NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai

Suasana di dalam aula utama masih terasa magis dan hangat setelah penyatuan energi tadi. Deon Key masih berdiri di dekat Pilar Persegi, matanya mengamati setiap detail ornamen yang kini bersinar lembut.

Rasa penasaran si jenius ini memang tidak ada habisnya. Jari-jarinya gatal ingin menyentuh ini dan itu.

"Kek, lihat pola garis di dinding ini," kata Deon sambil berjalan mendekati dinding bagian barat. "Ini seperti sirkuit listrik alami. Energinya mengalir dari atas ke bawah."

"Hati-hati Deon! Jangan sembarangan tekan-tekan! Nanti kuilnya terbang ke bulan lagi lho!" peringatan Kakek Genpo yang masih duduk di lantai sambil mengelap keringat dingin.

"Tenang Kek, aku cuma lihat..."

Deon menyentuh sebuah ukiran kecil berbentuk daun yang menonjol sedikit. Karena permukaannya licin, jarinya terpeleset dan menekan ukiran itu cukup keras ke dalam.

TEK.

Suara kecil yang terdengar sangat jelas di ruangan hening itu.

 

BRUUUUUUUUUMMMMM!!!

Suara gemuruh rendah dan dalam mengguncang seluruh struktur bangunan. Namun kali ini tidak ada gempa, tidak ada batu terbang, dan tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Seluruh permukaan kuil—dinding, atap, lantai—tiba-tiba bergetar halus. Cahaya keemasan yang tadinya terang benderang perlahan meredup, menyusup, dan... menghilang.

Tapi bukan hilang selamanya. Energi itu berubah bentuk. Menjadi sebuah lapisan pelindung yang tipis, bening, dan sangat padat yang menutupi seluruh bangunan kuil dari luar sampai ke dalam.

 

Wah... ini efeknya.

Aku mundur selangkah, mataku membelalak melihat apa yang terjadi. Secara visual, kuil ini tetap berdiri megah dan bisa dilihat. Tapi... aku bisa merasakan adanya lapisan energi tebal yang melapisinya seperti kulit telur.

Aku berjalan ke pintu utama, ingin melihat kondisi di luar. Saat tanganku menyentuh pintu kayu itu, aku merasakan hambatan halus.

Zapp!

Sebuah peringatan lembut muncul di kepalaku, seolah batu itu berbicara lewat pikiran.

"Zona Terisolasi. Hanya Kunci yang bisa mengatur akses."

Aku mengulurkan tangan mendorong udara di depan pintu. Tanganku menabrak sesuatu yang keras seperti kaca tempered setebal satu meter! Padahal di sana tidak ada apa-apa!

"Wah... Perisai Dimensi," gumamku takjub. "Jadi sekarang kuil ini terlindungi oleh lapisan ruang yang berbeda. Orang luar bisa melihat bangunannya mungkin, tapi mereka tidak akan pernah bisa menyentuh atau masuk. Seolah-olah ini cuma ilusi optik."

 

"Deon?! Kenapa pintunya ditutup?! Kita dikurung?!" teriak Genpo panik saat melihat Deon mendorong-dorong udara. Ia segera berlari kecil (meski kaki masih lemes) mendekati pintu.

"Kakek coba buka! Minggir!"

Genpo mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga. Tangannya menembus udara kosong! Pintu itu tidak terkunci, tapi ada penghalang tak terlihat yang menolak tubuh Genpo keluar!

Bugh!

Kepala Genpo terbentur sesuatu yang keras dan elastis, memantul kembali ke belakang.

"Aduh! Astaga! Apa ini?!" Genpo memukul-mukul udara di depannya. Prak! Prak! Tangan Kakek memantul-mantul seperti memukul kasur busa tebal. "Ada tembok kaca! Tapi nggak kelihatan! Deon! Kita dikurung! Ini sihir penjara!"

Genpo mulai panik lagi. Ia mencoba meremas, mencakar, bahkan mencoba meniup, tapi tetap saja ada penghalang tak terlihat yang sangat kuat yang memisahkan bagian dalam kuil dengan dunia luar.

 

Deon tersenyum melihat tingkah kakeknya yang lucu, tapi ia juga paham situasi serius ini.

"Kek... tenang. Kita tidak dikurung. Kita justru dilindungi," kata Deon tenang.

"Lindung apanya! Kakek mau keluar! Kakek mau pipis! Kakek mau makan!" rengek Genpo.

