Bagaimana jika kita di jodohkan dan ternyata kita sudah menyukai laki-laki itu dari pandangan pertama? tentu rasanya seperti semesta memberikan restu pada kita.
Clara seorang gadis cantik, manja, periang dan humble akan di jodohkan dengan seorang laki-laki bernama bastian, laki-laki yang arogan dan sombong, meski dia sangat tampan, Clara sudah menyukai Bastian dari awal dia melihatnya, namun sikap bastian justru sebaliknya pada Clara, Clara di anggap orang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah Cinta Clara?apakah Bastian akan mencintai Clara ?
yuk terus baca karyaku ya.....
jika ada kesalahan dalam penulisan tolong beri kritik dan sarannya
jangan lupa dukung karyaku dengan memberikan, like,comment,dan vote ya
terima kasih
Happy reading
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
sayang kalian semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 14 : apakah bastian cemburu?
Brak!!! Suara pintu apartment terbuka dengan kasar. Aku dan Aldy kompak menoleh kearah pintu yang terletak di belakang sofa yang aku duduki bersama Aldy.
Ada rasa senang sesaat, namun kemudian dengan cepat ku tampik.
Apa-apaan Clara, kamu yakin kamu sedang menunggunya pulang? sebuah pertanyaan yang terlontar untuk diriku sendiri.
"Gue fikir lo gak pulang!" ujar Aldy, sambil melirik Bastian penuh curiga.
"Apartment, apartment gue, gue mau pulang atau gak bukan urusan lo!" ucap Bastian dengan raut wajah kesal, dia berjalan mengabaikanku dan Aldy menuju kamarnya.
Laki-laki itu, memang selalu dingin padaku, tapi bisa seromantis Rama pada Ayunda, yah mungkin ini sudah nasibku, yang hanya bisa memiliki raga tanpa bisa memiliki hatinya.
Brakk!!! Lagi-lagi dia membuka pintu dengan kasar, apa karena dia memiliki otot besar dan tubuh atletis hingga tak bisa membuka apapun dengan lebih pelan?
Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air, masih dengan raut wajah yang sama alis menurun membentuk garis vertikal, bibir menyatu dan lubang hidung yang membesar.
terlihat seperti persis monster .
Aku dan Aldy hanya memperhatikannya, tanpa bertanya apapun, sepertinya moodnya sedang tidak baik, dari pada aku salah bicara lebih baik aku diam, dan memperhatikan pandanganku kearah layar TV .
Brakk!!! Suara bantingan pintu untuk ketiga kalinya ku dengar, ku hembuskan nafasku perlahan sambil menggelengkan kepala
"Apa dia selalu bersikap kasar? " tanyaku pada Aldy yang hanya tersenyum melihat kebiasaan buruk sepupunya itu.
"Yah, sama persis dengan yang kamu lihat" ucap Aldy tersenyum. Dasar laki-laki arogan, malam kemarin dia sudah bersikap sangat kasar padaku, malam ini dia terus membanting pintu, entah apa salahku padanya.
Brak!!!! Ini sudah suara keempat yang ku dengar, kulihat dia bergegas ke kamar mandi, entah apa yang di lakukannya, yang jelas dia tidak sedang diam disana, karena suara nyaringnya terdengar sangat sakit di telinga.
*We're so fucked
Shit outta luck
Hardwired to self-destruct
Go
On the way to paranoia
On the crooked borderline
On the way to great destroyer
Doom design*
Suaranya semakin tak karuan saat dia bernyanyi, dengan terus memukul sebuah gayung untuk menghasilkan nada, yang menututku sangat mengganggu.
Aku dengan refleks menutup kedua telinga, agar suara itu tidak semakin merusak gendang telingaku.
Aldy hanya tersenyum melihat ku yang sangat merasa tak nyaman dengan suara Bastian, dia malah terlihat biasa saja.
"Kamu akan mendengarnya setiap hari, jadi bersiap-siaplah" ujar Aldy, sepertinya aku harus menikmati konser terburuk setiap dia berlama-lama di kamar mandi, untunglah tak lama suara itu mereda, dan Bastian keluar dari kamar mandi seperti ada rasa lega dari wajahnya, rupanya dia sudah selesai membuang semua makanan yang ada di perutnya.
"Aku lapar!buatkan aku makanan" Pintanya sambil duduk di antara aku dan Aldy.
"Mat aaf, kulkasnya kosong, semua bahan makanannya habis!" jawabku dengan raut wajah memelas, aku harap dengan ekspresi itu, dia tidak akan membentakku.
