NovelToon NovelToon
DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.

​Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.

​Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Pelarian Berdarah dan Runtuhnya Langit Giok

apakah itu,,?

ternyata Asap hitam pekat membumbung tinggi dari pusat Arena Agung, menelan cahaya matahari pagi yang seharusnya hangat menjadi kelabu yang mencekam. Di tengah kawah ledakan, sosok Wang Tian berdiri dengan transformasi yang mengerikan. Rambut perak murninya berkibar liar, matanya yang kini berwarna hitam pekat tanpa pupil seolah-olah menyedot cahaya di sekitarnya.

Efek dari Esensi Jiwa Langit telah membuka gerbang kekuatan yang melampaui logika manusia, mengubahnya menjadi wadah hidup bagi energi primordial yang tak terkendali.

Di hadapannya, Penatua Tertinggi Klan Langit—seorang master Ranah Spirit Severing yang telah hidup selama tiga ratus tahun—terpaku dengan wajah pucat. Tekanan yang dipancarkan Wang Tian bukan lagi sekadar tekanan Qi; itu adalah tekanan Hukum Alam yang murni.

"Ini... ini mustahil!"

"sangat mustahil"

teriak Penatua Tertinggi, suaranya bergetar. "Ranah Pemurnian Qi tidak mungkin menampung kekuatan setingkat ini! Tubuhmu seharusnya meledak!"

Wang Tian tidak menjawab dengan kata-kata. Suara yang keluar dari tenggorokannya adalah geraman rendah yang menggetarkan fondasi kota. Ia melesat. Kecepatannya melampaui batas penglihatan manusia. Yang tertinggal hanyalah retakan ruang berwarna abu-abu di jalur yang ia lalui.

BOOM! BOOM!! BOOM!!!

Tinju Wang Tian menghantam perisai cahaya milik Penatua Tertinggi. Perisai yang mampu menahan serangan ribuan tentara itu hancur berkeping-keping seperti kaca tipis. Penatua Tertinggi terlempar mundur, menabrak tembok balkon kehormatan hingga runtuh, mengubur beberapa pejabat kota di bawah reruntuhan.

"Semua pengawal! Semua Penatua! Serang dia secara bersamaan!" perintah Kaisar Kota Giok dari kejauhan, suaranya penuh ketakutan. "Jika dia keluar dari arena ini hidup-hidup, Kota Giok akan hancur!"

Seketika, ratusan kultivator dari berbagai klan melompat turun ke arena. Mereka membentuk lingkaran kematian, melepaskan ribuan teknik elemen sekaligus. Bola api raksasa, tombak es, kilat ungu, dan bilah angin menyatu menjadi satu gelombang kehancuran yang mengarah ke pusat di mana Wang Tian berdiri.

Amukan Sang Kaisar Tanpa Mahkota

Wang Tian mengangkat kedua tangannya ke langit. "Sembilan Elemen... Hampa!"

Sebuah bola kegelapan kecil terbentuk di atas kepalanya, lalu meledak menjadi gelombang kejut yang menyedot semua serangan elemen tersebut. Api dipadamkan oleh kehampaan, petir dijinakkan oleh tarikan magnetis, dan es hancur menjadi debu atom. Wang Tian kemudian memutar tubuhnya, melepaskan tebasan tangan yang memancarkan bilah energi Ruang yang melengkung.

SLASH!

Lusinan pengawal klan di barisan depan terbelah menjadi dua, bahkan zirah tingkat tinggi mereka tidak mampu menahan ketajaman energi primordial. Darah menyemprot ke udara, membasahi lantai arena yang dulu suci.

Di tengah kekacauan itu, Mora bangkit berdiri dengan susah payah. Ia menatap Wang Tian dengan kekaguman yang bercampur dengan rasa takut. "Dia kehilangan kesadaran manusianya... jika dia tidak segera pergi, energi itu akan membakarnya dari dalam," batin Mora.

Mora melirik ke arah tribun peserta. Ia melihat Lin Xuelan dan Sui Ren yang juga sedang berjuang melawan pengawal klan mereka sendiri untuk bisa mendekati arena.

"Kalian berdua!" teriak Mora, suaranya mengatasi kebisingan pertempuran. "Bantu aku menciptakan jalur keluar! Jika kita tidak membawanya pergi sekarang, para leluhur klan yang sedang bermeditasi di gunung belakang akan bangun, dan saat itu terjadi, tidak ada jalan kembali!"

Lin Xuelan, dengan mata yang sembab namun penuh tekad, menggunakan pedang angin timurnya untuk menebas pengawal yang menahannya. "Aku tidak akan membiarkan dia mati di sini!"

Sui Ren, sang putri Angin Barat yang angkuh, juga melepaskan segel pada pedang peraknya. "Demi kehormatan yang ia tunjukkan... aku akan mempertaruhkan nyawaku sekali ini!"

Ketiga wanita itu—tiga jenius yang seharusnya menjadi musuh atau rival—kini bergerak selaras. Mora dengan sabit bayangannya membelah jalur di sisi kiri, Sui Ren menciptakan badai angin untuk mengaburkan pandangan para pemanah di dinding kota, dan Lin Xuelan menggunakan energi penyembuhannya untuk memperkuat langkah mereka.

Penyelamatan di Tengah Kepungan

Wang Tian sedang bersiap untuk melepaskan serangan penghancur massal yang mungkin akan meratakan setengah dari Kota Giok ketika sebuah pelukan hangat menghantam punggungnya.

"Wang Tian! Berhenti! Kau akan menghancurkan dirimu sendiri!" teriak Lin Xuelan sambil memeluknya dari belakang, mengalirkan energi Air Murni untuk mendinginkan aliran darahnya yang mendidih.

Wang Tian menggeram, matanya yang hitam menatap Xuelan. Untuk sesaat, pupilnya kembali muncul, bergetar antara kegilaan dan kesadaran. "Pergi... Xuelan... Pergi!"

"Tidak!" Sui Ren mendarat di samping mereka, menciptakan kubah angin pelindung. "Mora sudah menyiapkan jalan di gerbang bawah tanah! Kita harus bergerak sekarang!"

Mora muncul dari bayang-bayang, wajahnya penuh luka. "Para Penatua Agung dari klan-klan besar sudah mendekat! Aku bisa merasakan aura mereka dari jarak sepuluh mil! Cepat!"

Wang Tian berlutut, memegang kepalanya yang terasa seperti akan pecah. Esensi Jiwa Langit mulai menguras paksa umur panjangnya. "Bawa... aku... pergi..."

Mora segera memanggul lengan kiri Wang Tian, sementara Sui Ren memanggul lengan kanannya. Lin Xuelan berdiri di depan mereka, menjadi perisai hidup. Mereka berlari menembus reruntuhan arena, menuju lorong rahasia yang biasa digunakan para budak arena untuk membuang mayat—satu-satunya jalur yang tidak dijaga ketat oleh tentara kaisar.

Pertempuran di Gerbang Bawah Tanah

Namun, di mulut lorong, sesosok pria berdiri menanti. Itu adalah Jin Da, yang meski terluka parah di babak sebelumnya, telah meminum pil peningkat kekuatan terlarang. Di sampingnya ada puluhan elit klan Jin dengan senjata mesin panah otomatis yang dilapisi racun.

"Mau lari ke mana, Tikus?!" Jin Da berteriak dengan wajah yang terdistorsi oleh benci. "Hari ini, Kota Giok akan menjadi makam bagi kalian semua!"

"Tembak!"

Ribuan anak panah beracun menghujani mereka. Sui Ren mencoba menangkis dengan badai anginnya, namun jumlahnya terlalu banyak. Beberapa anak panah mulai menembus pertahanan mereka.

Tiba-tiba, Wang Tian mendorong Mora dan Sui Ren ke samping. Dengan sisa kesadarannya, ia menghantamkan telapak tangannya ke tanah.

"Elemen Tanah: Tembok Kediaman Dewa!"

Batu-batu granit raksasa melonjak dari bawah tanah, membentuk benteng setebal sepuluh meter yang menelan semua anak panah. Wang Tian kemudian melangkah maju, auranya meledak untuk terakhir kalinya sebelum Esensi Jiwa Langit habis.

Ia menunjuk ke arah Jin Da. Sebuah sambaran petir abu-abu melesat dari ujung jarinya, begitu cepat hingga tidak ada yang sempat berkedip.

KABOOM!

Seluruh koridor bawah tanah itu runtuh. Jin Da dan pasukannya terkubur seketika di bawah ribuan ton batu. Ledakan itu juga menciptakan lubang besar yang langsung menuju ke saluran air bawah tanah yang bermuara di luar tembok kota.

"Lompat!" perintah Mora.

Mereka berempat jatuh ke dalam aliran air yang deras. Di belakang mereka, suara raungan para Penatua Agung yang baru saja tiba di arena terdengar menggelegar, namun mereka sudah terlambat. Air membawa mereka menjauh dari kemegahan Kota Giok yang kini terbakar oleh api kerusuhan.

Hutan Kabut: Titik Nadir

Beberapa jam kemudian, di pinggiran Hutan Kabut yang terletak ribuan mil dari Kota Giok, empat sosok terdampar di pinggir sungai. Wang Tian tidak lagi memiliki rambut perak; rambutnya kembali hitam, namun wajahnya sangat pucat, hampir seperti mayat. Ia tidak sadarkan diri.

Mora terduduk lemas, sabitnya retak di beberapa bagian. Sui Ren menyandarkan tubuhnya di pohon, jubah birunya robek dan penuh lumpur. Lin Xuelan adalah yang paling sibuk; ia terus-menerus mengalirkan Qi penyembuh ke tubuh Wang Tian, meski wajahnya sendiri sudah sangat pucat karena kehabisan energi.

"Kita tidak bisa tinggal di sini lama," ucap Mora sambil memandang ke arah langit yang mulai gelap. "Kaisar akan mengeluarkan Perintah Pembunuhan Surga. Hadiah untuk kepala Wang Tian akan cukup untuk membeli sebuah kerajaan kecil. Seluruh benua akan memburu kita."

