Si Brondong manis merupakan sequel atau lanjutan dari novel Cinta Itu Budeg.
Bercerita tentang anak muda yang terobsesi mengejar cinta seorang wanita yang usianya terpaut jauh darinya.
Bagaimana kisahnya? Yuk simak disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hug
Author POV
Sekitar pukul tujuh malam, Hanum menunggu dengan harap-harap cemas. Menurut pemberitahuan dari Galang dan Luna, mereka akan terbang pukul empat sore dari Solo dan perkiraan sampai di Bandung sebelum maghrib. Tapi sampai sekarang, Galang dan Aluna belum juga sampai. Hanum jadi khawatir, dia takut terjadi apa-apa dengan mereka.
" Kok belum sampai juga ya, Duh.." ucap Hanum sambil meremas tangannya dengan gusar.
" Tenang, Mbak. Kan perlu waktu dari bandara sampai sini tuh. Sekitar satu jam lho Mbak, itupun kalau jalanan lancar. Sekarang mending Mbak makan dulu, habis itu minum obat." pinta Teduh sambil menghidangkan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
" Mbak gak selera makan, Duh." jawab Hanum.
" Jangan gitu atuuh. Harus makan yang banyak biar cepet sehat. Mau aku suapin? Aaaaa..." Teduh sudah menyendok nasi kemudian memaksa Hanum untuk membuka mulutnya.
" Teduuh..Noo..!" ucap Hanum.
" Mbak Hanuuum..Yess..!!" Teduh malah membalas ucapan Hanum sambil tersenyum manis.
" Ayoo..Aaaaaa..." Teduh masih terus memaksa sambil melayang-layangkan sendok berisi nasi di depan muka Hanum.
Hanum pada akhirnya menyerah juga dan membuka mulutnya.
HAP
" Yey..good girl..! gitu dong, masa kalah sama Nana. Nana aja makannya banyak." ucap Teduh sambil nyengir lebar.
" I'm not a girl, Teduh."
" But not yet a woman..Eh, kayak judul lagu ya? Hehehe.." timpal Teduh masih dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
" Lagi yaa.." Teduh sudah siap dengan suapan berikutnya.
" Masih ada, Teduh. Aku masih ngunyah ini." jawab Hanum sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Teduh gemas sendiri.
" Lama nih ngunyahnya, gak usah sampai tiga puluh kali lah Mbak, pegel nanti mulutnya. Ehe.."
" Emang harus gitu, aku kan dokter. Harus kasih contoh yang baik."
" Iya deh, mbak dokter..siap! Nih..ayo buka lagi mulutnya. Aaaaa..."
Baru juga Hanum akan membuka mulut, Gana langsung datang dan membuyarkan suasana romantis yang sedang Teduh bangun.
" Cieee....aunty sama uncle suap-suapan. Kayak Mama sama Papa nih. Hehehe.."
" Eh..nggak kok. Aunty makan sendiri. Nih..!" Hanum langsung mengambil sendok yang dipegang Teduh dan menyuapnya sendiri kedalam mulut.
" Disuapin lebih enak kok aunty. Nana aja sering minta disuapin Mama. Aunty disuapin aja sama uncle biar makannya makin lahap. Hihihi." Gana ternyata memang anak buah yang loyal. Teduh langsung diatas angin.
" Tuuh..denger kata Nana. Aunty harus disuapin sama uncle biar makannya banyak. Biar tambah sehat. Iya kan Na?" ucap Teduh sambil menaik turunkan alisnya pada Nana. Dan segera mensabotase sendok. Gana cekikikan sambil mengacung-acungkan jempolnya.
" Ayo buka mulutnyaaa...Aaaa..." Teduh lagi-lagi memberi komando, Hanum hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil melihat semua perhatian Teduh padanya.
Ini bocah usaha terus, pikirnya.
Hampir habis setengahnya, Hanum mulai menahan suapan Teduh berikutnya.
" Udah..udah..aku udah kenyang Teduh. Udah ya."
" Satuuu lagi. Udah ini, udah deh. Ya..ya.." bujuk Teduh sambil memasang puppy eyes andalan mirip Luna kakaknya.
" Iya aunty..ayo makan lagi. Yang banyaaak!!" Gana mengompori.