"Lagian lo gimana sih bas, berapa lama lo gak belanja?" tanya Aldy yang berada di sampingnya.
"Buat apa gue belanja, kan gue gak masak tinggal beli, makanan di luar banyak !" jawabnya sambil merebut remot yang sedang di pegang Aldy.
"Pulang gih, udah malem ganggu aja lo!" usir Bastian pada Aldy, aku sendiri hanya terdiam di samping Bastian, aku tak mau terlalu banyak bicara lagi jika menghadapi dia, pengalaman malam kemarin sudah cukup menyakitkan , bukan hanya hatiku tapi juga tubuhku, aku bahkan merasa sakit di seluruh badanku keesokan paginya,
"Guekan belum selesai nonton" tolak Aldy, mata Bastian menatap aldy sinis, seperti memberi peringatan jika dia harus segera pulang.
"Oke,oke tuan Bastian, aku akan pulang, maaf sudah menganggu waktu istirahatmu" ucap Aldy sambil beranjak dari kursinya.
" Dari tadi kek!" gumam bastian namun terdengar olehku.
"Clara, aku pulang dulu ya, sepertinya ada yang gak nyaman gue disini!" sindir Aldy,
"Yuk gue anter ke lift!" aku merasa tak enak pada Aldy.
"Gak usah, dia udah gede masa bisa kesini gak bisa pulang!" sahut sinis Bastian.
"Udah gak usah Ra, bener kata Bastian, lagian udah malam" ucap Aldy, lalu Aldy berjalan meninggalkan apartment, aku masih merasa tak nyaman melihat perrlakuan Bastian pada Aldy, pasti Aldy kesal sekali saat ini.
"Mau kemana kamu?" tanya Bastian saat aku akan melangkahkan kaki menuju kamar.
"Tidur, aku ngantuk besok ada kuliah pagi" jawabku, sambil berlalu pergi tanpa menghiraukan dia.
"Gini cara kamu memperlakukan suami, kamu bisa berlama-lama dengan laki-laki lain, kenapa denganku tak bisa?" teriaknya, kalau bisa aku menjawab pertanyaannya aku hanya akan bilang, yah karena Aldy lebih baik dari kamu, sayangnya bibirku tak bisa mengatakan itu seperti terkunci oleh rasa takut dan rasa... ahh rasa yang sulit kujelaskan , karena aku sendiripun tak mengerti mengapa aku selalu memikirkan dia dari awal aku bertemu, aku bahkan selalu menunggunya disaat dia pulang larut malam, tapi aku juga sering merasakan kesal melihat tingkah lakunya yang begitu arogan, menyebalkan, yang selalu membuat hatiku tersayat hingga aku menangis.
"Kamu gak lihat jam, ini sudah malam" ucapku sambil menunjuk kearah sebuah jam dinding yang berada di dinding.
"Aku belum mengantuk, jadi kamu juga gak boleh tidur " ucapny terdengar begitu egois.
"Tapi aku besok ada kuliah bas! aku harus bangun pagi-pagi!" Sulit memang bicara dengannya, selalu ingin menang sendiri.
"ya sudah lakukan apa yang kamu mau!" ucapnya, aku memang sungguh mengantuk ,hingga aku tak meperdulikan dia yang masih duduk sendiri di sofa. Untunglah dia tidak berubah menjadi singa seperti kemarin.
Ku kunci kamarku, aku takut tiba-tiba dia akan masuk dan mencengkramku lagi seperti waktu itu,
Hoamm ku rebahkan tubuhku di sebuah kasur berukuran 120x200, dan ternyata tak butuh waktu lama untukku sampai ke alam mimpi, menjelajahi mimpi-mimpi yang akan ku lupakan setelah aku bangun, atau terkadang aku bisa mengingatnya sampai bertahun-tahun mimpi itu, seperti saat aku bermimpi bertemu papah satu minggu setelah kepergiannya, dan itu aku ingat sampai detik ini, sudah lama juga mereka tak hadir di mimpiku, padahal setiap aku akan tidur, aku akan berdoa pada tuhan untuk mempertemukanku dengan kedua orangtuaku, tapi sepertinya tuhan belum mengizinkanku bertemu mereka, mungkin itu akan menambah kedukaan di hatiku, karena untuk menyembuhkan lukaku aku butuh waktu berbulan-bulan mengurung diri di kamar, menangis setiap malam dan menyalahkan takdir yang tuhan berikan padaku.
peran utama nya bego banget