NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Setelah melewati akhir pekan yang tenang, hari Senin yang melelahkan pun dimulai kembali...

Aku melewati kehidupan sekolahku dengan baik. Elma juga tidak pernah menunjukkan gelagat aneh di kelas, seolah dia sudah sepenuhnya melupakan insiden memalukan di toko buku akhir pekan lalu. Begitu bel pulang sekolah berdering nyaring, aku segera melesat menuju kafe keluarga seperti biasa. Aku mulai terbiasa dengan rutinitas bertemu dengan Maya di setiap hari Senin sepulang sekolah. Tidak ada lagi rasa keterpaksaan di dalam hatiku, terlebih untuk hari ini. Ada satu hal krusial yang harus kutanyakan padanya.

"Hei, kamu ingat gadis bernama Elma?" tanyaku tepat setelah kami memesan paket all you can eat di kafe tersebut.

Maya mendadak menghentikan gerakannya. Dia terdiam menatapku selama beberapa saat dengan raut wajah yang tampak kebingungan.

"Elma? Nama yang aneh," jawabnya pendek. tidak lama kemudian, dia malah menyodorkan piring kosong dan menyuruhku mengambilkan makanan serta minuman di bufet. Alhasil, interogasi penting ini terpaksa ditangguhkan sementara waktu.

Aku bangkit dari kursi lalu berjalan menuju bufet untuk berburu beberapa camilan dan minuman yang tersedia. Setelah mengamankan porsi yang cukup banyak, aku buru-buru kembali ke meja karena rasa penasaran tentang kepingan ingatanku yang hilang mengenai Elma sudah berada di ubun-ubun. Aku meletakkan makanan dan minuman di atas meja, lalu kembali duduk seraya menatap lekat Maya yang sedang asyik menyedot teh manisnya.

"Maya juga nama yang aneh, kok. Antara kamu ini manusia nyata atau sejenis makhluk gaib," sindirku telak. Maya hanya memutar bola matanya jengah, tetapi dia tampak mulai berusaha keras untuk menggali memori tentang nama yang kusebutkan tadi.

"Dia itu tipe cewek nakal dari kelasku. Rambutnya pirang panjang dan dandanannya selalu mencolok saat di sekolah. Penampilannya selalu menjadi pusat perhatian karena dia memang cantik dan menawan. Bagaimana? Apa kamu pernah melihat atau mengingat sesuatu tentangnya?" tanyaku lagi, mencoba menyuntikkan petunjuk yang lebih spesifik. Maya meletakkan tangan di dagunya, tampak berpikir dengan sangat keras sampai dahinya berkerut.

"Entahlah... aku tidak ingat sedikit pun..." gumam Maya pelan. Aku menghela napas panjang lalu melampiaskan kekecewaanku dengan meminum cola dingin dari gelasku.

"Kenapa? Kamu suka ya sama dia?" tanya Maya dengan nada menggoda yang terdengar sangat menyebalkan.

"Uhuk! Uhukk!!" Aku tersentak kaget sampai tersedak hebat. Cola yang baru saja masuk ke tenggorokanku menyembur brutal keluar dari mulut, bahkan ada yang sukses menembus hidungku. Perihnya luar biasa!

"Mana ada! Gadis berandal itu dengan blak-blakan bilang kalau aku ini menjijikkan, dan dia terang-terangan mengancam akan memukulku sampai babak belur kalau aku mengajaknya bicara!" bentakku sambil batuk-batuk.

Maya bukannya prihatin, malah tertawa terpingkal-pingkal di atas penderitaanku.

"Pertemanan model apa itu? Kok bisa-bisanya kamu lebih cepat mendapatkan musuh baru daripada mencari satu saja teman normal?" tanya Maya di sela-sela tawa bahagianya.

Aku sibuk mengelap sisa-sisa cola yang membanjiri meja dan wajahku menggunakan tisu sebelum bisa membalas pertanyaannya.

