NovelToon NovelToon
And A Long Nightmare

And A Long Nightmare

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Supernatural / Romansa Fantasi-Non-Human / Horor / Tamat
Popularitas:24.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yura (Wulan Noviyanti)

Pada malamnya kau bermimpi, dan esok pagi mimpi itu sudah jadi nyata.

Ann Azalea harus menghadapi kenyataan bahwa mimpi buruknya muncul sebagai kenyataan. Pertemuannya dengan seorang hantu lelaki dan hilangnya banyak hal darinya, membawanya menuju kebenaran akan jati dirinya. Gadis Bali yang hidup tidak biasa. Kebenaran demi kebenaran yang menyakitkan mulai terlihat.

Dan, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk menikmati hasil karya berantakan yang ditulis seorang remaja berusia satu setengah dekade ini. Semoga para pembaca bersedia memberi kritik-saran yang amat berguna untuk pembangunan novel saya selanjutnya.

[HIATUS]

Arigatou Gozaimasu.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yura (Wulan Noviyanti), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(14) RWA BHINEDA

Aku masih belum kuat hanya untuk membuka mataku yang kelewat berat. Sayup-sayup kudengarkan suara tangisan. Kurasai tanganku ditabrak asap hangat yang kemudian memecah dan menyatu di udara sebagai aroma. Tanganku terasa dingin sekaligus panas. Dingin karena suhu tubuhku yang rendah, dan hangat karena genggaman tangan dengan kulit yang terasa keras dan kasar pada telapak tangan kananku. Aku menarik sebuah napas panjang yang kemudian mengundang sebuah pelukan. Rambut yang halus bergesekan dengan pipiku.

 

“Ann ...,” bisiknya pelan di sebelah telingaku. Suara parau Bapak menyadarkan pikiranku sepenuhnya.

Kubuka lebar mataku meski begtiu berat seakan semua beban hidup terkumpul di kelopak mataku. Cahaya perlahan masuk ke dalam mataku, yang memantulkan pemandangan warna putih plafon. Rumah sakit lagi ternyata. Namun, keberadaan tiga buah dupa yang terbakar di atas meja di sebelahku adalah sebuah kesalahan. Tak sepantasnya dupa dinyalakan untuk menemaniku.

Bapak mengecup keningku dan menyentil halus hidungku. “Untung ada Paman yang antar kamu ke rumah sakit,” ujarnya sambil mengusap air mata. Baru kali inilah kulihat mata Bapak basah.

“Paman sama bibi mana?” tanyaku dengan sekuat tenaga. Suaraku begitu samar dan hampir tak kedengaran.

Bapak menunjuk ke luar. “Baru datang setelah jemput Gusdek dari sekolahan. Sekarang mau jenguk kamu.”

“Aku mau Gusdek …,” pintaku dengan sedikit memaksa. Entah mengapa aku begitu ingin bicara dengannya. Keinginan itu tiba-tiba tebersit begitu saja. “Aku mau bicara sama dia,” tegasku lagi pada bapak. Ia mengangguk.

“Ya. Bapak cari mereka— “

“Aku mau Gusdek seorang. Aku akan bicara empat mata dengannya.”

Tanpa bicara lagi, Bapak melangkah menuju pintu. Dibukanya daun pintu dan kemudian menoleh kanan-kiri. Ia melambaikan tangannya dan menyebut nama keponakannya. Suara langkah kaki bocah menggema di lorong rumah sakit.

Sesaat kemudian, Gusdek melongok dengan malu-malu dari pintu. Kulemparkan senyuman padanya. Ia dengan ragu berjalan siput ke arahku. Bapak meninggalkan kami dan menutup pintu. Dan Bapak mencari jendela untuk mengintip pembicaraan kami.

“Gusdek ….”

“Kenapa, Mbok? Oh ya Mbok kenapa pingsan? Kenapa juga menangis sampai begitu? Gusdek takut kalau nanti Mbok Ann dibawa jauh sama ….”

“Husss! Gusdek, lihatlah Mbok. Lihat? Mbok ada di sini dalam keadaan aman, jangan khawatir lagi. Nah, kalau untuk masalah Mbok Ann yang jerit-jerit itu tadi ….”

“Kemarin lusa, Mbok.”

