NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:98.9k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 14

Ia berpikir keras apa ketampanan yang ia miliki sudah pudar hanya karena sedikit luka di keningnya?

Sehingga anak Pak Harun memanggilnya demikian?Sebelumnya Dito dan sekarang selina.

Bukankah selama ini ia di kejar banyak wanita karena itu semua? Lalu kenapa wanita di hadapannya itu justru tampak ketakutan dan terus menundukkan kepala setiap berhadapan dengannya?

"Om," panggil selina menyadarkan Aabid akan segala pertanyaan yang masih menggantung di kepala.

"Oh, maaf, tangan saya agak sakit jadi lama," jawab Aabid yang tak mungkin mengatakan bahwa dirinya ragu dan takut menyiram pusakanya dengan air sedingin es itu di saat ia harus mau tidak mau mendalami peran sebagai orang yang sama dengan mereka demi tugas negara yang menjadi tanggung jawab meskipun dalam masa cuti.

"Oh, kalau begitu mari selina antar sampai ke kamar."

Lagi, tanpa menunggu jawaban dari Aabid, selina bergegas kembali. Melangkah cepat menuju rumah bagian depan.

Aabid terus mengekori. Tanpa percakapan mereka berjalan sendiri-sendiri. Sesekali selina menoleh sekilas ke arah belakang, memastikan Aabid tidak kesusahan.

Terkadang selina harus melambatkan langkah saat jarak mereka sedikit berjauhan karena langkah Aabid yang kadang terganggu oleh keadaan kakinya.

Suasana canggung menyergap mereka, setelah Aabid siuman, selina belum pernah masuk lagi ke dalam kamar itu.

Terlebih setelah kejadian memalukan sore tadi. Ia merasa malu sendiri setiap mengingat apa yang dilihatnya meski tak ada unsur kesengajaan.

Sementara Aabid, ia terjebak dalam rasa bersalah dan rasa sungkan karena merepotkan.

"Sudah, sampai di sini saja. Saya bisa sendiri." Tahu dan paham bahwa selina begitu tak nyaman, akhirnya Aabid berujar sesampainya mereka di ambang pintu kamar paling depan di mana Aabid tidur.

Langkah selina pun langsung terhenti. Rasa berdebar di dalam dadanya karena bersama lelaki asing di dalam satu ruangan sempat menyelimutinya sebelum akhirnya ia begitu lega oleh ucapan Aabid barusan.

"Sholat di kasur aja, Om. Meskipun usang, tapi spreinya bersih, baru diganti kemarin sama ibu," ujar selina masih tertunduk dalam.

"Hem."

Mendengar jawaban singkat dari Aabid, selina pun bergegas kembali.

"selina," panggil Aabid saat beberapa langkah selina mulai melangkahkan kaki meninggalkannya.

"Ya," reflek selina membalikkan badan dengan senyum sumringah yang masih tergambar jelas, senyum penuh kelegaan karena terbebas dari kecanggungan yang menyiksanya tanpa sadar ia berikan pada Aabid.

Senyum yang terlihat begitu tulus dan begitu manis itu menyita perhatian Aabid dan membuatnya sedikit ternganga.

"Astaghfirullah." selina akhirnya tersadar sedang berhadapan dengan siapa, lalu dengan cepat ia menundukkan kepala.

Sementara Aabid hanya berdehem untuk mengembalikan suasana yang tak seharusnya ada.

"I-ya, Om ada yang bisa selina bantu?" tanya selina pada akhirnya.

"Katakan pada Dito untuk tidur di kamar ini, ini kamarnya. Kalau pun ada yang harus tidur di lantai itu Adalah saya"

***

Pagi hari sekitar pukul tujuh, Aabid masih terlihat tidur nyenyak di atas kasur. Ia baru bisa memejamkan mata usai adzan subuh berkumandang.

Bahkan begitu lelapnya dia hingga meski gaduh sejak subuh sudah terdengar di dapur nyatanya ia sama sekali tidak terganggu.

Ia seolah balas dendam karena sudah terjaga semalaman.

"Om-nya masih bobok, Bu," ujar Rara setelah mengantar sarapan dan meletakkannya di atas nakas sebelah Aabid.

"Ya udah Rara jangan berisik," ujar Asri setengah berbisik.

"He'em." Rara mengangguk paham.

"Rara, nanti kalau ada yang tanya tentang Om. Bilang ya kalau di rumah ini nggak ada Om yang mereka maksud."

"Emang kenapa, Bu?!"

"Om, masih harus banyak istirahat. Nggak bisa diganggu. Nanti kalau tetangga tahu mereka akan ke sini nengokin Om. Kan biasanya kalau ada orang sakit tetangga pada nengokin. Kasihan Om-nya. Om juga nggak akan marah nanti kalau sampai terganggu," bujuk Asri.

