NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Sesampainya di rumah sakit, mobil itu berhenti di depan gedung utama. Tanpa saling menoleh, keduanya segera turun. Langkah mereka sama-sama cepat, namun suasana di antara mereka terasa begitu kaku.

Nathan berjalan lebih dulu menyusuri lorong rumah sakit, sementara Andin mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Suara sepatu mereka beradu dengan lantai keramik yang dingin, seolah menjadi satu-satunya bunyi di tengah kesunyian yang menekan.

Saat sampai di depan kamar rawat, langkah Nathan terhenti sejenak. Tanpa berkata apa pun ia membuka pintu. Andin yang berdiri di belakangnya langsung menoleh ke dalam.

Dan saat matanya menangkap sosok kecil yang terbaring lemah di atas ranjang, hatinya tak kuasa menahan tangis, rasa cemas dan khawatir kini mulai merayap di dalam dadanya.

“Darrel…,” lirihnya tanpa sadar.

Wajah anak itu pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus dari biasanya. Selang infus menancap di tangannya yang kecil.

Tanpa memikirkan apa pun lagi, Andin melangkah masuk mendekati ranjang itu. Namun sesuatu yang tak terduga justru terjadi.

Darrel yang sebelumnya hanya memejamkan mata perlahan membuka kelopaknya. Matanya yang sayu bergerak pelan… hingga akhirnya menangkap sosok perempuan yang berdiri di samping ranjangnya.

Beberapa detik anak itu hanya menatap. Seolah memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, lalu tiba-tiba saja wajah pucat itu berubah.

Matanya membesar.

“Mbak…!”

Suara seraknya terdengar jelas di dalam ruangan. “Mbak Kantin!”

Dengan tenaga yang tersisa, Darrel berusaha bangun dari tempat tidurnya. Tangannya langsung terulur mencari tangan Andin.

Perubahan itu begitu cepat hingga membuat semua orang di ruangan itu tertegun.

Baru beberapa saat yang lalu anak itu lemah tak berdaya. Namun sekarang, wajahnya justru terlihat hidup kembali.

Andin refleks meraih tangan kecil itu.

“Ya Allah, Darrel… kamu kenapa sampai begini?” ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca.

Anak itu menggenggam tangannya erat, seolah takut perempuan itu akan menghilang lagi.

“Aku pikir Mbak gak datang…,” gumamnya dengan napas pendek. “Darrel kangen…”

Ucapan sederhana itu membuat dada Andin terasa sesak. Ia mengusap pelan rambut anak itu dengan tangan gemetar.

“Tenang… Mbak di sini," katanya meyakinkan.

Namun suasana haru itu tidak dirasakan oleh semua orang di ruangan tersebut. Beberapa langkah dari ranjang pasien, Vivian berdiri dengan wajah tegang. Marcell di sampingnya pun menatap dengan sorot mata yang sulit disembunyikan.

Pemandangan itu justru membuat keduanya merasa tidak tenang.

Anak yang sejak tadi lemah… tiba-tiba terlihat jauh lebih tenang hanya karena kehadiran perempuan itu. Vivian menggenggam tasnya lebih erat. Dalam benaknya hanya ada satu ketakutan.

Jika ini terus dibiarkan… bukan tidak mungkin semua yang pernah mereka lakukan di masa lalu akan kembali terbongkar.

Tatapan wanita itu perlahan beralih ke arah Andin. Dingin dan penuh penolakan.

Andin yang sedang bersama Darrel begitu sadar jika tatapan wanita itu dari tadi tidak bersahabat dengannya. Namun berbeda dengan dulu…

kali ini Andin tidak menundukkan kepala. Ia tetap berdiri di samping ranjang Darrel, membiarkan tangan kecil itu menggenggam tangannya.

Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap lurus ke arah Vivian tanpa sedikit pun berniat mundur.

Jika dulu ia memilih pergi, kali ini tidak, bukan karena masa lalu. Melainkan karena anak kecil yang sedang menggenggam tangannya dengan penuh harap.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berlalu, Andin tidak lagi merasa perlu lari dari keluarga itu.

"Mungkin dulu aku kalah, melawan mu Nyonya Vivian," batin Andin menggerutu. "Tapi tidak untuk sekarang, bila perlu akan ku bongkar semua topeng mu,' batinnya lagi.

☘️☘️☘️☘️

Andin masih bersama Darrel, memeluk anak itu seolah dadanya menjadi sandaran ternyaman, tapi dibalik adegan hangat itu, sedari tadi tatapan Vivian tidak turun, wanita paruh baya itu masih saja memperhatikan perhatian Andin, begitu detail.

Vivian melangkah maju satu langkah, lalu menatap Andin dari ujung kepala hingga kaki dengan sorot mata yang sulit disembunyikan.

“Hm…,” gumamnya pelan namun cukup terdengar oleh semua orang di ruangan itu.

“Ternyata kamu masih saja pandai mengambil hati orang.” Kalimat itu terdengar seperti pujian, namun nadanya jelas penuh sindiran.

Andin mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu. Namun kali ini tidak ada lagi rasa takut seperti dulu.

Vivian melanjutkan dengan senyum tipis yang terasa menusuk.

“Belasan tahun menghilang… sekarang tiba-tiba muncul lagi,” katanya pelan.

“Dan yang kamu dekati justru cucuku.”

Marcell hanya berdiri di samping istrinya, sementara Nathan terdiam beberapa langkah dari mereka.

Darrel yang masih lemah memandang bergantian dengan bingung.

Andin menarik napas perlahan. Perempuan itu menatap lurus ke arah Vivian tanpa mengendurkan genggaman tangannya pada Darrel.

