"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
“Assalamualaikum.” Salaku saat sudah sampai rumah, rasanya badan ini sudah lelah. Apa lagi kepalaku masih merasa sakit akibat ulah Dewi, dia bukan hanya menarik jilbabku saja sampai lepas. Namun rambut panjangku juga ikut tertarik olehnya.
Selesai semuanya, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Sambil menunggu mamah dan ayah pulang dari kantor. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, aku tidak sadar ternyata aku sudah tertidur pulas. Saking pulasnya aku melewatkan sholat dzuhur.
Buru-buru aku bangun, kuberjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selesai sholat zuhur aku langsung turun ke bawah untuk makan siang.
***
Esok paginya aku berangkat ke sekolah seperti biasa, lagi-lagi tidak ada rasa semangat untuk mengikuti ujian ini, padahal ujian kenaikan kelas begitu penting. Tapi mau gimana lagi, keadaanku benar-benar tidak bisa dipaksakan untuk semangat.
“Kalau lesu gitu, nanti enggak naik kelas loh,” ucap Alex menempelkan botol minuman ke arah pipiku, reflex aku menepis tangan dia membuat botol di tangannya terlempar.
“Astagfirullah!” jantungku hampir mau copot ada kak Alex menempelkan minuman botol ke pipiku, “ya Allah, Kakak!”
“Kamu kaget ya?”
“I-iya, maaf Kak, aku reflex tepis tangan Kakak, habisnya tiba-tiba Kakak bikin kaget saya.”
“Enggak apa-apa, kamu enggak usah minta maaf. Wajar aja kamu kaget.” Melihat botol jatuh ke lantai, lantas aku mengambilnya, saat aku sudah menyentuh botol itu. Tiba-tiba tangan Kak Alex juga ikut mengambil botol ini.
Alhasil tangan kami saling tersentuh, buru-buru aku menjauhkan tanganku karena tidak ingin tersentuh tangannya, tanpa kuduga dia menahan tanganku. Akhirnya kami berdua saling bertatap satu sama lain, ada desiran halus meliwati hatiku, jantungku semakin berdetak kencang tak kala ia menatap wajahku. Terlihat wajah Kak Alex begitu menyejukkan.
“Yuri, saya suka kamu,” lirihnya namun aku tidak dengar dia berkata apa.
“Hah, Kakak bilang apa?” tanyaku yang memang tidak dengar apa yang dia ucapkan barusan, perlahan Kak Alex melepaskan tanganku. Ia pun berdiri begitu juga dengan diriku ikut berdiri.
“Ini minuman buat kamu, biar kamu tambah semangat ujiannya. 'Kan sebentar lagi kamu mau naik kelas.”
“Terima kasih Kak.”
“Kalau begitu saya masuk kelas dulu ya.” Aku hanya menganggukkan kepalaku, ia pun berlalu pergi sampai punggungnya sudah tidak terlihat lagi.
“Lah, tadi dia bilang apa ya barusan?” tanyaku dalam pikiranku.
Sebelum Alex masuk ke dalam kelas, ia mampir dulu ke arah toilet. Di dalam toilet ia menghadap kaca. Wajahnya terlihat sangat merah, ia pun mengacak-acak rambutnya akan perbuatannya sendiri.
“Gila lo Lex! Bisa-bisanya lo bilang suka sama dia. Untungnya aja dia enggak dengar apa yang lo ucap, kalau sampai dia tahu lo suka sama dia gimana? Iya kalau dia terima cinta lo, kalau enggak gimana?” ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia begitu malu telah melakukan sesuatu di luar kemampuannya.
“Gue benar-benar enggak bisa kaya gini, biar pun gue enggak bisa jadian sama dia. Setidaknya gue harus ungkapi perasaan gue setelah kelulusan sekolah.” Selesai dari toilet ia langsung keluar menuju kelas, jam sudah menujukan pukul 8 pagi, sebentar lagi ujian mau di mulai.
Selama ujian berlangsung, Alex tidak bisa fokus sama sekali. Ia masih memikirkan Yuri dan perkataannya barusan. Hingga ujian selesai Alex tidak bisa mengejarkan soalnya dengan benar. Merasa kepalanya sudah panas ia pun memutuskan untuk pergi ke kantin.
Sampai kantin ia melihat ada Yuri sedang membeli camilan, melihat orang yang disuka ada di depan matanya. Membuat jantungnya berdetak kencang, bahkan wajahnya sudah merah seperti udang rebus.
“Woi!” tiba-tiba ada Doni merangkul Alex membuatnya kaget, merasa kesal dengan ulah temannya ini ia pun langsung memukul lengan Doni.
“Sakit!” Doni mengusap lengannya yang tadi dipukul oleh temannya.
“Makannya jangan bikin gue kaget dong!”
“Ya, tapi jangan main pukul juga kali, sakit banget gila!” Alex menghela napasnya, ia tidak peduli temannya merengek kesakitan, saat matanya ingin melihat Yuri kembali. Tahunya Yuri sudah tidak ada di sana. Alex kembali menatap temannya tadi, gara-gara dia, ia jadi kehilangan jejak Yuri.
