Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Hilang
Malam berlalu. Saraswati terbangun dari tidurnya. Ia menatap sebuah bangunan tua yang sudah terlihat berlumut, akibat tidak pernah lagi di gunakan.
Di luar bangunan, terlihat tanaman merambat yang sudah memenuhi dinding bangunan, dan juga di penuhi sesemakan belukar.
Sejak malam kejadian di Pura tua, Saras tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Setiap kali ia mencoba memejamkan kedua matanya, yang muncul bukan bayangan wajah Wayan Ratri, atau bukan tentang api yang menyala biru, melainkan suara anak kecul yang selalu memanggil 'Ibu'.
Saraswati mengusap wajahnyanya dengan kasar. Ia duduk dengan kedua lutut yang di tekuk.
Sesaat telinganya seperti kembali mendengar suara teriakan 'Ibu' yang mmebuatnya semakin kebingungan.
Ia mengambil trisula yang di letakkan di atas pangkuannya. Ia mengusap benda itu, dan tiba-tiba menghangat, lalu merasakan seperti sentuhan tangan seseorang yang dapat membuat hatinya begitu damai.
Srrrrk!
Srrrrrk!
Rerumputan liar mendadak bersih dan bangunan yang merupakan Pura terbengkalai mendadak bersih dengan sendirinya.
Dari arah luar, terlihat sosok pria tampan yang tak lain adalah Kalandra, datang dengan membawa dua cangkir air jahe yang menghangatkan tubuh.
"Kau tidak tidur lagi?" suaranya membuyarkan lamunan Saraswati. Kemudian menyerahkan air jahe yang masih mengepul.
Saras menoleh, lalu menatap wajah Kalandra yang cukup tampan dengan tubuh kekarnya.
"Aku tidak bisa tidur, sebab selalu mendengar suara... 'Ibu'. Apakah itu suara Ni Luh?" Saras mengambil secangkir air jahe pemberian Kalandra, lalu meneguknya.
"Bukan... Itu suara yang berasal dari kepalamu sendiri.
Saras menatap Kalandra dengan bingung. Sedangkan pemuda itu duduk disampingnya. Aroma dupa langsung terendus diindera penciuman sang gadis.
"Kau sudah menebus jiwa Ni Luh dengan ingatanmu. Sehingga kau harus kehilangan ingatan tentang keluargamu. Hanya saja, tubuhmu tidak lupa," Kalandra menyeruput air jahenya.
Saras menoleh ke arah Kalandra. Ia merasakan kepalanya sedikit berdenyut.
"Setiap kali kau menyelamatkan seseorang, ingatan itu akan muncul kembali. Tetapi akan menyakiti kamu,"
Saras menggenggam cangkir itu dengan cukup erat. "Kalau memang begitu... Bantu aku untuk mengingat, dan di mulai dari sekarang."
Kalandra menatapnya cukup lama. Perlahan ia mengangguk. Kemudian meletakkan telapak tangannya tepat di kening Saras.
Perlahan Saras merasakan hawa panas seperti bara api.
"Tahan sebentar. Sebab ini akan terasa sakit."
Wuuuussh!
Saras merasakan seperti tersedot ke dalam dimensi lain, dan ia terjatuh ke dalam kegelapan.
Perlahan ia melihat seorang wanita muda sedang memegang bayi dalam gendongan.
Wajahnya sangat lembut. Manik matanya yang jernih, sama seperti yang ia miliki.
"Namanya Putu Saraswati, Bapak," ucap wanita itu, sembari tersenyum. Di depannya berdiri seorang pria tua yang cukup kharismatik. "Semoga ia menjadi cahaya bagi desa ini," ia menimpali ucapannya.
Tiba-tiba saja, bayangan berubah dalam sekejap mata.
Sebuah Pura terbakar. Terdengar suara jeritan yang cukup melengking, dan darah memercik ke tanah.
Seorang pria tua dengan kain putih yang cukup bersih, mendadak berlumuran dan ia mengangkat trisula dengan cukup tinggi.
"Jaga dia! Jangan biarkan Wayan Ratri mengambil darah Wijaya!" teriaknya dengan cukup kencang.
Pria tua itu adalah Mangku Wijaya ia menatap bayi yang tak lain adalah Saras untuk terakhir kalinya.
Kemudian ia menusukkan trisula ke dadanya sendiri.
Booom!
Suara ledakan yang cukup keras, dan membuat Saras tersentak bangun.