“Maaf Bu,” ucapnya tenang. “Tapi saya tidak pernah mengambil hati siapa pun.”

Vivian mengangkat alisnya.

“Benarkah?”

Andin tersenyum tipis.

“Kalau cucu Ibu merasa nyaman dengan saya… mungkin karena saya tidak pernah menilainya dari prasangka.”

Kalimat itu sederhana, namun cukup mencengangkan, Vivian langsung mengeraskan rahangnya.

“Andin!” desisnya. “Jangan pura-pura tidak tahu diri.”

Darrel menatap mereka dengan cemas. Namun Andin tetap berdiri di tempatnya.

Tatapannya tidak lagi menghindar.

“Sejak dulu saya selalu tahu diri, Bu,” jawabnya pelan. “Justru karena itu saya memilih pergi waktu itu.”

Kalimat itu membuat Vivian terdiam sejenak.

Nathan yang sejak tadi diam kini menoleh. Tatapan pria itu berubah sedikit.

Seolah kata-kata Andin barusan menyentuh sesuatu yang selama ini ia kubur dalam pikirannya.

Namun Vivian belum selesai.

“Pergi?” ulangnya dengan nada sinis. “Kamu menyebut itu pergi?”

Wanita itu tertawa kecil. “Atau sebenarnya kamu kabur setelah membuat hidup anakku hancur?”

Deg!

Darrel menoleh ke arah Andin, anak itu jelas merasa bingung, namun kalau dibilang polos, anak itu tidak terlalu polos-polos banget, ia bisa mencerna apa yang diucap oleh neneknya itu. Bahkan ia bisa merasakan ketegangan di ruangan itu.

Andin menunduk sejenak. Lalu perlahan kembali menatap Vivian. Matanya tidak lagi berkaca-kaca. Melainkan tenang.

“Terkadang,” ucapnya pelan, “orang yang paling keras menuduh… justru orang yang paling tahu kebenarannya.”

Ucapan itu membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.

Vivian membeku. Marcell langsung menoleh ke arah Andin dengan sorot mata tajam.

"Jaga ucapanmu!" desis Marcel.

Andin kembali menatap samar. "Aku selalu menjaga ucapanku, bahkan sampai sekarang masih terlalu hati-hati belum terpeleset," sahutnya lebih menohok.

Nathan sendiri hanya berdiri diam. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Andin bukan sebagai perempuan yang dulu ia benci. Melainkan seseorang yang menyimpan sesuatu yang belum pernah ia ketahui.

Sementara di atas ranjang, Darrel menggenggam tangan Andin lebih erat.

“Mbak jangan pergi lagi ya…,” gumamnya lemah.

Kalimat itu terdengar sangat sederhana. Namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu kembali terdiam.

Bersambung ....

1
Lisa
Puji Tuhan sekarang Andin punya rumah sendiri juga ntar lg usaha restoran..semangat y Andin utk usaha barunya..moga hubunganmu dgn Nathan terjalin kembali..
Nar Sih
semagatt andin 💪pikir kan ucapan nathan kalian msih saling cinta ,saat nya kalian bersama lgi pasti darel seneng punya ibu seperti mu ndin
kaylla salsabella
bagus itu max... jangan mau bantu Marcel
kaylla salsabella
lanjut thor😍😍
falea sezi
woy andien pergi jauh tolol
falea sezi
goblok mending pergi jauh ngapain baik ke anak mantan ogah bgt
Lisa
Ayo Andin buka hatimu utk Nathan & Darrel
Nar Sih: setujuu kak ,biar darel punya ibu lgi
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan entah apa nanti reaksi Darrel kalo tahu mbak kantin kesayangannya pergi atau terluka,,,
Sugiharti Rusli
entah apa yang sedang dia rencanakan sekarang di saat kamu sedang menemui teman kamu di kafe sekarang
Sugiharti Rusli
dan sekarang di saat putra kamu sangat membutuhkan kehadiran Andin, ibu kamu sedang merencanakan sesuatu lagi sepertinya terhadap Andin
Sugiharti Rusli
dulu dia berhasil memisahkan kamu dan Andin, bahkan kamu menyimpan kemarahan sampai saat ini
Sugiharti Rusli
kalo saja kamu tahu Nath, betapa kejamnya ibu kamu itu,,,
Sugiharti Rusli
bahkan dia lebih percaya saat sekarang Andin sedang bekerja dengan berjualan di sekolahannya, dia percaya mba kantin akan kembali nanti setelah selesai jualan
Sugiharti Rusli
padahal Darrel belum lama kenal Andin, kalo bukan karena sikap Andin yang baik dan tulus, ga mungkin juga Darrel bisa berubah
Sugiharti Rusli
bahkan dia bisa melihat perubahan besar Darrel ketika mengenal Andin yang tadinya sangat keras kepala, sekarang bisa lebih lembut,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nathan mulai meragukan kepercayaan tentang Andin yang melakukan kesalahan fatal dulu terhadap dirinya yah
Sugiharti Rusli
memang sih segala sesuatu kalo ada uang, segala urusan akan lebih mudah ditelusuri nya yah,,,
Sugiharti Rusli
wah si Mark bergerak cepat juga yah dia menyelidiki kasus Andin dulu
Sugiharti Rusli
justru sekarang si Vivian yang merasa khawatir kalo permainan kotornya akan segera terbongkar di hadapan sang putra
Sugiharti Rusli
tapi sekarang karena kamu sudah dewasa dan kamu juga tidak merasa memiliki kesalahan, buat apa takut,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!