“Gara-gara lo kan dia jadi pergi!”
“Lah, kok lo jadi salahin gue? Emang siapa sih yang pergi?” Malas meladeni temannya ini, Alex memilih untuk makan mie ayam.
“Lex, tunggu lah. Gue ikut.” Doni mengejar Alex yang sudah pergi jauh.
...
Tak terasa ujian yang dilalui seluruh siswa sekolah Kota X telah usai, aku dan Rara naik kelas 2.
Untuk seluruh anak kelas 3 sudah diumumkan oleh pihak sekolah dinyatakan lulus 100%, pihak sekolah mengadakan sebuah acara perpisahan untuk seluruh siswa.
Banyak sekali acara yang diadakan oleh pihak sekolah, semua anak siswa dan siswi turut hadir meriahkan acara ini.
“Halo, Ra. Kamu di mana? Aku sudah sampai di sekolah nih. Acaranya juga sudah mulai,” ucapku menghubungi Rara, padahal dia sendiri yang bilang jangan sampai telat datang tahunya malah dia yang datang terlambat. Hampir 20 menit aku menunggu digerbang sekolah, nyatanya ia belum juga datang.
“Maaf, aku baru bangun tidur."
"Astagfirullah! Kamu baru bangun tidur? Ra, ini sudah jam 11 loh. Masa kamu baru bangun, kamu bilang kita harus sudah sampai sebelum jam 11, kamu ini gimana sih.” Aku terus mengomel panjang lebar.
“Iya, Maaf ya. Aku berangkat sekarang deh.”
“Buruan! Jangan lama-lama, kalau kamu lama datangnya aku pulang aja ke rumah,” ancamku membuat temanku ketakutan, kalau tidak digertak seperti ini ia tidak akan datang. Saking kesalnya aku memutuskan sambungan teleponku.
“kalau tahu Rara datang telat, tahu gitu aku datangnya sore aja!” padahal aku ingin sekali berkeliling melihat acara pensi ini, tapi kalau sendirian aku malah bingung harus ke mana dulu.
Hampir setengah jam aku menunggu Rara, sampai sekarang batang hidungnya belum juga kelihatan. Mau sampai kapan aku harus menunggu dia.
Padahal rumahnya dekat dengan sekolah, tapi kenapa datangnya lama banget sih!
“Yuri!” Terlihat Rara berlari ke arahku, akhirnya bocah tukang molor datang juga.
“Ya, Allah! Kamu lama banget sih datangnya. Hampir 1 jam loh aku tunggu kamu di sini!”
“Maaf banget ya, tadi sedikit ada masalah. Makanya aku datangnya lama, sebagai permintaan maafku, aku traktir kamu beli jajan ya.” Rara mencoba merayuku agar aku mau memaafkan dirinya, tapi kalau dia mau traktir aku jajan, boleh lah dibicarakan baik-baik.
“Ayo,” ajaknya sambil menarik tanganku. Selama acara aku selalu mampir ke tempat makanan dan minuman.
Di sini banyak sekali yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, bukan hanya minuman saja yang dijual. Ada barang-barang kerajinan tangan juga yang di jual di acara pensi ini.
“Ra, kita duduk dulu ya. Aku cape banget dari tadi keliling terus,” keluhku yang sudah tidak kuat lagi untuk jalan-jalan menikmati acara ini, ditambah cuacanya yang begitu panas.
"Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Aku mau keliling lagi.”
“Kamu enggak cape Ra?” Ia menggelengkan kepalanya, tandanya ia masih kuat untuk mengikuti acara pensi ini, aku tercengang melihat stamina Rara yang tidak ada capenya.
“Sudah ya, aku mau lanjut keliling.” Akhirnya temanku pergi meninggalkanku sendirian di sini.
"Hayo! Makan enggak bagi-bagi ya" ucap Doni membuatku kaget.
“Astagfirullah! Kak Doni!” kuelus dadaku yang tadi kaget, untung saja aku sedang tidak minum. Bisa-bisa aku tersedak minum.
“Maaf, kamu kaget ya.”
“Iya, jangan suka bikin kaget orang dong,” gerutuku, tapi dia nya malah ketawa aja.
“Kamu sendirian aja di sini? Rara mana?”
“Dia lagi keliling.”
“Hoh.” Selesai berbicara dia langsung duduk di sampingku, tapi kalau di sini ada Kak Doni, itu artinya ada Kaka Alex di sini. Seketika mataku mencari ke sana kemari, siapa tahu dia ada di sini.
Dan tepat dugaanku, dia datang ke sini. Ia berjalan ke arahku. Mataku terus saja melihat ke arahnya, dalam hatiku aku senang bisa melihat dia. Di sisi lain, aku sedih karena tidak bisa melihat lagi di sekolah ini.
“Doni!” panggil Alex.