"Baik, Kakek coba pegang tangan Deon yang kuat-kuat," Deon mengulurkan tangan kanannya. "Ayo, pegang erat-erat. Jangan lepas."

"Buat apa?"

"Coba aja."

Genpo dengan ragu-ragu mencengkeram tangan Deon erat-erat seperti kesatria yang memegang nyawanya sendiri.

"Sekarang... jalan maju!" perintah Deon.

Deon melangkah keluar melewati pintu. Dan ajaibnya... Genpo yang memegang tangannya ikut tertarik masuk ke dalam lapisan perisai itu! Tidak ada lagi benturan! Tubuh mereka melewati lapisan energi itu dengan mulus seperti air membelah jalan!

Sreeeeet...

Mereka berdua kini berdiri di luar kuil, di halaman tengah.

Genpo melongo, menatap tangannya sendiri, lalu menatap pintu di belakangnya.

"Bisa... bisa keluar? Tadi kan nggak bisa?"

"Iya Kek. Karena Kakek pegang aku," jawab Deon santai. "Sekarang coba Kakek jalan masuk lagi sendiri. Jangan pegang aku."

Genpo mengangguk patut. Ia melepaskan tangan Deon, lalu berjalan mundur beberapa langkah, mencoba masuk kembali ke dalam aula.

BUK!

Tembok tak terlihat itu menolaknya lagi! Badannya terpental sedikit!

"Waduh! Gila! Gila!" Genpo menggeleng-gelengkan kepala tidak paham logika. "Kenapa bisa begitu?! Tadi bisa masuk, sekarang nggak bisa?!"

"Karena sistemnya sudah berubah Kek," Deon menjelaskan dengan wajah serius penuh wibawa. "Aku tadi tidak sengaja mengaktifkan Mode Isolasi Total."

Deon menunjuk ke arah seluruh bangunan kuil yang kini terlihat biasa saja tapi terasa "berbeda".

"Kuil Beringin sekarang sudah terbungkus Perisai Ruang. Orang luar... termasuk hewan, angin, bahkan hujan... tidak akan pernah bisa masuk atau menyentuh tempat ini. Mereka mungkin melihatnya sebagai kabut, atau reruntuhan biasa, atau bahkan tidak melihatnya sama sekali."

"Terus sama Kakek?"

"Kakek tidak bisa masuk kalau aku tidak mengajak. Kakek juga tidak bisa keluar kalau aku tidak izinkan," Deon menegaskan. "Karena aku adalah Kuncinya. Hanya tanganku yang bisa membedah lapisan dimensi ini. Siapa pun yang ingin lewat, harus bersentuhan denganku atau mendapat izin energiku."

Genpo terdiam kaku. Wajahnya berubah pucat, lalu merah, lalu pucat lagi.

"Jadi... mulai sekarang... hidup mati Kakek... ada di tangan kamu?" tanya Genpo pelan.

"Hahaha! Bukan gitu maksudnya Kek!" Deon tertawa renyah, lalu memeluk lengan kakeknya. "Artinya tempat ini sekarang aman 100%! Nona Prizeyl sombong itu? Klan Awan? Pasukan tentara? Mereka bisa datang seribu orang pun, mereka cuma akan memukul tembok kosong! Mereka nggak akan pernah bisa menyentuh satu butir pasir pun di sini!"

Genpo menghela napas panjang sekali, tangannya memegangi dada.

"Ya ampun... Deon kamu ini... bikin jantung Kakek mau copot terus tiap hari," gumam Genpo tapi akhirnya tersenyum lega. "Tapi benar juga... Sekarang tempat ini benar-benar jadi benteng yang tak tertembuskan."

Genpo menatap sekeliling halaman yang kini dipenuhi batu Zamrud hijau yang indah dan kuil yang megah.

"Jadi aturannya simpel ya: Deon bilang masuk \= masuk. Deon bilang keluar \= keluar. Kalau Deon diam \= Kakek jadi patung di sini."

"Hahaha persis! Jadi Kakek jangan nakal ya! Nanti dikurung di dalam terus!"

"Dasar Ahli Merusak dan Penguasa Baru!" Genpo mencubit pinggang Deon gemas.

 

Suasana sore kembali tenang. Angin berhembus, tapi angin itu seolah berputar mengelilingi perisai, tidak berani masuk seenaknya. Kuil Beringin kini telah menjadi dunia kecil yang terpisah, aman, dan rahasia, dijaga oleh seorang jenius dan kakek tukang kayunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!