Beginilah jadinya jika penyakitan dan pingsan dalam waktu yang lama. Tanpa kusadari, sudah dua hari berlalu sejak diriku berteriak urak-urakan tanpa memedulikan orang lain di sekitarku. Jadi, setidaknya aku paham alasan mengapa Gusdek begitu takut kalau saja aku benar-benar pergi meninggalkan mereka dan menyusul Ibu ke alam sana.

Aku betuli penjelasanku barusan. “Ah, ya … lusa. Kalau untuk yang satu itu, Mbok tidak tahu. Yang penting sekarang, Mbok sudah sehat dan sebentar lagi akan pulang.”

Wajahnya mendadak tersipu, padahal tidak ada sesuatu yang menyebabkannya begitu. Aku kebingungan dengan perubahan air mukanya. Ia kemudian tercengir bangga.

“Anu … Mbok, Gusdek sudah jual lima sketsa, lho …. Aku kasi harga tiga ribu satu sketsa Calon Arang. Banyak yang beli!” ujarnya bersemangat. Itu rupanya yang menyebabkan rona pada pipinya.

Aku merasa bangga, meski menurutku harga yang dipasangkannya terlalu murah. Tapi biarlah demikian, yang penting ia merasa bangga dan siap berkarya setiap saat.

“Wah, hebat! Lebih rajin lagi membuatnya, ya?”

Kubelai rambut hitamnya yang pendek dan terasa kasar. Ia malas cuci rambut karena ia tidak suka dengan sampo. Kupikir agak aneh. Ia lebih senang mandi dengan air saja di sungai bersama kawan-kawan sepermainannya. Mereka biasanya akan pergi ke sungai kecil dekat sawah yang posisinya tak jauh dari rumah Bibi. Hampir tiap sore mereka akan menjemput satu sama lain. Di sungai nanti, mereka akan berenang atau bermain tembak-tembakan air dengan bedil bambu. Begitu cerita Gusdek dulu.

Gusdek tertawa geli dan terbuai dengan belaianku. Aku tahu kalau Bibi jarang sekali memanjakannya dengan perlakuan seperti yang sedang kulakukan sekarang, apalagi Mbok Ayik. Cuma paman yang memanjakannya. Itu pun cuma sebatas membelikannya mainan yang ia kehendaki. Kini akhirnya ia merasakan kelembutan yang biasa diberikan seorang ibu.

Mendadak, kulihat kepalanya bercahaya, terutama di ubun-ubunnya. Tanganku secara mendadak pula tak dapat digerakkan. Sinar menyilaukan mataku. Gusdek menyebut-nyebut namaku tanpa sadar sesuatu telah terjadi padanya, atau memang yang aneh itu aku. Bukan. Ini memang sudah lama terjadi padanya. Ia adalah seorang anak yang memiliki kelebihan, melik—indigo versi Bali.

Di dahinya yang lebar, samar-samar kulihat bayangan yang berbentuk senjata sang dewa perang kepercayaan umat Hindu, Dewa Indra yang senjatanya bernama Bajra itu tergambar di sana. Begitu pula sesosok pria kecil di dahinya. Aku bahkan tak menyadari kalau Gusdek ternyata sama seperti diriku. Tapi, ia memiliki rerajahan* yang sudah tergambar di keningnya sejak lahir.

“Akulah yang kamu sebut muridmu. Dan engkau adalah yang disebut guruku—ibuku. Akulah yang selalu menyembah pada kakimu yang suci. Segala ilmu kau berikan padaku. Meskipun engkau telah meninggalkanku Moksa tanpa memberitahuku, aku tetap menemani Ibu. Sekarang, Ibu kembali ke bumi untuk sebuah alasan yang bahkan tidak ada yang tahu. Seharusnya Ibu berstana di pamerajan, namun engkau malah terlahir kembali. Maka, aku sebagai anak muridmu akan mengikuti Ibu ke mana pun Ibu hendaki. Izinkanlah daku yang nista ini untuk selalu menjadi ekormu.”

Senjata Bajra di keningnya memudar berikut cahayanya. Tadi waktu terasa membeku untuk sesaat. Di waktu yang sesingkat itu, aku ingin bicara pada Sang Waktu dan membahas apa pun yang aku ingin tahu jawabannya.

Siapa lagi orang itu, apa ia bicara padaku, dan apa yang sedang dibicarakannya?

