KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Mas, tolong berikan kepada abi ya." Retno meminta putra sulungnya untuk mengantarkan sarapan pagi kepada abinya.
"Baik umi." Rangga mengantarkan makanan ke dalam kamar abinya, ia menaruhnya di atas meja kemudian mendekat ke arah abinya yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Abi." Secara perlahan rangga membangunkan abinya, ia merasakan panas ketika ia memegang tangan abinya, rangga pun langsung memegang kening abinya.
"Umiiiii....." Rangga berlari keluar kamar sambil berteriak memanggil uminya.
"Ada apa mas?" Tanya retno.
"Badan abi panas umi, sepertinya abi sedang sakit." Ucap rangga.
Retno mengambil tas sekolah rangga kemudian memakaikannya ke pundak rangga.
"Nanti umi telephone uncle Cakra untuk memeriksa abi, sekarang mas berangkat sekolah sama bibi ya, nanti pulangnya umi jemput." Retno mengelus kepala Rangga kemudian ia menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengantar putra sulungnya.
"Assalamualaikum umi." Rangga mencium tangan uminya.
"Walaikumsalam, semangat ya mas belajarnya." Retno mencium kening rangga dan melambaikan tangannya.
Setelah rangga pergi ke sekolah retno menghubungi cakra untuk memeriksa julio, tiga puluh menit kemudian cakra pun tiba di kediamannya.
Selama julio di periksa oleh cakra, retno hanya melihat dari pintu kamarnya, ia enggan untuk mendekat ke arah suaminya.
"Kamu tidak perlu khawatir, suamimu hanya butuh istirahat beberapa hari saja." Ucap cakra.
"Terima kasih ya mas cakra." Retno mengantar cakra hingga ke pintu depan rumahnya.
"Sama-sama, kalo ada apa-apa jangan segan-segan kabari aku ya. Kalo begitu aku permisi dulu, aku harus segera ke rumah sakit." Cakra masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari kediaman retno.
"Bi, tolong tebus resep ini di apotek depan ya." Retno menyerahkan uang dan resep tersebut kepada asisten rumah tangganya, kemudian ia berjalan kembali menuju kamarnya.
"Huft..." Retno menghembuskan nafas beratnya, sebelum ia masuk ke dalam kamar. Meskipun ia sangat enggang merawat pria yang telah menyakiti hatinya namun bagaimana pun julio masih suaminya dan sekaligus bapak dari anak-anaknya.
Retno membuka gorden dan kaca jendela kamarnya agar julio bisa menghirup udara segar di pagi hari, kemudian ia menyiapkan air hangat untuk mengelap tubuh suaminya.
"Besok-besok jika sakit, mas suruh selingkuhan mas yang merawat mas." Sambil mengomeli julio, retno mengelap tubuh julio dengan telaten, kemudian ia membantu julio untuk mengganti pakaiannya.
"Makanlah sendiri." Retno memberikan nampan berisi sarapan pagi untuk julio, kemudian ia beranjak meninggalkan julio, namun julio menahannya untuk pergi, julio menggenggam erat lengan retno agar retno tak meninggalkannya.
"Aku mohon jangan ceraikan aku, kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini." Lagi-lagi julio mengiba, retno hanya terdiam tak menanggapi ucapan julio.
"Aku mohon padamu, demi anak-anak kita."
"Demi anak-anak kita???" Retno tersenyum sinis.
"Apa kamu memikirkan anak-anak kita saat kamu tidur dan bersenang-senang dengan wanita itu? padahal saat aku tengah mengandung anakmu. Sekarang kamu menggunakan anak-anak kita sabagai tamengmu, sungguh sangat keterlaluan." Retno mengibaskan tangannya agar lepas dari genggaman julio.
Retno menutup pintu kamarnya dengan kencang, air matanya kembali menetes di pipinya, hatinya sangat perih teringat foto-foto suaminya tengah berlibur bersama ana di Maldives. Padahal saat itu dirinya tengah mengandung anak keduanya, selain mengandung ia juga harus mengurus putra sulungnya, mengurus ibunda julio yang tengah jatuh sakit, serta mengurus perusahaannya seorang diri.
"Kamu benar-benar jahat mas hiks..." Retno meremas bajunya, menahan perih di hatinya.
"Bu... ibu kenapa? ini obat bapak." Asisten rumah tangga retno datang menghampiri retno memberikan obat yang telah ia beli dari apotek, retno pun langsung mengusap air matanya.
"Kamu berikan saja langsung kepada bapak." Retno pergi meninggalkan asistennya menuju kamar anak bungsunya, ia mengajak rama menjemput rangga di sekolah yang tak jauh dari rumahnya.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini