Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.
Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.
Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.
" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.
Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Diam
Aku melihat punggung Kana yang berdiri di depanku. Tidak ada tatapan ramah seperti biasanya saat Kana melihatku, hanya ada tatapan dingin yang tidak aku inginkan.
Kami tidak saling bicara sama sekali. Sampai-sampai Inka pun bisa merasakan jarak di antara aku dan Arkana.
" Kalian kenapa? berantem?", tanya Inka melihat ke arahku.
Aku menggeleng pelan, enggan untuk menjawab pertanyaan Inka. Saat berada di kelas, biasanya Kana yang selalu menghampiri mejaku sesekali. Tapi sekarang Kana hanya lewat saja tanpa menggubris keberadaan ku sama sekali.
Aku pun tidak berusaha untuk menegur Kana. Tapi rasanya ada yang lain, seperti aku sedang di musuhi sahabat sendiri. Aku menoleh ke arah belakang dan melihat Kana sedang bercanda gurau bersama teman-temannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Karena aku tidak tahan di abaikan akhirnya aku memutuskan untuk menegurnya saat pulang sekolah. Aku meminta Inka untuk menungguku di depan gerbang sekolah dan aku sendiri dengan penuh keberanian menunggu Kana di dekat motornya.
Saat Kana datang, dia melihatku dan berusaha untuk mengabaikan aku.
" Kana, kamu masih marah?", tanyaku pada Kana.
Kana tidak menjawab hanya diam saja sambil sibuk memakai helmnya.
" Kana kamu mau marah sampai kapan", aku memegang ujung jaketnya.
" Kana yang sudah duduk di atas motor langsung menghentikan aktifitasnya menyalakan motor.
" Bisa minggir gak? Gue gak suka sama orang yang suka mencampuri urusan orang lain tanpa permisi lebih dulu", Kana berkata tegas lalu menyalakan motornya dan meninggalkanku yang terdiam tidak berkutik mendengar perkataannya.
'Sepertinya Kana benar-benar marah besar padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang', batinku sedih.
***
Besoknya Kana tetap mengabaikan aku. Aku jadi benar-benar merasa sedih. Hal yang paling membuatku sedih adalah saat aku pergi ke kantin, aku melihat Helmi duduk di dekat Kana. Walaupun Kana tidak memberi respon apapun tapi aku menjadi sangat kesal melihat itu.
Aku berjalan mendekati meja Kana dengan keberanian yang entah aku dapat darimana. Inka yang melihat itu berusaha menahan ku sekuat tenaga tapi kakiku sudah terlanjur melangkah. Lalu sepersekian detik berikutnya aku menyesali keputusanku.
" Ada apa?", Kana bertanya dingin saat melihatku.
" Emm... Aku ... Mau bahas... Presentasi besok", aku berbohong. Jelas saja presentasi besok sudah kami persiapkan dengan baik, tidak ada lagi hal yang harus kami bahas. Tinggal menghafal bagian masing-masing.
Kana berdiri, lalu dengan wajahnya yang dingin dia berkata. " Awan lo tidak bisa bedakan jam istirahat dan jam belajar? Pengen banget juara 1?", Kana berkata dengan nada datar dan tidak bersahabat.
Aku kaget dengan perkataan Kana. Inka yang berdiri di belakangku lebih kaget lagi. Kami berdua seolah melihat pribadi yang berbeda dari Kana.Dia terlihat seperti orang lain.
" Aku hanya bertanya. Kalau kamu tidak bisa, tolong jawab dengan lebih ramah", aku tersinggung.
Kana tersenyum sinis. " lo suka sama gue sampai harus mengikuti gue ke sini?", kata berbisik pelan di telingaku.
" Sudahlah jangan terlalu ambisius, pelajari saja bagianmu", Kana bersuara lagi membuat beberapa orang di meja itu melihat ke arahku dengan tatapan aneh.
Aku tidak menjawab. Hanya menelan ludah penuh kemarahan. Aku tidak menyangka Kana akan menjawab ku dengan begitu menjengkelkan.