Kali ini, ia terbangun di dalam kamarnya, dan aroma pewangi ruangan terendus dihidungnya.
Nafasnya tersengal, dan keringat dingin membasahi punggungnya. Kemudian menatap pada Kalandra yang sudah duduk di tepian ranjangnya.
"Dia... Dia Pekakku? (Kakek)" gumamnya dengan pelan.
Kalandra menganggukkan kepalanya. "Dan wanita itu ibumu. Namanya Komang Shinta. Saat ini, ia sedang berjalan menuju ke arah kamar, untuk membangunkanmu," bisik Kalandra.
Saat bersamaan, terdengar suara langkah yang cukup anggun, menuju kamar Saras.
"Ibumu datang, bersikap biasa, jangan menimbulkan kecurigaan," bisiknya di telinga Saras.
Gadis itu mengangguk.
Tok!
Tok!
Pintu di ketuk. "Saras, bangun. Kamu harus bekerja, ini sudah hampir siang," suaranya begitu lembut.
"Iya, Bu." sahut Saras dengan cepat.
"Baiklah, ibu tunggu di meja makan," balas Komang Shinta, lalu melangkah pergi.
Sepeluh menit berlalu. Saras sudah tiba di meja makan. ia melihat sosok wanita yang tadi memanggilnya. "Itu Ibu, aku harus mengingatnya." gumamnya sembari melangkah.
Saat bersamaan, terlihat seorang pria yang berusia paruh baya datang menuju ke meja yang sama. "Siapa dia?" gumam Saras dalam hati.
"Saras, nanti kamu sekalian bawa Kadek ke sekolah, soalnya bapa mau ke kantor, tidak sempat mengantarkannya," ucap sang pria.
Saras terdiam, dan ia kini tahu jika pria itu adalah bapanya.
Sedangkan Kadek Dharma sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, dan tas ransel di punggungnya.
"Kadek. Kamu berangkat dengan Gek mu saja. Bapa ada meeting mendadak," Arya langsung memberitahu kondisi pagi ini.
Sedangkan Saras masih memperhatikan satu persatu setiap orang yang menjadi anggota keluarganya.
"Kadek naik motor sendiri saja, nanti pulangnya gak ada yang jemput, sebab Gek Saras gak sama pulangnya," sahut Kadek, lalu duduk di kursi makan.
"Hari ini Bapa ijinkan, tapi ingat, jangan ngebut di jalanan!" pesan Arya, dan di sambut dengan anggukan cepat dari Kadek Dharma.
Saras masih menyimak, dan ia tak banyak bicara pagi ini, lebih kalem dari biasanya.
"Bli, minggu depan Sari mau adakan pernikahan untuk Puteri pertamanya, Nyoman Dwi," ucap Komang Shinta, sembari menyendokkan nasi ke piring suaminya. "Kabarnya sekaligus acara metatah, agar biayanya lebih bisa di hemat,"
Kadek Arya menoleh ke arah sang istri. "Apakah Sari sudah memesan Balian (dukun) menjaga acaranya tersebut?" tanya Arya dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak tau, Bli. Besok coba di tanya," sahut Komang Shinta, lalu meminta sang suami memimpin doa sebelum makan.
Saras datang ke Puskesmas seperti biasanya. Hanya saja, hari ini sedikit berbeda, karena setiap pasien yang ia tangani tangani, ia merasakan nama mereka, dan juga wajah mereka seperti sebuah potongan puzzle yang perlahan menyatu.
Tetapi anehnya, ia dapat mengenali semua rekan kerjanya, tanpa lupa sedikitpun. Ia hanya kehilangan tentang siapa keluarganya.
Saat sedang meracik obat, seorang anak kecil datang masuk dengan langkah yang cukup lincah, dan usianya masih tujuh tahun.
Ia sedang mengalami demam tinggi, tetapi cukup aktif bergerak.
Saras menatapnya, dan bocah itu juga balik menatapnya, sembari tersenyum.
"Kak... Aku mimpi ketemu kakak malam tadi.
Saras membeku. "Kamu Ni Luh?"
Anak itu menganggukkan kepalanya.
Saras berjongkok, dan mendekap bocah tersebut. Ia dapat melihat, jika Ni Luh bemar tidak merasakan takut apapun juga.
"Cepat sembuh, jangan keluyuran di malam hari lagi, ya." pesannya, sembari menyerahkan obat yang sudah di raciknya.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh