NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke rumah sakit

Ambulans berwarna putih-perak itu melayang perlahan keluar dari area rumah sakit lama, lampu birunya berdenyut lembut di udara pagi.

Mireya berdiri mematung beberapa detik, menatap pintu transparan di sisi kendaraan itu.

Di dalam sana, ibunya terbaring tenang, terhubung dengan alat pemantau yang memancarkan cahaya kehijauan.

Dadanya terasa sesak.

Benar-benar dipindahkan.

Benar-benar akan memulai hidup baru.

“Masuk.”

Suara Zevran yang datar membuyarkan lamunannya.

Pria itu sudah berdiri di samping mobil terbang hitam miliknya, pintu samping terbuka otomatis.

Di belakang ambulans, dua kendaraan pengawal sudah bersiap. Salah satunya dinaiki Robert.

Mireya menelan ludah lalu masuk dengan hati-hati.

Begitu duduk, sabuk pengaman otomatis melingkar di pinggangnya.

Zevran duduk di kursi pengemudi.

Tangannya yang panjang dan rapi bergerak di atas panel hologram, lalu kendaraan itu naik perlahan mengikuti ambulans dari belakang.

Di luar jendela, bangunan kota bergerak cepat.

Namun perhatian Mireya hanya tertuju pada kendaraan ibunya di depan.

“Tenang saja,” ucap Zevran tiba-tiba.

Mireya menoleh.

“Pengawalan dan dokter pendamping sudah disiapkan.”

“…Terima kasih.”

Hening lagi.

Lalu tiba-tiba saja dia bertanya hal yang tidak di pahami Mireya.

“Berapa?”

Mireya bengong.

“Ha?”

“Jika obat ibumu per bulan seratus dua puluh ribu crown, biaya terapi delapan puluh ribu, dan perawatan rumah sakit dua ratus ribu…”

Ia melirik sekilas.

“Berapa totalnya dalam satu tahun?”

Mireya tiba-tiba membeku dan bibir refleks berkata

“…hah?”

“Cepat.”

“E-eh… empat ratus…?”

Zevran menghela napas pelan.

“Per bulan.”

“…oh.”

“Kalikan dua belas.”

Mireya mulai menghitung pakai jari di paha diam-diam.

Zevran ngelirik lalu hampir geli.

“Jangan pakai jari.”

“Lalu pakai apa? Otakku lagi panik!”

“Pecah angka.”

Pria itu mulai menjelaskan.

> empat ratus ribu × 10 \= empat juta

tambah dua bulan \= delapan ratus ribu

total \= empat juta delapan ratus ribu crown

Mireya berkedip.

“Oh…”

Dia jadi ngerti.

...----------------...

Mireya tidak tau nanti saat bersama pria itu dia akan semakin pusing.

meskipun lama-lama Mireya bakal terbiasa.

Nanti kalau ada masalah dia otomatis mikir:

pecah angka dulu…

Atau hal seperti :

hitungan

logika

strategi

peluang

Bahkan suatu saat pembahasan nya akan tetap berkaitan.

“Jika kamu syuting 3 proyek per bulan dan tiap proyek menaikkan popularitas 7%, berapa dalam 6 bulan?”

Mireya:

“ASTAGA KENAPA SEMUA HAL JADI SOAL MATEMATIKA?!”

...****************...

Mobil terbang hitam itu tidak mengikuti arah ambulans.

Dari jendela, Mireya melihat kendaraan yang membawa ibunya melaju lurus ke pusat medis utama ibukota, diikuti dua mobil pengawal dan kendaraan Robert di belakangnya.

Dadanya sempat sesak.

Namun Zevran menoleh sekilas.

“Tidak perlu khawatir. Robert ikut bersama mereka.”

Mireya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi justru berbelok ke jalur udara lain.

Gedung-gedung tinggi berlapis kaca memantulkan cahaya siang.

Mireya mengerjap.

“Eh… kita bukan ke rumah sakit?”

“Sudah siang.”

Jawaban Zevran singkat.

“Kau belum makan.”

“…oh.”

Pantas saja.

Perutnya memang sudah mulai keroncongan sejak tadi.

Tidak lama kemudian mobil mendarat di balkon khusus sebuah restoran mewah yang terhubung langsung dengan gedung pusat perbelanjaan elit.

Mireya langsung kaku.

Astaga.

Lagi-lagi restoran mahal.

Kakinya mendadak lemas saat turun.

Di kepalanya langsung muncul angka-angka yang membuatnya pusing.

Habis berapa ini…

aku bahkan belum punya uang saku…

Begitu duduk di ruang makan privat, seorang pelayan manusia menyajikan menu hologram.

