NovelToon NovelToon
Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat
Popularitas:74.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

"""Kamu tidak perlu disukai semua orang. Cukup aku yang menyukaimu.""

Berawal dari sebuah jebakan yang memaksanya bangun di ranjang Arka Surya, hidup Lina Chen seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak ""pembawa sial"" menjadi seorang ratu yang bertatah di kerajaan Surya.

Meski terduduk di kursi roda, pewaris muda konglomerat itu mampu melindungi Lina dari setiap serangan, baik itu dari ibunya yang kejam, mantan tunangan brengsek, hingga musuh-musuh tersembunyi.

Namun, semua itu malah menumbuhkan rasa curiga di hati Lina dan semakin menguat ketika Lina bangun dengan pinggang remuk setelah malam pernikahannya. Bagaimana bisa seseorang yang cacat begitu gesit?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Arka: Sayang, Aku Sudah Bantu Vote Lho

Satu jam setelah Arka menyebutnya pemanasan, nama Lina Chen Surya berada di puncak voting dengan selisih hampir sepuluh ribu suara.

Lina menatap layar ponsel seperti menatap soal matematika yang tidak masuk akal.

"Ini tidak normal," katanya.

Mega duduk di tepi meja guru sambil makan sisa lemper. "Ini sangat normal kalau suamimu punya ribuan karyawan, keluarga besar, teman golf, dan mungkin grup WhatsApp tetangga Menteng."

"Aku takut panitia mengira aku beli vote."

"Vote-nya dari orang sungguhan. Lihat komentarnya."

Lina menggulir halaman. Kolom komentar penuh dengan dukungan.

Bu Lina guru yang sabar dan kreatif. Anak saya jadi suka matematika.

Saya karyawan Surya Group, ikut mendukung guru berdedikasi.

Semangat Bu Lina. Terima kasih sudah mendidik generasi muda.

Ada satu komentar panjang yang membuat Lina berhenti.

Guru bukan hanya orang yang berdiri di depan kelas. Guru adalah orang yang membuat anak merasa tidak bodoh saat salah menjawab. Lina Chen Surya melakukan itu dengan kelembutan dan disiplin.

Lina tahu itu bukan komentar wali murid. Bahasa itu terlalu Arka.

Ia membuka chat.

Lina: Komentar 300 kata itu ide siapa?

Arka: Aku mengurangi menjadi tiga kalimat supaya kamu tidak marah.

Lina: Arka.

Arka: Sayang, aku sudah bantu vote lho.

Lina hampir menjatuhkan ponsel.

Sayang.

Mega yang melihat wajahnya langsung merebut ponsel. "Apa katanya?"

"Jangan!"

Terlambat.

Mega membaca, lalu tertawa sampai bahunya berguncang. "Ya ampun, Lin. Dia manis juga. Sedikit menakutkan, tapi manis."

Lina merebut kembali ponselnya. "Kamu ini tidak punya batas."

"Aku sahabat. Batas itu fleksibel."

Bel pulang sekolah menyelamatkan Lina dari interogasi. Anak-anak berbaris keluar kelas, beberapa wali murid menunggu di gerbang. Lina menahan diri agar tidak terus melihat angka voting. Ia mengingatkan diri sendiri bahwa tugasnya hari ini belum selesai. Ada buku tugas yang harus diperiksa, ada pesan Bu Mei yang harus dijawab, ada rekap materi yang harus dikirim ke grup wali murid.

Namun saat ia berjalan ke gerbang, Camry hitam sudah menunggu di seberang jalan.

Arka duduk di dalam, tetapi pintu mobil terbuka sedikit. Reza berdiri di samping mobil. Tidak ada Alphard mencolok, tidak ada iring-iringan. Meski begitu, kehadiran mereka tetap menarik perhatian.

Mega menyikut Lina. "Dijemput suami."

"Diam."

"Aku ikut lihat dari jauh saja."

"Mega."

"Oke, oke."

