**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Lima Ratus Juta
"Mas."
Radhika tidak bergerak dari sisi pintu mobil.
Naila merapatkan bibir. "Mas Radhika."
"Kurang jelas."
"Mas Radhika, boleh kami naik sekarang?" Naila mengucapkan setiap kata seperti sedang menggigit es batu. "Atau Mas mau kami menginap di parkiran?"
Barulah sudut bibir Radhika terangkat. Ia membuka pintu belakang untuk Gita dan Vania, lalu membukakan pintu depan untuk Naila.
"Silakan, Dek."
Naila masuk sambil menginjak udara di dekat sepatunya. Sayang sekali sepatu kulit itu terlalu jauh untuk benar-benar ia injak.
Begitu mobil meninggalkan kawasan Padma Lakeside, Gita langsung menutup mulut untuk menahan tawa. Vania lebih berani. Ia mencondongkan tubuh di antara kedua kursi depan.
"Nai, kamu kenal dekat sama Sekar?"
"Satu kampus, satu kos."
"Tapi kamu tadi galak banget." Vania meniru nada Naila di lorong. "Ambil kainnya. Minta maaf sekarang. Serem juga."
"Aku nggak galak." Naila menyilangkan tangan. "Aku cuma nggak suka orang sok berkuasa lalu menginjak orang yang dianggap lebih lemah. Sekar belajar mati-matian buat mempertahankan beasiswa. Pulang kerja pun masih baca materi sampai larut. Dia pasti bukan orang kayak yang mereka tuduhkan."
Gita mengangguk. "Kalau bukan kamu yang datang, Sekar mungkin diam saja. Dia takut kehilangan kerja."
"Makanya jangan kasih orang kayak Lina kesempatan merasa mereka benar."
Dari kursi pengemudi, Radhika memandang Naila sekilas. Lampu jalan bergerak di wajah gadis itu, menerangi mata yang masih menyala karena marah. Ia tidak ikut bicara, tetapi jari yang semula mengetuk kemudi berhenti.
Naila menangkap pandangannya. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Kalau mau bilang aku ikut campur, bilang saja."
"Aku justru mau bilang kamu benar."
Jawaban itu membuat Naila kehilangan bahan bertengkar. Ia mendengus kecil dan mengalihkan mata ke jendela.
Perjalanan kembali ke Depok memakan waktu hampir empat puluh menit. Setelah melewati gerbang UI, Radhika berhenti di sisi jalan yang terang, tidak jauh dari jalur menuju kos. Gita turun lebih dulu. Vania menyusul, tetapi masih sempat membungkuk di dekat jendela depan.
"Makasih, Mas Radhika. Hati-hati di jalan."
Radhika hanya mengangguk.
Naila melepas sabuk pengaman. "Aku juga turun."
Tangannya menarik gagang pintu. Tidak terbuka.
Klik.
Kunci mobil tetap menahan pintu. Pada saat yang sama, kaca jendela naik perlahan hingga suara Gita dan Vania di luar teredam.
"Mas apaan, sih?" Naila menoleh tajam. "Buka. Mereka nanti salah paham."
"Aku cuma mau ngomong dua patah kata."
"Dua patah kata nggak butuh menyandera orang."
"Aku kan Mas-mu. Mau salah paham apa?"
"Justru karena Mas bersikap aneh, mereka bisa salah paham apa saja."
Radhika mematikan mesin. Kabin seketika lebih sunyi. Aroma kulit mobil bercampur wangi kayu yang tipis dari pakaiannya.
"Tambahkan aku lagi di WhatsApp."
Naila berkedip, lalu bersandar sambil melipat tangan. "Oh, itu dua patah katanya? Jawabannya nggak mau."
"Aku nyesel."
Nada Radhika begitu tenang hingga Naila hampir tidak yakin ia mendengarnya dengan benar.
"Nyesel apa?"
"Hapus kamu. Bikin kamu marah."
"Aku bukan marah." Naila mengangkat dagu. "Aku cuma nggak suka orang yang merasa bisa buang orang lain sesuka hati, lalu memanggilnya kembali sesuka hati juga."
Radhika menerima kalimat itu tanpa membela diri. "Kalau kamu terima permintaan pertemananku, kamu boleh minta tiga hal."