Mireya bahkan belum sempat melihat harga—

Zevran sudah memesan beberapa hidangan.

Sup hangat, pasta daging panggang, roti lembut, minuman buah segar, dan beberapa dessert kecil.

Mata Mireya membulat.

Banyak banget?!

Ia menelan ludah.

“…aku nggak biasa makan mahal begini.”

Zevran meliriknya datar.

Gadis ini meskipun di kontrak sudah di jelaskan semua biaya hidup nya di tanggung tapi dia masih sungkan untuk menerima nya.

“Kalau begitu hitung.”

“…hah?”

“Nanti saat sebelum tagihan datang.”

Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Jika hitunganmu benar, makan ini gratis. Kau tidak perlu membayar.”

Mata Mireya langsung berbinar.

“Beneran?!”

“Mm.”

Lalu Zevran menambahkan dengan wajah tanpa dosa:

“Tapi manual.”

Mireya mengernyit.

“Maksudnya?”

“Tanpa terminal pribadi.”

Pelayan langsung meletakkan kertas catatan kecil dan pena.

Mireya: “….”

ASTAGA.

...----------------...

Mireya langsung sibuk mencoret-coret.

pasta \= 48

sup \= 32

dessert \= 20

minuman \= 15

tambah pajak…

Dia mulai menghitung sambil komat-kamit.

Satu kali.

Salah.

Dua kali.

Salah lagi.

Tiga kali.

Salah lagi

Keningnya sampai berkerut.

Zevran yang melihat dari seberang meja hampir geli.

“Berapa?”

“…seratus dua belas?”

Zevran mengangkat alis.

“Ulang.”

Mireya hampir menangis.

“Kenapa angka selalu berubah sih…”

Dia bahkan baru sadar terminal pribadinya sebenarnya punya fitur kalkulasi.

Tangannya refleks mau meraih.

Namun Zevran langsung berkata dingin:

“Tidak boleh.”

“KENAPA?!”

“Karena otakmu harus bekerja.”

Mireya dalam hati:

monster.

ini bukan suami.

ini guru matematika berjalan.

...----------------...

Zevran memikirkan Mireya dan soal MTK ini agar gadis itu, nggak gampang ditipu lagi soal uang.

Apalagi Mireya sering kena potongan agensi, Di perusahaan lama nya.

Jadi dia bahkan bertanya tanya dalam hati saat melihat gadis itu sibuk dengan coretan nya.

"kalau bahkan biaya makan saja kau tidak bisa hitung, bagaimana kau mau membaca kontrak?"

Pas bill datang, ternyata jawaban Mireya beda tipis.

Misalnya salah pajak 😭

Zevran bilang:

“Kurang dua ribu.”

Mireya langsung lemes di meja.

“Dua ribu doang…”

Zevran menaruh kartu hitamnya.

“Aku bayar.”

Mireya lega.

Lalu dia nambahin:

“Tapi malam ini aku kasih soal lagi.”

Mireya langsung syok. Menahan tangis dalam hati.

YA TUHAN KENAPA ADA LANJUTAN?!

...****************...

Zevran menatap gadis di hadapannya yang masih sibuk mencoret angka di kertas kecil.

Alisnya perlahan terangkat.

Satu kali salah.

Dua kali salah.

Tiga kali masih salah.

Ujung jarinya mengetuk meja pelan.

Di kepalanya muncul satu pertanyaan yang benar-benar tulus.

…selama ini dia hidup bagaimana?

Pandangan matanya turun pada wajah Mireya yang terlihat begitu serius, sampai bibirnya sedikit mengerucut saat menghitung.

48 tambah 32…

tambah 15…

eh tunggu…

Zevran memalingkan wajah sebentar, mencoba menahan sesuatu yang jarang sekali muncul.

Hampir ingin tertawa.

Hampir.

Sangat hampir.

Dalam benaknya, pikirannya berjalan datar namun menusuk.

Dengan kemampuan hitung seperti ini…

bagaimana dia bisa bertahan hidup sampai sekarang?

Bahkan pertanyaan berikutnya lebih mengusiknya.

Bagaimana dia bisa lulus sekolah?

Setahunya, Mireya berasal dari sekolah seni yang cukup bagus di wilayahnya.

Sekolah seperti itu tetap memiliki standar kelulusan akademik.

Memang tidak seketat akademi bisnis tempat dirinya dibesarkan, tetapi tetap saja…

matematika dasar seharusnya bukan sesuatu yang sulit.

Tatapannya kembali jatuh pada kertas Mireya.

Angkanya berantakan.

Ada coretan silang di mana-mana.

Sampai ada satu angka yang bahkan ditulis terbalik.