Mengapa aku bisa berada di dunia ini?

Gusdek asyik menatapi layar ponsel cerdas milik kakaknya. Suara yang keluar dari kotak persegi panjang tipis itu, kukenali suara hiruk-pikuk pergelaran Calon Arang sedang ia saksikan. Meski tak secara langsung menyaksikannya, radarku menangkap aura magis walau cuma sedikit. Agak ragu juga, barangkali karena kejadian mistis yang terjadi pada Gusdek di waktu yang berlalu barusan.

Setelah kejadian aneh itu, Mbok Ayik datang dan memberikan handphone-nya pada Gusdek untuk hiburan. Karena tubuhku lelah setelah mendengar suara pria itu. Aku seketika ambruk kelelahan ketika Mbok Ayik hendak mengajakku bicara. Ia sampai urung bercakap denganku.

Bagian nyunging di Calon Arang membuat bocah laki-laki di sebelahku yang tadinya bergeming, sekarang heboh dan sengit melihat adegan orang kesurupan yang menusuk sang penari Rangda dengan keris. Seusai pementasan Calon Arang yang sifatnya sakral, biasanya akan ada adegan tersebut. Topeng Rangda akan dilepaskan dari penarinya. Gamelan dimainkan dengan tempo cepat dan keras. Beberapa orang kemudian kerasukan makhluk halus. Mereka akan berlari ke arah orang-orang yang menyediakan keris untuk mereka. Mereka mengambilnya dan langsung menghunuskannya pada penari Rangda.

Tidak ada unsur kesengajaan dalam adegan tersebut. Semuanya nyata. Kerisnya adalah senjata tajam asli. Penusukan benar-benar seperti adegan peperangan. Penari ditusuk tanpa dilindungi pakaian tambahan apapun. Namun, penari Rangda tidak akan terluka meski belasan orang beramai-ramai menusukkan keris ke tubuhnya. Hal itu menandakan bahwa sang penari benar-benar dilindungi oleh kekuatan yang berasal dari Yang Kuasa sendiri.

Aku sendiri tidak begitu menyukai adegan nyunging, karena apapun yang berbau perang-perangan atau aksi semacamnya bukan seleraku. Bagian favoritku adalah ketika penari Rangda baru turun ke pentas untuk menari atau istilahnya mesolah. Para penyanyi wanita—sinden akan menyanyikan lagu yang mengiringi para penari Rangda saat memerankan dewa-dewi dengan gerakan tarian lemah gemulai maupun keras dan kaku. Irama lagunya begitu syahdu berpadu gerakan lemah lembut dari Rangda yang menggambarkan perwujudan seorang dewi.

Teringatlah aku pada angan-anganku ketika kecil dulu. Ann kecil pernah bermimpi menjadi penari Rangda. Entah untuk alasan apa. Melihat gerakan tariannya dan topeng seram berambut gimbal panjang tersebut selalu berhasil menarik perhatianku. Apalagi dialog Bahasa Bali Alus maupun Kawi membuatku semakin jatuh cinta. Meski menyeramkan, gadis kecil yang kira-kira memasuki usia lima tahunan itu tak bergidik ngeri seperti bocah lainnya.

Mata besar melotot, lidah panjang menjulur dengan api menyala-nyala, kuku-kuku panjang, rambut panjang tebal, simbolisasi usus yang seolah keluar dari perut, aku malah semakin menyukainya. Sayangnya, ibunda tercinta tidak pernah mengizinkanku menjadi penari Rangda.

Banyak tokoh yang kukenal dalam dunia Calon Arang di Bali, salah seorangnya adalah Pekak Rarem. Beliau digadang-gadang sebagai maestro penari Rangda Bali. Aku sering menontonnya ketika pertunjukan, walau lewat handphone Mbok Ayik yang tengah asyik digenggam Gusdek.

Selain Rangda, ada sebutan lain untuk topeng-topeng sakral simbolisasi dewa-dewi di Bali. Ada Barong dengan beragam jenisnya: Barong Ket, Barong Singa, Barong Landung, dan sebagainya. Ada juga yang serupa dengan Rangda, dinamai Rarung. Perbedaannya adalah warnanya. Biasanya, rambut sosok Rangda akan berwarna putih dan menggambarkan sosok janda yang sudah tua. Rarung adalah sosok wanita muda dengan rambut gelap.

Calon Arang sendiri sudah dikenal sampai ke manca negara. Dalam cerita Calon Arang yang beragam alurnya, yang paling sering yaitu pertarungan antara Barong dari kebaikan dengan Rangda yang berkebalikan. Mereka bermain di atas konsep Rwa Bhineda, dalam pengertian lain disebut Yin Yang.

Rwa Bhineda, dua sisi yang saling bertolak belakang namun senantiasa berdampingan dan saling menyeimbangkan. Baik-buruk, gelap-terang, begitulah dunia ini berjalan karena keseimbangan keduanya. Perbedaan bukanlah alasan untuk memisahkan, tapi harus disatukan dan diselaraskan agar seimbang. Bukankah dunia akan indah jika semuanya seimbang sesuai tarafnya masing-masing? Lalu, bagaimana dengan mimpi burukku yang berlebih tanpa penyeimbang?

Gusdek masih asyik menonton, sedangkan aku menyaksikannya duduk sambil tersenyum-senyum sendiri. Tentu saja aku hendak turut serta.

“Gusdek, Mbok mau nonton bagian mesolah,” pintaku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Ia mengutak-atik alat itu, barulah kemudian menyerahkannya padaku.

“Nih ….”

Kuambil ponsel itu dan kuperhatikan layarnya. Video diputar. Kudengarkan kidung Grindem yang mengiringi pelawatan yang tedun mesolah*. Tak sadar, bibirku ikut bergerak dan mengeluarkan suara pelan.

Ida Ratu ye mesolah

Mesolah ye mesolah

Mangda rahayu suci tur Nirmala

Ring sekala lan niskala

Panyegjeg jagaté sami

Terus kuulangi pupuh itu bersamaan dengan yang tengah kutonton. Aku tak sama sekali ketakutan melihat seramnya Rangda, justru merasa terpukau. Gerakannya lembut ayu karena memerankan seorang dewi yang halus perarainya. Beberapa menit kemudian, penari Rangda lainnya datang. Sesolahan Panca Dhurga membuatku membisu saking terpesona. Lagu pun berganti menjadi lagu yang biasa dinyanyikan anak kecil, namun awam digunakan untuk mengiringi tarian Rangda. Bibi Rangda.

 

Bibi bibi Rangda apang tulus karyan bibi

Bibi mejauman kelod kangin jumadané jegég léngsér

Sube jani kéto tiyang ngabe aled munyi

Sesangan kawon jaja sirat maduluran bungan durén

Durén durén ijo semangkané kuning gading

Kantilampa nguda salak nangka kaliasem mangeroncé

 

Video dengan cerita yang berbeda juga kusaksikan. Kisah mengenai Nyi Nateng Dirah dengan ilmu hitamnya yang termashyur. Terlihat beberapa penari Sisya menari dengan membawa kain putih bergambar. Memeragakan siswa dari Nyi Calonarang yang tengah berlari-larian. Kemudian, sang guru pun hadir di antara mereka.

Meski sudah lama tidak menyaksikan pertunjukan langsung, perasaan bosan tahu-tahu hinggap.

“Dek, Mbok mau nonton bagian lain.”

Ia mengambil ponsel itu dari tanganku, mengutak-atiknya sesaat, dan menyerahkannya kembali padaku. Ia tunjukkan adegan nyunging dan tersenyum lebar. Aku tak berniat untuk berkelahi dengannya. Lebih baik kunikmati saja sampai berakhir.

Selesai.

Batinku sesak akan rasa takzim dan takjub setelahnya. Entah angin mana yang meniup benih bunga hingga berlabuh di hatiku dan mengembangkan dadaku dengan kesenangan. Saking terpukaunya, aku tak sadar masih membeku dihadapan layar hitam.

“Loh, sudah selesai, Mbok?” tegur Gusdek menyadari tidak ada lagi suara dari HP yang kupegang. Cepat-cepat darah mengalir ke otakku dan memenuhi kesadaranku.

Kuserahkan benda itu kembali padanya. Dengan gerakan tangan, aku mengisyaratkan padanya untuk keluar.

“Mbok mau istirahat dulu, ya ....”

