Wajib Follow Sebelum Baca.
" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.
Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.
Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.
Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.
La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.
Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.
Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.
( Bismillah semoga rame 🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : Yang Ku Mau Hanya Kamu
" Cinta tidak selalu perlu kata-kata rumit. kadang yang terpenting adalah berani mengungkapkan apa yang ada dihati - karena terkadang orang yang kamu cintai juga sedang menunggu mu.
...
Hari itu, Langit cerah.
Tapi Valerie merasa... kepalanya lebih cerah lagi.
Karena sejak pengakuan Matthew di lab 7,semua terasa aneh. bukan aneh yang buruk, tapi aneh yang bikin Jantungnya nggak bisa tenang.
Matthew tidak gangguin dia dengan cara menyebalkan lagi.
Sekarang ganguan nya beda.
Lebih halus.
Lebih.. bikin Valerie nggak siap.
Pagi itu,Valerie baru sampai kelas IPA 1.
Baru duduk.
Baru buka tas.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mendarat di mejanya.
Sebungkus kecil permen minit premium, brand mahal yang biasanya cuma di jual di butik makanan internasional.
Valerie menatap benda itu lama.
Lalu menoleh kearah Matthew.
Cowok itu duduk santai, tangannya di saku, Pura-pura nggak lihat.
Valerie meangkat permen itu.
" Matthew... " pangil Matthew pelan.
Matthew menoleh pelan.
" Apa? "
Valerie meangkat alis. " ini apaan? "
Matthew menjawab datar, tapi bibirnya nyaris senyum.
" Buat lo. "
Valerie menatapnya tajam.
" Ngapain? "
Matthew menatap Valerie, kali ini serius.
" Soalnya gue ingat lo suka yang mint. "
Valerie membeku.
Dia... Ingat?
Hal kecil itu... bahkan Valerie sendiri jarang ngomong ke orang lain.
Nara yang duduk di samping Valerie langsung menahan tawa sambil nutup mulut.
" Wah, " bisik Nara. " udah gawat nih. "
Valerie mencubit Nara, tapi pipinya merah.
Valerie kembali menatap Matthew.
" Lo tuh aneh. "
Matthew meangkat alis. " Kenapa? "
Valerie menghela napas pelan.
" Biasanya lo nyebelin. sekarang lo jadi... perhatian. "
Matthew menyadarkan tubuh ke kursi.
" Emang lo maunya gue nyebelin lagi? "
Valerie mendelik.
" Enggak! "
Matthew tersenyum kecil.
" Nah. "
Valerie menduduk, tapi bibirnya tanpa sadar ikut melengkung.
...
Jam pulang sekolah.
Koridor NBHS selalu ramai. suara langkah sepatu, suara obrolan, suara tawa siswa-siswi elit yang hidupnya seperti nggak punya beban.
Tapi bagi Valerie...
Hari itu berat.
Karena dia merasa...
Matthew sengaja mengikutinya dari belakang.
Valerie berhenti di depan loker.
Matthew ikut berhenti.
Valerie menutup loker dengan keras.
" Apa sih? " tanya Valerie kesal.
Matthew meangkat bahu.
" Ngakak apa-apa. "
Valerie menatapnya.
" Lo ngikutin gue mulu. "
Matthew menatap Valerie balik.
" Iya. "
Valerie membeku.
" Lo ngaku? "
Matthew menangguk santai.
" Gue mau ngobrol. "
Valerie menelan ludah.
" Ngobrol apa? "
Matthew melangkah mendekat.
Valerie refleks mundur sedikit, sampai punggungnya menyentuh loker.
Matthew berhenti sangat dekat.
Terlalu dekat.
Aroma parfum tipis, maskulin, mahal.
" Matthew.." bisik Valerie, tegang.
" Lo takut? " tanya Matthew pelan.
Valerie mendelik.
" Gue nggak takut. "
Matthew tersenyum tipis.
" Boong. "
Valerie meangkat dagu.
" Terus lo ngomong apa? "
Matthew diam berapa detik.
Lalu suaranya turun.
" Val... "
Valerie menatapnya.
Matthew menelan ludah.
" Gue capek pura-pura. "
Valerie terdiam.
Matthew melanjutkan, nadanya serius.
" Gue capek jadi orang yang nyebelin cuma biar lo liat gue. "
Valerie membeku.
Jantungnya berdetak keras.
Matthew menghela napas.
" Gue nggak bisa liat lo dekat sama cowok lain. "
Valerie langsung menatapnya kaget.
" Emang gue dekat sama siapa? "
Matthew menatapnya tajam.
" Itu bukan intinya. "
Valerie menelan ludah.
Matthew mendekat lagi, lebih pepan.
" Intinya... "
Matthew berhenti.
Matanya tajam, tapi juga keliatan rapuh.
" Gue suka sama lo. "
Valerie membeku.
Sunyi.
Suara Koridor yang ramai terasa jauh.
Valerie menatap Matthew lama.
Lalu dia tertawa kecil, nggak percaya.
Matthew mengerutkan kening.
" Lo ketawa? "
Valerie menutup mulut, masih senyum.
" Gue cuma... nunggu lo ngomong itu dari kemarin. "
Matthew terdiam.
" Jadi... " Matthew menatap Valerie. " Jawaban lo apa? "
Valerie menarik napas dalam.
Lalu menatap Matthew tanpa ragu.
" Gue juga suka lo. "
Matthew membeku.
Matanya membesar sedikit, seperti dia nggak percaya.
Valerie menatapnya dengan wajah kesal, tapi manis.
" Kenapa lo kaget? "
Matthew tertawa kecil.
" Gue kira lo bakal nyuruh gue mati. "
Valerie memukul bahunya pelan.
" Idiot. "
Matthew mengenggam tangan Valerie pelan.
Valerie kaget.
Tapi dia nggak narik tangannya.
Matthew menatapnya serius.
" Jadi.. sekarang kita apa? "
Valerie menatap Matthew.
Detik itu, Valerie sadar.
Selama ini dia takut cinta.
Takut dikecewakan.
Takut jatuh.
Tapi Matthew...
Cowok yang awalnya dia benci..
Justru jadi orang yang bikin dia pengen percaya.
Valerie menelan ludah.
Lalu menjawab pelan tapi tegas.
" Kita pacaran. "
Matthew terdiam.
Lalu bibirnya melengkung.
Senyumnya lebar.
Senyum yang jarang banget muncul dari Matthew.
Matthew menarik tangan Valerie pelan, membuat Valerie makin dekat.
Valerie menatapnya.
" Matthew.. lo jangan macam-macam. "
Matthew tertawa kecil.
" Tenang. "
Matthew mendekat, suaranya rendah.
" Tapi gue pengen satu hal. "
Valerie menatapnya gugup.
" Apa? "
Matthew menatap bibir Valerie sekilas.
Valerie membeku.
Lalu Matthew berkata pelan.
" Gue pengen lo berhenti pura-pura kuat sama gue. "
Valerie menatap Matthew.
Matanya melembut.
Valerie menangguk pelan.
" Oke. "
Matthew tersenyum.
Lalu dia menduduk...
Dan mengecup kening Valerie dengan lembut.
Valerie membeku total.
Pipinya panas.
Jantungnya seperti mau meledak.
Matthew mundur sedikit.
Tatapannya lembut.
" Sekarang... lo resmi jadi milik gue, " ucap Matthew pelan.
Valerie langsung memukul dada Matthew.
" Gue bukan barang! "
Matthew tertawa.
" Iya, iya.maksud gue.. lo pacar gue. "
Valerie menduduk, menahan senyum.
_TBC_
...----------------...
Happy Reading All!