"Gitu, ya, Bu."

"Iya."

"Iya, Bu. Kasihan sama Om-nya, ya. Lecet-lecet."

"Iya. Pokoknya Rara nggak boleh ngomong kalau ada Om."

"Iya, Bu."

"Ya sudah. Rara sama A' Dito dan Teh selina hati-hati ya. Ibu sama Bapak di rumah. Motornya cuma satu. Nanti ibu dan bapak ke sana malam aja."

"Iya, Bu."

Hari ini hari Minggu. selina dan kedua adiknya pergi ke rumah nenek mereka yang berada di sebelah desa.

Berbekal motor Honda Vario milik ayahnya yang kebetulan masih libur, Dito membonceng kakak dan adiknya menuju desa sebelah setelah berpamitan.

"Pelan, Dit," tegur selina yang duduk di jok belakang Rara sembari memegangi sang adik bungsu yang berada di tengah mereka.

"Nanti telat, Teh. Nenek kan mau bagi-bagi oleh-oleh. Nanti kalau telat kita kehabisan terus dapat yang jelek lagi," ujar Dito dengan nada keras.

Angin kencang dan deru suara motor mengganggu percakapan mereka sehingga dito harus menaikkan volume suaranya.

"Iya, tapi nyawa lebih penting, Dit."

"Tenang, Teh. Dito sudah ahli."

Selina berdecak kesal, tak mampu lagi menegur adiknya yang keras kapala akhirnya ia pun memilih diam dan berpegangan erat.

"Rara pegangan A' Dito yang erat ya, Ra," ujar selina pada Rara.

Rara mengangguk dan mengeratkan pegangan di pinggang Dito.

Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga di rumah sang nenek dan benar saja kendaraan sudah banyak yang terparkir di depan rumah berlantai dua tersebut.

Gegas selina menurunkan Rara dari motor.

"Tuh, kan, Teh. Udah kayak pembalap aja masih ketinggalan," gerutu Dito sambil melepas helmnya.

"Nggak apa-apa, Dit. Lagian emang katanya jam 9 dan kita jam segini udah datang, kok." selina menjawab, tangannya sibuk merapikan baju dan rambut Rara yang sedikit berantakan.

Kemudian beralih merapikan baju dan jilbab yang sedikit bergeser oleh helm yang ia kenakan.

"Ayo, Teh buruan." Dito menarik ke dua tangan saudarinya.

Tak sabar akan mendapat hadiah dari kepulangan sang nenek yang baru saja menunaikan ibadah haji.

"Dito, jangan buru-buru atuh," tegur selina lagi, namun tak dihiraukan oleh Dito.

"Assalamualaikum, Nek," ucap Dito sembari tersenyum dengan sumringah begitu mereka sampai di depan pintu.

Selina yang berdiri di belakang Dito pun tersenyum sambil mengangguk sopan sebagai bentuk sapaan pada semua orang yang kini berada di ruang tamu dan menatap mereka.

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka dengan raut tak biasa.

Dada selina sedikit berdebar, kala melihat tampilan para tamu yang begitu mewah dan glamour, berbeda jauh dengan dirinya yang hanya memakai pakaian casual, tunik dan celana jeans.

Selain itu, tatapan sang nenek yang terlihat begitu tak suka menatap mereka membuatnya berpikir apakah mereka telah melakukan kesalahan? Namun, segera mungkin selina menepisnya dengan melempar senyuman untuk kesekian kali.

"Nenek ...." Kini Rara berseru, dengan penuh kegirangan ia melangkah setengah berlari, masuk ke dalam rumah.

Selina menyenggol lengan Dito, mengajaknya untuk menyalami para tamu, namun langkah dan keinginan selina untuk menyapa mereka terpaksa ia urungkan kala melihat sang nenek bangkit dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah Rara.

Dengan sigap sang nenek meraih pergelangan tangan Rara bahkan sebelum Rara menjangkau keberadaannya, lalu membawanya kembali ke arah pintu setengah menyeretnya.

"Nenek bilang jam berapa? Kunaon jam segini sudah datang, hah?" Dengan nada pelan namun penuh penekanan sang nenek berujar, tatapan tajam pun ia berikan pada ke tiga bersaudara itu.

1
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
Siti Siti Saadah
dibandingkan Selina trauma aabid lebih parah. meskipun dia seorang polisi dalam hal jiwa dia belum mampu mengelola traumanya
Fazira Fazira
asyeeeek makin seruuu💪semangat ya Thor
aliyya
sabar y selina Aabid blm jujur sama km,krna Aabid msh sakit hati sama mantan istrinya yg sudah selingkuh,dan dia jg blm sadar klo skrg udah mulai jatuh cinta ke kamu,,,❤️
aliyya
tinggal dimas ini mo di apa in sm Aabid,,,,🤭
double up thor,,,🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!