Astaga…

Untuk pertama kalinya, Zevran merasa kagum dalam bentuk yang aneh.

Dia benar-benar bisa bertahan hidup di dunia hiburan dengan kemampuan berhitung seperti ini.

Tidak heran dia mudah diinjak agensi lamanya.

Tidak heran dia hanya menerima dua puluh persen.

Mungkin selama ini bahkan dia tidak benar-benar menghitung bagi hasilnya.

Kesadaran itu membuat sorot mata Zevran sedikit berubah.

Dari geli…

menjadi serius.

Gadis ini benar-benar hampir dihancurkan.

Lalu pikirannya yang super nyeleneh Zevran banget muncul lagi.

Kalau dia tidak bertemu denganku, mungkin suatu hari dia bahkan akan ditipu saat membeli makan.

...----------------...

Zevran akhirnya bicara datar.

“Sekolahmu dulu meluluskan murid dengan standar seperti ini?”

Mireya membeku.

“….”

“Bagaimana kau bisa lulus?”

Mireya langsung hampir tersedak minum

“AKU LULUS KARENA NILAI PRAKTIK!”

Zevran menatapnya.

“Jadi teori nol?”

“…jangan ngomong gitu dong…”

Di kepala Zevran yang hebat tiba-tiba bisa muncul pemikiran kayak

dia bodoh dalam angka

tapi cepat menangkap emosi, ekspresi, gerakan, dan panggung

Jadi dia mulai sadar kecerdasan Mireya ada di bidang lain.

Awalnya dia mikir mireya “tak mampu”.

Lama-lama dia sadar:

gadis itu bukan bodoh

dia hanya jenius di tempat yang berbeda

...****************...

Setelah makan siang selesai, mobil terbang Zevran kembali meluncur di antara jalur udara ibukota.

Mireya yang tadinya kenyang dan sedikit mengantuk langsung terbelalak saat kendaraan itu mendarat di depan sebuah gedung raksasa.

Bangunannya tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari, dan di bagian depan terpampang huruf besar berpendar:

Maison Auréline Furnishings

Tempat furnitur paling mewah di ibukota.

Mulut Mireya sedikit terbuka.

“…kita ke sini?”

Zevran mematikan mesin dan menoleh singkat.

“Mm.”

“Buat apa?”

Tatapan Zevran datar.

“Rumah.”

Mireya membeku.

Lalu beberapa detik kemudian baru tersadar.

“EH?!”

Begitu masuk, seorang pramuniaga pria berpakaian rapi langsung menyambut mereka dengan senyum profesional.

“Selamat datang, Tuan Ardevar.”

Mireya langsung menoleh.

Wah.

Dia kenal.

Berarti Zevran emang sering belanja tempat beginian.

Pramuniaga itu kemudian memandang Mireya.

“Apakah Nona ingin melihat set kamar, meja rias, atau dekorasi tambahan?”

Mireya masih bengong.

Zevran menjawab lebih dulu.

“Semua yang dia butuhkan.”

Lalu dia melirik Mireya.

“Pilih.”

“…hah?”

“Pilih semua yang kau mau.”

Jantung Mireya langsung deg-degan.

Banyak banget barang bagus.

Kasur.

Lampu tidur.

Karpet bulu lembut.

Cermin tinggi.

Sofa kecil dekat jendela.

Bahkan ada rak buku yang cantik banget.

Mata Mireya sampai berbinar.

Namun—

Zevran tiba-tiba menambahkan kalimat yang membuatnya merinding.

“Tapi kali ini kau yang hitung.”

Mireya: “….”

NOOOOO !!!

Tes hitung lagi!

Zevran menyilangkan tangan.

“Biar kau tidak sungkan memakai uangku, hitung sendiri totalnya.”

Pramuniaga yang berdiri di samping langsung memasang senyum profesional.

Namun dalam hati nya:

"astaga kenapa customer ini malah ujian dadakan"

Zevran melanjutkan,

“Mas ini bantu catat harga.”

Pramuniaga mengangguk.

“Baik, Tuan.”

“Kau tidak perlu menghitung.”

Zevran menatap pramuniaga.

“Biarkan dia.”

Pramuniaga: “…baik.”

Mireya hampir mau nangis.

...----------------...

Mireya mulai berjalan dari satu barang ke barang lain.

“Ini… meja rias, 480 …”

“Lampu… 120 …”

“Karpet… 350 …”

Dia mencoret-coret di note kecil.

Salah.

Hapus.

Salah lagi.

Hapus lagi.

Muka pramuniaga mulai pucat

Karena target bulanannya ada di transaksi ini.

Kalau sampai salah hitung dan customer batal, tamat.