" Heuh..ya ampun, kalian pemaksa banget sih. Satu lagi ya, janji. Habis itu udahan makannya."
Teduh mengangguk bersemangat sambil tersenyum lebar. Gana cekikikan melihat Hanum tak berkutik dan berhasil dibujuk oleh mereka.
Hanum membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima suapan dari Teduh. Suapan terakhir katanya, tapi Teduh dan Gana terus saja memohon, satu lagi, satu lagi..tapi anehnya Hanum tetap saja terbujuk hingga pada akhirnya semua nasi diatas piring habis sudah.
" Wowww...Mbak Hanum hebat! Aunty Anum hebat, Nana!! Tuh habis kan semuanya. Makanya jangan bilang no-no, no-no dulu." ucap Teduh sambil menyimpan piring kosong di tangannya ke atas nakas. Kemudian menyerahkan segelas air putih kehadapan Hanum.
Gana yang sedari tadi setia mengekori unclenya jadi ikut girang dan merangkul Hanum kemudian mencium pipi Hanum dengan gemas.
" Tapi sekarang Aunty Hanum kekenyangan!" jawab Hanum sambil mencubit kedua pipi gembil Gana. Kemudian mengambil gelas berisi air yang diberikan Teduh untuknya.
" Ya bagus dong, biar Mbak Hanum cepet sehat, cepet kuat, biar bisa menghadapi peliknya kehidupan. Hehehe.." jawab Teduh sok filosofis.
" Iya..kehidupan itu pelik. Dia jenaka tapi susah diajak bercanda." timpal Mbak Hanum sambil tersenyum sumir.
" Udah ah, jangan bahas yang berat-berat. Sekarang mah diminum aja obatnya terus kita main dulu sama Nana sambil nunggu Teh Luna dan A Galang pulang. Nana ambil UNO stacko di kamar dong, kita main bareng aunty Hanum." perintah Teduh, dan si anak buah langsung lari penuh semangat mengikuti intruksi kepala sukunya.
Hanum hanya menurut saja. Berinteraksi bersama Teduh dan Gana memang menyenangkan. Setidaknya dia bisa melupakan hal pelik yang sedang dihadapinya barang beberapa detik.
" Yuk, Mbak..kita keluar kamar. Jangan disini terus ah. Sumpek..! Harus cari udara segar biar pikiran makin plong." pinta Teduh sambil mengulurkan tangannya. Beberapa detik Hanum hanya memandangi tangan yang terulur itu. Tapi kemudian meraihnya dengan senyum manis yang sangat Teduh rindukan hadir sedari kemarin.
" Tangan Mbak hangat, bahkan hangatnya sampai ke hati aku nih. Ehehe.." Teduh mulai melancarkan aksinya.
" Teduuh..gak usah mulai deh!" jawab Hanum dan menarik kembali tangannya.
" Eh..iya iya maaf. Gak gombalin dulu sekarang mah. Keceplosan Mbak, kebiasaan soalnya. Kalau lihat Mbak Hanum, mulut aku suka ingin berdiksi gitu. Hehehe.." kilah Teduh kemudian meraih tangan Hanum lagi.
Hanum mencoba berdiri dengan tangan Teduh sebagai tumpuan. Badannya masih terasa sakit-sakit akibat pukulan bertubi dari Daniel. Ketika kakinya sudah menapaki lantai, entah dari mana datangnya, tapi sebuah kecoa hitam besar tiba-tiba melintasi kaki Hanum dengan santainya.
Hanum yang merasa kaget dan memang sangat takut pada kecoa serentak berteriak kemudian mengalungkan peluknya pada leher Teduh hingga dada mereka merapat dan beradu.
" Aaaaa...kecoaaaak..!!!!" teriak Hanum sambil berjingkrak-jingkrak dipelukan Teduh hingga dadanya membal beberapa kali di dada Teduh.