Ia menggumam sebagai balasan kemudian berjalan ringan ke pintu. Setelah bayangannya lenyap di balik daun pintu, kurebahkan tubuhku pada sandaran. Aku masih belum mau tidur lagi. Ribuan kalimat terbentuk tanpa sadar, memenuhi ruang memoriku, meledak-ledak hendak keluar mencerocos. Mereka semua hanya perasaan luar biasa ketika mataku dapat menyaksikan pertunjukan itu lagi. Aku paham itu berlebihan.

Lembutnya senja sesaat lagi akan berganti malam panjang nan kelam. Terutama hari ini. Kajeng Kliwon. Hal berbau supernatural akan tertangkap dengan mata dan pendengaran gaib dengan lebih jelas. Terutama orang-orang dengan ilmu leak-nya. Para penekunnya pasti akan unjuk gigi pada malam sakral ini. Menari-nari seakan tidak ada yang menandingi.

Dengungan Tri Sandhya mengiringi matahari ke balik tirai malam untuk beristirahat. Pukul enam sore hari ini lebih gelap. Mendung menjadi salah satu faktor penyebab. Alih-alih berdoa, aku malah melantunkan lagu Bibi Rangda sambil menginterpretasikan wujud Rangda dalam fantasiku. Sejenak, sosok wanita berpakaian serba putih dalam gambar Gusdek muncul. Aku berhenti bernyanyi. Sunyi.

“Ah, apalah artinya itu …. Lagi pula, mengapa aku memikirkannya coba?” gumamku sendiri.

“Rwa Bhineda, ya? Barong dan Rangda. Gelap terang. Baik buruk. Yin Yang. Semuanya bersatu. Purusa dan Pradana. Aku hanyalah bayangan, aku Pradana. Lalu, siapakah yang menjadi Purusa-ku? Apa aku boleh mengkhayal kalau Nomad adalah belahan jiwaku? Dimana cahayaku yang kucari selama ini?”

Kupejamkan mata. Meski terasa baru sedetik memejam, segera aku tersadar lagi. Semuanya masih gelap. Tahu-tahu, pendengaranku menangkap riuh ramai. Suaranya lebih ke gerutu dan kepanikan. Mbok Ayik dengan perut buncitnya berjalan tergesa ke arahku. Dan itu pasti sulit.

“Ann, bangun! Sudah jam sembilan!” tukasnya.

Aku bergeming. Untuk apa aku dibangunkan malam-malam?

Ia beralih dariku menuju jendela. Dengan kasar, ditariknya gorden penutup. Langit di luar masih gelap.

“Jam sembilan malam buat apa aku dibangunkan? Makan malam?”

Raut wajahnya serius, namun terselip panik dan bingung.

“SEMBILAN PAGI. Ini pagi, Ann!”

Aku terkekeh. “Aku mimpi mungkin ….”

“Percaya tak percaya, ini memang pukul sembilan pagi. Tapi … inilah masalahnya. Dari tadi, kami tidak melihat matahari, masih bintang di langit. Semua orang gila-gilaan mencari semua penunjuk waktu. Semuanya sama-sama menunjuk jam sembilan, pagi! Tuh, orang-orang pada heboh di luar!” cerocosnya. Matanya yang melebar meyakinkanku ia tidak tengah main-main.

Aku hanya mendesah pelan. “Oh ….”

Mbok Ayik semakin menjadi melihat tanggapanku yang setenang itu. Tentu saja akan demikian.

“Ann!” gertaknya. Pasti ia sungguhan marah padaku yang bersikap masa bodoh dalam kekalutan ini. Aku hanya mengangguk pelan.

“Ya, ya …. Ann percaya. Tinggalkan Ann sendiri. Oh ya, minta bapak bawakan makanan.”

“Kukira kamu bakal bilang ‘aku tidak perlu makan, toh ini mimpi’" cibirnya. Namun, ia tetap berjalan ke luar.

Beberapa menit kemudian, pengunjung selanjutnya adalah Bapak. Sesuai pesanku, Bapak membawakan talam. Di atasnya mangkuk ukuran sedang, sendok, dan segelas air putih.

“Makan malam!” serunya riang seolah aku tidak tahu.

“Ya … kemarin malam,” lirihku.