"Tiga hal?"
"Selama bukan hal ilegal, nggak menyakiti orang, dan nggak melanggar etika."
Mata Naila menyipit. Ia teringat kemeja sederhana yang biasa dikenakan Radhika, pengakuannya sebagai pegawai biasa, lalu sikapnya yang seolah dapat menyelesaikan apa pun. Kesempatan menguji kesombongan itu datang sendiri.
"Transfer lima ratus juta dulu," katanya enteng. "Biar kelihatan niatnya."
Ia sudah menunggu wajah Radhika berubah. Paling tidak lelaki itu akan menawar, memarahinya karena matre, atau akhirnya mengaku hanya menggertak.
Radhika malah mengambil ponsel.
"Nomor rekening yang Bank Mentari masih aktif?"
"Aktif." Naila menahan senyum. "Tapi jangan pura-pura sibuk."
"Tunggu."
Jempol Radhika bergerak di layar. Ia melewati verifikasi sidik jari, mengetik beberapa angka, lalu meletakkan ponselnya di konsol tengah.
"Sudah."
"Sudah apa?"
Ponsel Naila bergetar di pangkuannya.
Sebuah notifikasi dari aplikasi Bank Mentari muncul di layar. Dana masuk: Rp500.000.000.
Naila tidak bernapas selama dua detik.
Ia membuka notifikasi itu. Saldo rekeningnya berubah. Ia menutup aplikasi, membukanya lagi, masuk dengan sidik jari, lalu memeriksa riwayat transaksi. Angka yang sama masih ada di sana.
Lima ratus juta rupiah.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam nol.
Naila menghitung sekali lagi. Tetap enam nol.
Uang saku bulanannya mendadak terasa seperti recehan. Bahkan jika ia membayar uang kuliah, membeli perlengkapan tari, dan mentraktir seluruh penghuni kos, jumlah itu masih akan tersisa sangat banyak. Ia membayangkan wajah Sekar yang menghitung cicilan, lalu buru-buru mematikan layar. Angka sebesar itu membuat telapak tangannya dingin. Tadi ia menyebutnya hanya untuk menggertak. Sekarang uang itu benar-benar berada di rekening atas namanya.
"Aku boleh mengembalikannya, kan?"
"Boleh. Tapi kalau kamu kembalikan, permintaan pertama tetap terhitung."
"Licik banget."
"Kamu yang menentukan nominalnya."
Naila tidak bisa membantah. Ia memeluk ponsel ke dada seolah angka-angka itu bisa melompat keluar kalau tidak dijaga.
"Ini uang asli?"
"Kalau mau, besok tarik sebagian di cabang."
"Mas dapat uang sebanyak ini dari mana?" Suaranya naik satu tingkat. "Katanya pegawai biasa. Mas korupsi?"
"Tadi syaratnya nggak boleh ilegal."
"Terus?"
Radhika menghela napas pendek, seakan menjelaskan setengah miliar lebih merepotkan daripada mengirimkannya. "Aku punya saham di Cakra Tech. Setiap tahun ada dividen. Waktu kuliah aku juga pernah bikin aplikasi, lalu haknya dibeli perusahaan lain."
"Berapa?"
"Beberapa puluh miliar."
Naila menatapnya seolah lelaki di sebelahnya baru tumbuh dua kepala. "Beberapa puluh miliar bukan gaji pegawai biasa!"
"Aku memang kerja di kantor."
"Itu bukan jawaban." Ia kembali melihat layar. Uang itu masih ada. "Terus Mas tahu nomor rekeningku dari mana?"
"Bank Mentari Adhikara milik keluarga kami. Rekeningmu dibuka lewat layanan keluarga sejak dulu, dan nomor tujuanmu tersimpan di daftar transfer yang bisa kupakai. Aku nggak melihat saldomu."
Kini Naila menatap kartu Bank Mentari di dompet digitalnya, lalu menatap Radhika lagi. Selama ini ia mengira nama Adiwangsa di gedung, klub, dan hotel hanya kebetulan muncul terlalu sering.
Ternyata bukan kebetulan.
"Mas ini sebenarnya siapa?"
"Orang yang minta kamu menerima pertemanan di WhatsApp."