Lina menyeberang setelah memastikan anak-anak sudah aman. Reza membuka pintu.

"Selamat sore, Nyonya."

"Sore, Reza."

Arka menatapnya begitu ia masuk. "Capek?"

"Lumayan."

"Makan dulu?"

"Aku harus kirim rekap materi."

"Bisa sambil makan."

Lina menatapnya. "Om sudah merencanakan?"

"Aku pesan ruang privat di Mal Kelapa Gading. Tidak terlalu jauh, makanannya enak, dan kamu bisa buka laptop."

"Kenapa Mal Kelapa Gading?"

"Kamu bilang suka bakmi di sana saat bicara dengan Mega di voice note tadi."

Lina terdiam. "Om mendengar itu juga?"

"Voice note Mega panjang."

Lina menutup wajah. "Aku harus bilang Mega berhenti mengirim voice note."

Arka tersenyum. "Jangan. Informasinya berguna."

Perjalanan menuju Mal Kelapa Gading melewati jalan yang mulai padat. Lina membuka laptop di pangkuan dan menyusun rekap materi. Arka tidak mengganggu. Ia hanya sesekali meminta Reza memperlambat musik atau menggeser lampu baca agar Lina lebih nyaman.

Hal kecil seperti itu membuat Lina sulit fokus.

Di restoran, mereka ditempatkan di ruang privat kecil dengan meja bundar. Lina memesan bakmi, Arka memilih bubur ikan karena punggungnya masih sakit dan nafsu makannya belum pulih. Reza duduk di luar ruangan.

"Kamu benar-benar tidak marah soal voting?" tanya Arka setelah pelayan keluar.

"Aku bukan marah. Aku hanya takut terlihat tidak adil."

"Aku tidak membeli suara palsu. Aku hanya meminta orang sungguhan memilih."

"Dengan tekanan bos."

"Motivasi dari pimpinan."

Lina menatapnya datar.

Arka mengangkat gelas air. "Baik. Tekanan halus."

Lina akhirnya tertawa. "Om ini..."

"Arka."

Lina berhenti.

Arka menatapnya. "Tadi malam di kontakmu sudah Arka."

"Itu kontak."

"Mulut juga boleh belajar."

Lina mengambil sumpit, pura-pura sibuk. "Makan dulu."

Di ruangan lain di restoran yang sama, Ko Jun duduk bersama Pak Hartono. Wajah Ko Jun tegang sejak menerima kabar bahwa Lina terlihat di mal itu bersama Arka. Ia sebenarnya ingin menghindar. Setelah telepon semalam, ia tahu Lina sudah mulai berani melawan. Namun Pak Hartono tidak mau mundur.

Pejabat itu memegang gelas teh dengan jari gemuk. Matanya menyipit ketika salah satu anak buah menunjukkan foto dari jauh. Di foto itu, Lina masuk ke ruang privat bersama pria berkursi roda.

"Itu suaminya?" tanya Pak Hartono.

"Iya, Pak. Arka Surya," jawab Ko Jun.

Pak Hartono mendengus. "Saya kira siapa. Orang lumpuh."

"Pak, dia tetap keluarga Surya."

"Keluarga Surya pun harus tahu cara menghormati pejabat."

Ko Jun menelan ludah. "Mungkin kita bicara baik-baik saja."

Pak Hartono meletakkan gelas dengan keras. "Adikmu mempermalukan saya. Dia harus minta maaf. Di depan saya."

"Tapi..."

"Panggil dia."

Ko Jun tidak bergerak.

Pak Hartono menatapnya dingin. "Proyek ayahmu masih butuh tanda tangan saya, kan?"

Wajah Ko Jun memucat.

Tiga pengawal Pak Hartono berdiri di dekat pintu. Salah satu dari mereka sudah bergerak keluar, mencari ruang privat Lina.

Di ruang Lina, pelayan baru saja menaruh bakmi di meja. Lina menghirup aromanya dan merasa lapar untuk pertama kali sejak pagi.

