Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Wanita Hina
Penampilan Nina malam itu begitu memukau. Biasanya dia hanya mengenakan hotpants dan juga than top yang terlihat jelas lekuk tubuhnya, kini terlihat begitu anggun mengenakan gaun panjang dengan belahan sedikit namun terlihat begitu elegan. Rendra tak berkedip sedetik pun mengagumi kecantikannya.
"Kakak, aku sudah siap. Apakah kita bisa berangkat sekarang?"
Pria tampan dengan mengenakan tuxedo warna putih dipadu dengan kemeja berwarna denim terkesan begitu elegan nan tampan, sangat terlihat serasi keduanya.
"Kok bengong sih? Jadi berangkat nggak?"
"Ah..., i—iya." Rendra gelagapan menjawabnya. Begitu konyol, dia tidak bisa mengontrol diri saat berhadapan langsung dengan adik tirinya.
Begitu bersemangat pria itu berjalan mendahului Nina menuju garasi mobilnya. Nina langsung menunggunya di halaman dengan sesekali mengedarkan matanya ke arah gerbang, kepergiannya malam ini tidak diketahui oleh orang tuanya. Bukannya tak ingin berpamitan, tapi orang tuanya masih memiliki kesibukan di luar.
Tin..., tin...
Klakson berbunyi, mobil itu berhenti tepat di sebelahnya. "Ayo masuk?" Pria itu membukakan pintunya.
Nina menyibakkan belahan gaunnya dan melangkah masuk duduk di samping kemudi.
Wrung...
Suara mesin mobil mulai terdengar. Perlahan Rendra mengemudinya keluar dari halaman rumah.
Sepanjang perjalanan Nina hanya diam membisu bagaikan patung bernyawa. Dia terlihat begitu tak nyaman, mungkin karena kepergiannya tanpa berpamitan pada orang tuanya.
"Kenapa diam saja? Apa yang tengah kamu pikirkan?" tanya Rendra dengan fokus menyetir.
"Aku nggak enak aja tadi belum sempat pamitan. Bagaimana kalau nanti Mama sama Papa nyariin? Apa nggak sebaiknya kita tunggu sampai mereka pulang?"
Nina takut kena marah. Rendra diundang untuk menghadiri pesta dan pertemuan bisnis, sedangkan ia hanya mengekori tanpa memiliki tujuan yang jelas. Seharusnya Rendra pergi bersama ayahnya, bukan malah mengajaknya.
"Kalau kita nunggu mereka pulang mungkin sampai acaranya kelar," jawab Rendra. "Kenapa musti takut banget sih? Aku tadi udah pamit sama Papa ketika masih ada di kantor. Lagian..., Papa yang nyuruh kita pergi."
Bola mata Nina membulat. "Kamu serius Papa yang nyuruh pergi? Apa Papa memintaku untuk menemanimu?"
"Hm..., begitulah." Jawaban yang singkat membuat Nina ragu, ia hanya takut pria itu berniat untuk membodohinya saja.
Suasana hening kembali, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Dengan hembusan nafas berat, Nina memberanikan diri untuk bicara tegas.
"Kak, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu."
"Tentang apa?" tanya Rendra dengan matanya fokus tertuju jalanan yang lumayan ramai. Sudah biasa, setiap menjelang malam hari suasana kota begitu ramai oleh kehadiran para pemuda pemudi. Mereka begitu antusias menikmati kuliner yang disajikan di sepanjang jalan oleh pedagang kaki lima.
"Ini tentang kita, " jawab Nina pelan, namun masih bisa didengar.
"Tentang kita? Maksudnya gimana Nina?"
"Ya maksudnya kita nggak perlu menjalin hubungan dalam hal 'pacaran' aku nggak siap," tegas Nina.
"Kenapa?" tanya Rendra dengan satu alisnya terangkat.
"Ya nggak kenapa-kenapa. Aku hanya tidak ingin kedekatan kita membuat Mama dan Papa salah paham. Lagian kita ini adik kakak, mana pantas menjalin hubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua. Lebih baik kita menjaga jarak, jangan sampai menimbulkan kecurigaan."
Rendra menggumam dengan meremas setir mobilnya. "Menjalani hubungan layaknya adik Kakak tapi pernah berkeringat bersama. Lucu sekali. Kalau aku nggak setuju dengan pendapatmu bagaimana?"