"Ada hal aneh yang terus menggangguku. Sebenarnya, akan jauh lebih masuk akal kalau aku memang tidak ingat siapa itu Elma sejak awal," celetukku setelah keadaan meja kembali kondusif.

"Itu bukan kalimat yang sopan untuk diucapkan kepada teman sekelasmu sendiri, tahu?" ucap Maya menasihati. Dia malah membelokkan arah pembicaraan dan menceramahiku seolah-olah dia adalah ibuku.

"Bodo amat! Dengarkan aku dulu!" bentakku agak meninggikan suara. Maya kembali terkekeh sejenak, lalu memasang ekspresi wajah serius, menandakan dia siap menyimak dugaanku.

"Kamu kan kenal banyak orang di sekolah. Menurutku, setidaknya kamu pasti tahu jajaran siswa yang memiliki penampilan menawan, kan? Jika diibaratkan sebuah piramida sosial, posisi Elma berada di puncak tertinggi bersamamu dalam urusan visual karena dia sangat cantik. Tapi, kalau siswi sepopuler kamu saja sampai tidak tahu siapa itu Elma... bukankah hal itu sangat tidak wajar?" jelasku panjang lebar. Maya kembali mengetuk-ngetuk dagunya, mencoba mencerna analisis logisku.

"Hmm... iya, aku paham maksudmu. Elma, ya...?" gumam Maya pelan, mencoba meraba-raba nama itu di dalam benaknya.

Sembari menunggu Maya berpikir, sebuah memori samar tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalaku mengenai Elma. Jujur, hanya ada satu potongan gambar yang muncul, tetapi bentuknya sangat kabur dan sukses membuatku makin kebingungan. Di dalam kilasan memori itu, aku yakin pernah melihat Elma duduk sendirian di pojok kelas yang sepi—sama persis seperti posisiku biasanya. Ruang kelas saat itu kosong melompong, dan logisnya hanya akan ada aku di sana. Namun, siang itu berbeda. Aku melihat gadis ekstrover yang selalu dikelilingi banyak orang itu... sedang duduk menyendiri dalam keheningan...

Soal kapan tepatnya peristiwa itu terjadi dan apa alasan mendasar yang membuatnya tiba-tiba menjadi penyendiri, aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Teman-teman gengnya yang biasa menempel bak prangko pun tidak kelihatan. Aku benar-benar kehilangan detail kejadiannya. Bahkan sekarang pun, memori itu terasa seperti fatamorgana yang tidak bisa kuraba tujuannya. Aku tidak mengerti kenapa otakku memilih untuk menyimpan potongan gambar membingungkan tersebut.

"...Ya sudahlah, lupakan saja. Maaf aku menanyakan hal aneh. Mungkin memang tidak ada alasan khusus di baliknya. Bisa saja aku hanya sekadar lupa padanya meskipun kami berteman sekelas selama satu tahun penuh," celetukku memecah keheningan. Maya masih saja tenggelam dalam lamunan panjang bahkan setelah aku menyerah.

Maya hanya diam menatapku dengan tatapan kosong, tampaknya teori ini ikut mengusik ketenangannya. Karena aku tidak ingin merusak sore ini dengan membahas konspirasi garis waktu yang rumit, aku memutuskan untuk mencairkan suasana. Sebelum itu, aku harus mengisi ulang gelasku dengan cola karena amunisi sebelumnya sudah telanjur kusemburkan ke meja. Begitu aku hendak berdiri, Maya tiba-tiba menahan pergelangan tanganku dan menyodorkan gelas kosongnya sendiri.

"Tolong isi ulang dengan teh manis, ya," perintahnya tanpa dosa. Aku mendengus kesal melihat kemalasannya yang sudah mencapai level akut itu.

"Kamu tidak pernah punya niat untuk menggerakkan kakimu dan mengisinya sendiri, ya?" sindirku. Namun, Maya tidak merespons. Dia kembali ke mode melamun, memikirkan keresahan yang kubawa tadi.

