Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"Ngapain aja di Apartemen sama Arsen?" tanya Sakra. Seperti yang di katakan Arsen, Sakra datang dan langsung menjemput Aresha untuk membawanya kembali kesekolah.
"Bukan urusan lo," jawab Aresha pelan, tanpa mau menatap Sakra.
"Oke!" Sakra tersenyum miring dan mulai menjalankan mobil nya. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil, Aresha yang sibuk dengan pikiranya sendiri dan Sakra yang terlihat fokus menyetir, walau sesekali menoleh melirik ke arah Aresha.
"Gue gak tau apa yang kalian lakukan tadi di Apart, tapi yang jelas, lo cewek pertama yang pernah masuk ke Apartemen nya Arsen."
Aresha menoleh dengan kening mengerut. "Maksudnya?"
"Mungkin Arsen suka sama lo!"
"Huh?" hanya itu respon dari Aresha, entah Aresha beneran tidak mengerti dengan perkataan Sakra atau hanya pura pura bodoh tidak mengerti.
"Gue tanya sama lo. Kalau misalnya Arsen beneran suka sama lo, apa yang akan lo lakuin? Apa lo akan ninggalin pacar lo demi Arsen?"
"Ninggalin Arjuna demi Arsen?" tanya Aresha semakin bingung.
"Iya!"
"Gue gila kali ya sampai harus ninggalin Arjuna demi cowok badboy kayak Arsen." sahut Aresha dengan tawa kecil di wajahnya.
Sakra menyeringai tajam, cewek di samping nya ini benar benar luar biasa, luar biasa untuk di taklukan hati nya, pikir Sakra.
"Oke, kita lihat aja nanti." ucap Sakra pada akhirnya, lalu semakin mempercepat laju mobil nya menuju sekolahan.
Aresha dan Sakra kembali ke sekolahan tepat saat jam sekolah telah usai.
Setelah berterimakasih pada Sakra yang sudah menjemput nya, Aresha berlari menuju ke kelasnya yang cukup jauh itu.
Sesampainya di sana, Aresha tidak dapat menyembunyikan keterkejutan nya saat melihat Arjuna duduk di kursi nya, hanya ada Arjuna yang masih berada di dalam kelas nya.
"Dari mana?"
Aresha menggigit bibir bawahnya menahan takut, suara Arjuna terdengar begitu dingin dan mengimidasi.
"Nggak mungkin kan ke toilet selama 2 jam?"
Aresha menelan saliva nya melihat Arjuna berjalan mendekati nya.
"Udah berani bohong kamu sama aku." tekan Arjuna tegas
"Ng... Nggak! Aku gak berniat bohongi kamu, maafkan aku." Aresha menundukan pandangan nya, kini Aresha telah di selimuti rasa takut, tatapan tajam Arjuna berhasil menyiutkan nyalinya.
"Aku tidak bermaksud membohongimu, aku mohon maafkan aku." lirih Aresha kembali.
Arjuna menghela napas berat, ada sedikit rasa tak tega melihat Aresha yang tampak ketakutan, namun rasa itu tak sebanding dengan rasa cemburu nya melihat Aresha berjalan bersama Arsen, terlebih melihat tangan mereka saling bertautan.
"Sekali lagi aku tanya kamu dari mana?" tanya Arjuna berusaha untuk tidak membentak Aresha.
"Aku habis ke luar,"
"Sama siapa?"
"Arsen!" jawab Aresha takut takut, lalu mendongak menatap Arjuna yang hanya diam menatap nya semakin tajam.
"Ngapain aja kalian sampai sampai kamu rela bohongi aku demi dia?" tanya Arjuna sedikit menekankan suaranya.
"Aku tidak ngapa ngapain, aku hanya membantu Arsen mengobati lukanya."
"Mengobati luka nya? Serius?" Arjuna tersenyum sinis.
"Laku kenapa harus bergandengan tangan?" lanjutnya.
Aresha menatap Arjuna tak percaya, bagaimana bisa Arjuna mengetahui semuanya.
