Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Kepedihan Hati Diandra
Diandra melangkah cepat meninggalkan hotel tempat Bagas dan sinta menorehkan luka dihatinya. Luka yang teramat dalam. Nina mengikuti Diandra dan merasakan kepedihan hati sahabatnya itu. Nina tahu Diandra sedang menahan tangisnya,Nina tahu Diandra sedang menahan amarahnya. Nina membiarkan Diandra untuk sedikit menenangkan hatinya,karena saat ini Diandra tidak butuh kata sabar,kata tenang,kata kata yang menguatkan karena Diandra sedang benar benar rapuh saat ini.
Mereka sampai dimobil yang terparkir di halaman hotel,Diandra masuk diikuti Nina. Dan di sanalah akhirnya Diandra menumpahkan air matanya,menangis sejadi jadinya. Nina hanya menunggu,menunggu sampai Diandra merasa lega,sambil dia perlahan mulai menjalankan mobilnya. Nina juga tidak mau bertanya akan ke mana mereka sekarang,Nina hanya ingin sahabatnya menangis sampai dia puas dan tenang.
Nina masih fokus di jalan,entah ke mana arah mobilnya saat ini,dia hanya ingin memberi ruang pada Diandra sampai Diandra merasa tenang.
1 jam berlalu,suara tangisaan Diandra menghilang. Diandra mengisap air matanya dengan tissue,sesekali menatap Nina yang fokus pada jalanan.
"Sejauh itu mereka sudah Nin" ucao Diandra tiba tiba terdengar berat.
"Aku gak nyangka banget,mereka sudah sejauh itu,yang tadinya aku berharap masih bisa memperbaiki semuanya,mau memaafkan dia,tapi ini sudah gak mungkin lagi"
"Nin,,,aku harus bisa melepas Bagas,aku gak mau maafin dia Nin,terlalu sakit hati ini"
Nina hanya fokus mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu,masih terus memberikan ruang pada Diandra agar Diandra bisa meluapkan segala kegundahan hatinya.
"Setega itu mereka,Sinta tau siapa Bagas,dan Sinta itu sahabat kita Nin,kenapa dia bisa seperti itu ke aku? Apakah karena 1 alasan itu? Aku belum bisa memberikan anak untuk Bagas?" keluh Diandra lagi dengan nada penuh amarah.
"Baru 4 tahun rumah tangga ini,tapi Bagas sudah menyerah" gumam Diandra lagi. Diandra merebahkan jok mobil agar dia bisa berbaring dengan nyaman. Pandangannya menatap kosong keluar jendela mobil,memandangi jalanan dari arah samping.
"Di,, " Nina memanggil Diandra pelan.
"Kamu belum makan kita cari makan dulu yuk" ajak Nina kemudian setelah sadar kalau perut mereka belum terisi sejak sore tadi,terutama Diandra. Nina gak ingin Diandra jatuh sakit dan otomatis Diandra pasti tidak ada selera makan karena menghadapi masalahnya ini.
"Aku tau,kamu pasti gak ada selera buat makan tapi aku gak mau kamu kenapa kenapa Di,kamu pasti banyak pikiran,kalau kamu gak isi perut kamu,nanti kamu sakit Di" jelas Nina pelan.
Diandra menatap Nina sendu,dan memberi isyarat dengan sedikit menganggukan kepalanya tanda dia ikut saja saran Nina.
Nina tersenyum kemudian mengarahkan mobil ke area rumah makan. Tidak sampai 5 menit akhirnya mereka sampai disebuah rumah makan sederhana. Dan setelah memarkir mobil mereka berdua turun kemudian masuk ke dalam. Setelah mencar cari tempat duduk mereka memesan menu makanan. Tidak banyak yang penting perut mereka terisi.
"Di,,nanti kamu gak apa apa di rumah sendirian?" Tanya Nina pelan sambil menatap sahabatnya itu penuh rasa iba.
"iya Nin,aku gak apa apa" jawab Diandra pelan.
"Di,,,aku tidak akan menanyakan apa rencana kamu selanjutnya setelah kejadian ini,tapi aku mohon sama kamu tenangin dulu perasaan kamu sampai kamu benar benar bisa berpikir jernih,sampai kamu bener bener bisa buat ambil keputusan yang terbaik buat kamu" jelas Nina kemudian sambil menyuap soto panasnya yang sudah tersedia diatas meja.
Diandra menopang sedikit kepalanya dengan tangan kirinya,sedang tangan kanannya hanya memainkan sendok di dalam mangkuk yang juga berisi makanan yang sama dengan Nina.
Air mata masih terjatuh dipipinya,tentu saja Diandra masih merasakan sakit yang begitu dalam,tentu saja ini bukanlah hal yang mudah untuknya.
Nina menatap Diandra,dia paham sekali dengan isi hati sahabatnya itu. Tapi Nina juga gak mau Diandra jatuh sakit karena larut dalam masalahnya ini.
"Di,,,makan yaa,harus isi tenaga,gak boleh gak makan. Kamu gak boleh sakit,gak boleh nyerah,gak boleh kalah sama keadaan" nasihat Nina kemudian memaksa Diandra untuk menyuap makanannya.
Diandra menatap Nina tanpa reaksi,menatap kosong dengan segala pikiran yang terus berkecamuk dikepalanya.
Perlahan dia menuruti permintaan Nina dan mulai sedikit demi sedikit menyuapkan makanana kedalam mulutnya,mengunyah perlahan tanpa ada rasa nikmat sama sekali.
"Di,untuk saat ini aku cuman minta kamu buat tenangin diri,istirahatkan pikiranmu sebelum kamu mengambil keputusan untuk kedepannya akan seperti apa" Nina mulai memberi masukan pada Diandra.
"Aku tahu kamu pasti belum bisa berpikir atau memutuskan sesuatu,makanya kamu harus tenangin hati dan pikiran kamu ya"
"Aku selalu ada untuk kamu" ucap Nina lagi memberi kekuatan untuk sahabatnya itu.
Lagi lagi air mata Diandra jatuh dan benar benar gak bisa untuk dia tahan lagi,Diandra terharu dengan ucapan sahabatnya itu.
"Terimakasih Nin,selalu ada buat aku" ucap Diandra pelan.