Sui Ren menatap Wang Tian. "Kenapa kita melakukan ini? Kita bertiga... kita adalah jenius dari sekte dan klan besar. Sekarang, kita adalah pengkhianat."

Lin Xuelan berhenti sejenak, menatap wajah Wang Tian yang tenang dalam pingsannya. "Karena dia adalah satu-satunya orang yang melihat kita bukan sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai manusia. Dia menyelamatkanku saat klan-klan besar itu hanya memikirkan reputasi."

Mora tersenyum pahit. "Dan bagiku, dia adalah satu-satunya pria yang cukup kuat untuk membuatku merasa hidup. Jika dunia ingin memburunya, maka dunia harus melewati mayatku dulu."

Tiba-tiba, dari balik kabut tebal, sosok Lin Xia muncul. Ia berdiri dengan tenang, tidak ada satu pun noda tanah di jubah ungunya.

"Kalian melakukan pekerjaan yang cukup baik untuk sekumpulan gadis kecil," ucap Lin Xia.

"Lin Xia!" Xuelan berseru. "Tolong dia! Dia memberikan segalanya untuk menang!"

Lin Xia mendekati Wang Tian, memeriksa denyut nadinya. "Esensi Jiwa Langit telah menghancurkan sebagian besar meridiannya. Dia beruntung memiliki Pusaran Primordial, jika tidak, dia sudah menjadi abu. Dia akan tertidur selama beberapa minggu."

Lin Xia menatap ketiga gadis itu. "Kalian punya pilihan sekarang. Kembali ke klan kalian, berlutut, dan minta ampun. Atau, ikutlah denganku ke Gurun Kematian, tempat di mana hukum klan tidak berlaku, dan belajarlah untuk menjadi cukup kuat demi melindunginya saat dia bangun nanti."

Mora berdiri pertama kali, mengangkat sabitnya yang retak. "Aku sudah tidak punya rumah selain bayang-bayang di sampingnya."

Sui Ren menarik napas panjang, lalu mematahkan lencana perak Sekte Angin Barat miliknya. "Angin Barat tidak akan pernah tunduk pada pengecut. Aku ikut."

Lin Xuelan menggenggam tangan Wang Tian yang dingin. "Ke mana pun dia pergi, aku akan di sana."

Lin Xia mengangguk. "Bagus. Maka perjalanan yang sebenarnya dimulai sekarang. Kota Giok hanyalah permulaan. Benua ini harus dihancurkan sebelum bisa dibangun kembali."

Dengan lambaian tangan Lin Xia, kabut di hutan itu menebal, menyembunyikan jejak mereka dari para pengejar yang mulai mendekat. Di dalam tidurnya yang lelap, di dalam kegelapan Dantiannya, Wang Tian merasakan tiga benih keterikatan yang sangat kuat mulai berakar. Takdirnya bukan lagi milik dirinya sendiri; itu adalah takdir yang dijahit bersama oleh darah, pengkhianatan, dan cinta yang terlarang.

Langit Kota Giok mungkin telah runtuh, namun di tengah Gurun Kematian yang tak berujung, fajar baru bagi Sang Penguasa Primordial sedang dipersiapkan.

Statistik Bab 15:

Karakter: Wang Tian (Kritis), Lin Xuelan, Sui Ren, Mora (Resmi menjadi pelarian), Lin Xia, Jin Da (Terkubur/Status Tidak Diketahui).

Lokasi: Arena Agung -> Saluran Bawah Tanah -> Hutan Kabut.

Hasil: Wang Tian selamat namun kehilangan kesadaran, Kota Giok dalam kekacauan total.

Status Hubungan: Pembentukan ikatan awal antara tiga calon istri di bawah tekanan kematian.

Konsekuensi: Perintah Pembunuhan Surga dikeluarkan oleh 12 Klan Kuno.

Bab 16 akan menceritakan awal perjalanan mereka melintasi Gurun Kematian dan kebangkitan Wang Tian dengan kekuatan baru.

Lanjut Broo...?

1
septian arista
ke mana lin sia?
septian arista
cerita pertemuannya dengan naga kok berbeda sama bab yang sebelumnya
Abai Shaden: author lagi pusing,,maaf ya,,,
kurang ngopi
total 2 replies
septian arista
Baru kali ini ada cultivator yang melakukan terobosan di penginapan yang dan menghancurkan penginapan itu karena terobosannya
septian arista
selalu saja ada tuan muda sebuah klan yang bersikap arogan dan sangat angkuh
Abai Shaden
terimakasih masukkan nya
Abai Shaden
nanti di season II nya,,,
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah
Joe Maggot Curvanord
terlalu cepat op thor ga ada ber darah2nya
Abai Shaden: kita bikin berdarah nanti di NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL
total 1 replies
Nanik S
Mantap
Nanik S
ikut Tes Lagi
septian arista: cepat banget kenaikan kultivasinya
total 1 replies
Nanik S
Sama sama bermarga Lin
Nanik S
Pertemuan awal
Nanik S
Oky Lanjut
Nanik S
Awal yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!