Aku memilih tidak mengganggunya lebih jauh. Aku berjalan membawa dua gelas kosong menuju mesin minuman otomatis; teh manis untuk sang putri, dan cola untukku sang pelayan. Sembari menatap aliran air soda yang perlahan memenuhi gelasku, sebuah hipotesis mendadak meledak di dalam kepalaku...

...Tunggu...

...Sepertinya aku mulai paham...

Sekarang semuanya masuk akal... rupanya ada sebuah pola sistemis dalam ingatan ini.

Jika suatu peristiwa di kehidupan kedua ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah terjadi di kehidupan pertamaku, maka aku dan Maya tidak akan memiliki memori apa pun tentang Elma. Sebaliknya, jika memori itu memang pernah eksis di lini masa lalu, maka di kehidupan saat ini pun rantai kejadian tersebut dipaksa untuk bermanifestasi kembali. Karena aku sempat membayangkan skenario menyenangkan di mana aku bisa mengobrolkan manga bersama Elma, hal itu mungkin bisa menjadi kenyataan jika aku berhasil menggerakkan roda takdir yang tersendat ini. Persimpangan takdir ini... aku harus menemukan pemicu utamanya!

...Aku memiliki misi baru: menggerakkan roda ingatan itu...

Keesokan harinya, pada hari Selasa... Aku memulai hari dengan sebuah misi khusus di sekolah.

...Aku harus menemukan pemicu ingatan itu, apa pun caranya...

Suasana kelas pada jam istirahat hari Selasa berjalan seperti biasa. Sepasang muda-mudi sekelas sudah mulai sibuk dengan koloni mereka masing-masing. Berkumpul, menyantap bekal, dan melemparkan lelucon bising yang sukses memekakkan telinga seorang serigala penyendiri sepertiku.

Normalnya, aku akan memulai ritual istirahatku dengan membeli camilan dan minuman botol di kantin, kembali ke kelas, lalu duduk manis di bangku milikku sembari melahap makanan ditemani manga yang sengaja kubawa dari rumah. Namun, hari ini ritual sakral itu harus kukorbankan demi misi rahasia.

Di dalam kelas... aku duduk tegak di bangkuku, berpura-pura tenang.

Dari posisi ini, aku melirik tajam ke arah belakang, tempat Sari sedang berkumpul bersama tiga teman ceweknya. Mereka adalah lingkaran pertemanan Sari. Sembari mengamati pergerakan mereka berempat, aku komat-kamit berdoa di dalam hati agar aksi mata-mata amatirku ini tidak ketahuan. Jangan sampai ada yang berteriak, "Kenapa kamu melirik-lirik kami? Bukannya baca manga wibu-mu seperti biasa? Menjijikkan!" Kalau sampai itu terjadi, reputasiku yang sudah di dasar jurang akan makin amblas ke inti bumi.

Sari... lingkaran pertemanannya masih sama persis seperti di kehidupan pertamaku dulu; mengobrol, bergosip, dan tertawa cekikikan tanpa henti. Memang, jika diadu urusan visual, geng Sari tidak secantik geng Elma, tetapi mereka tetap masuk kategori top tier untuk ukuran hierarki sosial di kelas ini. Sederhananya, geng Elma adalah peringkat satu, sedangkan geng Sari menempel ketat di peringkat dua.

Saat berkumpul, mereka biasanya akan mendadak heboh sendiri. Membuat video pendek bersama menggunakan ponsel adalah aktivitas rutin yang mereka lakukan selama tiga tahun penuh. Entah konten apa yang mereka buat dan diunggah ke platform mana, yang jelas, apa mereka tidak pernah merasa bosan melakukan hal tidak berguna seperti itu setiap hari?