Setelah berkata begitu Kana pergi meninggalkanku dan di ikuti dengan Helmi yang sempat berbisik.
" Kasihan di tolak. Norak lo", ejekan helmi membuatku semakin marah.
Rasanya aku ingin menjambak rambut Helmi saat itu juga. Tapi aku menahan diri. Aku berbalik dan melihat punggung Kana yang berlalu pergi.
' Awas saja, pasti akan aku balas', batinku.
***
Aku mengepalkan tanganku di meja saat pelajaran akan berkahir. Rasanya aku semakin marah setiap melihat Kana lewat di depanku. Aku merasa lebih baik Kana memarahiku daripada dia mengabaikan aku seperti ini.
Maka munculah tekad kuat di hatiku untuk mengabaikan Kana juga. Aku bertekad untuk tidak melihatnya dan memandangnya.
Aku sudah meminta maaf, tapi jika Kana tidak mau memaafkan ya sudah. Aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah ikut campur dalam urusannya lagi. Tidak akan pernah. Titik.
Tapi sorenya aku sudah duduk di ruang tamu mama Kana. Dengan terpaksa aku masuk ke rumahnya lengkap dengan seragam sekolahku, karena mama Kana memang menungguku pulang.
" Di minum es tehnya nak", mama Kana menawarkan dengan ramah.
" Terima kasih tante", jawabku sopan sambil meneguk es teh itu. Kebetulan aku sangat haus.
" Maaf ya tante minta kamu ke sini dulu padahal baru pulang sekolah", mama Kana merasa tidak enak denganku.
" Tidak apa-apa tante", aku menjawab.
Sedikit menghela nafas mama Kana mulai berbicara lagi. " Tante pergi dari hidupnya Kana itu sejak Kana kelas 6 SD. Saat itu tante dan papinya Kana berpisah", mama Kana menghela nafas berat sekali lagi.
" Maafin tante ya nak. Karena permintaan tante untuk bertemu dengan Kana membuat kalian bertengkar", mama Kana meminta maaf dengan tulus.
" Tidak apa-apa tante. Kana memang begitu. Nanti dia akan baik kok", aku menjawab spontan.
Mama Kana tersenyum. " Waktu tante lihat Kana sama kamu. Rasanya tante pengen peluk dia saat itu juga. Tante kangen banget sama dia Awan. Tante minta tolong sama kamu karena tante rindu sekali pada Arkana", mama Kana menjelaskan dengan penuh kesedihan.
" Tante tau, Kana pasti sangat marah pada tante karena berusaha bertemu dengannya saat ini. Tante merasa tidak enak terhadap kamu karena kamu terkena imbasnya. Kalian jadi bertengkar saat di luar cafe itu", mama Kana menyesali apa yang terjadi.
" Tante tidak apa-apa. Arkana itu anak yang baik, aku yakin suatu hari Kana akan datang bertemu dengan tante. Mungkin saat ini Kana masih bingung dan marah", aku berusaha menenangkan mama Kana sebisaku.
" Terima kasih Awan. Kamu memang anak yang baik hati", mama Kana mengeluarkan air matanya.
Aku merasa sedih mendengar cerita mama Kana. Sesakit hati apa Kana sampai tidak ingin bertemu dengan mamanya saat ini. Apakah Kana tidak bisa memberikan maaf sama sekali untuk mamanya.
Di sepanjang perjalanan pulang menuju rumahku. Aku terus memikirkan Kana dan ibunya. Kana di tinggalkan ibunya tapi dia masih bisa bertemu saat sekarang. Sedangkan aku, aku di tinggalkan ibuku dan tidak akan bisa melihatnya lagi.
Aku menatap ke arah langit. Lalu berbicara sendiri.
" Maa... Apa Awan salah dalam bertindak ya? Apa Awan menyakiti hati Kana?", aku terus melihat ke arah langit seperti menunggu jawaban datang dari balik awan-awan putih yang bergerak itu.
Tetapi tidak ada jawaban yang aku dapatkan sama sekali dari sana. Sambil menghela nafas berat, aku meneruskan langkahku pulang ke rumah.
***