"JAWAB AKU ARESHA." bentakan itu akhirnya keluar dari mulut Arjuna, rasa sabar menahan emosi itu tidak bisa di kendalikan lagi.
"APA KAMU SADAR JIKA APA YANG KAMU LAKUKAN ITU MENIMBULKAN GOSIP DI SEKOLAH KITA."
"SUDAH CUKUP HENTIKAN ARJUNA." teriak Aresha tak kalah kerasnya dari Arjuna.
"Kenapa kamu harus semarah ini? Bukankah apa yang aku lakukan sama seperti apa yang udah kamu lakukan bersama Renata." ungkap Aresha dengan air mata yang perlahan mulai membasahi pipinya.
"Kenapa harus membawa Renata kedalam masalah kita, Renata sama sekali tidak ada hubungannya."
Aresha mengusap air matanya, menatap Arjuna dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa kamu selalu membela nya, apa tidak bisa kamu berhenti untuk tidak membelanya, huh?"
"Sebutkan di bagian mana aku membala nya." desis Arjuna nenantang.
Aresha diam tidak berkutik, Arjuna selalu mempunyai cara untuk membuat dirinya bungkam.
"Aku tegaskan, aku sama sekali tidak ada hubungan dengan Renata, soal aku yang mengantarkannya pulang, iya aku memang yang memaksa nya untuk di antar pulang, dan itu ada alasannya karena Renata Sakit. Tapi apa yang kamu lakukan justru kamu semakin membuat nya sakit, dan sekarang apa salah jika aku marah karena melihat mu bersama pria lain, apa aku boleh melakukan kekerasan pada Arsen karena sudah berani menggenggam tangan kamu, sama seperti apa yang kamu lakukan pada Renata." bentak Arjuna tanpa memikirkan Aresha yang ketakutan, Aresha di kenal sebagai cewek troublemaker, dia selalu berani menentang apapun itu, namun satu yang menjadi kelemahan nya, dia takut dengan suara bentakan, dan kali ini Aresha tidak bisa menyembunyikan kelemahan nya itu.
"Aku tau kenapa kamu diam, karena kamu memang wanita yang egois, tidak mau di sakiti tapi suka nya menyakiti." desis Arjuna semakin menajamkan matanya, Arjuna berjalan melewati Aresha begitu saja, keluar dari kelas meninggalkan Aresha yang sudah terduduk di lantai dengan tangis air mata nya.
"Arghhh... " teriak Aresha memukul mukul kakinya yang terasa lemas, Aresha menangis sendirian di dalam kelasnya, di temani dengan sunyi nya suasana di sore hari.
📝
Malam harinya, di dalam kamar, Aresha berusaha menghubungi Arjuna. Entah sudah berapa kali telepon nya di tolak oleh Arjuna, namun Aresha tidak pernah menyerah dan terus menelepon Arjuna.
"Aissh," merasa kesal, Aresha membanting ponsel baru nya ke ranjang.
Tanganya mengusap wajah nya sendiri. Aresha benar benar resah hari ini.
"Kenapa bisa kayak gini coba," lirih Aresha pada dirinya sendiri.
Rasanya Aresha ingin bertemu dengan Arjuna dan memeluk erat tubuh nya, sungguh Aresha tidak berniat membuat Arjuna marah, ini hanya salah paham dan Aresha ingin menjelaskan semuanya.
Drrrtt.
Aresha segera mengambil handphone nya kembali saat mendengar ada suara notif, namun Aresha hanya bisa menghela napas nya saat notif itu bukan dari Arjuna, melainkan dari grup chat sahabat nya.
No Fake Friends.
Stephany:
P
P
P
P
WOYYY!!
Jangan sok sibuk kenapa.
Velisa:
Apaan sih Step, berisik amat lo.
Almeera:
Aresha kemana woy, ngilang mulu dari tadi perasaan.
Velisa: Tuh anak jadi misterius deh kayaknya. Masa iya habis dari kantin ngilang gitu aja.
Stephany: ARESHA JAWAB. Lo pulang dengan selamat kan?
Aresha: Lebay, orang gue gak kemana mana kok.
Velisa: Kirain di culik om om Sha, wkwkwk.
Aresha menghela napas nya, membalas chat grup tanpa ada rasa minat, moodnya benar benar hancur hari ini.
Aresha: Besok kita ngumpul di tempat biasa.
Meera: Gak masuk sekolah dong.
Velisa: Siap laksanakan calon Adik ipar.
Stephany: Lo kenapa Sha, ada masalah ya?
Aresha: Besok gue ceritain.
Setelah membalas pesan terakhirnya, Aresha menutupi handphone nya dan menonaktifkan nya.
Aresha ingin segera tidur, berharap dengan tidur dia bisa sejenak mengistirahatkan fikiranya, walau paginya ia harus kembali teringat akan masalahnya.
📝
Seperti janji nya tadi malam, Aresha bersama ketiga sahabatnya berkumpul di cafe seperti biasa. Cafe Samudra, tempat mereka berkumpul saat ini.
"Ada apa Sha, lo ada masalah apa?" tanya Veli langsung.
"Gue berantem lagi sama Arjuna." ucap Aresha pelan dengan tangan nya sibuk memainkan sedotan di minumanya.
Aresha mendongak menatap ketiga sahabatnya yang tampak biasa saja mendengar ceritanya.
"Kok kalian diam saja Sih,.kalian nggak terkejut gitu?"
"Kenapa harus terkejut, bukankah sudah biasa bertengkar dengan Kak Arjuna." sahut Veli masa bodo.
"Iya, dan kita udah bosen banget dengar kalian itu bertengkar." sahut Meera.
"Tapi kali ini beda, Arjuna benar benar marah sama gue," lirih Aresha.
"Bedanya apa coba?" tanya Stephany.
"Gue bertengkar sama Arjuna gara gara Arsen,"
"WHATT?" teriak mereka bertiga kompak. Yang kali ini benar benar terkejut dengan cerita Aresha.
"Kok bisa sih gara gara Arsen, emang Arsen ngapain lo?" tanya Veli mulai tertarik dengan cerita kisah rumit Aresha.
"Tuh kan, apa gue bilang, lo sama Arsen pasti ada something kan?" tuduh Stephany.
Tuk..
"Awass," ringis Stephany akibat jitakan kompak dari Meera dan Veli.
"Jangan ngawur dulu deh Step, kita ini serius," tekan Veli.
"Iya iya seh sorry,"
"Lanjutkan Sha, jadi gimana kok bisa gara gara Arsen?" tanya Meera menatap serius raut muka Aresha.
Aresha menghela napas nya dan mulai menceritakan semua nya. Mulai dari awal Aresha ketemu papa tiri Arsen, lalu berniat membantu mengembalikan Arsen kembali pulang ke rumah, hingga Arsen yang tiba tiba menggenggam tangan nya dan membawa nya apartemen milik nya.
Mereka bertiga, Stephany, Meera, dan Velisa, tampak tak percaya dengan apa yang di lakukan Aresha, namun setelah Aresha menjelaskan alasanya semata mata hanya untuk balas budi dengan papa nya Arsen, mereka bertiga pun akhirnya percaya dan mengerti itu.
"Jadi lo beneran nggak ada something gitu sama Arsen," tanya Stephany yang memang berharap Aresha dan Arsen ada hubungan.
"Nggak ada!" jawab Aresha tegas, walaupun dalam hatinya dia merasa ada yang aneh dengan kedekatan dirinya dan Arsen.
"Lo itu ya Step, dari tadi bicara something something aja, emang something itu apaan sih?" tanya Meera.
"Something itu sesuatu *****, dasar Almeera ****." maki Veli tak tanggung tanggung, hingga membuat Meera merenggut dibuatnya.
"Apaan maki maki gue ****, nilai lo aja masih bagusan gue tau." balas Meera merasa kesal.
"Udah ah, males gue dengar kalian ribut." ucap Aresha membuat semuanya bungkam.
Mereka bertiga saling tatap dan tersenyum manis tiba tiba.