Bapak tak membalas. Disiapkannya meja kecil untuk menataki semangkuk bubur putih dengan taburan seledri dan kacang sangrai. Masih dapat kurasakan hawa hangat yang memenuhi mangkuk itu.

Tak peduli Bapak yang bergeming di tempat duduknya, aku segera mencomot sendok. Kuhancurkan formasi seledri yang rapi, menyatukannya dengan kacang sangrai. Kemudian, mencampur mereka dalam lembutnya bubur. Sesuap demi sesuap memenuhi lambungku yang kosong.

Mangkukku kosong. Isinya habis tertelan. Secara otomatis, Bapak berdiri dan merapikan bekas makanku.

Kulirik jendela, masih gelap. Bapak kemudian meninggalkanku tanpa berkata sedikit pun. Diam-diam, aku berusaha menggapai tongkat infus di kejauhan. Aku ingin berjalan ke jendela. Kemudian meneriaki matahari yang masih tertidur di ranjangnya. Memanggilnya agar bangun dan bekerja seperti biasanya.

Tunggu. Masih gelap.

Terasa layaknya déjà vu dari salah satu mimpi burukku. Inilah perwujudan nyata dari mimpi itu. Ketika aku terbangun dalam sebuah mimpi, dimana langit masih gelap. Bapak berseru lantang padaku. ‘Sembilan pagi.’

Aku tak lagi berniat untuk berspekulasi bahwa semua ini akan berakhir. Lebih baik begini saja. Biar Nomad tahu, kemudian dia datang untuk memarahiku pun tak masalah. Yang kuinginkan cuma dia. Biarpun aku jadi manusia teregois di dunia. Aku siap menyandang gelar itu.

Keseimbangan sudah kacau. Rwa Bhineda tidak akan lagi berlaku. Akhir. Tidak ada keseimbangan diantara dua kekuatan bersisian yang saling bertolak belakang yang menguntungkan, tapi sekarang saling ketimpangan.

Selamat saja.

Masa bodoh aku dengan decihan yang entah tertuju padaku atau pada malam panjang ini. Apa matahari gelap tempo hari itu kurang cukup? Saat inikah waktunya bagiku mencicipi satu dari ribuan kesalahanku lagi?

Di luar sana, hanya terdengar kericuhan manusia awam dan kebodohannya.

“Kenapa belum ada kabar dari pihak berwenang?!”

“Aduh Ratu Bhatara!”

“Dunia sudah mau berakhir!”

“Tolong cubit aku. Ini mimpi, kan?”

“Kaliyuga akan berakhir! Tobatlah! Hai semua, ingat dan sebut nama Tuhan!”

Aku tergelak sendiri tanpa ada satu pun orang menyadari. Kepanikan mereka yang terdengar dari komentar-komentar itu sangat lucu. Mereka khawatir, takut akan akhir zaman. Memang akan segera berakhir, bukan? Coba tebak, ini salah siapa? Biar kubantu kalian mencari dalang dari semua masalah ini. Tunjuk aku.

Salahmu, Ann! Semua ini salahmu! Setelah satu kesalahan, bukannya berhenti, kau malah menindihnya dengan kesalahan lagi!

Suaranya manis, namun nadanya menggentarkan. Nomad memarahiku, aku justru senang. Sudah lama telingaku ini menanti untuk mendengarkan suaranya. Meski dengan nada membentak, suaranya jadi lebih menarik.

Ternyata, kemunculanku sebagai Nomad adalah rugi besar! Seharusnya, aku muncul sebagai malaikat pencabut nyawamu. Harusnya aku mau menjadi satu bagian dari utusan Yamadewa! Bukan sebagai sahabatmu.

Aku mendesis berusaha menahan tawa. “Itu salahmu!” bentakku sepelan mungkin. Takut Bapak tahu-tahu muncul di balik jendela.

 

Lalu, salah siapa yang meminta kehadiranku di dunia terkutuk ini? Tempatku bukan di sini, kamu yang memintaku. Itu salahmu. Mati-matian kamu serahkan segala-galanya pada Hyang Widhi hanya demi kemunculanku yang tidak kamu hargai lagi. Aku ingin mati. Aku tidak tahan tidak dihargai di sini!

 

“Siapa yang tidak menganggapmu? Kamu sahabatku, kan? Apa alasan itu kurang membuatmu merasa ada dan dibutuhkan?”

