Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pola yang Sama
Aku tahu seharusnya aku berhenti.
Tapi kenyataannya… aku tidak.
Setelah semua yang dia lakukan untuk kembali,
setelah cara dia hadir lagi dengan lebih lembut,
aku mulai membuka sedikit ruang yang sebelumnya sudah aku tutup.
Tidak sepenuhnya.
Tapi cukup untuk membuatnya masuk lagi.
Hari-hari setelah itu terasa lebih ringan.
Dia kembali menjemputku beberapa kali.
Kami mulai berbicara lebih banyak.
Tidak seperti dulu yang penuh tawa,
tapi cukup hangat untuk membuatku merasa…
semuanya mungkin bisa diperbaiki.
Dan tanpa sadar,
aku mulai berharap lagi.
Harapan kecil.
Tapi cukup berbahaya.
Suatu sore, dia menjemputku seperti biasa.
“Mau ke mana setelah ini?” tanyanya.
Aku sedikit terkejut.
Sudah lama dia tidak menanyakan hal seperti itu.
“Nggak ke mana-mana,” jawabku.
Dia tersenyum.
“Yaudah, kita jalan bentar.”
Aku tidak menolak.
Dan sore itu terasa seperti potongan masa lalu
yang tiba-tiba kembali.
Kami berhenti di tempat sederhana.
Tidak ada yang istimewa,
tapi cukup untuk membuatku merasa dekat lagi.
Kami berbicara lebih banyak dari biasanya.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang kejadian sehari-hari.
Bahkan sempat tertawa bersama.
Dan di saat itu,
aku hampir lupa semua yang pernah terjadi.
“Kamu sekarang beda ya,” katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya.
“Beda gimana?”
Dia tersenyum kecil.
“Lebih tenang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Karena kalau dia tahu…
ketenangan itu bukan karena aku baik-baik saja,
tapi karena aku sudah terlalu sering terluka.
Malam itu berakhir dengan perasaan yang aneh.
Hangat…
tapi juga membuatku takut.
Takut kalau semua ini hanya sementara.
Tapi seperti biasanya,
aku memilih untuk tidak terlalu memikirkan itu.
Sampai beberapa hari kemudian…
semuanya mulai berubah lagi.
Dia mulai jarang membalas pesan.
Tidak secepat sebelumnya.
Tidak seintens beberapa hari lalu.
Awalnya aku mencoba memahami.
Mungkin dia sibuk.
Mungkin ada hal lain.
Aku mencoba tidak langsung berpikir buruk.
Tapi perasaan itu tetap datang.
Perasaan yang sudah sangat aku kenal.
Perasaan… ditinggalkan perlahan.
Suatu hari, aku melihatnya.
Bukan di tempat biasa.
Tapi di luar,
bersama orang lain.
Bersama teman-temannya.
Dan di antara mereka…
ada perempuan-perempuan yang tidak asing.
Tertawa.
Bercanda.
Seolah tidak ada yang berubah.
Seolah beberapa hari yang lalu…
tidak pernah terjadi.
Aku berdiri cukup jauh.
Tidak mendekat.
Tidak juga memanggilnya.
Aku hanya melihat.
Dan di saat itu,
semua perasaan yang sempat aku tahan…
kembali muncul.
Bukan marah.
Bukan juga kecewa yang meledak.
Tapi rasa lelah yang tiba-tiba datang
tanpa bisa aku hentikan.
Malam itu, dia menghubungiku lagi.
“Kamu lagi apa?”
Aku menatap pesan itu lama.
Sama seperti sebelumnya.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Seolah dia tidak tahu
bahwa aku melihat semuanya.
“Di rumah,” jawabku singkat.
“Besok aku jemput ya.”
Kalimat itu…
yang beberapa hari lalu terasa hangat,
sekarang terasa kosong.
Aku tidak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
aku benar-benar sadar
ini bukan kejadian pertama.
Bukan juga yang terakhir,
kalau aku tetap di sini.
Ini pola.
Pola yang sama…
yang terus berulang.
Dia datang.
Dia membuatku percaya.
Lalu perlahan…
dia menghilang lagi.
Dan aku…
selalu ada di titik yang sama.
Menunggu.
Tapi malam itu,
aku tidak ingin lagi menjadi orang yang sama.
Aku tidak ingin lagi
kembali ke titik awal setiap kali dia datang.
Aku tidak membalas pesannya.
Aku hanya meletakkan ponselku,
dan untuk pertama kalinya…
aku memilih diam,
bukan karena aku tidak peduli
tapi karena aku mulai mengerti
bahwa peduli saja
tidak pernah cukup.