"Kau ini!" Nina mendengus tak berhasil membujuknya. Kehadiran pria itu benar-benar membuatnya setengah gila. Masalah dengan mantan pacar belum usai ditambah dengan sikap Rendra yang terang-terangan ingin mengajaknya menikah itu bukanlah hal yang bisa diremehkan. Ia tidak bisa mengatasinya sendirian, ia juga tidak memiliki tempat curhat ternyaman untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang tengah dihadapinya.
Di sebuah gedung putih menjulang tinggi dengan deretan mobil mewah didepan Rendra menghentikan mobilnya. Disambut hangat oleh petugas parkir yang memintanya untuk menempatkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan.
"Kita sudah sampai, ayo kita keluar."
Pria itu membuka sabuk pengaman dan keluar membantu membukakan pintu mobilnya untuk adik tirinya.
"Kamu serius akan membawaku masuk ke dalam?" Nina terlihat begitu ragu untuk ikut bersamanya. Sebelumnya ia tidak pernah datang ke pesta orang penting. Ia bahkan tidak mengenali orang-orang yang ada di dalam gedung tersebut.
"Kenapa?" Satu alis Rendra terangkat. "Nggak usah takut, kan ada aku," tegasnya meyakinkan.
Tangan pria itu terulur mengajaknya keluar, dengan sangat terpaksa Nina memutuskan keluar agar tidak membuat kakak tirinya malu.
Semua orang yang ada di tempat itu tertuju padanya. Rendra maupun Nina terasa begitu asing, bahkan tidak satupun diantara mereka ada yang mengenalinya.
"Permisi, saya datang ke sini mewakili Pak Hermawan Kartajaya pemilik perusahaan Kartajaya group. Saya putranya pak Hermawan, Narendra Kartajaya." Pria itu memperkenalkan dirinya. Tidak banyak orang yang tahu Hermawan memiliki anak laki-laki dewasa, bahkan selama ini keluarganya sangatlah tertutup.
"Oh..., jadi anda ini putranya pak Hermawan? Tidak disangka, ternyata pak Hermawan memiliki putra yang sudah dewasa," celetuk salah seorang yang menjadi penyelenggara pesta. "Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke dalam. Di sana sudah tersaji berbagai macam hidangan. Jangan sungkan-sungkan, silahkan nikmati perjamuannya."
Rendra mengangguk hormat. "Terimakasih."
"Kalau begitu saya tinggal menemui tamu yang lain. Silahkan beristirahat dan nikmati apa yang disediakan."
Pria itu langsung melenggang pergi untuk menemui tamunya yang tengah berdatangan. Rendra mengajak Nina menuju pusat perjamuan, di sana sudah banyak orang yang tengah menikmati hidangan yang disediakan.
Drett... Drett...
Handphone Rendra bergetar dan dia langsung mengambilnya dari saku celananya. Dilihatnya profil sang ayah yang tengah menghubunginya.
"Em..., aku terima telepon sebentar, kamu tunggu di sini dulu ya? Nggak akan lama kok."
Tak banyak protes, Nina hanya mengangguk patuh. "Oke, tapi jangan lama-lama ya? Soalnya aku nggak nyaman di sini, nggak ada yang kenal."
"Oke siap. Janji cuma sebentar."
Rendra memutuskan untuk pergi ke toilet umum untuk menerima telepon dari ayahnya. Di luar begitu berisik, sangatlah tak nyaman untuk menerima telepon di sana.
Tinggal lah Nina sendirian di ruang perjamuan. Di sana dia melihat begitu banyaknya makanan, tentu semua orang bebas untuk menikmatinya. Sembari menunggu kedatangan kakaknya dia putuskan untuk mengambil sedikit kue yang menarik perhatiannya. Ia berniat untuk menikmatinya, namun secara tiba-tiba tangannya ditampel begitu keras oleh seseorang hingga membuat kue itu terjatuh ke lantai.
"Ups...., sorry." Nina menoleh ke arah seorang wanita muda yang tengah dikenalnya. Wanita itu memang sengaja ingin mempermalukannya.
"Kamu!" Tangan Nina terkepal dengan wajah merah padam.
"Kenapa? Mau marah?"
Wanita itu mendekat dengan satu tangannya mendorong pundak hingga membuatnya terhuyung.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini? Ini pesta elit, pestanya orang-orang berkelas. Kenapa bisa orang kampungan masuk ke dalam sini? Kamu sengaja menyusup ke sini untuk mencuri makanan ya? Dasar maling!" Wanita bernama Maura itu menepuk tangannya memanggil petugas keamanan. "Satpam! Cepat usir wanita hina ini dari sini!"