Begitu Sari mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk mengambil sudut pandang video, aku langsung memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat menghadap meja. Aku tidak sudi masuk ke dalam frame.

Sangat menyebalkan! Apa Sari tidak pernah memikirkan nasib psikologis orang lain yang tidak sengaja tersorot oleh kameranya? Aku benar-benar berharap mereka menghentikan aktivitas egois itu. Rasanya pasti akan sangat menyakitkan jika video mereka viral dan ada netizen yang berkomentar, "Cowok kuper di latar belakang merusak pemandangan banget, deh." Sungguh, aku akan mengunci diri di kamar dan menangis semalaman kalau sampai melihat komentar sekasar itu.

Ketika suara kehebohan di belakangku mulai menyurut, aku tahu ritual pembuatan video mereka telah usai. Aku pun kembali menoleh ke belakang untuk melanjutkan pengamatan. Namun, sial tiada dua, mataku justru beradu pandang langsung dengan mata Sari.

Dia tersentak kaget, begitu pula aku. Dalam hitungan detik, raut wajah kaget Sari bermutasi menjadi ekspresi murka yang mengerikan. Aku hanya bisa mematung, mengamati perubahan otot wajahnya dengan pasrah. Tanpa membuang waktu, dia melangkah lebar-lebar menghampiri mejaku dengan aura membunuh.

Dalam hati aku membatin panik, 'Apa-apaan ini? Apakah ini skenario klise jatuh cinta pada pandangan pertama?! Jelas mustahil, bodoh!'

Perlahan tapi pasti, langkah kaki Sari makin mendekat. Aku hanya bisa berserah diri pada semesta jika tiba-tiba sebuah tamparan melayang ke pipiku. Toh, pada akhirnya tujuanku memang ingin memancingnya berbicara. Aku menduga kuat bahwa pemicu ingatan yang hilang ini ada pada diri Sari. Atmosfer kebencian yang dia pancarkan terhadap Elma terlalu pekat untuk diabaikan. Dari sudut pandang mana pun, aku tahu dia sangat tidak menyukai eksistensi Elma di kelas ini.

"Kenapa kamu melihat-lihat?! Menjijikkan tahu, enggak! Bisa hentikan mata-mata sialanmu itu?!" gertak Sari dengan nada mengancam yang dipenuhi amarah.

Aku menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungku, lalu menatapnya dengan ekspresi sedatar papan gilasan.

"Enggak ada apa-apa. Aku cuma mau bertanya sesuatu kepadamu. Boleh?" pintaku berusaha tenang.

"Ha?! Apa?!" sahut Sari ketus, suaranya naik satu oktaf karena tersinggung pria madesu (Masa Depan Suram) sepertiku berani mengajaknya bicara.

"Sari, apa kamu berteman baik dengan Elma?" tanyaku langsung ke inti sasaran, ekspresi wajah Sari sedetik kemudian benar-benar sesuai dengan tebakanku.

Dia membeku menatapku. Bola matanya melebar sempurna, memperlihatkan keterkejutan yang amat sangat mendengar nama itu lolos dari mulutku. Namun, perlahan tapi pasti, ekspresi syok itu segera diredam dan digantikan oleh tatapan penuh kebencian yang jauh lebih intens dari sebelumnya. Dia jelas-jelas sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar. Mungkinkah permusuhan ini dipicu oleh insiden tabrakan kemarin? Tidak, instingku mengatakan masalahnya jauh lebih dalam ketimbang alasan receh seperti itu.

"Hmp! Biasa saja," jawab Sari ketus. Namun, kerutan di dahinya berkedut hebat. Itu adalah sinyal valid bahwa dia sangat membenci Elma.

"Benarkah?" tanyaku lagi, mencoba memojokkannya agar dia mau jujur.

"Menyebalkan sekali, sih! Aku kan sudah bilang biasa saja! Masalah buatmu?!" bentaknya lagi, emosinya kini meledak sepenuhnya.