Tentu saja Teduh kaget dengan teriakan Hanum, tapi lebih kaget lagi ketika tubuh mereka rapat tak berjarak dengan Hanum yang membenamkan kepalanya di ceruk leher milik Teduh. Hampir beberapa detik mereka dalam posisi seperti itu. Tubuh Hanum gemetar, ternyata dia memang sangat takut pada makhluk hitam manis yang kalau sedang bulan puasa akan terlihat mirip dengan kurma itu..😁
" Gak ada kecoa, Mbak.." ucap Teduh sambil berusaha menahan nafas agar dadanya tak semakin menempel pada buah ranum milik si mbak manis.
" Adaa..dibawah kaki aku tadii. Aaaa...aku jijiik Teduuh..!!!" teriak Hanum lagi sambil mengeratkan peluknya.
Ketika dua manusia dewasa ini sedang saling berpelukan, tiba-tiba ada pekikan seseorang yang berhasil mengalihkan kehadiran si kecoak dan membuyarkan pelukan kuat Hanum di leher Teduh.
" Hanuum!! Ngapain kamu peluk-pelukan begitu..!!"
Hanum langsung sadar kemudian refleks mendorong Teduh dari pelukannya dengan kuat.
" Ibu.." ucap Hanum ketika mendapati Ibu nya sedang melihat ke arahnya dengan pandangan kaget sekaligus aneh.
" Kamu ngapain pelukan sama cowok lain begitu? dimana Mas Daniel?!" tanya Ibu Aurum terlihat emosi.
" Ibu..tenang, Bu. Ini gak seperti yang ibu lihat. Tadi ada kecoa yang lewat di kaki Hanum. Ibu kan tahu sendiri kalau Hanum jijik banget sama kecoa, jadi tanpa sadar Hanum peluk dia." jelas Hanum sambil menunjuk Teduh dan meraih tangan Bu Aurum.
Semua mata jadi memandang ke arah Teduh. Seperti mencari pembenaran atas ucapan Hanum.
" Iya bener, Bu..A Galang, Teh Luna. Adek gak ngapa-ngapain. Sumpah..! Itu tadi Mbak Hanum bilang ada kecoak dan langsung nemplok meluk adek. Adek juga sama kagetnya kayak kalian..!" ucap Teduh sambil meraba-raba dadanya.
" Bener teh, emang ada kecoak. Hanum tuh takut dan jijik banget kalau lihat kecoak. Ini si kecoak tiba-tiba aja lewat di atas kaki aku, jadinya kaget dan refleks peluk Teduh." Hanum mencoba menjelaskan kembali.
Akhirnya pembahasan tentang adegan kecoak dan pelukan diakhiri oleh Galang dengan mengajak semuanya untuk keluar dari kamar.
Semuanya kemudian keluar dari kamar tamu yang ditempati Hanum menuju ruang keluarga. Pembahasan berat akan segera di mulai.
" Sekarang Ibu minta penjelasan sama kamu, Num. Kenapa kamu minta Ibu untuk datang ke Bandung? Dan kenapa ke rumah ini? Apa kamu udah gak tinggal di apartemen Mas Daniel lagi?" tanya Ibu Aurum sambil memandang lekat anak semata wayangnya.
Hanum mulai menjelaskan dengan hati-hati. Memperkenalkan Luna, Galang dan Teduh pada Bu Aurum. Kemudian menjelaskan alasan kenapa mereka ada di rumah ini sekarang.
Awalnya Hanum tampak ragu-ragu untuk menyampaikan keinginannya mengakhiri hubungan toxic dengan Daniel, karena dia tahu Bu Aurum sangat membanggakan calon menantunya itu.
Tapi semuanya harus segera berakhir. Hanum tak mau jadi samsak hidup Daniel lagi. Dia berhak bahagia, dia berhak memulai hidup baru tanpa di lukai si tukang pukul lagi.
Hanum mulai menunjukkan luka-luka di tangannya pada Bu Aurum. Awalnya Bu Aurum masih tak percaya dengan penjelasan Hanum padanya, dia tetap bersikukuh bahwa Daniel tak mungkin seperti itu. Daniel memang sangat pandai menyembunyikan perangai aslinya. Semua orang terpedaya dengan kebaikan palsu yang dia tunjukkan. Tapi kemudian, Bu Aurum menangis tergugu manakala Hanum memperlihatkan luka yang ada di perut dan bahunya. Luka gigitan dan sundutan rokok yang Daniel lakukan padanya.
