Perusahaan keluarga Reno Mahesa di Jerman mengalami kehancuran setelah di pimpin oleh Arabella, anak pertama dari zevano dan Isabella.
Arabella jatuh cinta pada seorang pria dan mengorbankan segalanya. siapa sangka pria tersebut justru merebut takhta perusahaan milik Mahesa grup.
Sanggupkah Arabella merebut kembali perusahaan sang kakek?
kisah ini lanjutan dari kisah kelurga Reno Mahesa. kisah anak-anak, cucu-cucu Reno dan Delena. kisah ini mengusung percintaan, balas dendam, keterpurukan dan mengharu biru.
ikuti terus kelanjutannya dan jangan di skip, biar kalian tahu alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri-istri yang di sayang suami
Sementara di negara Australia.
Reno dan Delena yang berada di kota Sydney, sedang panen buah dan sayuran di kebun. Reno membuat perkebunan di belakang rumahnya. Hasil panennya akan mereka jual melalui tengkulak yang datang kerumahnya.
Perkebunan seluas 10 hektar ia tanami berbagai macam buah-buahan dan sayuran. Reno pekerjakan puluhan orang untuk mengurus perkebunan nya.
Tempat tinggal Reno dan Delena tepatnya berada di ibu kota dari negara bagian New South Wales dan dikenal sebagai kota terbesar serta tertua di Australia. Kota ini sangat terkenal dengan ikon-ikonnya seperti Sydney Opera House dan Harbour Bridge.
Sore itu Reno baru saja pulang dari perkebunan, ia turun dari mobil dan berjalan melewati pekarangan yang di penuhi berbagai bunga peliharaan Delena.
Delena berdiri diambang pintu sambil tersenyum, pria paruh baya berusia 74 tahun itu mencondongkan tubuhnya dan memeluk sang istri penuh kehangatan.
"Mas, tumben sudah pulang. Biasanya menjelang magrib baru pulang."
"Kebetulan pak winner datang membantu, dia membawa beberapa anak buahnya untuk angkut buah-buahan dan sayuran kedalam truck."
Delena tersenyum "Hasil panen tahun ini lumayan banyak, kalau masih banyak lebihnya berikan ke pantai asuhan anak."
Reno mengangguk sambil menggandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam rumah.
"Kamu memang istri pengertian."
"Kita tidak boleh membuang buah dan sayuran. Lebih bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan, bukankah menyenangkan orang lain bagian dari pahala?" ucap Delena seraya menaruh cangkir kopi di depan Reno.
Reno menarik satu tangan Delena, lalu mencium punggung tangannya. "Inilah yang aku suka darimu. Kamu istri yang Solehah dan peduli pada sesama. Setiap hari aku semakin jatuh cinta padamu." goda Reno dan di sambut tawa Delena yang renyah.
"Aku sangat lapar, kamu masak apa?"
"Sup iga dan ayam panggang."
"Kalau begitu mas ingin makan sekarang."
"Baiklah, mas mandi dulu, aku akan siapkan di meja makan."
Reno beranjak dari duduknya, lalu ia hentikan langkahnya. "Sayang, apa ada telepon dari anak-anak atau cucu-cucu kita?"
"Baru saja Arra telepon."
Wajah Reno berbinar cerah "Apa yang cucu ku katakan."
"Banyak hal yang ia katakan, nanti aku ceritakan."
"Sepertinya wajah mu terlihat ceria, apa ada kabar yang menggembirakan?"
"Iya, sepertinya cucu kita sudah mulai jatuh cinta." ucap Delena sambil tersenyum sumringah
"Hahaha... Wajar saja kalau Arra jatuh cinta, usia dia sudah 24 tahun. Sudah seharusnya menikah."
"Tidak usah terburu-buru, Arra masih harus urus perusahaan. Soal menikah itu bisa menyusul." sahut Delena.
"Baiklah, urusan percintaan kita lihat dulu perkembangannya. Yang terpenting Arra bisa majukan perusahaan Mahesa grup."
"Cepatlah mandi, aku mau panaskan sup dulu."
"Ok..ok.. Aku mandi." balas Reno sambil masuk kamar.
***
Kediaman Vano dan Savira di mansion.
Safira menyeduh kopi capucino untuk suaminya yang baru pulang kerja. Ia membawa cangkir kopi berserta cemilan kearah kolam renang. Safira menaruh diatas meja bundar sambil menunggu suaminya naik dari kolam.