"Makan," kata Arka.

"Om juga."

"Arka."

Lina pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil sumpit.

Arka tidak memaksa lagi. Ia hanya mengambil mangkuk kecil, menuangkan sedikit kuah ke piring Lina agar bakmi tidak terlalu kering. Gerakan itu sederhana, tetapi membuat Lina menunduk lebih lama. Di depan orang lain, Arka bisa menggerakkan ribuan karyawan untuk vote. Di depannya, pria itu justru sibuk memastikan makanannya tidak dingin.

"Jangan menatapku seperti itu," kata Lina pelan.

"Seperti apa?"

"Seperti aku akan hilang kalau Om berkedip."

Arka menatapnya beberapa detik. "Aku memang pernah terlambat menemukanmu."

Lina tidak sempat bertanya maksudnya karena suara langkah di luar pintu mulai mendekat.

Saat itu, Reza mengetuk pintu dari luar. Suaranya rendah.

"Tuan, ada tamu tidak diundang."

Lina menoleh.

Sebelum Arka menjawab, pintu ruang privat didorong terbuka.

Ko Jun berdiri di sana dengan wajah kaku. Di belakangnya, Pak Hartono melangkah masuk, diapit tiga pengawal berbadan besar.

Mata Lina langsung dingin.

Malam yang tenang pecah sebelum suapan pertama menyentuh bibirnya.

Di saat yang sama, ponsel Lina masih menyala di meja dengan halaman voting terbuka. Namanya tetap berada di posisi pertama, komentar dukungan terus masuk, dan angka terus naik. Kontras itu membuat dada Lina sesak. Di satu sisi, orang asing menulis bahwa ia guru baik. Di sisi lain, kakaknya sendiri membawa pria yang pernah membuatnya takut bernapas.

Arka mengikuti arah pandang Lina ke ponsel itu. Ia melihat nama Lina berada di puncak, lalu melihat wajah Lina yang tiba-tiba pucat. Dalam beberapa detik, ia memahami sesuatu. Kemenangan di layar tidak otomatis menghapus ketakutan di tubuh. Maka ia menggeser ponsel itu pelan, menjauhkannya dari tangan Lina.

"Lihat aku," katanya rendah.

Lina mengangkat mata.

"Malam ini kamu tidak perlu menghadapi mereka sendiri."

Lina ingin percaya kalimat itu. Ia benar-benar ingin. Maka ketika Pak Hartono masuk, ia tidak berdiri mundur. Ia hanya menggenggam ujung meja, menahan tubuhnya tetap di tempat.

1
sitanggang
bener2 gak jelas jalan cerita yg sangat buruk
sitanggang
jalan ceritanya AMBIGU 🙄
sitanggang
hadeuhhhhh kok bisa bodoh bgt keterusan bodohnya kina ini🤣🤣🤣🤣
sitanggang
lagi2 kek kebo🤣
sitanggang
terlalu lemah dan mudah dikendalikan org lain ... kek kebo dungu dicucuk hidungnya🤣🤣🤣🤣🤣
sitanggang
kukira MC pintar , tegas. masalah madam Hong saja gak kelar2, gak lucu🤣🤣
sitanggang
Lina terlalu lemah, bodoh lagi cupu sok jual mahal, mudah ditindas tak tau terima kasih
Wirda Wati
😂😂😂😂😂
Wirda Wati
lucu. kamu Reza .nyawa juga penting 🤣🤣🤣🤣
Wirda Wati
lanjuuut
Wirda Wati
untung dpt suami yg baik dan pengertian
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
ceritamu kereeen thort
Wirda Wati
kereeeen❤️
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣❤️👍
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤭
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂😂
Wirda Wati
❤️
Wirda Wati
Maya dan Roja sama gilanya 😂
Wirda Wati
Kereeen lina👍
Biar Maya belajar dari kesalahannya.
Wirda Wati
Dasar mata ngga tau malu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!