Hanum tahu, menjelaskan hal ini kepada Bu Aurum pasti akan sangat melukai hatinya. Bagaimana tidak, menantu kebanggaannya ternyata telah begitu tega melukai anak semata wayangnya. Tapi hal tersebut harus dia lakukan agar dapat mengakhiri semuanya.
Dada Bu Aurum turun naik, air matanya luruh seiring cerita yang mengalir dari bibir Hanum. Meski tak seluruh cerita Hanum beritahukan pada Ibunya, termasuk tragedi pemerkosaan itu, tapi sedikit banyak Ibu nya harus tahu bahwa menantu kebanggaannya hanya seorang manusia sakit jiwa yang hobi menyiksa anaknya.
" Ibu gak nyangka ternyata Daniel bisa sejahat itu sama kamu, nduk" ucap Ibu Aurum sambil mengusap-usap tangan anaknya yang banyak terdapat biru lebam. Air matanya terus luruh, Luna bahkan ikut menangis menyaksikan pemandangan menyedihkan di hadapannya.
" Tapi bagaimana sama nasib kita sekarang? sementara hidup kita sudah sangat tergantung sama Daniel?" tanya Bu Aurum lagi, tangisnya lagi-lagi semakin menganak sungai manakala mengingat hal tersebut.
" Ibu sama Hanum gak usah banyak pikiran. Kalian bisa tinggal disini selama kalian mau. Kami sama sekali gak keberatan. Dan lagi kalau Ibu dan Hanum tinggal disini, Daniel gak akan berani jahatin kalian. Saran saya, lebih baik Hanum pindah kerja kemudian memulai lembaran kehidupan baru tanpa ada embel-embel fasilitas dari Daniel, apapun itu. Agar dia tidak lagi menuntut banyak pada Hanum dan Ibu." ucap Luna sambil menggenggam tangan Bu Aurum.
" Iya, Bu. Ibu tenang aja. Hanum pasti bisa melewati semua ini asal kita selalu sama-sama. Yang penting Ibu selalu sehat. Semua biaya perawatan Ibu, biar Hanum yang tanggung. Hanum udah punya cukup uang untuk itu. Kita harus lepaskan semua hal yang sudah diberikan Daniel. Apapun itu, tak terkecuali." tambah Hanum lagi sambil memeluk Bu Aurum dengan erat seperti meminta penguatan.
Kedua perempuan berbeda zaman itu saling memeluk dan menangis. Ada luka yang menganga di hati masing-masing, tapi mereka tahu akan ada terang setelah gelap, akan ada turunan setelah tanjakan terjal, serta badai akan surut dengan sendirinya. Hidup harus terus berlanjut apapun yang terjadi, dan semua akan baik-baik saja selama mereka yakin ada Tuhan Sang Pemilik segalanya yang akan membimbing dan melindungi mereka.
*
*
*
*
*
Hidup itu jenaka tapi susah diajak bercanda. Hehehe..quotes pagi ini disponsori oleh Mbak Hanum manis 😁
hehe😅
semangat dan sehat selalu untukmu
terhibur banget banget membaca karya2 author
semoga diberikan selalu rejeki yang tak berkesudahan , kebahagiaan dan kenikmatan selalu dr Yang Maha Besar
kangen iihh....😭😭😭
sehat sll ya Thor....
di tunggu update_tan nya....
buat semua²nya jg shat² ya....🤲🏻
smga kita sLLu dlm lingungan-NYA
gmna kabar nya?
semoga sehat2 terus ya ka.
ka kapan mulai nulis lagi?
kangen bgt cerita ini lanjut,
semoga bisa secepat nya up lagi ya ka😇🤗
semoga sehat selalu dan semoga bahagia ..😍😍😍
thor aku rindu karya mu... 😍😍😍😘😘😘
yang sabar dan selalu kuat,aku tetap menunggu karyamu ...
aku doain athor cepet pulih bangkit dari keterpurukan,tetep tabah dan sabar,semangat 💪 lagi
aku bakal tetep nungguin sampe kamu mau😄
semangat💪💪
di lingkungan aku jg ada kejadian seperti kudanil dan Hanum,,bedanya si perempuan ini memilih bertahan meski udah jd samsak hidup.