Tahun 2008, ketika sistem pendidikan di Indonesia masih diwarnai kekerasan, aku seorang anak sederhana dari keluarga sederhana, bermimpi bahwa sebuah sebuah pendidikan dapat mengubah nasibku. Dengan pendidikan aku dapat menjadi apapun.
Aku ingin lulus Fakultas Kedokteran.
Aku ingin lulus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Aku ingin mewujudkan impian Ayah, karena Ayah adalah pahlawan separuh nyawaku. Tak ada lagi yang aku inginkan selain mewujudkan impiannya. Senyumnyalah yang pertama kali kulihat karena aku dilahirkan ke dunia. Senyuman harapan kepadaku, anak ajaib pemetik bintang harapannya. Kepadakulah semua harapan Ayah bertumpu. Selama sembilanbelas tahun Ayah menunggu akhirnya aku lulus Fakultas Kedokteran, menjadi calon dokter satu- satunya dalam generasi kami. Aku berhasil mewujudkan impian ayah.
Takdir berkata lain, aku divonis buta warna parsial. Akankah aku mencapai cita- citaku, berhasil memetikkan bintang untuk ayah, pahlawan separuh nyawaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulil jamil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Setulus Hujan 4
Adakah yang lebih tulus dari pada hujan ? Yang setiap tetesnya turun membasahi bumi
tanpa pilih kasih. Jatuh, maka jatuhlah tetes itu di mana tempat yang seharusnya ia jatuh, karena langit telah membaginya demikian. Membagi setiap
awan hujan untuk belahan bumi yang kehausan.
Pada siang hari yang panas, tiba- tiba Kota Padang diguyur hujan. Kalau tahu demikian, tentu aku
akan berangkat ke gedung bimbingan belajar lebih awal, seperti Adi. Hari ini Adi mendapatkan kelas pagi. Ia telah berada di kelas bimbingan belajar beberapa jam lalu. Dan kini aku merasa terjebak sendiri, di teras kos, menatap debit tintik
hujan di ujung atap. Aku memprediksi intentitas kelebatan hujan. Aku menunggu
waktu untuk hujan mereda. Karena aku harus pergi. Harus pergi. Hari ini adalah pengumuman try out SPMB. Aku ingin melihat sendiri seberapa besar peluangku untuk menembus kedokteran negeri, seperti pinta Ayah.
Hujan tak kunjung reda. Aku menghulurkan tangan ke cucuran atap. Hujan masih deras. Nenek yang berada
di samping rumah melihatku yang tengah berdiri dengan ransel menunggu hujan reda.
“Nak…” Panggilnya. Beliau melambaikan tangan.
“Oh… Iyo Nek !” Aku bergegas menghampirinya
kebetulan atap teras rumah kami masih bertaut. Batasannya hanya sebuah tembok setinggi pinggang.
“Iko ado payuang pakailah dahulu.” Saran Nenek itu tersenyum.
“Terima kasih Nek. Nanti ambo kembalikan.” Janjiku.
Kemudian mengambil payung pemberian Nenek itu.
“Assalammualaikum Nek”
“Walaikumsalam.”
Jawabnya menyusul kepergianku.
Langkah demi langkah aku pergi. Selokan yang mobil dapat masuk ke dalamnya kini telah penuh oleh
luapan air. Aku berjalan hati- hati di batas jalan raya yang mengalir air, di pinggir trotoar yang juga telah mengalir air menuju selokan.
Aku memegang payung. Angin yang datang bersamaan dengan hilir mudik kendaraan. Aku mesti hati- hati karena mobil- mobil itu memercikkan air dari rodanya. Sebagian celanaku basah. Aku menggulungnya sampai ke batas lutut.
Aku telah sampai di gedung bimbingan belajar. Ramai juga kawan- kawan yang berkumpul di papan
pengumuman. Aku mencari papan pengumuman yang kosong. Ada satu, pengumuman di dinding gedung sebelah kanan di dekat parkiran. Aku berjalan ke situ. Sesampainya, aku lihat banyak daftar nama berderet, sekitar seribu lebih. Banyak karena pengumuman hasil try out diurutkan dari semua murid bimbingan belajar ini di beberapa cabang di Kota Padang.
Dimulai dari daftar paling kanan adalah nama- nama dengan perolehan nilai terbaik. Anak SMA yang berasal dari SMA- SMA terbaik di Sumatra Barat. Daftar yang paling kanan mereka semua
lulus di program studi universitas terbaik di pulau jawa, seperti teknik computer, teknik perminyakan, atau kedokteran. Hebat. Mereka betul semua dalam 15 soal matematika IPA yang aku isi paling banyak hanya empat. Namaku urutan keberapa?
Bola mataku berpindah ke deretan kedua sebelah kanan, tidak ada. Lalu kesebelah
kanannya lagi, dan aku menemukan namaku pada urutan ke-99. Wah 99. Aku tidak lulus pilihan pertama. Tapi aku lulus pilihan kedua Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri di ujung Sumatra. Passing Gradenya 210 , berarti nilaiku
lebih dari 210. Bagaimana dengan Adi ?. Ia berada di sebelah kanan, di sebelah kanannya lagi, tidak ada. Aku mencarinya di pengumuman sambungan di bagian bawah. Dia berada pada urutan ke 400. Ia tidak lulus.
***
kenapa aku baru ketemu cerita sebagus ini..
sayangnya yg ngeLIKE sedikit sekali..
baru mampir,baru nemu,baru beberapa chapt udah byk edukasi yg didapat
Saya selalu kagum dengan cara penyampaian Anda.
buka bab awal langsung suka
karena di suguhin sama puisi..
lanjut baca... suka sama karyamu kak...
baru awal udah d gambarin gimana perjuangan seorang ayah buat anaknya...
bakal lanjut bca lagi... 😊
tetep semangat kak buat karya2nya.. 🤗
Mampir novel saya yg masih belajar nulis ya kak IT'S HARD TO LOVE YOU,, good luck
tapi tidak ada kata terlambat,tetap kisah ini membuat saya bersyukur sebagai penyandang buta warna parsial.
karena kekurangan yg d miliki seseorang bukanlah jeruji yg mengurung keterbatasan.
setidaknya dg segala kemauan pasti ada jalan.
terimakasih telah menyuguhkan cerita ini authoooooorr semoga sukses!!!