Radhika mengulurkan telapak tangan. Naila masih terpaku, tetapi akhirnya menyerahkan ponselnya. Permintaan dengan catatan Lemon masih menunggu. Radhika menekan tombol terima, membuka percakapan, lalu menyematkannya di bagian teratas.
Ia mengganti nama kontaknya sendiri menjadi Mas Radhika.
"Eh!" Naila merebut ponsel. "Siapa suruh mengubah nama?"
"Kamu tadi sudah memanggilku begitu."
"Itu karena diancam ditinggal di Sentul."
"Tetap sah."
Naila ingin memprotes lagi, tetapi angka di aplikasi bank membuat konsentrasinya berantakan. Ia memandangi Radhika dari samping. Lelaki itu kaya, masih muda, tampan, dan jelas belum punya pasangan. Bayangan Vania yang terus mencuri pandang sepanjang makan malam langsung muncul.
"Kalau begitu, Mas kenalan lebih dekat sama Vania saja."
Radhika yang hendak menyalakan mesin berhenti. "Buat apa?"
"Dia teman sekamarku. Cantik, baik, pintar juga. Kayaknya dia suka sama Mas."
"Aku nggak suka dia."
Jawabannya datang terlalu cepat.
"Belum kenal kok sudah bilang nggak suka? Coba dulu. Aku bisa kasih nomor WhatsApp-nya."
Radhika menoleh. Tatapannya menjadi dingin, meski suaranya tetap rendah. "Kok buru-buru banget nyodorin aku ke orang lain?"
"Ya, daripada Mas jomblo terus."
"Itu bukan urusanmu."
"Katanya aku adik. Adik boleh peduli."
Rahang Radhika mengeras. Ia membuka kunci pintu tanpa menjawab. "Turun."
Naila membelalakkan mata. "Lho, kok marah?"
"Aku nggak marah. Tunggu di luar."
Ia turun lebih dahulu dan berjalan ke belakang mobil. Naila ikut keluar sambil memeluk tasnya. Gita dan Vania sudah menunggu beberapa meter di depan, tetapi Radhika membuka bagasi sebelum Naila sempat menyusul mereka.
Ia mengangkat dua stoples kaca berisi irisan lemon dalam madu.
"Ini buat kamu."
"Tante Laras bikin lagi?"
"Bawa saja. Simpan di kulkas."
Naila menerima kedua stoples itu. Kacanya dingin, isinya berkilau keemasan di bawah lampu jalan.
Di kejauhan, Gita mengangkat alis tinggi-tinggi. Vania berdiri sedikit lebih kaku. Pandangannya berpindah dari stoples ke Radhika, lalu ke Naila, seakan sedang menyusun pertanyaan yang belum berani diucapkan.
"Kalian duluan saja," seru Naila. "Aku nyusul."
Gita menarik lengan Vania. "Kami tunggu di tikungan."
Vania sempat menoleh sekali lagi sebelum akhirnya ikut berjalan.
Angin malam menyusup melalui lengan bajunya. Sebelum ia sempat menggosok bahu, Radhika melepas jaket hitamnya. Ia berdiri di belakang Naila dan menyampirkannya perlahan ke kedua bahunya.
Wangi kayu yang bersih langsung mengurung tubuh Naila. Jaket itu masih menyimpan hangat pemiliknya.
"Mas nggak usah. Aku tinggal jalan sedikit."
Radhika menahan kedua sisi kerah agar jaket tidak jatuh, lalu membungkuk sedikit. Wajahnya yang biasanya keras kini hanya berjarak satu lengan.
"Lemon, maafin Mas ya," katanya pelan. "Waktu itu Mas hapus kamu, bikin tangan kamu luka. Jangan marah sama Mas lagi ya."
Semua jawaban tajam yang sudah berkumpul di lidah Naila mendadak hilang.
Ia hanya bisa menatap mata Radhika. Tidak ada ejekan di sana. Tidak ada senyum menyebalkan. Hanya permintaan maaf yang begitu lembut sampai dadanya terasa aneh.
Naila mengangguk kaku.
Begitu Radhika melepas kerah jaket, ia mundur dua langkah, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju Gita serta Vania. Kedua stoples berdenting pelan di dalam pelukannya.
Ia tidak berani menoleh lagi.
Pasti ada yang salah. Radhika hari ini salah minum obat kali.