Vano menyembulkan kepalanya di atas permukaan air. "Sayang, apa kamu tidak mau ikut masuk kolam."
"Aku sudah mandi mas." tukas Savira, ia berjongkok di pinggir kolam sambil menyerahkan handuk putih.
"Tunggu, satu putaran lagi mas selesai."
Savira menunggu suaminya di pinggir kolam, sambil menyelam kan kedua kakinya ke air. Tiba-tiba ia terkejut, ada yang menarik kakinya dari dalam air.
"Byyuurrr!!!
Tubuh Savira masuk kedalam air, Vano memegangi tubuh istrinya erat.
"Mas!" seru Savira sambil memukul-mukul dada suaminya.
"Bikin kaget ajah!"
Vano terkekeh sambil memeluk erat tubuh sang istri. Lalu berbisik di telinga Vira
"Sayang, sepertinya aku ingin melakukannya di dalam kolam."
"Dasar mesum!" tukas Savira sambil jewer telinga Vano. "Usia ku sudah 44 tahun, tidak pantas melakukan hubungan disini, apa kamu tidak malu mas? Apa kata pelayan yang melihat kita bermesraan di dalam kolam."
"Peduli apa dengan mereka ? ini rumahku, aku berhak melakukan apapun di rumah ini." tegasnya tak ingin di bantah.
Savira yang sudah kesal mendorong tubuh kekar suaminya. "Sudahlah aku mau naik!"
Savira menaiki anak tangga yang terbuat dari besi, di ikuti Vano menuju atas.
"Aku mandi dulu, kopi dan cemilan sudah aku taruh di meja." tukasnya sambil melangkah pergi.
Vano sudah selesai berenang dan bersihkan tubuhnya di kamar mandi dekat kolam. Usia memakai kimono ia duduk di kursi sambil menikmati kopi capucino buatan sang istri.
Satu batang rokok ia sematkan di bibirnya, lalu menyalakan ujung rokok dengan pematik api. Vano menghisap kuat rokok tersebut, lalu di hembuskan ke udara.
Savira kembali lagi membawa piring berisi buah-buahan segar. Rambutnya yang basah ia gulung dengan handuk putih.
"Mas, makan buahnya." Savira menyodorkan piring berisi potongan buah.
"Apa anak-anak sudah menghubungi mu?!" tanya Vano seraya memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.
"Tadi siang Jordan dan Jordy menanyakan kabar aku dan mas. Setahun lagi ia selesai kuliah dan akan kembali ke jakarta."
"Savira sudah berada lama tidak menghubungi mu?"
"Sebulan ini, biasanya tiap minggu tidak pernah absen menghubungi kita. Mungkin saja Arra banyak kesibukan di kantor, apalagi dia juga kuliah selepas pulang dari kantor."
"Nanti mas yang telepon, Arra tetap harus beri kabar meskipun sedang sibuk. Dia tidak boleh egois dan pentingkan diri sendiri. Kita orang tuanya akan dianggap apa!" tukas Vano kecewa.
"Mas jangan marah ya, kita tanya baik-baik. Mungkin Arra ada kendala di perusahaan. Sebab dia harus bersembunyi dari semua orang kalau dia seorang CEO perusahaan terbesar di Germany."
"Sepertinya Arra tidak ada kendala apapun. Pemella selalu mengabari tentang perusahaan dan aktivitas Arra."
"Ya sudah, mas habiskan dulu kopinya, setelah ini kita makan malam," ucap Arra menenangkan suaminya.
Vano tersenyum, lalu mencium kening sang istri. "Kamu memang istri pengertian dan penyayang. Meskipun Arra tidak di lahirkan dari rahim mu, Kamu tetap membelanya."
"Arra, Jordan dan Jordy adalah anak-anak ku mas. Aku tidak akan beda-bedakan kalian."
Vano menyeruput kopi hingga tandas, lalu berdiri dan mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. "Mas makin jatuh cinta padamu setiap hari."
"Malu mas turunkan!"
"Malu sama siapa? Ini mansion kita, jauhkan pikiran malu mu pada pelayan." tukas Vano sambil melangkah pergi menuju lift.
HAIII READERS... TOLONG LIKE SETELAH MEMBACA, BERIKAN VOTE, DAN KOMENTAR DI RATE BINTANG 5 💜
💜💜💜💜