Benar, kurang. Aku masih meminta penjelasan dari seorang wanita bernama Anom Wulan yang kini katanya terlahir kembali sebagai Gusti Ayu Anom Bulan Azalea. Aku perlu jawaban darinya. Aku perlu ingatanmu. Setelahnya, aku tidak akan seperti ini lagi.

“Apa kamu akan kembali jadi Nomad sahabatku?”

Mungkin.

Meski terdengar kurang meyakinkan, ada sepuluh juta rasa yang tak mampu aku khianati. Seketika aku percaya dan semangatku menghentikan semua kekacauan ini hidup kembali.

“Sungguh? Kalau begitu … aku akan berusaha mengingat kembali semuanya. Apapun yang harus kulakukan, akan kulakukan! Janji.”

Janji adalah utang dan itu harus ditepati. Tapi, kamu bahkan belum melunasi janjimu dulu. Kamu bahkan melupakannya. Dasar penipu berbunyi manis.

Sejak kapan Nomad yang polos dan tengik ini bisa menyebutku seperti barusan? Nomad, bukannya mengurangi rasa sakit yang membara dalam hatiku yang selemah kapuk, kamu malah menuangkan minyak ke bara itu. Nomad, aku rindu dirimu yang dulu, yang menyebalkan seperti tengik.

Aku menyesal menyebutmu tengik, meski memang sangat tepat dan benar adanya. Aku menyesal, itu karena aku menyayangimu. Kalau perlu, anggap saja aku telah sangat-sangat mencintaimu.

Masih bimbang, diantara keyakinan atau khayalan. Bagiku, kamulah penyeimbangku. Purusa-ku. Rwa Bhineda akan segera bersatu. Kekuatannya akan menyeimbangkan dunia lagi. Tunggu aku. Kamu pasti sungguhan cahayaku. Nomad.

 

*Rerajahan: gambar atau tulisan suci yang sangat sakral.

*Tedun mesolah: turun untuk menari

.

.

.

.

1
Ryan Jacob
semangat Thor ditungggu karya-karyanya
francess
good job
dudodu
saya akan mendukung
Rian Cappuchino
Kak mampir yuk kenovelku.Judulnya "Ray Stardust."

Kutunggu kedatanganmu.

Terima kasih
Birulwalidain
aku udah mampir yaa, Oh iya thanks buat ceritanya, bagus banget!!!! apalagi kata - kata nya itu yg membuat ku teringat kembali dengan cerita buatan kakak ku dulu
Radin Zakiyah Musbich
up up up.... 🎉🎉🎉

ijin promo thor 🍿🍿🍿


jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",

kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿


jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️
Lestari Lestari Lestari
mau tanya boleh gak Thor?
nothing but regular human: iya kak
total 5 replies
Mr.black
semnagt kaka
nothing but regular human: Terima kasih ya
total 1 replies
IG : anissah_31
hai kak, semangat trs..
salam dr "Sang Pemuda" 😊
IG : anissah_31
Mampir yuk ke cerita aku..
"Sang Pemuda"
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, vote and coment.
Ev-
ssmangat terus!!!
boomlike ku mendarat, jangan lupa baca Juan, story geva dan ordinary life😊🤩
nrasyaaaa
Hai mampir ya ke cerita2 baru aku
Nunuy Hertati
waahhh msh abg dah bisa nulis....semangat say do'aku menyertaimu nak.
nothing but regular human: Terima kasih banyak 😄
total 1 replies
Srieaniez Ñew Srieaniez
kosakatanya bagus,,, semangat author,,,
nothing but regular human: Makasih banyak 😄
total 1 replies
Melia
Bahasanya keren banget yampun, penulisannya rapiiii 😭
nothing but regular human: Gak jga kok, msh pemula jga 😶
total 1 replies
Theira Version X
keren lanjutin lagi thor
nothing but regular human: Makasij 😄
total 1 replies
Miels Ku
kosakatanya miels suka banget
Miels Ku
yuraaa
miels mampir
Ria Ria
aku sudah mampir ya thor
Arumi Khazanah
Assalamualaikum....Maaf thor numpang promo🙏jangan lupa mampir lagi di karyaku

"Kasih Tak Sampai"
"Who I Am"

Dan jangan lupa kasih boom likenya, komenya dan vote

Aku tunggu....Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!