Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Mundur! Mundur sekarang juga!"
Teriakan itu tenggelam dalam deru turbin kapal tempur yang melintas rendah di atas kepala. Aspal jalanan di perbatasan Huangxi sudah tidak berbentuk. Retakan besar menjalar seperti pembuluh darah yang pecah, memuntahkan uap ungu pekat yang berbau logam dan belerang.
Tiga orang Awakened kelas A berdiri di barisan paling depan. Armor mereka berkilat tertimpa cahaya dari Rift yang menganga di langit. Di belakang mereka, ratusan mercenary mencengkeram senjata dengan tangan gemetar.
"Ini bukan Kategori 2," bisik salah satu kapten tim, suaranya parau. "Lihat densitas energinya. Ini bencana tingkat kota."
Rift Kategori 1 hanyalah retakan kecil, gangguan yang bisa diselesaikan oleh pemula. Kategori 2 mulai memuntahkan monster elit yang mampu meratakan satu kompleks perumahan dalam hitungan menit.
Tapi Kategori 3? Itu adalah bencana alam berjalan. Intensitas energinya mampu mengubah atmosfer satu kota. Udara menjadi berat. Oksigen terasa menipis, digantikan oleh partikel energi yang dapat mempengaruhi sekitar.
Sesuatu mulai merobek ruang dimensi.
Cakar raksasa, hitam legam dan bersisik tajam, muncul dari balik tirai cahaya ungu. Ukurannya sebesar bus tingkat. Setiap kali cakar itu bergerak, bunyi ruang yang terkoyak terdengar seperti kain yang digunting paksa.
"Tipe Raksasa," gumam seorang penembak jitu dari atas gedung. Tangannya yang memegang pelatuk senapan laser berkeringat dingin. "Kita tidak punya cukup Scarstone untuk menahan itu."
Scarstone mulai dikerahkan. Meriam-meriam besar di atas truk militer mulai mengisi daya. Bunyi dengung frekuensi tinggi memenuhi udara, memekakkan telinga.
Tembakan laser pertama dilepaskan. Sinar biru terang menghantam cakar itu, menciptakan ledakan cahaya yang membutakan. Namun, monster itu hanya meraung. Suaranya bukan seperti binatang, melainkan seperti gesekan ribuan besi yang berkarat.
Gelombang monster kategori 1 mulai tumpah ruah dari celah di bawah cakar tersebut. Mereka berlari seperti anjing gila, menabrak apa pun yang ada di depan mereka.
"Tembak! Jangan biarkan mereka mendekat ke zona warga!"
Di tengah orkestra kematian itu, sesosok manusia berjalan dengan langkah yang sangat ... biasa.
Ia mengenakan jaket dan celana kargo yang tampak sedikit kusam. Di tangannya, sebuah tablet menyala redup, menampilkan grafik energi yang terus melonjak melewati batas merah.
Ren tidak berlari. Ia tidak memakai armor. Ia bahkan tidak membawa pedang atau senjata api. Ia hanya berjalan, mengabaikan puing-puing bangunan yang jatuh di sekitarnya.
Sebuah drone pengintai milik AFC terbang rendah, menyorot wajahnya. Di pusat komando yang letaknya beberapa kilometer dari sana, seorang pria paruh baya dengan seragam penuh lencana terlonjak dari kursinya.
"Itu ... Ren? Apa yang dia lakukan di sana?!" teriak sang Ketua AFC Huangxi.
Ia meraih mikrofon komunikasi, menghubungkannya langsung ke drone. "Ren! Apa kau gila? Kembali sekarang! Itu area eliminasi total!"
Ren berhenti sebentar. Ia menatap ke arah drone yang berdengung di depannya, lalu menghela napas panjang. Suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan ledakan di latar belakang.
"Pak Ketua," ucap Ren datar. "Kalau kita menunggu Spatial Stabilizer dari pusat, kota ini akan hilang dalam lima belas menit. Aku punya rencana."
"Rencana apa?! Kau bahkan bukan petarung garis depan! Kau cuma manusia biasa dengan lisensi administratif!"
Ren terdiam sejenak. Ada keraguan tipis yang melintas di matanya, tapi itu bukan ketakutan. Ia hanya merasa malas harus menjelaskan hal ini.
"Intinya, tenang saja," pungkas Ren.
Ia mematikan jalur komunikasi secara sepihak.
Ren kembali melangkah. Kali ini ia sedikit mempercepat langkahnya—sebuah lari kecil yang terlihat kikuk, seperti orang yang sedang mengejar bus di pagi hari.
"Woi! Bodoh! Kembali!" teriak seorang mercenary kelas B yang sedang sibuk menebas monster kategori 1.
Si mercenary melihat seekor monster kategori 2, berbentuk seperti serigala dengan punggung sisik batu kristal menonjol, melompat ke arah Ren. Monster itu membuka rahangnya lebar-lebar, siap merobek leher Ren dalam satu gigitan.
Para prajurit di sana sudah membayangkan adegan berdarah. Mereka menunggu Ren hancur berkeping-keping.
Tapi keajaiban—di luar ekspektasi—terjadi.
Monster itu menabrak Ren, tapi alih-alih hancur, monster itu justru terpental seolah baru saja menabrak gunung baja yang tak terlihat. Ren bahkan tidak bergeming. Ia tidak menoleh. Ia terus berlari kecil menuju pusat Rift.
Sepucuk peluru nyasar dari kapal tempur menghantam punggungnya. Peluru itu hancur menjadi debu, sementara jaket Ren bahkan tidak berlubang.
"Dia ... dia mau bunuh diri?" bisik salah satu Awakened kelas A yang terpaku melihat punggung Ren.
Ren kini berada tepat di bawah cakar raksasa monster Kategori 3 tersebut. Tekanan gravitasi di sana begitu besar hingga tanah ambles sedalam sepuluh sentimeter. Namun, Ren berjalan di atas tanah yang hancur itu seolah ia sedang berjalan di atas karpet rumahnya.
Monster Kategori 3 itu menyadari kehadiran Ren. Makhluk itu mengeluarkan aura hitam yang mampu membusukkan tanaman dalam sekejap. Ia mengayunkan cakarnya, menghantam posisi Ren dengan kekuatan yang cukup untuk meratakan satu blok apartemen.
DUAARRR!
Debu dan puing membubung tinggi. Para Awakened menutup mata mereka. Kapal tempur di atas berhenti menembak sebentar, seolah memberi penghormatan terakhir bagi "orang gila" yang baru saja menjadi bubur itu.
Asap menipis.
Ren berdiri di sana. Utuh.
Ia sedang membersihkan debu di layar tabletnya dengan ujung lengan jaket. Wajahnya terlihat tidak nyaman.
"Aku selamat, untunglah," desahnya pelan.
Monster raksasa itu meraung bingung. Ia kembali menyerang, kali ini dengan rentetan serangan energi yang keluar dari pori-pori sisiknya. Ledakan demi ledakan terjadi tepat di titik Ren berdiri.
Namun, Ia terus berjalan maju, menembus kobaran api ungu dan kilatan petir dimensi. Langkahnya mulai mendekat, tidak cepat, hanya diusahakan.
Ia sampai di depan cahaya Rift . Batasan antara realitas bumi dengan dunia yang jatuh.
Ren menatap ke dalam kegelapan di balik Rift itu. Ia bisa merasakan ribuan pasang mata monster yang lapar menatapnya dari balik sana.
"Sepertinya di dalam sana lebih tenang daripada di sini," bisik Ren pada dirinya sendiri. Terkekeh, menyadari dirinya telah sampai di pintu utama kekacauan ini.
Tanpa menoleh lagi ke arah para prajurit yang masih melongo tak percaya, Ren melangkah masuk. Ia membiarkan tubuhnya ditelan oleh cahaya ungu pekat itu.