Saat Mireya menulis angka 3 padahal harusnya 8, si abang pramuniaga sampai panik.

Dia pura-pura membetulkan lengan bajunya.

Lalu diam-diam mengangkat delapan jari di belakang katalog 😭

Mireya melirik.

Mata mereka bertemu.

Si abang kasih kode lagi.

☝️✋✌️

“Delapan…”

Mireya langsung paham.

“Oh iya delapan…”

Zevran yang dari tadi berdiri beberapa langkah di belakang menyipitkan mata.

“Sedang apa?”

Si pramuniaga langsung tegak.

“Tidak ada, Tuan.”

Keringat dingin nya bercucuran takut sekali ketahuan.

Zevran mengetahui itu, tapi pura-pura gak lihat

Lucunya Zevran sebenarnya sadar.

Dia lihat si pramuniaga ngasih contekan.

Tapi dia pura-pura membiarkan.

Karena dalam hati dia juga mikir:

kalau dibiarkan sendiri sampai malam pun belum selesai.

Dia bahkan hampir menghela napas.

bagaimana gadis ini bisa bertahan hidup?

Tapi saat melihat Mireya yang antusias memilih barang, ekspresinya sedikit melunak.

Dia belum pernah melihat gadis itu seterang ini.

Senyumnya tulus.

Matanya berbinar.

Seolah akhirnya memiliki ruang yang benar-benar bisa disebut rumah.

Dan itu membuat Zevran diam sejenak.

…setidaknya uangku dipakai untuk sesuatu yang membuatnya tersenyum.

...****************...

Mireya masih berjalan pelan di antara deretan furnitur, tangannya menyentuh beberapa barang dengan hati-hati.

Sofa.

Karpet.

Cermin.

Lalu langkahnya berhenti di sebuah sudut kecil yang lebih tenang.

Di sana ada sebuah lampu tidur kristal dengan cahaya keemasan lembut.

Bentuknya elegan, tidak terlalu mencolok, tapi entah kenapa terasa hangat.

Seperti cahaya rumah.

Mireya menatapnya cukup lama.

“Ini cantik…”

Ucapnya lirih.

Ia membungkuk sedikit, menyalakan tombol demonya.

Seketika cahaya kuning lembut menyala.

Hangat.

Nyaman.

Bukan cahaya putih terang khas gedung-gedung modern ibukota.

Tapi cahaya yang membuat seseorang ingin duduk lama sambil membaca buku atau sekadar berbicara sebelum tidur.

“Aku suka yang ini.”

Mireya tersenyum kecil.

“Kamarku di rumah lama juga pakai lampu yang cahayanya hangat. Kalau malam jadi nggak terlalu sepi…”

Langkah Zevran yang tadinya santai mendadak berhenti.

Tatapannya jatuh pada lampu itu.

Dan untuk sepersekian detik—

waktu terasa berhenti.

Di kepalanya, muncul bayangan yang sudah lama terkubur.

Sebuah kamar luas di rumah keluarga Ardevar dulu.

Ibunya duduk di samping tempat tidur, cahaya lampu kuning yang sama menerangi wajahnya.

Lembut.

Hangat.

Tangannya yang sedikit pucat mengusap rambut Zevran kecil.

“Kalau malam terlalu gelap, nyalakan lampu ini, Nak.”

“Cahaya hangat membuat kamar mu terasa hidup.”

Dulu, ibunya selalu memilih lampu seperti itu.

Tidak pernah suka cahaya putih yang terlalu dingin.

Katanya, rumah bukan kantor.

Rumah harus terasa hidup.

Harus terasa seperti tempat untuk pulang.

Zevran tersadar saat suara Mireya memanggil.

“Zevran?”

Pria itu berkedip pelan.

“…ambil.”

“Hah?”

“Kalau kau suka, ambil.”

Suaranya tetap datar.

Namun ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Lebih sunyi.

Lebih dalam.

Mireya mengangguk pelan.

“Mm… makasih.”

Ia tidak tahu kalau benda kecil itu baru saja menyentuh sesuatu yang sangat lama terkunci dalam diri pria itu.

Saat Mireya beralih memilih barang lain, Zevran tetap memandang lampu itu sesaat.

Ibu juga menyukai cahaya seperti ini.

Jari-jarinya sedikit mengepal.

Ingatan terakhir tentang kamar ibunya muncul begitu jelas.

Ruangan yang remang.

Napas yang semakin lemah.

Dan permintaan terakhir yang mengubah seluruh hidupnya.

“Jaga Mireya…”

Dadanya terasa sesak sebentar.

Lalu ia memalingkan wajah.

…aku masih mengingatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!