"Enggak," timpalku pendek.

Yah, mau bagaimana lagi. Ekspektasiku terlalu tinggi. Dia tidak akan mungkin membocorkan rahasia sensitif itu kepadaku karena kami tidak akrab. Jangankan akrab, berteman saja tidak. Untuk meneruskan obrolan ini pun aku sudah kehabisan kartu as. Namun, setidaknya setelah melihat reaksi agresifnya saat nama Elma disebut, aku bisa menarik kesimpulan awal: hubungan antara Sari dan Elma berada di titik fiksasi yang sangat buruk, meskipun aku belum tahu apa motif utamanya.

"Kamu itu biasanya sudah menjijikkan, jadi berhenti menatapku seolah aku ini mangsamu!" Sari melayangkan hinaan penutup yang menohok, lalu membalikkan badan dengan anggun untuk kembali ke koloninya.

"Kamu ngomongin apa tadi sama Raka?" tanya salah satu teman Sari begitu dia tiba di lingkaran gengnya. Suaranya sengaja dikeraskan, membuat obrolan mereka terdengar jelas di telingaku. Benar-benar situasi yang canggung.

"Enggak tahu, deh. Rasanya menjijikkan banget sampai aku mau mati," jawab Sari sinis, yang langsung disambut oleh gelak tawa renyah dari teman-temannya.

Haah... Rasanya asupan kata 'menjijikkan' yang kuterima selama beberapa hari terakhir ini dosisnya terlalu tinggi. Ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah hidupku, padahal kami masih berstatus siswa baru di semester pertama. Namun, di balik penghinaan tadi, aku berhasil mengamankan satu kepingan misteri yang kuperlukan: hubungan antara Elma dan Sari adalah bencana.

Meski begitu, ada kemungkinan rasa benci ini hanya bersifat sepihak karena aku tidak melihat tanda-tanda Elma membenci Sari. Apa aku harus menanyakan hal ini langsung kepada Elma? Tapi, mengingat ancamannya waktu itu, dia mungkin akan langsung melayangkan bogem mentah ke wajahku jika aku berani mengajaknya bicara di area sekolah. Aduh, aku harus bagaimana?

Aku melemparkan pandangan ke arah Elma yang sedang asyik tertawa bersama kelompoknya di barisan depan, berjarak sekitar lima bangku dari tempatku duduk. Di saat yang sama, memoriku malah memutar kembali bayangan wajahnya yang memerah padam menahan malu saat melontarkan ancaman tempo hari, "Awas saja kalau kamu berani mengajakku mengobrol di sekolah! Aku pukul kamu!"

Meskipun untaian kalimatnya tergolong kasar, entah kenapa aku merasa kalau Elma sebenarnya memiliki sisi kepribadian yang lembut jika saja aku bisa mengenalnya secara lebih mendalam.

Jika roda takdir ini berhasil bergeser, mungkin skenario indah di mana aku dan Elma bisa duduk berdampingan, mengobrol seru membahas manga, anime, dan novel dengan genre yang sama-sama kami gilai akan benar-benar terwujud. Namun, jika sejarah di kehidupan pertamaku menolak diubah, maka Elma akan menghilang dari sekolah ini... dan aku sama sekali tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya perasaanku jika tragedi itu terulang kembali.

Logikanya, dasar dari premis 'Kehilangan seseorang' adalah kamu harus mengawalinya dengan sebuah pertemuan. Hubunganku dengan Elma bahkan belum mencapai titik di mana aku berhak menggunakan frasa 'Aku kehilangannya'. Ini sungguh konfusi yang aneh...

...Biiip... Biiippp...

Suara getar intens disertai nada dering pendek terdengar dari saku celanaku. Aku merogoh ponselku dan mendapati sebuah pesan singkat masuk dari Maya.

Maya: Pertemuan darurat. Kamu tahu tempatnya, kan? Aku ingin membahas soal Elma.

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!