubungan yang perlahan tumbuh, keduanya kini berjalan bersama memilah dan memilih satu persatu isi seserahan. Mulai dari pakaian, perhiasan, hingga perlengkapan kecil yang dibungkus dengan cantik.
" Ara..." ditengah kesibukan keduanya, langkah Ratna tiba-tiba saja melambat.
" Iya Bunda?" Nayara menatap wajah Ratna dengan ekspresi sedikit khawatir.
Ratna Mahendra terlihat menarik nafas lebih panjang dan dalam, seolab tengah mengumpulkan keberaniannya.
" Bunda mau minta maaf sebelumnya sama kamu, Sayang" nada suaranya berubah lebih dalam dan lebih serius.
" Bunda dan Ayah terlalu egois saat kami memutuskan untuk menjodohkan kamu dan Adrian tanpa benar-benar bertanya dan meminta persetujuan pada kalian berdua" ucap Ratna.
Suasana mendadak hening diantara Nayara dan juga Ratna.
" Bunda tahu ini bukan hal yang mudah untuk kalian terima, tapi baik kamu ataupun Adrian dengan sadar tetap bertahan dan mencoba untuk menerima. Bunda benar-benar berterima kasih karena Ara mau menerima Adrian dengan baik padahal anak Bunda banyak kurangnya" Suara Ratna sedikit bergetar.
" Terimakasih banyak, Sayang" lagi Ratna mengucapkan terimakasih dengan nada semakin bergetar.
Nayara terpaku dengan hati seperti disentuh oleh sesuatu yang hangat.
" Bunda... Seharusnya aku yang berterima kasih karena untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa diterima dengan sangat baik" Nayara memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ratna.
" Bunda, Aku tidak pernah merasa dipaksa lagi sejak mengenal Adrian lebih dekat. Justru Nayara merasa sangat bersyukur" Nayara tersenyum hangat.
Ratna menatapnya dalam seolah tengah mencari kejujuran disana, air mata Ratna jatuh tanpa bisa ditahan dan langsung memeluk Nayara erat.
" Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari keluarga Mahendra, yang masih banyak kurangnya ini ya, Sayang" ucap Ratna yang kini pelukannya dibalas oleh Nayara.
Pelukan kali ini terasa hangat, tenang seperti pelukan seorang ibu yang sudah lama ia rindukan.