"Sha, kita ke Mal yuk, belanja. Gue lagi pengen beli baju nih," ajak Veli dengan antusias.
"Nggak ah, males " tolak Aresha cepat. Namun bukan ketiga sahabat Aresha namanya jika tidak bisa memaksa Aresha.
"Yeayy, yaudah yuk!"
"Hei apaan sih, gila ya lo semua." teriak Aresha saat ketiga sahabat nya menariknya paksa keluar dari cafe, padahal jelas jelas Aresha sudah menolak untuk pergi ke mal.
Sesampainya di mal, mereka berempat langsung berjalan mengelilingi toko baju, memilih milih baju yang cocok untuk mereka beli.
Aresha yang sedang dalam kondisi hati tidak baik, hanya diam mengawasi sahabat sahabat nya yang tampak bahagia memilih pakaian.
"Aresha, lo nggak mau beli baju gitu," ucap Meera tanpa mengalihkan pandangan nya dari baju yang sedang ia pegang.
"Nggak! Lagi gak mood gue," jawab Aresha lemas, matanya sibuk menatap sekeliling mal yang tampak ramai.
"Pindah tempat yuk," ajak Veli menarik tangan Aresha, dan kedua sahabatnya.
Namun baru beberapa langkah mereka melangkah, mereka terpaksa harus menghentikan langkah saat matanya tak sengaja menatap seseorang yang mereka kenal dari kejauhan.
Veli, Meera dan Stephany, reflek menoleh ke arah Aresha yang tampak diam mematung melihat orang yang mereka lihat, yang ternyata adalah Arjuna dan Renata.
"Sha, kita balik aja ya," ajak Veli yang merasa menyesal telah memaksa Aresha ke mal, dan membuat sakit hati Aresha melihat pemandangan Arjuna bersama Renata.
"Nggak, gue harus nyelesein masalah ini dulu," Aresha berjalan menghampiri Arjuna yang tampak tak menyadari kehadiran nya.
PLAK..
Satu tamparan mendarat di pipi Arjuna saat Aresha sudah berada di antara Arjuna dan Renata.
Arjuna memegang pipinya, tampak terkejut melihat kehadiran Aresha dan para sahabat nya sangat tidak terduga bagi Arjuna.
"Aku bisa jelasin," Arjuna ingin meraih tangan Aresha, namun Aresha bergerak mundur dengan mata berkaca kaca.
"Aresha... "
"Jelasin apa lagi huh, jelasin kalau memang kalian ada hubungan, iya?" Aresha menatap Arjuna kecewa.
"Berapa kali aku hubungi kamu tapi kamu sama sekali tidak mengangkatnya. Aku tahu kamu marah sama aku, tapi nggak semestinya kamu lakukan ini sama aku, Arjuna." ucap Aresha tanpa bisa mencegah air matanya, Renata yang melihat itu hanya diam dan tampak takut menatap Aresha.
"Aresha, kamu salah faham." tegas Arjuna.
Aresha menggelengkan kepalanya tak percaya, sakit di hatinya sudah tidak bisa dia tahan.
"Aku sudah tidak tau harus berbuat apa, semuanya yang talah aku lakukan tampak tak berarti buat kamu."
"Aresha,"
"Aku mau kita putus." ucap Aresha pada akhirnya, semuanya yang ada disana tampak tidak percaya menatap Aresha, terutama Arjuna yang terlihat panik melihat itu.
"Aresha, kamu apa apaan sih, kamu bercanda kan?" Arjuna mendekati Aresha dan meraih tanganya, namun lagi lagi Aresha menepisnya.
"Aku nggak becanda, aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku capek dan aku sudah muak dengan apa yang kamu lakukan." Aresha berbalik dan berlari pergi meninggalkan Arjuna, tangis air matanya sudah tidak bisa ia cegah, hatinya terlanjur kecewa hingga Aresha berani mengatakan putus pada Arjuna. Yang sebelumnya, kata itu adalah kata terlarang untuk hubungan nya dengan Arjuna.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu