NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lensa Yang Tergores

Udara di koridor menuju gudang seni terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Arlan yang kini merasa setiap sudut sekolah memiliki "mata". Amplop cokelat berisi foto-foto intai itu masih tersimpan di dalam tasnya, terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Arlan berjalan cepat, menunduk, dan merapatkan jaket denim pudar miliknya. Ia tidak lagi sekadar merasa malu; ia merasa terancam.

"Lan, fokus. Lo baru saja hampir menabrak pintu," suara Maya memecah lamunannya.

Maya sudah menunggu di depan gudang seni. Di tangannya ada daftar logistik untuk persiapan pameran sekolah. Melihat wajah Maya yang berusaha tegar membuat Arlan sedikit tenang, namun rasa cemasnya tidak benar-benar hilang. Baginya, sang "Pencuri Momen" ini bukan sekadar pengagum rahasia; dia adalah pengganggu yang tahu titik lemah Arlan.

"Gue nggak bisa berhenti mikirin siapa yang ngambil foto-foto itu, May," bisik Arlan setelah mereka masuk ke dalam gudang dan mengunci pintu dari dalam. "Dia tahu gue di ruang gelap. Dia tahu gue di atap. Dia ngikutin setiap langkah gue."

Maya meletakkan daftar logistiknya di atas meja yang penuh noda cat. "Gue tahu ini nakutin, Lan. Tapi kalau lo terus-terusan waspada kayak gini, pameran kita bakal berantakan. Lihat hasil bidikan lo tadi pagi, semuanya underexposed dan komposisinya kacau. Lo nggak fokus."

Arlan mengeluarkan kameranya, bermaksud menunjukkan draf foto yang ia maksud. Namun, saat ia hendak memutar cincin fokus, jarinya merasakan sesuatu yang ganjil. Sebuah gesekan kasar yang tidak seharusnya ada di sana.

"Astaga..." Arlan terpaku.

Ia melepaskan filter pelindung di depan lensanya. Di sana, tepat di permukaan kaca lensa utamanya yang mahal, terdapat sebuah goresan panjang yang cukup dalam. Goresan itu membentuk garis diagonal yang merusak lapisan optiknya. Itu bukan kecelakaan. Itu adalah tindakan vandalisme yang disengaja.

"Lensa gue... tergores," suara Arlan bergetar hebat. "Seseorang ngerusak kamera gue, May."

Dunia Arlan serasa runtuh. Kamera ini adalah jantungnya, satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan dunia luar secara aman. Tanpa lensa yang jernih, setiap foto yang ia ambil akan memiliki bayangan garis yang mengganggu—sebuah "cacat" permanen pada setiap karyanya.

Maya mendekat, matanya membelalak melihat kerusakan itu. "Kapan terakhir kali lo megang kamera ini?"

"Tadi pas jam istirahat. Gue ninggalin tas di loker sebentar buat ke toilet," Arlan terduduk lemas di kursi kayu. "Dia berani ngerusak barang gue. Dia mau gue berhenti motret."

Arlan menatap lensa yang rusak itu dengan pandangan nanar. Baginya, goresan itu bukan sekadar kerusakan fisik; itu adalah simbol bahwa "jarak aman" yang ia jaga selama ini telah ditembus secara paksa. Sang pencuri momen itu kini telah berubah menjadi perusak momen.

Selama dua hari berikutnya, Arlan kehilangan gairahnya. Ia tidak lagi membawa kamera ke sekolah. Ia kembali menjadi Arlan yang dulu—si pendiam yang tenggelam di balik tudung jaket denim, namun kali ini dengan aura yang lebih kelam. Pameran sekolah tinggal menghitung hari, dan Arlan adalah koordinator visualnya. Tanpa karya baru darinya, pameran itu akan terasa hambar.

Maya tidak tinggal diam. Ia mendatangi Arlan yang sedang melamun di bangku taman sekolah yang sepi.

"Sampai kapan lo mau begini, Lan?" tanya Maya tanpa basa-basi.

"Lensa gue rusak, May. Setiap foto bakal ada garisnya. Gue nggak bisa bikin karya sampah buat pameran kita," jawab Arlan tanpa menoleh.

"Terus lo mau nyerah gitu aja? Itu yang dia mau! Dia ngerusak lensa lo supaya lo nutup diri lagi!" Maya duduk di sampingnya, suaranya naik satu oktaf. "Kakek lo nggak bakal bangga liat cucunya nyerah cuma gara-gara satu goresan di kaca."

