NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Berbeda

Kenapa Aku Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Malam hari nya hujan deras. tetesan hujan langsung masuk dari celah genteng yang bocor. "tik... tik..." mendarat pas di ujung sapu ijuk yang Aminah sandarkan ke pojok dulu. Awi sudah pulang jam 3 sore tadi. perlahan Awi pulang dengan keadaan sadar dan tidak mabuk-mabukan lagi seperti biasanya. Resty tidak menyalakan lampu, Minyak lampu mahal. Kegelapan di sini sudah kenal dia. Gelap tidak menanyakan kenapa sendiri.

Gelap cuma merapat Pelan seperti selimut yang sudah luntur tapi masih hangat. Resty duduk di lantai. Punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Dari sela genteng, cahaya bulan jatuh sebiji, mendarat pas di map yang dia pangku. Awi mungkin sudah tidur dikamar nya. setelah pulang dari jualan bapaknya tidak ada keluar lagi.

Jemarinya buka karet gelang. "Krek". Suara kecil yang sudah jadi isyarat waktunya ngobrol sama foto. Aminah di foto itu tetap nunduk... malu!. Rambutnya disanggul asal. Di belakangnya ada jemuran kerudung putih yang sama, cuma masih baru. Belum pudar kena hujan.Resty deketin foto itu ke cahaya bulan."Lihat....Bu! gelapnya tidak meledak aku. tidak bilang 'rumah reot' atau rumah kandang kambing. Gelap cuma diam seperti Ibu kalau aku rewel dulu."

Angin masuk lewat jendela retak. Bawa suara jangkrik dan bau got yang sudah akrab. Resty senyum dikit. Senyumnya kecil, capek, tapi asli."Besok aku nyalain lampu ya...Bu!. Kalau bapak ngasi uang lebih. Malam ini, kita hemat. Kita ngobrol aja sama gelap. Dia temen lama kita."

Resty nyenderin kepala ke tembok. Catnya sudah mengelupas dan menempel dikit di rambut tapi Resty tidak peduli."Ingat tidak....Bu?. dulu waktu lampu mati, Ibu suka nyanyi pelan. Lagu Melayu dan sya'ir. ibu mengatakan itu di kisahkan oleh kakek." Jemarinya muter-muter di sudut foto. Kertasnya sudah tipis kena keringat.

"Ibu nyanyinya fals. Tapi Resty tidak pernah menutup kuping. yang Resty dengar bukan lagunya, tapi Ibu yang masih mau menyanyi walaupun lelah seharian mencuci."

Angin dari jendela retak nyamber ubun-ubun nya, Dingin. Tapi Resty tidak ngerapatin baju.

"Kakek sudah tidak ada, Ibu juga. sekarang tinggal Resty. Jadi malam ini Resty yang mencoba ya...Bu!. Biar setan tidak berani masuk."

Dia membuka mulut pelan, tidak ada suara dulu, Cuma napas. Baru sepatah.

"Ya... Robbi... sholli..."

Tenggorokannya nyangkut, Bukan karena lupa. Tapi karena ingat dulu Aminah suka menepuk-nepuk punggungnya setiap dia fals, sambil bilang "pintar....Nak".

Resty tersenyum lagi. Kali ini matanya basah, tapi tidak jatuh."Lihat....Bu! aku masih ingat. Aku tidak jadi bisu seperti yang Bibi bilang. Aku cuma simpen suara aku buat Ibu aja."

"Tek". Map ditutup dan mulai mencuci kaki untuk bersiap-siap sholat isya. Air dingin dari gayung seng nyentuh kaki Resty. "Sraat". Rasanya mengusir lelah seharian. Selesai

wudhu, dia gelar sajadah lusuh di pojok. Sajadahnya ada tambalan dan benang hijaunya ada yang putus. Tapi masih wangi. Wangi Aminah. Wangi sabun colek yang dulu aminah pakai buat mencuci sajadah setiap Jumat.Resty duduk bersila. Punggungnya masih menempel ke dinding dingin. Dari luar, suara jangkrik makin rame. Kayak paduan suara buat dia doang.

"Allahu Akbar..."

Suaranya serak, Pelan, Tapi jelas. Bukan suara anak yang "bisu"seperti kata Bibi. Sujud pertama. Keningnya menempel ke sajadah. Dingin, Bau apek, Tapi aman."Ya Allah...!.kalau Ibu dengar dari atas. bilangin ya, Resty masih ingat doa yang Ibu ajarin."

Sujud kedua, Air matanya menetes jatuh pas ke sajadah."Titiknya tidak bikin sajadah bolong kan...Bu? Dulu Ibu marah kalau aku menetesin air mata ke sajadah. Katanya 'sholat itu minta, bukan mengeluh'. Tapi malam ini Resty minta...?minta Ibu sabar menungguin Resty jadi kuat."

setelah mengucapkan salam. Resty tidak langsung berdiri, Dia duduk lama di sudut gelap sambil melihat foto Aminah yang masih dia pangku. Angin dari jendela datang lagi. Kali ini tidak dingin tapi hangat. seperti ada tangan yang mengusap kepalanya pelan, saat dulu Aminah mengusap rambutnya setiap dia demam.Resty merem, Senyumnya lebar dikit.

"Bu...!gelapnya pinter ya. Dia tidak nyakitin. Dia mengajarkan Resty kalau sepi itu tidak selalu sakit, Kadang sepi itu... pelukan."

Dari kamar sebelah, terdengar suara bapaknya ngorok pelan. Pertama kalinya dalam seminggu ini ngoroknya tidak diselingi umpatan dan kata-kata kasar. Resty melipat sajadah pelan, Diciumnya ujungnya."Besok Resty bangun subuh ya...Bu!. Janji. Biar rezeki tidak keburu diambil orang. Biar Bapak lihat, anak Ibu bisa jaga diri."

Dia merebahkan diri pakai tikar tipis dan selimutan pakai sarung bolong. Tapi malam ini, dinginnya tidak menusuk. Sebelum merem, dia bisik lagi ke foto Aminah yang dia selipin di bawah bantal."Bu, kalau besok Bapak bawa uang lebih... kita beli minyak lampu ya. Biar gelapnya bisa istirahat. Gantian dia yang tidur. kita yang melek."

Lampu tidak menyala. Tapi kamar reot itu... terang!. Terang dari dalam dada Resty. Malam itu, untuk pertama kalinya, Resty tidur tanpa takut gelap. Karena gelap sudah janji jadi temennya. Dan Ibu... Sudah bisik "pintar, Nak" dari langit-langit yang bocor.

1
Sarah Bagan
lnjut kak😊😊😊
glaze dark: oke kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!