Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Akhirnya aku dan Lia pulang, namun kami berpisah di tengah jalan karena Lia di jemput tunangannya sedangkan aku di jemput bang Galang.
"Aku duluan ya kak, " ucap Lia saat naik ke mobil tunangannya.
Aku pun masih menunggu Galang karena dia belum sampai juga. Namun tak lama sebuah motor berhenti di depan ku membuat aku kaget dan mu dur berapa langkah. Saat helmnya di buka ternyata itu Galang.
"Ini aku, ayo naik! " ucap Galang dan aku pun mendekatinya.
Galang memakaikan helm pada ku membuat aku kaget karena wajah kami berdekatan.
"Udah ayo naik, " ajaknya dan aku pun langsung naik.
"Abang kenapa naik motor? " tanya ku sedikit berteriak.
"Biar cepat, jalanan jam segini suka macet, " jawab nya.
Galang memegang tangan ku lalu melingkarkan tangan ku di pinggangnya membuat aku kaget namun aku menurutinya. Kami pun tiba di rumah dan aku langsung turun.
"Masuknya bareng aku, " ucap Galang melarang aku masuk duluan.
Aku pun menunggu Galang memasukan motornya ke dalam bagasi dan tak lama Galang datang lalu dia menggenggam tangan ku dan masuk dalam rumah.
"Bagus ya jam segini baru pulang, " sindir nenek membuat aku kaget.
"Aku dari kantor nek, " balas Galang.
"Kantor kamu bilang?, emang nenek gak tau seharian ini istri kamu kemana saja, " ucap nenek dengan nada marah.
"Nek, bisa gak jangan terlalu ikut campur dalam urusan aku dan Alika, " ucap Galang sambil menahan emosi.
"Nenek cuman gak mau kamu salah pilih istri, " ujar nenek.
"Nenek lupa? , dulu yang memaksa aku buat gantikan Doni siapa?" tanya Galang.
Nenek pun terdiam dan mama datang melerai perdebatan Galang dan nenek.
"Sudah, kamu pasti capek istirahat sana! Kalau mau makan nanti suruh bibi angetin teman makan nya! " ucap mama dan aku pun menarik Galang meninggal akan sangat nenek.
Aku bisa melihat wajah Galang yang masih kesal dan aku pun memilih untuk masuk kamar mandi membersihkan tubuh ku. Setelah selesai aku pun menyiapkan baju milik Galang dan mendekatinya.
"Abang mandi lu biar segar jadi gak bt lagi, " ucap ku dan Galang pun bangkit dari duduknya dan masuk kamar mandi.
Aku memilih berbaring karena tubuhku lumayan capek juga padahal perut ku lapar karena tadi gak sempat makan malam. Saat mendengar pintu kamar terbuka aku pun membuka mata karena aku takut Galang butuh bantuan ku.
"Kamu tidur saja kalau ngantuk, aku masih ada kerjaan lain, " ucap nya lalu mengambil laptopnya dan langsung bekerja.
Aku menatap Galang dari jauh dan aku akui dia memang ganteng, semua cewek pasti bakal naksir dia hanya saja kadang dia dingin orang nya kadang juga perhatian. Akhirnya aku pun memutuskan untuk tidur karena mata ku lumayan lelah.
Saat tengah malam aku ke bangun karena perutku lumayan lapar banget. Saat melihat ke samping aku tidak melihat Galang lalu melirik ke arah sopa juga tidak ada namun tirai jendela sedikit terbuka mungkin Galang di luar. Aku pun turun lalu melangkah ke arah pintu balkon dan benar saja Galang sedang merokok di sana sambil menghubungi seseorang entah siapa.
"Pokok nya gue gak mau tau, lo harus berhasil dapetin uang nya, " ucap Galang tegas.
Aku mencoba member naik angkot diri memanggilnya.
"Bang, " panggil ku dan Galang langsung berbalik ke arah ku.
"Loh kok kamu bangun? " tanya nya sambil mematikan ponselnya.
"Aku lapar bang, " jawab ku.
"Mau aku panggilkan bibi buat panaskan makanannya? " ucap galang hendak pergi.
"Gak usah, aku mau bikin mie. Abang mau? " jawab ku lalu menawarkan Galang.
"Mie, boleh deh tapi pedes ya! " ucap nya dan aku pun langsung turun.
Aku ke dapur dan langsung membuat mie, tak lama Galang turun dan dia duduk di meja makan.
"Mie nya sudah siap, " ucap ku sambil memberikan mienya pada Galang.
"Makasih, " ucap nya membuat aku kaget karena Galang baru pertama kali mengucapkan terimakasih.
"Makan bang, " titah ku.
Kami pun makan dan aku sekali-sekali curi pandang pada Galang. Entah sejak kapan aku mulai ada rasa pada Galang padahal selama ini sikap Galang pada ku lumayan dingin dan jutek.
"Kenyang juga, " ucap Galang setelah mienya habis.
Aku hanya tersenyum lalu menyimpan mangkuk dan mencucinya.
"Kalian ngapain? " tanya mama tiba-tiba muncul membuat aku kaget dan mangkok yang aku pegang pecah.
"Hati-hati Al, " Galang mengingatkan ku namun tak di sangka pecahan mangkoknya kena kaki ku.
"Kamu duduk dulu biar aku ambil kotak obatnya, " Galang pun langsung pergi dan aku di temani mama.
"Maaf mama bukan bermaksud buat ngagetin kalian, mama cuman kaget saja jam segini kalian belum tidur, " ucap mama menjelaskan.
"Iya ma gak apa-apa, aku cuman takut saja itu nenek yang datang, " balas ku.
"Mama benar-benar minta maaf atas kelakukan nenek yang buat kamu takut, " ucap mama yang mungkin merasa kasihan pada ku.
"Aku ngerti kok ma, lagian aku sadar Galang sama aku memang jauh dari tingkat pendidikan juga, walau aku lulusan S1 tapi jurusan ku cuman seorang guru, " ujar ku merasa rendah.
"Gak usah kamu pikirkan toh sekarang kamu istri aku, " ucap Galang tiba-tiba datang sambil membawa kotak obat.
Galang langsung mengobati luka ku dan aku bisa lihat Galang dengan hati-hati membersihkan luka ku dan menutupnya dengan perban.
"Sudah selesai, " ucap Galang dan aku pun melihat ke arah kaki ku, ternyata lumayan juga cara memasangkan perbannya.
Setelah selesai aku pun berdiri dan hendak kembali ke kamar namun tiba-tiba Galang menggendong ku membuat aku kaget dan langsung memegang pundaknya.
"Bang turunin aku, aku bisa jalan kok, " ucap ku namun Galang tidak menghiraukan ku dia terus naik.
Akhirnya aku pun pasrah dan tibanya di kamar aku di turunkan di tempat tidur.
"Sekarang kamu tidur, kalau tidak tidur aku cium kamu, " ancam Galang membuat aku nurut namun tiba-tiba aku baru sadar akan ucapan Galang.
"Kenapa aku bisa takut, padahal ikhlas aja di cium Galang, " gumam ku dalam hati.
"Loh kok masih bangun? " tanya ku.
"Em.. bang aku boleh tanya gak? " ucap ku sedikit malu.
"Apa?, cepat bilang! " ujar nya.
"Ucapan abang tadi masih berlaku gak? " tanya ku membuat Galang kaget.
"Ucapan yang mana? " tanya nya bingung.
"perkataan abang yang bilang kalau aku gak nurut mau di cium sama abang, " beritahu ku dan sukses membuat Galang tertawa membuat aku bingung.
"Abang kok malah tertawa? " tanya ku.