Arlan tersentak mendengar nama kakeknya disebut. Ia meraba kerah jaket denimnya, mencari noda kimia yang menjadi saksi sejarah keberanian kakeknya.

"Goresan itu emang ada, Lan. Tapi lo fotografer, bukan cuma tukang pencet tombol. Gunain goresan itu!" seru Maya lagi. "Bikin itu jadi bagian dari ceritanya. Lo selalu bilang hidup itu blur dan nggak sempurna, kan? Kenapa sekarang lo malah nuntut kesempurnaan?"

Maya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kamera analog tua milik ayahnya yang sudah lama tidak dipakai. "Pake ini kalau lo emang takut pake kamera rusak lo. Tapi gue mau lo balik ke gudang sore ini. Kita punya pameran yang harus diselamatin."

Kata-kata Maya seperti tamparan bagi Arlan. Ia menatap kamera analog di tangan Maya, lalu beralih menatap kameranya sendiri yang tersimpan di tas. Ia menyadari satu hal: selama ini ia memuja alatnya melebihi pesannya.

Sore itu, Arlan kembali ke gudang seni. Ia tidak menggunakan kamera pemberian Maya. Ia mengambil kameranya sendiri yang lensanya tergores. Ia mulai bereksperimen. Ia sengaja mengarahkan lensa yang rusak itu ke arah cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela.

Hasilnya mengejutkan. Goresan pada lensa itu menciptakan efek flare yang unik—sebuah garis cahaya panjang yang dramatis yang justru memberikan kesan puitis pada setiap objek yang ia potret. Goresan itu tidak lagi merusak foto; ia justru memberikan karakter yang tidak bisa ditiru oleh kamera mana pun.

"Lo bener, May," gumam Arlan sambil melihat layar LCD-nya. "Cacat ini... justru yang bikin fotonya jadi jujur."

Di tengah semangat barunya, Arlan juga mulai menyusun rencana. Ia menyadari bahwa perusak kameranya pasti adalah orang yang tahu kode lokernya atau orang yang cukup dekat untuk memperhatikan kapan ia meninggalkan tasnya.

Bersama Maya, ia mulai memperhatikan gerak-gerik siswa di sekitarnya. Di mading sekolah, Arlan menempelkan sebuah foto baru. Bukan foto pemandangan, melainkan foto lensa kameranya yang tergores, dengan latar belakang bayangan seseorang yang samar di koridor. Di bawahnya, ia menulis:

"Lensa yang tergores tidak akan mengaburkan kebenaran. Sampai jumpa di hari pameran, di mana setiap bayangan akan menemukan wajahnya."

Arlan menyadari bahwa ia sedang memancing keluar sang pengintai. Ia tidak lagi takut menjadi subjek pembicaraan. Ia justru mengundang sorotan itu agar sang pencuri momen merasa terdesak.

Persiapan pameran kini menjadi lebih dari sekadar tugas sekolah. Ini adalah perlawanan. Arlan mulai memotret Maya di tengah kesibukannya menyiapkan kanvas, menggunakan lensa yang tergores itu. Hasilnya adalah seri foto yang ia beri judul "Ketangguhan dalam Kerusakan". Garis cahaya yang tercipta dari goresan lensa itu seolah-olah menjadi benang merah yang menghubungkan setiap momen.

"Gue bakal cari tahu siapa dia di hari pameran nanti, May," kata Arlan dengan nada yang kini lebih mantap. "Dia pasti datang. Dia nggak akan melewatkan kesempatan buat liat karyanya—kerusakan yang dia buat."

Lini masa Arlan kini memasuki fase paling krusial. Goresan pada lensanya bukan lagi sebuah luka; itu adalah medali keberaniannya. Si pendiam berjaket denim kini siap bertarung di tempat terbuka, memamerkan kekurangannya sebagai kekuatan terbesar yang ia miliki.

Malam itu, di kamar gelap sekolah, Arlan mencuci film terakhirnya dengan senyum tipis. Ia menyadari bahwa terkadang, untuk mendapatkan gambaran yang paling jelas tentang hidup, kita memang harus membiarkan lensa kita sedikit tergores oleh kenyataan yang pahit.

"Ayo kita buka pamerannya," bisik Arlan pada keheningan ruangan yang merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!